
Ferdi yang sudah enggan berdebat kini berpamitan pergi dari kamar Alya, sedangkan Aliya tetap saja cuek tak mempedulikan aku pergi dari hadapannya.
mMenggenggam erat kedua tangan dan berteriak pada Ferdi yang berjalan keluar dari kamar.," Aku berharap kamu pergi dari sini dan tak kembali lagi. Aku tidak suka jika kamu terus berada di rumah kedua orang tuaku, rasanya membuatku terganggu jadi simpan harga dirimu itu sebelum aku terus menginjak-injaknya."
Ferdi membalikkan badan dan berkat," kenapa kamu harus ber kata seperti itu? Kamu tahu sendiri kan. Aku ini seorang dokter. Jadi jika aku dipanggil oleh orang untuk mengobati pasien? Aku tidak akan menolak, begitupun ketika kedua orang tuamu yang tiba tiba saja menelponku untuk mengobatimu. Tentu saja aku akan datang ke sini."
Ucapan Ferdi membuat Alya semakin kesal, ia ingin sekali melemparkan bantal pada Ferdi, tapi tindakan itu adalah hal yang bodoh." Jangan berharap aku mau diobati dengan dokter seperti kamu, cepat sebaiknya kamu pergi dari sini."
"Ya sudah kalau begitu, cepat beristirahat Alya, untuk pengontrolan luka jahit kamu. Aku akan datang lagi saat seminggu."
Alya terdiam tak mempedulikan ucapan Ferdi kepada dirinya, iya mulai menaiki ranjang tempat tidurnya, setelah Ferdi pergi dari kamar Alya.
Kini hanya ada ruangan dengan kamar yang didesain serba warna biru, Alya bisa menarik napasnya lagi setelah dirinya dikurung paksa oleh Pras di dalam rumahnya. Hingga kedua orang tuanyapun tak bisa mencari keberadaan Alya. "Aku beruntung bisa bebas dari jeratan Pras. dan kembali lagi ke kamarku ini."
@@@@@@
Sedangkan Ferdi yang baru saja keluar dari kamar Alya, membuat kedua orang tua Alya yang ternyata menunggu di balik pintu kamar anaknya ini bertanya.
" Bagaimana dengan Alya. Apa dia sudah mengungkapkan semuanya?"
Ferdi menggelengkan kepala." Alya tetap saja menutup rahasianya."
"Alya, sebenarnya siapa yang sudah melakukan kekerasan fisik kepadamu. Kenapa kamu menyimpan masalah ini." Ucap Renata dengan air mata yang tak terbendung lagi.
Marcel merangkul bahu istrinya dan berkata," sudah mami tenang aja, pasti lambat laun Anna akan mengatakan semuanya."
"Mami berharap seperti itu, pah."
Ferdi tak tega dengan kesedihan orang tuanya hingga berkata," kita harus menyelidiki Pras atau Ardi, karna hanya mereka teman lelaki Alya yang begitu dekat."
Kedua orang tua Alya mengerutkan dahi dan berkata," ya benar. Kita harus mencari tahu mereka. Karna mereka yang begitu dekat dengan Alya."
"Kalau begitu izikan Ferdi menemui mereka berdua."
__ADS_1
Terlihat wajah keraguan pada kedua orang tua Alya, saat Ferdi meminta Izin menemui Ardi dan Pras.
"Apa kamu yakin Ferdi?" Pertanyaan dilayangkan Ratna kepada lelaki yang dulu ia jodohkan untuk anaknya.
"Saya yakin tante, karna saya benar benar mencintai Alya dengan tulus." Jawaban yang begitu indah dari seorang dokter muda bernama Ferdi.
"Andai saja Alya menyadari semuanya, mungkin dia tidak akan mempunyai masalah seperti sekarang. Kenapa dia tidak pernah menurut sama kita. Pih." Keluhan Renata pada sang suami, membuat lelaki tua itu menasehati istrinya.
"Mami, yang sabar ya. Namanya juga Alya masih di usianya yang remaja, dia belum mengenal namanya cinta yang tulus." Balasan bijak untuk istri tercintanya.
"Ya sudah, sekarang Ferdi akan menemui mereka berdua." Dokter muda itu mengecup punggung tangan kedua orang tua Alya untuk pamit.
"Hati hati, Fer." Ucap pelan Renata.
@@@@@
Lelaki bergelar dokter dengan seragam khas putihnya itu, kini menaiki mobil mewah yang ia punya. Hidup Ferdi bergelimangan harta, begitu pun dengan aset yang dia punya.
Namun, Ferdi yang mempunyai segalanya tak pernah berniat mempunyai banyak wanita. Ia tetap mengejar cinta pertamanya.
Ferdi dokter muda itu begitu banyak menolong kedua orang tua Alya, dengan menginvestasi uangnya pada perusahaan Marcel.
Perusahaan yang hampir saja bangkur dan tertelan oleh bumi, karna mengalami kerugian yang fantastik. Tapi semenjak datanganya Ferdi, perusaan Marcel kini berkembang kembali, Ferdi seperti malaikat yang turun dari langit, di utus untuk menolong Marcel dan Renata di saat mengalami keterpurakan keuangan.
Mobil Ferdi sudah tak nampak lagi, Marcel dan Renata mulai masuk ke dalam rumah.
"Alya."
Wajah merah dengan kemaran terlihat pada Alya.
"Kenapa?"
"Mami, papi Kenapa mengizinkan Ferdi menemui Ardi dan Pras?" Teriak Alya. Membuat kedua orang tua Alya mendekat, dan menenagkan kemarahan anak gadisnya.
__ADS_1
"Memangnya kenapa? Apa salah mami menyuruh Ferdi menyelidiki mereka berdua. Atau jangan jangan yang di pikirkan kami memang benar, penyebab kamu seperti ini, mereka bedua."
Alya kini diam kembali, mulutnya seakan tertutup setelah sang mami mengatakan semua itu. Renata mengoyang goyangkan kedua bahu Alya dengan berkata," ayo jawab, Alya. Jangan kamu simpan terus menerus kelakuan jahat mereka."
Alya menangis ia ketakutan dengan wajah sang mami yang terlihat menekan." Aku tidak bisa. Aku tidak bisa."
Alya berteriak histeris. " Alya."
Lelaki tua itu kini menjauhkan istrinya dengan Alya, karna ia tak bisa membuat Alya semakin tertekan.
"Alya, cepat katakan. Alya."
"Cukup mi."
"Alya."
Sang papi mulai menekan Renata, untuk berhenti menekan anaknya." Stop mam, jangan kamu tekan Alya lagi."
"Tekan, apa yang aku tanya sama Alya kamu bilang aku menekannya. Itu mana mungkin? Alya terlalu menutupi dirinya, seharusnya ia terbuka dengan ke adaanya saat ini, bukan malah menutupi masalah."
"Semua itu butuh waktu, mam."
"Waktu dan waktu, jadi kapan. Hah."
Rasa tak sabar dirasakan Renata, ia sudah tak tahan dengan anaknya yang selalu menutupi rahasia Siapa orang yang sudah membuat anaknya menderita.
Renata kini menghampiri anaknya kembali, padahal Marco sudah memisahkan mereka berdua, tapi Renata tetap saja dengan emosinya, ia menekan kembali pertanyaan kepada Alya
"Cepat katakan. Siapa yang sudah membuat kamu menjadi begini? Cepat katakan Alya, mamk sudah tidak tahan lagi melihat kamu menderita seperti ini."
Alya menetup kedua telinganya, ia tak mau mendengar pertanyaan maminya lagi.
"Aku tidak mami, stop buat pertanyaan untuk Alya?"
__ADS_1
"Mami ingin melihat kamu seperti dulu, ceria, tidak seperti sekarang. Apa kamu tidak merasa kasihan terhadap Mami dan Papi, apa kamu akan membuat hati dan mami terus memikirkan keadaanmu yang sekarang, semakin kamu seperti ini semakin Mami dan Papi semakin sedih. Cepatlah Alya katakan, Mami tidak akan menghukummu. Kami tidak akan membuat kamu menderita kembali. Kami ingin menyembuhkan kamu. Ayolah sayang, Katakanlah, apa se sadis itu orang yang sudah membuat kamu seperti ini, sampai kamu tak berani mengatakannya. Ayolah Alya mami tak peduli jika nanti mami mati demi kamu. Mami tak takut jika orang itu mengancam kamu sekarang juga."