Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 152


__ADS_3

setelah sampai di rumah sakit, saat itulah Maya dengan terburu-buru menghampiri Ardi yang tengah menunggu Lina yang terbaring lemah. dengan jarum infusan yang masih menempel, Maya seakan tak tega melihat calon menantunya terbaring lemah.


"Ardi."


kini Ardi mulai menatap ke arah sang ibu yang memanggil namanya," akhirnya ibu datang juga."


" Sebenarnya kamu mau ke mana, Ardi?"


Ardi tak mungkin menjawab perkataan sang ibu, ia kini mengalihkan pertanyaan sang ibu," Bu Ardi titip dulu Lina ya!"


Ardi mulai mencium punggung tangan sang ibu, ia bergegas pergi begitu saja tanpa jawaban yang terlontar dari mulutnya.


" ke mana coba anak itu?"


Maya mulai duduk menunggu Lina yang masih terbaring tak sadarkan diri, ia duduk di sisi ranjang tempat tidur tak jauh dari hadapan Lina.


tangan wanita tua itu mengusap pelan rambut Lina," Lina. Cepat sembuh ya nak, ibu tak tega melihat kamu terus terbaring seperti ini."


satu ketukan terdengar dari pintu ruangan Lina.


Tok ....


Maya langsung menghampiri pintu ruangan Lina, wanita tua itu perlahan membuka pintu, melihat siapa yang datang.


lelaki bertubuh tinggi dengan kumis tipis melayangkan sebuah senyuman kepada Maya," Tante Maya. Apa kabar."


"Mm, Pras."


Maya langsung mempersilahkan Pras yang baru saja datang, dengan membawa bingkisan berupa buah-buahan untuk Lina. sebenarnya Maya malas sekali mempersilahkan keponakannya itu masuk ke dalam ruangan Lina, karena ia tahu anaknya sendiri sangat tidak menyukai Pras.


kedatangan Pras, membuat Lina membuka kedua matanya." Lina, gimana keadaan kamu sekarang?"


"Om, datang ke sini?"


Pras memperlihatkan senyumannya yang palsu," tentu donk sayang. sebentar lagi kan kamu akan jadi bagian Keluarga om. mana mungkin Om tidak datang ke sini."


Maya kini mulai menatap ke arah samping Pras, yang di mana sosok wanita berambut pendek yang seakan tak asing bagi dirinya. Maya seperti pernah melihat wanita itu.


"Pras, siapa wanita ini?" tanya Maya yang penasaran.


"Tante, Masa tante lupa dengan Alya, waktu kecil Alya selalu main bersama kita di rumah tante!" jawab Pras.


Alya menampilkan senyumannya yang manis di hadapan Maya, menyodorkan tangan untuk bersalaman.


"Apa kabar tante?"


"Baik."

__ADS_1


Maya berusaha mengingat-ingat wanita yang bernama Alya itu, "Alya. Coba tante ingat ingat dulu."


saat itulah bayangan Alya terpikirkan oleh Maya, di mana Maya mulai berucap kepada Alya.


" Oh kamu, Kamu bukannya gadis kecil yang suka bercandain Ardi kan."


Deg ....


seketika raut wajah Pras berubah, setelah Maya mengatakan hal yang membuat Pras kesal.


Maya kini memegang bahu Alya," Alya maafin tante ya, soalnya tante lupa. karena udah lama sekali tante tidak bertemu kamu lagi. Oh ya gimana kabar kedua orang tuamu?"


"Baik tante!"


"Syukurlah, tante suka ingat waktu dulu bagaimana kamu sering bercanda pada Ardi, sampai kedua pipi Ardi memerah karna kamu yang handal menggoda."


"Tente, bisa aja. Itukan waktu kecil. Sekarang kan Ardi sudah mau menikah tak baik bercerita masa lalu."


"Ya elah, itu kan cuman masa masa dulu. Sekarang ya enggak mungkin kamu godain Ardi. Beda ceritanya kalau sudah dewasa."


"Hem." Pras tiba tiba batuk. Membuat percakapan itu teralihkan.


"Lina, om bawa buah buahan untuk kamu, jangan lupa di makan ya," ucap Pras. Terlihat sekali Pras sangat kesal saat Maya dan Alya menceritakan masa kecil.


"Oh ya, Alya kamu dan Pras pasangan ya. Soalnya tante lihat kalian cocok sekali," timpal Maya menatap ke arah Pras dan juga Alya.


Alya seakan risi dengan tingkah Pras, tapi harus bagaimana lagi ia harus melakukan yang ia rencanakan.


Dreet ....


Suara ponsel berbunyi, di mana sang suami menelepon, Maya kini mengangkat panggilan teleponnya. Walau sebenarnya ia masih sakit hati dengan apa yang di ceritakan Tia semalam.


"Pras, Alya. Tante titip dulu Lina ya, tante mau mengobrol dulu dengan suami tante." Ucap Maya kepada Pras.


"Siap tante." Balas Pras.


Maya mulai pergi dari ruangan untuk mengobrol dengan sang suami di dalam telepon.


"Kamu ada di mana, Maya? dari tadi pagi aku mencari keberadaan kamu."


" Untuk apa kamu mencari keberadaan, biasanya kamu tak pernah peduli."


" apa yang sudah merasuki tubuh kamu, Maya. Saat aku tanya dengan lembut kamu jawab seperti harimau yang ke laparan."


" Ya, memang dari dulu aku seperti ini, kamu ya aja yang tak peka."


"Mm, kalau kamu dekat kumangsa kamu saat ini juga."

__ADS_1


"Apa kamu bilang."


"Enggak tadi ada anggin lewat, ngajak ribut."


"Mm, ya sudah mau apa kamu menelepon dan mencari keberadaanku, bukanya matamu sudah tidak nafsu melihat bodi nenek nenek tua sepertiku."


"Maya, aku hanya berkata satu patah kata, tapi kamu."


"Alah sudahlah."


"Mm, kamu cemburu ya."


"Maksud kamu."


"Ya, wanita kalau lagi cemburu suka gitu, kerjaanya kalau di tanya marah marah mulu."


"Idih, enak saja aku cemburu sama bandot tua kaya kamu."


"Alah bilang aja cemburu jangan muna."


"Sudah, sudah. Jangan bahas lagi, kamu mau apa mencariku."


"Aku mau menanyakan sama kamu, celana dalamku ada di mana."


Lelucon itu membuat Maya kesal dan berkata," enggak lucu. Anton."


Maya langsung mematikan panggilan telepon dari Anton, ia bergegas masuk ke ruangan Lina. Pras kaget dengan tantenya yang datang dengan wajah seperti udang yang baru saja di rebus.


Pras tidak bertanya pada tantenya, ia sudah tahu dengan karkter tantenya yang ketika marah wajahnya selalu memerah.


"Kenapa lelaki itu semua bikin kesal."


Semua mata langsung menatap ke arah Maya, saat wanita tua itu berbicara sendiri.


"Lina, kalau nanti Ardi bikin kamu kesal, kamu bilang sama tante ya," ucap Maya kepada calon menantunya itu.


Lina hanya menganggukkan kepala, tanpa menjawab satu patah kata pun.


"Oh ya, tante kami mau pamit pulang dulu, ya," ucap Pras berpamintan pada sang tante.


"Mau ke mana Pras kok buru buru banget, padahal Ardi belum datang ke sini," balas sang tante yang berusaha tenang.


"Biar saja tante, nanti juga Pras kabarin Ardi, kalau Pras sudah menenggok calon keponakan Pras." ucap Pras, mengusap pelan rambut Lina, tatapan tajam Pras seakan memberi isarat buruk pada Lina. Membuat Lina langsung memalingkan wajahnya, tidak berpikir buruk pada tatapan Pras.


"Terima kasih, Om." balas Lina. Tersenyum kecil pada Pras.


" Pras, kalau ada waktu nanti tante datang ke cafe kamu, ada hal yang mau tante sampaikan," timpal Maya kepada keponakanya.

__ADS_1


"Ok tante, cafe Pras selalu terbuka untuk tante," balas Pras tersenyum.


__ADS_2