Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 128


__ADS_3

Ardi ternyata tengah mengintip, melihat sang om ke luar dari rumah yang baru ia lihat, di mana Ardi sudah curiga dengan sang Om. Saat itulah ia mengikuti jalur di mana orang yang mengancam Lina untuk datang ke tempatnya seorang diri.


"Benar dugaanku. Pengacau itu adalah Omku sendiri, sebenarnya apa tujuan dia berbuat begitu pada keluarga Kak Dinda," ucap pelan Ardi.


melirik ke arah samping, Ardi melihat Lina begitu terlelap tidur, hingga ia tak tega membangunkan wanitanya.


"Lina, aku tak menyangka dalang dari kejahatan ini adalah Omku sendiri," gumam hati Ardi.


Mau tidak mau Ardi harus melanjutkan rencana ini, kalau tidak ia tidak akan bisa melihat keluarga Dinda dan Haikal senang. Walau pun ia tahu sang om dalangnya.


Tanpa berpikir panjang, tadi langsung memutarbalikkan mobilnya untuk segera menemui sang Om di cafe, walaupun sebenarnya hatinya merasa kesal akan perbuatan sang Om yang begitu keterlaluan.


Di dalam perjalanan, saat mengendarai mobil, masih ada rasa tak percaya dengan kelakuan Sang Om yang begitu memalukan dirinya, baru saja tadi malam Ardi mengenalkan sang Om kepada Lina, Namun ternyata lelaki yang menjadi Om Ardi itu adalah dalang semua dari masalah yang di hadapi Lina.


"Ardi, kita ada di mana?" tanya Lina. Bangun, mengucek kedua matanya.


Melihat pada jalanan mobil, jalanan yang baru di lihat Lina pada cermi mobil.


"Kamu tenang ya, kita akan segera pergi ke cafe tempat omku!" jawab Ardi pada Lina.


Tentulah Lina merasa heran dengan jawaban yang terlontar dari mulut Ardi.


"Untuk apa kita datang ke cafe tempat ommu?" tanya Lina pada Ardi.


"Nanti kamu akan tahu sendiri!" jawab Ardi.


Lina tak mempedulikan semuanya, ia hanya diam dan mengikuti apa perkataan Ardi,


Ardi menatap sekilas ke arah Lina, ia tak sanggup jika harus mengatakan yang sebenarnya, takut jika Lina tak menerima semuanya.


Apalagi jika Lina melihat orang yang sudah membuat kakaknya kritis, " semua membuat aku bingung. Apa yang harus aku lakukan."


"Ardi, kamu kenapa?" tanya Lina.


Ardi terlihat melamun, membuat Lina berteriak. " Ardi awas di depanmu."


Kini Ardi tersadar dari lamunannya, ia langsung menyampingkan mobilnya. Membuat Lina syok berat.


Tangan Lina memegang dada dan berkata," Ardi apa kamu mau membuat aku mati mendadak."


"Maaf Lina, aku tak sengaja," balas Ardi.

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang tengah kamu pikirkan, kenapa kamu malah melamun?" tanya Lina.


Ardi langsung menatap ke arah Lina dengan tatapan penuh rasa bersalah, membuat Lina melambai-lambaikan tangannya ke arah wajah Ardi.


"Kenapa kamu melamun, apa yang kamu lamunin?" tanya Lina sekali lagi.


"Apa kamu tidak akan menyesal Lina, jika nanti menikah denganku," ucap Ardi. Kedua mata lelaki itu terlihat berkaca kaca. Lina baru pertama kali melihat seorang lelaki menangis di hadapanya.


"Ardi kenapa kamu menangis," balas Lina, perlahan kedua tanganyan mengusap pelan air mata yang tiba tiba menetes mengenai pipi.


"Kenapa?" tanya Lina sekali lagi.


Ardi tampak diam, ia bingung jika harus berkata jujur. Takut akan Lina yang tak menerimanya.


Ardi tersenyum kecil, menempelkan tangan Lina pada pipinya," aku hanya bahagia bersamamu."


Kata kata itu, membuat Lina menampar pelan wajah Ardi.


plak ....


"Aw, sakit tahu."


Dreet ....


Suara pesan terdengar dari ponsel Ardi.


"Ponsel kamu bunyi." Ucap Lina.


Ardi langsung memegang ponselnya melihat isi pesan yang datang.


( Ardi, jadi tidak kamu datang ke cafe om. )


"Siapa, Ardi?" tanya Lina.


"Omku!" jawab Ardi. Tersenyum pada sang pujaan hati.


Ardi tak boleh takut akan keadaannya saat ini, bagaimana pun ia harus tetap tegar menghadapi masalah yang terjadi, Dirinya tak mau jika Lina dan keluarganya menderita karna ulah sang om yang begitu keji.


"Kenapa saat kamu bilang ommu, kamu seperti kesal pada dia?" tanya Lina.


Tentulah kekesalan itu terasa sekali pada hati Ardi, akan tetapi Ardi berusaha menyimpan rasa kesal itu dalam dalam, agar Lina tak mencurigai semua rencananya.

__ADS_1


"Iya aku kesal, pada Omku yang mau tiba tiba saja ingin memberi kejutan padaku," ucap Ardi berbohong.


hanya kebohongan yang mampu terlantar dari mulut Ardi, dengan cara itu Lina bisa mempercayai dirinya tanpa harus mencurigai apa yang akan dilakukan Ardi kepada sang Om.


"Tidak ada pertengkarankan di antar kalian berdua?" tanya Lina, masih tak yakin dengan jawaban yang terlontar dari mulut Ardi.


karena Lina melihat wajah Ardi yang terlihat begitu benci dan juga kesal terhadap Omnya, Lina sudah tahu ekspresi Ardi ketika Ardi sedang marah.


" Kamu kenapa menatapku seperti itu, Lina?" tanya Ardi sekilas menatap ke arah Lina, Ardi takut jika Lina mencurigai apa yang sudah ia katakan adalah kebohongan yang sangat besar.


menelan ludah dan menjawab pertanyaan Ardi saat itu," ekspresi wajahmu itu berbeda sekali."


Deg ...


Ardi tak menyangka jika Lina, menyelidiki wajahnya sedalam itu.


" Sok tahu kamu, Lina." Ardi berusaha mengajak Lina untuk bercanda, agar tidak ada ketegangan di antara mereka. dirinya tak mau jika Lina mengetahui apa yang sedang ia pendam dan juga kekesalan yang ia tahan pada sang Om.


" Ardi, jelas aku tahu ekspresi wajah kamu seperti apa, ketika kamu marah sedih ataupun benci kepada orang lain," ucap Lina.


Ardi tak menyangka jika Lina begitu memperhatikan dirinya, hingga sedalam itu.


" kamu perhatian juga ya." balas Ardi.


Lina melipatkan kedua tangannya dan menjawab perkataan Ardi." yah, Bagaimana aku tidak tahu ekspresi wajah kamu itu, sehari-hari aku selalu bersamamu. Pastinya aku tahu ekspresi wajah kamu ketika kamu sedang marah sedih ataupun benci kepada seseorang. "


Ardii tertawa terbahak-bahak setelah mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Lina," berarti kamu tahu dong dalam celana aku seperti apa?"


pertanyaan konyol itu membuat Lina membalikan wajahnya ke hadapan Ardi," Ardi kamu ...."


belum perkataan Lina terlontar semuanya, Ardi kini kembali berucap di hadapan Lina," stop Lina jangan marah aku hanya bercanda."


tanggal Lina yang mulai memukul bahu Ardi kini, ya simpan kembali.


"Enggak lucu, Ardi." cetus Lina.


. Ardi mencoba menggoda Lina agar tersenyum, mencuil dagunya dan berkata," segitu juga marah, nanti jugakan udah nikah bisa saling lihat."


. kedua mata Lina membulat," Enggak jelas banget kamu, Ardi."


Ardi seakan senang saat menggoda Lina, yang terlihat emosi. membuat rasa kesalnya terhadap sang Om mendadak hilang secara tiba-tiba, Ardi melihat emosi Lina yang terlihat begitu marah akan bercandaan yang terlontar dari mulut Ardi untuk dirinya.

__ADS_1


__ADS_2