Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 200 Teriakan Alya.


__ADS_3

Wawan memukul jeruji besi, kesal dengan ucapan yang terlontar dari mulut Lina.


"Wanita itu?"


"Wan, jangankan kamu. Aku juga kesal dengan wanita bernama Lina itu, tadinya saat kita berhasil dengan rencana kita, aku berencana membuat dia menderita!"


"Tapi sekarang kita?"


"Ya, aku tahu."


Kini hanya harapan seorang penolong yang mampu menolong Wawan dan Abdul ke luar dari dalam penjara.


@@@@


Saat Ardi dan Haikal begitu pun Lina, ke luar dari kantor, kini Ardi melayangkan sebuah ucapan terima kasih kepada Jerry.


"Jer, gue enggak tahu jika tidak ada lu, kemungkinan besar gue yang akan masuk jeruji besi," ucap Ardi.


Jerry menepuk bahu Ardi dan menjawab," lu tenang aja. Itu masalah biasa, kita kan harus menolong orang kesusahan, menjebloskan orang yang bersalah."


"Mantap," timpal Haikal.


Lina tetap saja diam, ia memajukkan bibir atas bawahnya. Sampai di mana Ardi mencomot bibir tipis sang calon istri.


"Ngambek ya?" tanya Ardi.


"Apa sih!" jawab Lina.


Wanita itu berjalan dengan wajah penuh kekesalan, Lina kini masuk ke dalam mobil.


Ardi dan Haikal mulai berpamitan untuk pulang, akan tetapi.


"Tunggu Ardi."


Ardi membalikkan badan dan bertanya?" kenapa?"


"Lu, besok harus ada di Cafe Pras, untuk menjadi saksi. Karna sekarang kita akan bertugas menyelidiki Cafe itu dan melingkari dengan cap polisi!" jawab Jerry.


Ardi kini memberi hormat pada Jerry," siap. Bosku."


Jerry tentulah tersenyum dengan tingkah Ardi.


"Emang gue komando?"


"Lu kan berjasa bagi gue, Jer!"


"Iya lah terserah lu aja." Jerry memberi hormat balik dan berkata." udah kasihan calon istri lu, manyun kaya tutut."


"Oke."


Jerry kini menurunkan tanganya, begitu pun dengan Ardi. Lelaki berbadan kekar itu kini mulai membalikkan badanya lagi, untuk segera masuk ke dalam mobil.


@@@@@@


Kedua pelayan yang kini tengah mengintai, hanya bisa melihat dari kejauhan.


"Heh, kamu lihat. Tuan Ardi sudah ke luar dari kantor polisi, sepertinya Wawan dan Abdul sudah masuk ke dalam penjara."


"Iya benar, saya juga tidak melihat Wawan dan Abdul ke luar dari dalam mobil."


"Sebaiknya kita telepon Tuan Pras."


"Iya."


Mereka kini menelepon Pras, mengatakan yang sudah terjadi pada Wawan dan juga Abdul.


Beberapa kali menelepon Pras, tapi tidak di angkat sama sekali.

__ADS_1


"Bagaimana ini, tuan tidak mengangkat panggilan telepon kita."


"Apa kita ke kantor polisi saja, untuk melihat keadaan Wawan dan Abdul."


"Apa polisi tidak akan curiga?"


"Tentulah tidak, kita kan bukan buronan!"


Dreet ....


Ponsel Yono kini berbunyi kembali, membuat Yono langsung mengangkat panggilan telepon dari Pras.


"Halo, Yono. Bagaimana dengan Wawan dan Abdul, apa mereka sudah ke luar dari dalam kantor polisi."


Yono melirik ke arah sahabatnya, bingung dengan apa yang harus ia katakan.


"Heh. Gimana ini, bos nanya tentang ke adaan Wawan dan juga Abdul?"


"Ya sudah, bilang saja apa adanya!"


Yono pada akhirnya memberi tahu keadaan Abdul dan Wawan.


"Halo, Yono, bagaimana?"


"Maaf tuan. Sepertinya Wawan dan Abdul sudah di tahan di dalam sel."


"Apa?"


"Karna kami melihat, Tuan Ardi yang lainnya ke luar tanpa Wawan dan Abdul!"


"Sial."


"Tuan, ini hanya feling kita saja. Makanya dari itu kita mau mengecek ke dalam."


"Maksud kalian."


"Melihat Abdul dan Wawan di kantor polisi."


"Kenapa tuan?"


"Kalau kalian masuk ke dalam kantor, untuk melihat ke adaan Wawan dan Abdul, kalian bisa saja masuk ke dalam penjara dan di jadikan saksi untuk mencariku sekarang di mana."


"Baik tuan, kalau memang seperti itu."


"Kami akan pergi dari sini segera mungkin."


@@@@


Setelah mendengar informasi dari kedua pelayannya, kini Pras mulai menyampingkan mobilnya ke arah samping menghentikan seketika mesin mobil.


"Sial, cape cape aku datang untuk melihat Wawan dan Abdul, ujungnya mereka masuk ke dalam penjara."


Pras memukul stir mobilnya, membuat suara kelakson berbunyi. Hingga di mana ponselnya kembali berbunyi.


"Halo."


"Tuan, Nona Alya melarikan diri."


"Apa, kalian ini. Kenapa dia bisa melarikan diri?"


"Maafkan kami, tuan."


"Cepat kalian cari. Jangan sampai Alya tak ketemu, aku bisa bunuh kamu sekarang juga."


"Ba-ba-ik tu-an."


Lelaki berbadan kekar itu, mulai memutar balikkan mobilnya. Untuk segera sampai di Vila, karna mendengar informasi tentang Alya yang hilang.

__ADS_1


Baru saja menyalahkan mesin mobil, tiba tiba. Terlihat mobil Ardi melaju melewati mobil Pras.


"Ardi. Untung saja aku memakai mobil lain."


Di dalam mobil Pras hanya menggerutu kesal dirinya sendiri, rencananya kacau balau. Baru saja puas dengan kematian Dinda, kini Pras malah mendapatkan masalah karna Ardi yang selalu membela Haikal.


"Kenapa juga keponakanku sendiri bisa mengenal lelaki bernama Haikal itu, kacau benar benar kacau."


Setengah jam menempuh perjalanan, kini Pras sudah sampai di Vila, ia melihat para pelayan panik saat Pras ke luar dari dalam mobil.


"Tuan."


"Bagaiman? Apa kalian sudah menemukan Alya?"


"Tidak tuan!"


"Apa."


Plak ....


Tamparan Pras layangkan pada pelayan yang tak becus menjaga Alya," bagaimana kalian ini, kenapa bisa Alya lari tanpa sepegetahuan kalian."


"Maafkan kami tuan, tapi para satpam sedang mencari Nona Alya sampai ke hutan."


"Ya, sudah. Pokonya, kalian harus menemukan Alya sampai ketemu, kalau tidak ...."


"Tuan."


Teriak para pelayan lelaki, membuat Pras menatap ka arah mereka.


Betapa kagetnya Pras, melihat Alya yang di bawa oleh para palayanya dengan penampilan bersimpun darah.


"Alya."


Pras kini menghampiri Alya, ia bukanya mengsihani calon istrinya, Pras malah menampar dengan sangat keras.


Palkk ....


Membuat Alya tersungkur jatuh.


Kedua mata Alya berkaca kaca, saat Pras menampar pipi Alya.


"Kamu."


Telunjuk tangan Pras ia tunjukkan pada Alya, membuat Alya berdiri dan memegang telunjuk tangan Pras dan memutarkan jari tangannya.


"Ahk."


Brug ....


"Berani kamu, Alya."


Kini tangan Pras mulai ia layangkan pada pipi Alya lagi, " kenapa, ayo tampar."


Pras malah menurunkan tangannya, " Kenapa, kenapa tidak sekalian kamu bunuh saja aku, Pras."


Pras terdiam saat Alya mengutarakan ucapan dari mulutnya," kenapa." Tangisan kini dilayangkan Alya.


"Kenapa kamu tidak bunuh aku saja Pras, aku lelah. Aku punya perasaan, aku juga punya rasa sakit. Kenapa kamu tidak bunuh aku saja sekarang." Teriak Alya.


Para pelayan hanya bisa menyaksikan semua yang mereka lihat.


"Ayo bunuh aku." Ucap Alya. Berusaha berdiri.


Wanita itu kini memegang tangan Pras menempelkannya pada pipi kiri Alya." Ayo bunuh. Pras."


Pras menatap lekat Alya.

__ADS_1


"Kenapa, kamu malah menatapku, ayo cepat bunuh aku, selagi aku sudah sakit karna siksaanmu yang bertubi tubi." Teriak Alya dengan isak tangis yang berderai.


Pras kini menurunkan tanganya, yang di mana tangan itu sengaja di tempelkan Alya pada pipinya.


__ADS_2