Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 102


__ADS_3

"Tapi kan kita sudah rujuk, dan seranjang berdua. Apa salahnya kita melakukan hal hal yang tak pernah kita lakukan," ucap Anton membuat Maya bergidik ngeri.


"Sudahlah Anton, aku mau pergi," balas Maya terburu buru pergi dari kamar.


Anton terus saja memanggil sang istri dengan menggodanya," Maya.Ayolah kenapa kamu malah pergi?"


"Aku ada urusan Anton, sebaiknya kamu istirahat dan cepat tidur!"


jawab Maya yang semakin jauh dari hadapan Anton.


setelah kepergian Maya, barulah Anton tertawa terbahak-bahak, melihat tingkah istrinya yang begitu ketakutan. ketika Anton menggodanya. Iya memegang dada dengan tangan kanannya, terasa detakan jantung terus saja berdetak seakan lebih cepat dari sebelumnya.


Anton tidak bisa membohongi dirinya sendiri, apalagi hatinya. bahwa dirinya masih menyukai dan menyayangi Maya, akan tetapi Maya tak menyadari hal itu. Maya terlalu egois dan terlalu mengandalkan emosinya.


selama Anton sering mendekati wanita wanita cantik, Iya tidak pernah menodai ataupun melakukan hal yang senonoh pada wanita-wanita itu. dirinya hanya mendekati sebagai pelampiasan dari sakit hatinya.


Sakit hati itu bermula pada Maya yang menuduh dirinya telah menodai Ita sahabat Maya sendiri.


Ita wanita yang terlihat lugu, sebenarnya licik sama halnya dengan Sisil. Karna buah itu tidak akan jatuh jauh dari pohonya, sama seperti sifat anaknya yang tak jauh berbeda dengan ibunya.


Jika Anton membahas semua itu, Anton pasti kesal.


Mengacak rambut dan berkata," Maya kapan kamu berubah seperti dulu."


Dimana Maya yang menjadi istri lembut dan selalu memanjakan sang suami. Anton kehilangan sosok Maya istrinya dulu karna Ita sahabatnya yang selalu ia percaya.


@@@@


Maya yang sudah berlari jauh hingga sampai di ruang tamu, bergidik ngeri, sudah lama memang ia tidak pernah melihat sang suami terus menggodanya, " Anton. Sifatnya kembali lagi seperti dulu."


Maya berusaha melupakan kejadian yang membuat dirinya sedikit bergidik ngeri, apalagi kejadian itu selalu mengingatkannya pada masa lalu yang begitu indah bersama Anton.


wanita tua itu berusaha melupakan masa lalu, yang tiba-tiba saja melintas pada pikirannya.


"Ahk, kenapa juga bayangan Anton selalu hadir dalam pikiranku. Sadar Maya sadar. Anton itu bukan lelaki baik untuk kamu, kamu harus fokus berderama dengan suamimu hanya untuk membahagiakan Ardi anakmu sendiri," ucap Maya. Memukul mukul pelan kepala dengan kedua tanganya.


Anton yang memang terbilang jahil dari dulu, ternyata mulai berjalan mencari keberadaan sang istri.


lelaki tua itu menemukan Maya tengah menggerutu dirinya sendiri, di ruang tamu, membuat Anton langsung menghampiri sang istri dari arah belakang.

__ADS_1


Anton berusaha berjalan pelan, agar sang istri tak menyadari kehadirannya.


saat momen yang tepat, saat itulah Anton memeluk sang istri dari arah belakang, membuat Maya sangatlah terkejut.


Anton membisikkan sesuatu pada telinga sang istri," kamu kenapa istriku?"


Deg .... jantung Maya berdetak tak karuan, kedua pipi wanita itu memerah. Iya segera mungkin melepaskan pelukan sang suami, membalikan badan ke arah suaminya.


"Anton, kamu ini apa apa sih." Cetus Maya.


Anton langsung memeluk istrinya dengan begitu erat," sayang. Kenapa sih kamu tidak pernah peka. Ayo masuk ke dalam kamar."


Maya berusaha melepaskan pelukan sang suami, akan tetap tangan Anton begitu erat memeluk tubuh Maya.


"Ardi datang." bisik pak Anton pada telinga sang istri.


mau tidak mau Maya harus melakukan dramanya bersama sang suami, Maya mulai memeluk sang suami dengan begitu erat, membuat Anton merasa sesak nafas.


" Maya pelukan kamu itu terlalu erat, nafsu seakan sesak." bisik Anton pada telinga Maya.


"Biarin, siapa yang mulai duluan," bisik Maya membalas ucapan Anton.


"Hem."


Anton yang tak kuat dengan pelukan Maya, kini melepaskannya.


Nafas Pak Anton terengah engah seakan terasa sesak, membuat Maya ingin tertawa terbahak bahak.


"Kalau bermesraan di kamar donk yah. Bu. Jangan Di ruang tamu, malu lah kalian sudah tua," sindir Ardi.


"Ya, Ardi kan ayah sama ibu enggak tahu kalau kamu datang. Ya itu derita kamu yang belum nikah," ucap sang ayah membalas sindiran anaknya.


"Ahk, sudahlah, Ardi mau tidur. Cape," gerutu Ardi kesal.


Pak Anton tersenyum begitu pun dengan Maya, melihat Ardi yang mulai terbiasa bercanda. Anton mulai memeluk sang istri kembali, akan tetapi Maya mulai berlari menghindari pelukan suaminya sendiri.


@@@@@


Sedangkan di rumah.

__ADS_1


Dinda tengah asik membereskan rumah, sedangkan Haikal belum juga pulang.


"Kak, aku mau pergi dulu, ya," ucap Lina pada sang kakak.


"Eh, kamu mau pergi ke mana, ini sudah mau sore," balas sang kakak.


"Ya elah kak, cuman sebentar doank juga," ucap Lina. Memanyunkan bibir atas dan bawahnya.


"Enggak bisa, kamu mending bantuin kakak masak," printah Dinda pada sang adik.


"Malas lah, kak," gerutu Lina. Perlahan mulai pergi dari hadapan sang kakak. Namun Dinda kini menyadari langkah kaki adiknya, ia mulai menarik kerah baju adiknya membuat Lina berhenti berjalan.


"Kamu mau ke mana?" tanya Dinda.


"Aku mau pergi ke kamar kok, kak!" jawab Lina berbohong.


"Alasan saja, kamar kamu kan di arah kiri. Kenapa kamu malah mau ke arah depan," ucap Dinda.


"Ya elah kak, kan Lina perginya sebentar kok, asli," balas Lina memohon mohon pada sang kakak.


" kalau Kakak bilang tidak bisa ya tidak bisa, kamu ini jadi Adik harus nurut . Jangan membangkang melulu, tahu sendiri kan kamu juga sebentar lagi mau menikah, jadi kamu harus usahain diam di rumah dan tak bertemu dengan orang di luar sana," nasehat sang kakak terlontar kembali. Membuat Lina mengorek telinganya, seakan bosan dengan nasehat yang terus terlontar dari mulut kakaknya sendiri.


Tok .... tok ...


suara ketukan pintu terdengar jelas, yang di mana Lina langsung tersenyum senang. Gadis itu mulai berlari ke arah pintu depan rumah, membuat Dinda langsung mengejar sang adik yang berlari menuju pintu depan rumah.


"Lina kamu jangan lari ya." Teriak Dinda.


Saat Lina membuka pintu rumah, ia tak melihat seseorang di luar. Lina mengira bahwa Ardi sudah datang menjemputnya, akan tetapi tak ada satu orang pun.


"Loh, Ardi ke mana ya?" tanya Lina.


"Hah, mau ke mana kamu. kabur ya," ucap sang kakak.


Saat itu Lina melihat sebuah kotak kardus berada di depan pintu rumah, membuat ia mengambil kotak itu.


"Kotak kardus, tak ada nama pengirimnya. Hanya tertulis untuk Dinda," ucap pelan Lina.


"Siapa Lin?" tanya Dinda.

__ADS_1


"Entahlah tidak ada orang sama sekali, hanya saja Lina melihat kotak ini di depan pintu!" jawab Lina. Memperlihatkan kotak kardus itu pada Dinda.


__ADS_2