
"Cafe paman kamu, Ardi?" tanya Lina.
"Ya, jadi kamu tak usah takut. Nanti juga bakal ada banyak orang yang mampir di cafe ini!" jawab Ardi.
Entah kenapa perasaan Lina sangatlah ketakutan, dia takut jika lelaki berjubah hitam itu akan mengikuti dirinya sampai ke cafe ini.
Ardi mulai mengajak Lina untuk duduk di tempat yang begitu terlihat tenang.
"Ayo kita duduk," ajak Ardi.
mereka berdua langsung duduk di kursi, tiba pelayan datang membawa buku menu makanan.
saat itulah Ardi mulai menyuruh Lina untuk memilih beberapa menu makanan kesukaannya, Lina yang tak biasa memesan makanan di cafe, membuat dirinya bingung.
"Ardi coba kamu baca ini, kenapa bacaannya asing begini?" tanya Lina.
Ardi tertawa pelan melihat kepolosan Lina," heh. Kok kamu ketawa," ucap Lina. Memajukkan kedua bibirnya.
"Habisnya kamu lucu, masa enggak tahu. Itu apa!" jawab Ardi.
"Ya kan kamu tahu sendiri, aku ini gadis kampung makan pun di warteg, enggak di tempat elit kaya begini," ucap Lina menggerutu kesal.
Saat itulah sang paman datang, membawa sebuah menu makanan khas cafe tempan miliknya.
"Paman," ucap Ardi.
"Keponakanku tersayang Ardi, nah paman siapkan makanan sepecial di Cafe ini," balas sang paman.
Lina mengerutkan kedua tanganya, dan berkata," ini pamanmu?"
"Iya dia pamanku! Memangnya kenapa?" jawab Ardi sembari mepayangkan sebuah pertanyaan.
"Pamanmu, masih muda," ucap Lina.
pemilik cafe itu langsung tersenyum saat Lina berkata bahwa dirinya masih lah muda.
Ardi Yang merasa kesal dengan ucapan calon istrinya itu, langsung berkata," kalau muda memangnya kenapa?"
"Ganteng banget." Ucap Lina. Mengabaikan Ardi.
"Hem." Ardi berpura-pura batuk di depan calon istrinya itu, dia kesal dengan Lina karena begitu tajam menatap pamannya yang tengah berdiri tersenyum ke hadapannya.
"Sudah saling menatapnya?" tanya Ardi.
Lina tentu saja lah malu, pada Ardi. ya hampir lupa diri karena terlalu lama menatap pamannya yang begitu tampan dan juga terlihat masih muda.
"Eh, maaf Ardi. Paman kamu habisnya tampan!" jawab Lina.
"Apa?"
"Eh salah, maksudnya paman kamu tampan seperti kamu," ucap Lina.
"Oh."
Sang Paman langsung lah tertawa melihat keponakannya yang cemburu karena calon istrinya menatap tajam ke arah dirinya.
"Cemburu ya." Sindir sang paman.
"Apaan sih paman," ucap Ardi. Memajukan kedua bibirnya.
__ADS_1
"Ngaku lah," balas Sang paman.
"Aku cemburu, karna aku cinta dengan Lina," ucap Ardi terang terangan di depan Lina.
Kedua pipi Lina memerah mendengar jawaban Ardi pada Pamannya sendiri.
"Ya sudah, cepat makan. Paman sudah siapkan hidangan yang istimewa untuk kalian berdua, cepat makan nanti keburu dingin," ucap sang paman.
"Terima kasih, paman yang baik," ucap Ardi.
Ardi mulai memakan hidangan yang sudah tersedia di atas meja, sedangkan Lina masih saja melihat gerak gerik pamannya yang sedang bekerja.
"Hem."
"Eh, iya. Kenapa Ardi?"
"Kamu mau makan, apa mau melihat wajah pamanku?"
"Hehhe, ya maaf. Soalnya wajah pamanmu kaya opah opah korea!"
"Lah opah korea, terus aku apa?"
"Kamu .... !"
"Apa."
Lina bingung menyamakan wajah Ardi, dengan artis karna wajah Ardi tak ada yang sama dengan artis korea.
"Ayo jawab aku percis siapa?" tanya Ardi menekan Lina.
"Ya, aku jawab ya. Kamu percis ayah dan ibu kamu!" jawab Lina dengan begitu santainya.
"Jawaban yang bagus," ucap Ardi.
@@@@@
Ardi langsung fokus dengan makananya, sedangkan Lina merasa tak tenang.
"Lina."
"Iya kenapa?"
"Makannya kok di biarin begitu!"
"Oh, iya. Ini mau aku makan kok."
"Ya udah cepat makan, nanti dingin enggak enak loh."
"Iya. Iya."
"Kenapa wajah paman Ardi seakan tak asing. Aku seperti pernah melihat wajah itu. Tapi di mana," ucap Lina dalam hati.
Ardi merasa heran dengan Lina, yang hanya mengaduk gaduk makanan tanpa memakannya. Saat itulah tangan Ardi mulai memegang tangan Lina dan bertanya?" kamu kenapa?"
"Hah, aku. Aku enggak kenapa napa kok!" jawab Lina.
"Jangan bohong, terlihat sekali. Kamu berbohong Lina," ucap Ardi.
Lina mengusap pelan wajahnya dengan kedua tangan," wajahku terlihat berbohong. Perasaan kamu kali, Ardi."
__ADS_1
Saat itulah Lina mulai menyantap makananya, ia tak mau memikirkan wajah paman Ardi yang tak asing itu.
"Ahk, mungkin aku salah mengira." ucap pelan Lina.
Ardi mendengar ucapan Lina yang terdengar pelan, membuat ia bertanya?" kanapa?"
"Oh enggak, di sini enaknya enggak ada nyamuk," ucap Lina berbohong.
"Aku kira apa. Lina?" tanya Ardi.
"Kenapa dengan wajah kamu, ada sesuatu yang kamu sembunyikan padaku, ya?" tanya Ardi kembali.
"Enggak ada hanya perasaan kamu saja," ucap Lina.
"Hah, aku bakalan sedih. Karna kamu enggak jujur padaku," balas Ardi.
"Apaan sih, lebay," ucap Lina.
Ardi tertawa terbahak bahak, melihat tingkah Lina yang seakan bergidig ngeri pada dirinya.
"Ya sudah ayo kita pulang," ajak Ardi pada Lina.
Saat itulah mereka berdua berpamitan untuk segera pulang ke pada sang paman.
"Paman, kami pulang. Terima kasih atas makanan geratisnya," ucap Ardi pada sang paman.
Lelaki berparas tampan itu mengancungkan jempolnya, memberikan senyuman dan berkata," oke. Kamu tak usah kuatir."
Sang paman memberikan senyuman kecil pada Lina, sedangkan Lina hanya menundukkan pandangan seakan menolak senyuman kecil itu.
"Lina, hati hati di jalan," ucap sang paman. Memberikan sebuah hadiah kecil pada Lina.
Lina menatap hadiah itu, ia seakan enggan menerimanya.
"Ayo terima, ini hadiah buat kamu," ucap sang paman.
"Mm." Lina menatap ke arah Ardi, ia seakan memberikan kode mata, apa Lina boleh menerima hadiah dari pamannya.
"Sudah Lina, terima saja. Aku tidak akan marah, tadi aku hanya bercanda," ucap Ardi. Mengelus rambut calon istrinya itu.
"Benaran?" tanya Lina. Tampak ragu.
Ardi menganggukkan kepala, saat itulah Lina mulai mengambil hadiah kecil yang di berikan oleh sang paman kepada dirinya.
"Terima kasih paman," ucap Lina.
"Oh, ya. Lina. Nanti kapan kapan, paman akan main ke rumah kamu," ucap sang paman.
Deg .....
"Hem." Ardi tampak tak senang dengan ucapan sang paman yang berniat untuk datang ke rumah Lina.
"Sebaiknya tak usah, paman datang saja nanti saat acara pernikahan Lina dan Ardi di gelar," ucap Lina. Membuat Ardi tampaklah senang.
"Nah, iya. Sebaiknya paman datang saat acara pernikahan kami di gelar," timpal Ardi. Membuat sang paman hanya bisa memajukan kedua bibirnya.
"Baiklah, kalau begitu," ucap sang paman.
"Oh, ya. Paman jangan lupa nyumbang makanan, yang enak enak biar para tamu senang dengan acara pernikahan kami." ucap Ardi. membuat sang paman hanya menghelap nafas.
__ADS_1