Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 124


__ADS_3

Haikal tersenyum senang saat Ardi langsung menghampiri dirinya,


"Haikal kamu ke mana saja, Lina sudah menunggu di ruangan kak Dinda," ucap Ardi.


kedua mata Ardi mengedipkan ke arah Suster itu, sang Suster itu langsung menunjukkan jempol ke arah Ardi. bahwa ternyata rencananya sudah berhasil, yang di mana Lena kini tengah ditahan oleh suster-suster itu. dan Haikal terbebas dari apa yang sudah dilakukan Lena kepada dirinya.


" Apakah ini saudara Bapak Haikal?" tanya sang suster kepada Ardi.


"Iya saya saudaranya," ucap Ardi.


"Baiklah kalau begitu, saya akan menyerahkan Bapak Haikal kepada anda, karena saya masih banyak pekerjaan yang harus saya urus," ucap Suster itu kepada Ardi berpura-pura baru pertama kali melihat Ardi.


"Baik sus," balas Ardi.


suster itu kini membalikkan badan untuk segera pergi dari hadapan Ardi dan juga Haikal, sedangkan Haikal dibawa oleh Ardi untuk menemui sang istri yang berada di ruangan, begitupun Lina yang sudah menunggu dari tadi.


Haikal sangatlah kesakitan, kepalanya terasa berdenyut. sesekali tangannya memijit kepala yang terasa sakit, agar bisa meredakan rasa sakit yang begitu terasa pada kepalanya.


" Sebenarnya kamu ini kenapa Haikal, Kenapa saat kami berdua datang ke ruangan Kak Dinda kamu sudah tidak ada, Sebenarnya kamu ini sudah dari mana?" tanya Ardi yang merasa penasaran.


Haikal perlahan mulai mengingat apa yang sudah terjadi pada saat dirinya, saat ingin datang ke ruangan sang istri.


perlahan ia mengingat bahwa dirinya, Tengah dirawat di ruangan yang entah ia tidak tahu ruangan apa itu. Haikal berusaha bangun dari ranjang tempat tidur dan melihat ke sekeliling ruangan, yang ia lihat hanyalah seorang suster yang menunggunya. di mana Suster itu sudah baik meminjamkan ponsel untuk dirinya.


tiba-tiba saja Suster itu malah melarang Haikal untuk menemui sang istri yang tengah kritis, dengan berdahalil bahwa Haikal dalam kondisi pemulihan. akan tetapi Haikal terus bersikeras untuk menemui sang istri. hingga di mana saat dia berjalan entah kenapa seseorang yang ia tidak tahu itu siapa, memukulnya begitu keras membuat Haikal terjatuh.

__ADS_1


dari sanalah Haikal lupa semuanya, Ardi sudah memahami kondisi Haikal, saat itulah Ardi mendorong kursi roda Haikal hingga sampai di ruangan Dinda.


pintu ruangan Dinda terbuka, Haikal dan Ardi datang. di saat Lina tengah tengah menemani Dinda di dalam ruangan, Lina yang melihat Haikal langsung turun dari kursinya. ia menghampiri sang kakak dan memarahinya begitu saja." Kak Haikal ini ke mana saja sih, Kenapa kak Haikal ini Luntang Lantu ke sana kemari Sedangkan istri Kakak sendiri Tengah kritis tanpa ditemani siapapun."


Lina meluapkan kekesalannya saat itu juga kepada Haikal, sedangkan Haikal hanya memijit kepalanya yang benar-benar terasa sakit. ya tak bisa menjelaskan lagi kepada Lina. Ardi yang melihat kemarahan lina langsung berusaha menenangkan calon istrinya itu.


" aku tak tahu bagaimana pola pikir Kak Haikal, harusnya Kakak ini...."


belum perkataan Lina terlontar semuanya di hadapan Haikal, saat itu juga Ardi langsung menghampiri calon istrinya. menarik tangan Lina dan juga menjelaskan apa yang sudah terjadi dengan Haikal.


akan tetapi Lina berusaha melepaskan tangan Ardi yang terus menarik paksa tangannya," apa-apaan sih kamu ini, aku belum selesai berbicara dengan Kak Haikal." Ardi seakan tak mempedulikan apa yang dikatakan Lina, lelaki itu tetap saja diam dan mendengar ocehan Lina yang tak henti-henti.


jari tangan Ardi mulai ia tempelkan pada bibir Lina, membuat Lina seketika diam,


"Sudah bicaranya sayang, bisa tidak kamu dengarkan penjelasanku dulu, agar kamu tidak terus mengoceh dan memarahikal begitu saja."


. perlahan Ardi mulai melepaskan jari tangannya yang menempel pada bibir Lina, hingga seketika mulut Lina kembali lagi mengoceh di hadapan Ardi.


" penjelasan apa lagi, sudah jelas jelas Ke Haikal itu salah sudah meninggalkan kak Dinda sendirian di ruangannya. harusnya Kak Haikal itu lebih bertanggung jawab, bukan malah luntang-lantung ke sana kemari tak jelas, coba saja kalau tidak ada aku dan kamu. bagaimana nanti dengan keadaan ka Dinda tiba-tiba saja drop tanpa seorangpun tahu." Ucap Lina.


Ardi langsung mengusap kasar wajahnya, kesal dengan ocehan yang terus terlontar dari mulut Lina. padahal Ardi berusaha menghentikan ocehan yang terus terlontar dari mulut calon istrinya itu. akan tetapi semua sia-sia, Lina lebih mengandalkan emosi daripada perasaan dari hatinya.


dengan terpaksa Ardi terus saja diam dan mendengarkan ocehan Lina sampai selesai tinggal di mana Lina batuk, Karena kelelahan sudah mengoceh terus di hadapan Ardi calon suaminya.


"Bagaimana cape."

__ADS_1


"Apa an sih."


Lina sedikit mendorong tubuh Ardi dengan sikunya, membuat Ardi menahan emosinya.


Lina duduk dan memajukan kedua bibirnya, hatinya benar-benar tak karuan ia kesal sekali dengan Ardi yang malah membuat dirinya semakin emosi.


saat itu juga Lina duduk dengan menyandarkan tubuhnya melipatkan kedua tangannya, menatap tajam ke arah Ardi dengan penuh rasa kesal. sedangkan Ardi langsung menghampiri Haikal kembali, mendorong kursi roda Haikal untuk segera mendapatkan Haikal ke arah Dinda yang berbaring diranjang tempat tidur.


terlihat sekali Haikal begitu tampak lesu, wajahnya benar-benar pucat karena menahan rasa sakit pada kepalanya.


setelah mendekatkan Haikal ke arah Dinda yang tengah tertidur di ranjang tempat tidur dengan keadaan kritis, saat itu juga Ardi langsung menghampiri Lina menarik tangan Lina untuk segera pergi dari ruangan Dinda.


akan tetapi Lina malah menghempaskan tangan Ardi yang akan menarik tangannya," kalau kamu mau keluar, keluar saja aku akan tetap disini menunggu ka Dinda."


Ardi menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal, kesal dengan Lina yang begitu keras kepala tak mengerti kondisi Haikal yang begitu terlihat lemas dan juga menahan rasa sakit di area kepalanya.


Harusnya Lina lebih mengerti kondisi Haikal dan juga memahami penjelasan Ardi yang sudah begitu terang-terangan dijelasin oleh Ardi.


akan tetapi Lina tetap saja tidak mempercayai penjelasan Ardi, Iya Malah Egois dengan apa yang sudah Ardi jelaskan.


"Ayo, Lina. kita biarkan dulu Kak Dinda dengan Haikal di ruangan ini," ucap Ardi kepada Lina.


akan tetapi Lina tetap saja duduk dengan melipatkan kedua tangannya, seakan membiarkan Ardi terus mengoceh. tanpa membalas lagi ucapanya.


Ardi bingung harus berkata apa lagi, saat itulah Ardi mulai membopong tubuh Lina yang tengah duduk di sofa rumah sakit, membuat Lina mengoceh dengan berkata," turunkan aku cepat Ardi."

__ADS_1


akan tetapi Ardi tetap membawa Lina membopong tubuhnya keluar.


"Ardi .... "


__ADS_2