
Ardi yang menuruti saran Lulu, pada akhirnya menyuruh Ridwan untuk mengecek kembali dokter yang berada di rumah sakit.
"Halo, Ridwan apa kamu masih di rumah sakit?"
"Iya. Memangnya kenapa tuan!?"
"Coba kamu cek dokter yang mengecek calon istriku."
"Baik, tuan."
Panggilan telepon pun terputus, di mana ponsel Ardi berdering kembali.
"Haikal."
Dengan sigap Ardi mengangkat panggilan telepon dari Haikal.
"Halo."
"Ardi, bagaimana kabar lu."
Kini sapaan seperti biasa di layangkan Haikal, seakan tak ada masalah yang terjadi pada mereka berdua. Ardi sedikit bernafas lega, saat Haikal kini kembali menyapa dirinya.
"Alhamdulilah baik, sekarang lu ada di mana?"
Pertanyaan kini di layangkan Ardi pada Haikal, sedangkan Haikal mencoba tetap tenang dan menjelaskan dengan hati hati kepada Ardi.
"Sory gue mengundurkan diri dari perusahaan lu."
Ada rasa kecewa pada lubuk hati Ardi, karna Haikal seakan lari dari tanggung jawabnya. Padahal masalah belum selesai sepenuhnya.
Ardi berusaha memaklumi apa yang kini terjadi, karna dirinya tak bisa menekan Haikal atas kesalahan semua.
"Enggak papa. Santai aja, kenapa lu ngundurin diri. Kaya udah banyak uang saja."
Sindiran Ardi berusaha di tepis oleh Haikal dengan senyuman dan tawa.
"Gue pengen istrihat dulu, cape gue kerja mulu."
Kini tawa semakin terdengar nyaring pada Ardi.
"Hanya saja ada kejangalan bagi gue."
Ucapan Haikal membuat Ardi tentulah terdiam.
"Maksud lu."
Ardi tak paham dengan apa yang di katakan Haikal.
"Gue hanya ingin memberi tahu lu, bahwa tunangan lu ada bersama gue."
Deg ....
Ardi tak menyangka jika dugaanya benar, kalau Lina ikut dengan Haikal. Akan tetapi Haikal mencoba tetap tenang.
"Hanya saja lu jangan salah sangka dulu, gue tidak berniat membawa kabur tunangan lu, dia ikut tanpa gue sadari."
Ardi berusaha tetap tenang, dengan apa yang di ceritakan Haikal.
__ADS_1
"Pantas saja, saat di rumah sakit, calon istriku kabur."
"Sepertinya kamu harus datang ke desaku, untuk menjeput calon tunanganmu."
"Kenapa kamu tidak mengantarkannya saja kepadaku?"
"Bukan aku tak mau mengantarkanya, hanya saja calon istrimu itu rese, pura pura sakit!"
Perdebatan ringan antara Haikal dan juga Ardi sepertinya membuat mereka tertawa dan merasakan kedekatan seperti dulu.
"Ya sudah, aku akan pergi ke sana sekarang juga. Untuk menjemput calon istriku yang susah di atur."
"Baiklah, aku tunggu ke datanganmu."
Setelah selesai, berbincang dengan Haikal di dalam telepon, kini Ardi menyuruh pada para pembantu, untuk menyiapkan pakaianya.
Dengan sigap para pembantu menyiapkan keperluan sang majikan.
Maya dan Anton menghampiri anak semata wayangnya," Kamu mau ke mana Ardi?"
Ardi yang sibuk dengan ponselnya kini menjawab perkataan kedua orang tuanya," Ardi mau menemui Lina!"
"Lina, jadi kamu sudah tahu Lina ada di mana?"
"Ya bu, Lina ternyata kabur mengikuti Haikal ke desanya."
"Haikal sahabat kamu dan kepercayaan kamu di tempat kerja?"
"Ya, bu!"
"Kenapa Lina bisa kabur dan mengikuti suami kakaknya? Ada yang aneh."
Ardi berusaha menyembunyikan rasa kesal dan juga kesedihannya, akan Lina yang ternyata tidak bisa melupakan Haikal.
padahal saat Ardi berusaha mengejar cinta Lina, perasaan Lina perlahan sudah memudar kepada Haikal. Lina sudah terlihat jatuh cinta pada Ardi.
Sang ibu merasakan kegundahan anaknya, mengusap pelan punggung Ardi dan berkata," ya sudah kamu hati hati ya, nak."
"Ya bu."
Setelah para pembantu menyiapkan semua keperluan Ardi. Saat itulah sang sopir membawa koper ke dalam bagasi mobil Ardi.
"Pak, saya bawa mobil saja sendiri."
"Loh, den. Enggak mau bapak antar?"
"Udah enggak usah, saya mau sendiri!"
Sang sopir menyerahkan kunci mobil kepada Ardi, sebelum memasuki mobil, " Ayah, ibu. Doakan Ardi, biar bisa membawa cinta sejati Ardi pulang kembali."
Pekataan Ardi, membuat sang ibu sedikit gelisa. Tak biasanya Ardi berkata seperti itu.
Maya berusaha bersikap tenang, karna perasaan yang tak karuan, Maya berdoa agar selamat dalam perjalanan menuju desa yang di tempati Haikal.
Ardi kini melambaikan tangan, berpamitan kepada sang ibu, ia perlahan menancabkan gas mobil, untuk segera melaju pergi.
"Ardi semoga kamu baik baik saja."
__ADS_1
Anton yang melihat kegundahan istrinya, kini bertanya dengan nada lembut." ada apa. Sayang? Kenapa kamu terlihat gundah seperti itu, apa ada yang kamu kuatirkan saat ini?"
"Jelas, aku kuatir dengan Ardi, tiba tiba saja jantungku ini tak karuan. Seperti akan ada yang terjadi dengan anak kita!"
"Husst, enggak mungkin, itu hanya perasaan kamu saja. Mungkin kamu kecapean jadi mikir yang aneh, aneh. Ya sudah sekarang kita masuk ke dalam rumah, lupakan keresahan dalam jiwa dan hati kamu."
"Iya."
Maya memegang dadanya, yang masih merasa ketakutan, akan sesuatu yang terjadi pada anaknya.
Dengan berjalan penuh rasa kuatir, pada akhirnya Maya tiba tiba saja jatuh pingsan.
Anton tentulah kaget dengan Maya yang tiba tiba tergeletak tak berdaya, membuat ia mencoba membopong tubuh istrinya.
Para pembantu terlihat begitu panik, dengan majikan wanitanya yang tiba-tiba saja pingsan. mereka berusaha membantu Anton.
"Maya, kamu kenapa?"
terlihat wajah panik pada diri Anton, ya takut jika istrinya kenapa-napa.
Anton kini membawa sang istri menuju kamar, membaringkan Pujaan hatinya dengan sangat pelan.
Anton menyuruh pembantu untuk membawakan obat dan juga air minum untuk Maya.
"Lu, tolong ambilkan obat istriku dan juga air minum."
"Baik tuan."
Anton hanya bisa menatap wajah sang istri yang terlihat begitu kelelahan, membuat tangan yang memisahkan kedua pipi sang istri yang sudah mulai mengkerut.
"Walau pipimu ini mengkerut dan kecantikanmu sudah mulai memudar, tapi yakinlah aku akan tetap mincintaimu Maya."
Kata kata Anton, membuat Maya bangun dari pingsanya.
"Anton." Memengan kepala dengan telapak tangan. Maya merasakan rasa sakit pada kepalanya.
kedua mata wanita itu melihat ke arah sang suami yang terlihat menangis.
"Kenapa?"
Anton mengusap ngusap kedua pipinya yang basah bekas air mata, ia tersenyum dan memegang tangan sang istri.
"Kamu kenapa bisa pingsang tiba tiba. Kamu kelelahan?"
"Entahlah, aku juga tak tahu. Akhir akhir ini aku sering merasakan rasa pusing tiba tiba, entah karna aku sudah mulai menua."
Mendengar ucapan sang istri, Anton malah menangis dalam tawanya.
"Kenapa ketawa?"
"Kamu masih berumur 45 tahun, kamu itu tidak tua, hanya saja kamu itu sudah lelah. Dengan semua pekerjaan yang kamu lakoni saat ini."
"Pekerjaan yang aku lakoni sekarang, sudah menjadi hobbyku dari dulu."
"Tapi tetap saja Hobby dalam pekerjaan itu sangat melelahkan, makannya kamu harus banyak beristirahat agar tubuh kamu tak mudah lelah."
"Kamu ...."
__ADS_1
Belum perkataan Maya terlontar semuanya, tiba tiba.
Ahkkkkkk.