Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 25Masa Lalu burhan 2


__ADS_3

#Kau buang istrimu seperti sampah kupungut dia seperti permaisuri.


#Dia_Anugrah_Terindahku


Flasblack Burhan


Saat itu aku sedang menunggu persetujuan dari keluarga Dinda, dan juga calon pengantin wanita. Apa dia akan menerima lamaranku saat itu. Tapi jika dia menolak pastinya orang tuanya akan memaksa.


Tersenyum penuh kemenangan melihat poto sang ibu yang sudah tenang di alam sana.


"Bu, aku akan membalas semua sakit hati ibu."


Ponsel berbunyi. Saat itulah Pak Yogi menelponku, untung saja saat melamar Dinda aku menyelipkan no Hp pada kedua orang tuanya.


"Halo. Assalamualaikum, Nak Burhan," ucap Pak Yogi dalam sambungan telepon.


"Walaikum salam, Pak Yogi. Ada apa?" tanyaku yang berpura-pura ramah. Bertanya dengan tenang, rasanya tak menyangka di telepon oleh lelaki yang telah membuat ibuku menderita.


"Ini tentang Dinda anak bapak, saat bapak tanya ternyata Dinda mau menikah dengan Nak Burhan. Asalkan ada syaratnya," ucap Pak Yogi. Membuat aku tertawa dalam hati, benar saja Kedua orang tua Dinda begitu matre, saat aku menawarkan segalanya mereka rela mengorbankan anak pertama mereka.


"Apa syaratnya?" tanyaku. Yang masih berusaha santai, mendengarkan keinginan Pak Yogi.


"Dinda ingin di belikan mobil!" jawab Pak Yogi. Rasanya benar-benar lucu ketika Dinda ingin sebuah mobil, apakah itu keinginan Dinda atau Pak Yogi. Lelaki tidak tahu diri itu.


"Itu gampang pak, bisa saya atur!" jawabku dengan santai.


"Benaran?"


"Yah!"


Setelah Pak Yogi menelponku, aku rasanya ingin tertawa. Mereka masuk ke dalam jebakanku yang mematikan.


Aku senang bukan main, akhirnya bisa segampang itu masuk ke dalam Keluarga Pak Yogi. Dimana dulu Pak Yogi masuk ke dalam kehidupan ibu dan aku dan menghancurkan segalanya, kini berbalik arah. Aku yang akan membuat keluarga mereka hancur.


Sesuai janji aku membelikan mobil untuk keinginan Dinda. Membawa ke rumahnya sekalian memberikan cincin untuk nanti di pakai di jari manisnya, aku tak sabar melihat reaksi mereka.


Setelah sampai di rumah Dinda, ternyata kedua orang tuanya sudah menunggu di halaman rumah.


Mereka menghampiri aku yang membawa mobil bersama sopirku.


"Wah, Nak Burhan ini benaran?" tanya Bu Lina kepadaku dengan mimik wajah senangnya. Mengelus mobil baru yang aku beli.


"Ya, dong bu. Kapan seorang Burhan harus berbohong demi bisa menikah dengan Dinda apa pun saya akan lakukan!" jawabku dengan. bangga diri, untuk menujukan bahwa aku ini benar-benar lelaki mampu.

__ADS_1


Bu Lina mencui pundak suaminya entah apa yang mereka bicarakan. Mereka berbisik seperti orang yang kegirangan.


Saat itulah Dinda keluar, dia berdandan cantik rapih. Bu Lina marik Dinda agar berhadapan denganku.


Wangi, dan indah. Wanita yang sudah berada di hadapanku saat ini. Wajah Dinda menunduk malu, ia begitu manis. Aku mencoba membuat wajahnya menatap pada wajahku dengan menggodanya.


Benar saja, godaanku mampu membuat Dinda tersenyum. Karna aku tahu dari kecil kamu suka bercanda.


"Kamu tersenyum?" tanyaku pada Dinda. Wanita berbulu mata lentik berhidung pesek.


"Iya, karna cara bercandamu mengingatkan aku pada seorang teman!" jawab Dinda, membuat aku berpikir. Apa kah aku teman masa kecilnya, yang ia ingat saat ini.


"Apa kamu punya teman?" tanyaku Ingin tahu siapa teman yang di maksud Dinda saat itu.


Baru saja kami mengobrol kedua orang tua Dinda menyuruh kami untuk masuk, dan mengobrol di dalam rumah.


"Sudah, enggak enak di luar. Ayo mending kita ngobrol di dalam," ajak Bu Lina. Membuat obrolan kami tertunda.


Setelah berbincang-bincang masalah pernikahan, aku segera memasangkan cincin tanda ikatan jika aku dan Dinda resmi menjadi calon pengantin.


Dinda yang tadinya muram, ia mulai tersenyum. Senyuman yang indah akan menjadi musibah untuknya.


"Terima kasih Dinda kamu mau menerima dan menjadi istriku," ucapku pada wanita yang akan menjadi pengantinku sebentar lagi.


Aku mengelar acara begitu mewah untuk Dinda membuat dia bahagia dan membuat dia menderita pada akhirnya.


Setelah menjadi suami pun aku selalu berpura-pura baik dan juga perhatian karna saat itu Dinda masih di dampingi oleh kedua orang tuanya. Tapi setelah orang tuanya pergi baru, aku bisa membuatnya menderita seperti halnya ibuku menderita karna ayahnya.


Dinda selalu bahagia dan tersenyum, melihat aku yang baik hati ini. Apa pun yang ia inginkan aku belikan untuknya dan kedua orang tuanya.


Hingga saatnya aku melenyapkan kedua orang tuanya, dengan membuat mobil yang aku belikan untuk Dinda, mengalami kecelakaan karna rem blong.


Aku kira Dinda akan ikut bersama kedua orang tuanya di dalam mobil itu, tapi nyatanya tidak Dinda beralasan tidak enak badan. Sehingga hanya kedua orang tuanya yang menaiki mobil itu.


Dan Brug ....


Kecelakaan terjadi membuat kedua orang tua Dinda mati. Aku sangat senang karna perlahan mereka mati, kecuali Dinda dan adiknya.


Saat itulah, aku berani menampar, menyiksa. Memperbudak Dinda agar dia mau bekerja menghidupiku. Aku malas bekerja, biarkan istriku yang bekerja.


Membuat Lina Di masukan ke panti asuhan oleh Dinda.


Sifat asliku muncul membuat Dinda selalu bertanya pada suaminya ini.

__ADS_1


"Bang, kenapa abang jadi seperti ini. Apa salah Dinda bang?" tanya Dinda. Membuat mood ku hancur seketika.


Kujambak rambut panjangnya yang terurai indah itu. Melemparkan tubuhnyq, membuat di meringis kesakitan.


Hanya tangisan yang mampu ia keluarkan dari matanya, dia menderita dan tersiksa olehku membuat aku begitu senang.


Dinda terus saja bertanya tentang perubahanku yang derastis berubah begitu saja.


********************


Aku bercerita pada Fras begitu panjang lebar membuat dia menghela nafas begitu berat.


"Ada baiknya kamu bicara pada Dinda tentang masalahmu. Bagaimana pun Dinda tak salah, yang salah adalah kedua orang tuanya," nasehat Fras terlontar.


Aku yang mendengarnya hanya terdiam tanpa menjawab apa pun.


"Dinda wanita baik, jangan sangkut pautkan dengan balas dendam ibumu," ucap Fras membuat diriku seketika naik darah.


"Jadi masuk kamu ibuku bukan wanita baik?" hardikku membuat Fras. Tersentak kaget.


"Bukan begitu, kenapa kamu salah paham dengan perkataanku!" jawab Fras memijit jidatnya, aku hanya melihat wajah pembelaan Fras pada Dinda.


"Pokonya Dinda adalah anak dari Pak Yogi jadi dia sama saja dengan ayahnya."


Aku tetap akan membalaskan dendamku pada Dinda, membuat dia terus menderita.


Fras memegang bahuku dan berkata." Jangan jadikan balas dendammu berkepanjangan. Bisa kamu yang akan menyesali semuanya."


Aku tidak menyangka Fras sahabatku selalu membela Dinda. Dengan menasihatiku, padahal nasehatnya tidak aku suka sama sekali.


Masih dengan jeruji besi tidak ada pemandangan indah hanya ini hari-hari yang aku lalui di penjara.


Rasanya ingin sekali membunuh si Dinda itu. Apalagi dia akan menikah. Setelah bercerita panjang lebar Fras bukanya membantu di malah menasihatiku.


"Gimana Fras kamu bisa bantu aku?" tanyaku pada lelaki gondrong di depanku.


"Entahlah. Setelah aku mendengar ceritamu rasanya berat Haikal!"


Sial ternyata Fras malah mengabaikan ku, padahal aku ingin menghancurkan hidup Dinda saat ini.


"Fras ayolah bantu aku?"


"Rasanya aku tidak bisa setelah mendengar ceritamu!"

__ADS_1


__ADS_2