
Lelaki tua itu tak fokus mengendarai mobil, setelah melihat balasan pesan dari anaknya, rasa bersalah menyelimuti hati Pak Anton.
Lelaki dengan rambut yang terlihat sedikit memutih, menyesal karena sudah mengizinkan sang istri pergi sendirian.
Di setiap perjalanan menuju ke Villa, air mata sang lelaki tua itu tak henti keluar, ponsel yang berada di tangan terus saja menekan tombol panggilan pada nomor istrinya.
Panggilan telepon itu tetap saja tak diangkat oleh sang istri, membuat rasa penasaran menyelimuti hati sang lelaki tua.
"Maya, ke mana kamu. Kenapa kamu tidak mengangkat panggilan teleponku, aku benar-benar kuatir dengan kamu Maya?"
Ponsel kini berdiri, Pak Anton menyangka jika yang menelepon pada ponselnya adalah sang istri. Saat ia lihat pada layar ponsel, tertera nama Ardi anaknya sendiri.
Lelaki tua itu kini mengangkat panggilan telepon dari Ardi anaknya," Halo, pah? Papah ada di mana sekarang?"
Ardi berusaha bertanya dengan suara tegasnya.
Pak Anton yang telah mengendarai mobil ini menjawab ucapan anaknya," sekarang papa tengah mengendarai mobil, untuk segera ke Villa menemui ibumu yang tak mengangkat panggilan telepon dari tadi."
" Ya sudah, Ardi akan pulang ke rumah dan menyusul papah."
panggilan telepon pun dimatikan sebelah pihak, pantun kini fokus lagi mengendarai mobil. Untuk segera sampai di tempat tujuan.
@@@@@
Sang suruhan Maya yang tengah menunggu di luar gerbang Villa, kini melihat seorang wanita berlari keluar dengan bersimpuh darah di wajah dan juga tangannya.
"Siapa wanita itu?"
Adnan begitu kaget dengan apa yang ia lihat, saat itulah ia mulai menghampiri wanita yang terus berlari ketakutan.
"Nona Lina."
Betapa terkejutnya Adnan, di kala Lina menabrak badannya.
"Adnan kamu ada di sini?"
Pertanyaan Lina kini membuat dia langsung jatuh pingsan. Adnan dengan sigap menolong wanita yang ia kenal sebagai calon istri sang tuan.
Adnan mendengar di balik gerbang itu, para penjaga seperti mengejar Lina. hingga di mana Adnan berusaha berlari dengan membopong tubuh Lina menuju persembunyiannya.
Setelah sampai di tempat persembunyian, Adnan kini membawa Lina ke dalam mobil. Nafasnya terengah-engah karena berlarian dengan rasa takut akan ketahuan.
"Ahkk ...."
__ADS_1
Teriakan Lina membuat Adnan langsung membangunkannya.
"Nona Lina, bangun Non."
Lina mulai bangun dari pingsannya. Pikirannya mengingat tentang Tante Maya yang ditusuk beberapa kali oleh adiknya sendiri.
"Akhirnya Nona selamat juga, apa Nona melihat Nyonya Maya?"
kedua mata Lina berkaca-kaca, di saat Adnan bertanya tentang Maya.
"Nona kenapa, malah nangis? Apa yang terjadi dengan Nyonya Maya?"
"Adnan!"
"Iya."
"Tante Maya."
"Kenapa dengan Nyonya Maya?"
Lina mengungkapkan semuanya dengan menangis terisak-isak di depan Adnan suruhan Maya, " Ta-nte M-a-ya."
"Iya kenapa dengan Nyonya?"
Adnan tercengang kaget di kala mendengar Lina mengatakan bahwa Nyonya Maya sudah mati di tangan Pras, adiknya sendiri.
"Ini tidak mungkin."
Lina tetap saja menangis, dirinya masih mengingat apa yang ia lihat di depan kedua matanya.
"Ini bohongkan Nyonya?"
"Aku tidak bohong. Adnan!"
Adnan masih tak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut sang nona. Iya kini mengusap kasar wajahnya, menarik rambut kepala. kedua matanya berkaca-kaca, merasa menyesal membiarkan sang nyonya pergi sendirian, masuk ke dalam villa menemui Pras.
"Apa nanti yang harus aku katakan pada Tuan Ardi, dan Pak Anton." Gumam Adnan.
"Saya harus masuk ke Vila itu sekarang juga."
Adnan mulai nekat pergi masuk ke dalam villa, ia ingin menemui sang nyonya. tak percaya dengan perkataan Lina.
"Adnan kamu mau ke mana, di sana bahaya. Jika kamu masuk ke sana KAMU AKAN MATI." Teriak Lina berusaha menghentikan langkah Adnan, yang akan masuk ke dalam villa untuk menyelamatkan sang nyonya.
__ADS_1
Adnan sangat bertanggung jawab, iya harus menyelamatkan sang nyonya. Walau taruhannya adalah nyawanya sendiri.
Lelaki muda itu, begitu mengabdi pada Maya. Iya senang dikala menjadi suruhan Maya, karena Maya yang selalu membuat dirinya nyaman dalam pekerjaan apapun yang diperintahkan.
Maya tidak pernah banyak menuntut Adnan untuk selalu sempurna dan bisa segala hal, bagi Maya menurut padanya itulah hal yang penting. Dan mampu menjalankan tugas yang Maya perintahkan.
"Nyonya Maya. Saya akan menyalamatkan anda."
Lina berusaha menahan tangan Adnan, agar tidak pergi menuju ke Villa yang sudah tidak aman itu.
Lina menyuruh Adnan langsung menghubungi polisi saja, agar villa itu diamankan, dan Tante Maya bisa diselamatkan, walau kemungkinan sangat kecil. tapi bagi Lina adalah harapan yang besar.
" Aku ingatkan sama kamu, percuma kamu masuk ke villa itu. Kamu yang akan mati sia-sia dan tidak bisa menyelamatkan Tante Maya, kamu akan menyesal Adnan."
Adnan kini berdiri mematung, di saat ucapan Lina terus terlontar. ia membalikkan badan menatap ke arah sang nona, dengan rasa bersalahnya.
" Dengarkan apa kata aku, Adanan."
Adnan berusaha menenangkan kecerobohannya, untuk tidak menghampiri Maya yang berada di dalam villa.
Dirinya berusaha merogoh saku celana, melihat layar ponsel. Saat itulah Adnan mulai menghubungi kantor polisi.
Adnan menjelaskan apa yang sudah terjadi di villa, di mana Lina ikut membantu menjelaskan semua peristiwa yang terjadi di villa.
setelah menelpon polisi, Adnan Hanya bisa menarik nafas yang mengeluarkan secara perlahan. Lina yang berada di dalam mobil kini berucap kepada Adnan.
"Adnan. Aku berharap polisi segera datang. karena kondisi Tante Maya begitu mengkhawatirkan."
ucapan Lina kini membuat dan tiba-tiba saja mengepalkan kedua tangan.
Lelaki muda itu kini menatap tajam ke arah Lina.
"Andai saja Nyoya tidak menyelamatkan anda, mungkin Nyonya tidak akan terbunuh oleh Adiknya sendiri."
Lina mengerutkan dahi di saat Adnan berbicara seperti itu," Mengapa kamu menyalahkan aku Adnan, aku juga tidak tahu jika Tante Maya ingin menyelamatkanku."
Adnan kembali menundukkan matanya," saya tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Ketika tuan muda Ardi tahu jika ibunya meninggal hanya karena ingin menyelamatkan anda nona Lina."
"Adnan, seakan kamu ini menekanku dan juga menyalahkanku atas semua yang menimpaku saat ini. Aku juga di sini sebagai korban."
" Anda memang menjadi korban, karena kesalahan anda sendiri. Jika anda bisa menjaga diri anda dan menuruti apa perkataan tuan muda Ardi, mungkin semua tidak akan seperti ini, anda sudah masuk ke dalam keluarga Pak Anton dan membuat kekacauan pada keluarga Pak Anton hingga Nyonya Maya mati."
Palkkk ....
__ADS_1
"Diam, Adnan. kamu ini hanya seorang suruhan Tante Maya, tak sepatutnya kamu ikut campur akan masalah yang terjadi di keluarga Pak Anton yang di mana aku terlibat saat ini."