Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 236 Perdebatan.


__ADS_3

Di Desa.


Nining kini duduk di ranjang tempat tidur, ia merasa bahagia dengan janji Ardi, lelaki kota yang sudah menaklukkan hatinya.


"Nining teh enggak nyangka, bisa secepat ini. Dekat dengan Aa Ardi, dan Aa Ardi mau menerima Nining."


Karna rasa senangnya, Nining lupa untuk menemui bapak dan ibunya. Untuk memberitahu, jika Nining sekarang berpacaran dengan Ardi.


Namun, saat Nining melangkah melewati ruang tamu untuk menemui sang ibu. Saat itu juga Nining begitu kaget melihat seorang tamu datang ke rumahnya.


Dua sosok lelaki dan juga satu perempuan, di mana Nining seakan mengenal lelaki yang datang ke rumahnya.


"Itu teh Bang Ruslan?"


Nining berjalan perlahan, mengintip ke arah ruang kamu rumahnya. di mana sang Ibu dan juga Bapak berada di sana.


Nining penasaran dengan kedatangan Ruslan dan kedua orang tuanya, mereka seakan berbicara serius kepada bapak Nining.


"Kok, persaan Nining enggak enak begini?"


Nining takut jika Ruslan, berniat untuk melamar Nining, sedangkan bapak yang belum tahu Nining sudah berpacaran dengan Ardi, membuat Nining takut jika kedua orang tuanya menyetujui akan lamaran Ruslan, yang belum tentu Nining setujui.


Pada saat itulah Nining mulai berjalan ke ruang tamu, untuk mencegah kata kata setuju pada bapak dan juga ibunya.


"Ada apa ini teh?"


Terlihat kegelisahan pada raut wajah Nining, karena takut dengan lelaki yang datang dengan membawa kedua orang tua.


Ruslan berdiri dengan senyuman yang mengukir pada bibirnya, kedua matanya bersinar melihat sang pujaan hati datang.


"Aduh, Nining akhirnya datang juga," ucap Ruslan.


Nining mulai mendekat, ke arah ibu dan bapaknya,


"Bapak, ibu. Ada apa ini teh?"


Terlihat raut wajah Bapak dan Ibu Nining sedikit ragu-ragu mengatakan apa maksud kedatangan Ruslan dengan kedua orang tuanya.


"Bapak dan ibu tidak ada maksud menjodohkan kita berduakan?" tanya Nining pelan.

__ADS_1


Kedua orang tua Nining saling menatap satu sama lainnya, mereka bingung harus menjawab perkataan apa terhadap anaknya. karena memang tujuan Ruslan datang ke rumah untuk melamar Nining.


kedua orang tua Nining sebenarnya ragu ingin menerima lamaran Ruslan untuk Nining, karena ia takut Nining tidak menyukai Ruslan.


Maka dari itu mereka hanya diam tak menjawab perkataan anaknya dan juga lamaran dari Ruslan.


"Bu jawab atuh, masa kalian diam saja?"


Ruslan kini mendekat ke arah Nining, dengan senyuman penuh bahagia.


"Ning."


Nining melangkah mundur seakan tak suka jika Ruslan semakin mendekat ke arah dirinya. Dari dulu Nining tidak suka dengan lelaki mental preman Seperti Ruslan.


Apalagi kedua orang tua Ruslan yang terkenal begitu sombong dan sering menjelek jelekan harga diri orang di desa.


"Bagaimana Pak Yono dan Bu Sari?"


kedua orang tua Nining benar-benar terlihat Ragu, "Pak, bu. Nining enggak mau nikah sama si Ruslan."


Deg ....


wanita Ayu lembut dan selalu ramah terhadap orang lain.


Pak Yono kini mulai angkat bicara, ia tak mau membuat Nining tertekan, aplagi Nining adalah anak satu satunya Pak Yono dan Bu Sari.


"Maaf, sebelumnya Pak Hasan dan Bu Nunik. Anak saya belum siap dengan lamaran Ibu dan bapak!"


"Mm. Jual mahal."


Bu Sari yang mendengar ucapan dari orang tua Ruslan sangatlah kesal, Iya berusaha menahan kekesalan agar tidak menjadi perdebatan antara dirinya dengan keluarga Ruslan.


"Ruslan, sebaiknya kita cepat pulang dari sini. Ngpain kamu berharap dengan wanita yang tidak mencintai kamu, kamu ini tampan jangan terlalu berharap dengan si Nining gadis miskin ini," cetus Bu Nunik, membuat darah Nining seketika naik.


sudah terbayang di benak Nining, apa jadinya jika Nining menikah dengan Ruslan, sudah terlihat sifat ibunya yang begitu sombong dan juga terlalu merendahkan orang lain.


kemungkinan hidup Nining tidak akan bahagia dengan orang-orang seperti Bu Nunik dan juga Pak Hasan, yang selalu gampang merendahkan orang lain.


Menilai sesuatu dari materi dan juga kekuasaan.

__ADS_1


" Jaga mulut anda Ibu Nunik yang terhormat."


Dengan beraninya Nining melawan perkataan Bu Nunik.


Bu Sari yang mendengar anaknya berkata seperti itu, seketika langsung menempelkan telapak tangan pada bibir Nining agar tidak berkata kembali, dimana perkataanya itu akan menyakiti hati Bu Nunik dan juga Pak Hasan.


karena mereka orang yang tidak bisa menerima nasehat dari orang lain, hati mereka terlalu tertutup dengan kesombongan.


Bu Nunik yang tadinya melangkah untuk segera pergi dari rumah Nining, kini membalikkan badan menunjuk ke arah wajah Nining.


" Apa maksud kamu berkata seperti itu bocah tengil? Masih untung kamu dilamar oleh anak saya, Ruslan di kampung ini. Asal kamu tahu. Mana ada yang mau melamar gadisnya seperti kamu, tak sopan dan tak punya etika. Jangan karena kamu cantik, kamu bisa berkata tidak sopan kepadaku. Harusnya kamu sadar diri, dasar miskin." Hardik Bu Nunik, membuat relung hati Nining sakit,


Nining tak terima dengan perkataan dan juga hinaan dari mulut wanita tua sombong itu.


" Biarpun saya miskin, saya tidak seperti anda Ibu. saya masih punya perasaan dalam perkataan saya bisa mengontrol diri tidak seperti anda, yang hanya bisa menghina dan juga mencaci maki orang lain yang belum tentu lebih baik dari Anda." Pekik Nining yang tak mau kalah dengan Bu Nunik.


Bu Sari berusaha menenangkan anaknya yang sudah direndungi amarah yang semakin menggebu, perlawanan Nining, benar-benar membuat Bu Nunik mengepalkan kedua tangannya.


"Saya tidak mengerti, kenapa anak saya bisa mencintai wanita model seperti ini." Sindir Bu Nunik di depan Nining.


Nining tersenyum sinis dan menjawab sindiran Bu Nunik.


"Saya juga tak mengerti dengan Bang Ruslan, yang bisa punya ibu sombong dan sering menghina orang lain."


"Kamu."


Hampir saja tangan Bu Nunik melayang pada pipi kiri Nining.


"Ruslan." Bentak Bu Nunik pada anaknya sendiri.


Ruslan masih memegang tangan ibunya sendiri, ia tak mau jika wanita yang ia cintai terluka oleh ibunya sendiri. Walaupun Ruslan ditolak Ia tetap menghargai Nining, dia tidak mau orang yang ia cintai tersakiti.


"Bu, sebaiknya kita cepat pergi dari sini, aku tidak mau, ibu membuat kekacauan di rumah orang lain. Aku malu sebagai anak ibu yang tak bisa bertamu dengan baik."


"Ruslan, kamu?"


"Cepat kita pulang dari sini. Aku ingin segera beristirahat!"


keluarga Ruslan langsung pergi dari rumah Nining, Nining tak menyangka jika Ruslan begitu membela dirinya di depan ibunya sendiri. Padahal Nining hampir mengira jika Ruslan akan sama dengan kedua orang tuanya. Yang sombong dan suka menindas orang.

__ADS_1


__ADS_2