
" Apa Ibu bisa menjamin perkataan ibu sendiri, kalau Ardi akan setia terhadapku?'
Pertanyaan Lina tentulah membuat wanita tua itu tersenyum kecil dalam pelukan Lina, sebenarnya ia tak yakin dengan ucapannya sendiri. karna ayah nya Ardi yang tak lain Pak Anton sering berselingkuh dan mengecewakan istrinya sendiri.
"kamu jangan kuatir Lina, jika Ardi sampai tega menyakitimu. Ibu tak segan segan mencingcang tubuhnya sampai di buat sate,." Balasan Maya membuat Lina tertawa terbahak bahak.
"Lina kenapa kamu malah tertawa? Memang ada yang lucu?" tanya Maya kepada Lina yang begitu bahagia tertawa di depan Maya.
"Ibu itu lucu, masa Ardi mau dicingcang kaya sate! Memangnya Ardi itu sapi Bu!" jawab Lina pada Bu Maya.
" Memang begitu kan, kalau cowok tukang selingkuh itu harus dikasih pelajaran biar dia jera," ucap sang ibu mertua kepada menantunya.
" Iya juga sih, Bu, tapi tak harus dicincang juga kali, kayak daging hewan saja," balas Lina kepada Maya, tangan wanita tua itu tak henti-hentinya mengelus rambut pendek Lina. Iya begitu senang bisa mengobrol akrab dengan calon istri anaknya yang sudah terkenal baik di depan matanya sendiri. Maya sudah sadar akan kecantikan dan kekayaan tidak menjamin kebahagiaan.
Di tengah obrolan yang menyenangkan itu, Pak Anton datang, membawa bunga yang tercium wanginya. Bunga itu begitu terlihat indah di depan mata.
"Halo anakku sayang Lina, ayah bawakan bunga untuk kamu."
"Wah, bunga. Terima kasih ayah."
Lina sudah menganggap Pak Anton itu seperti ayahnya sendiri, semenjak Lina selalu di bawa ke rumah Oleh Ardi, padahal awal bertemu Pak Anton. Lelaki tua itu seperti orang yang sombong dan jarang mengobrol.
Akan tetapi sifat aslinya muncul, Pak Anton begitu ramah dan juga suka bercanda, membuat Lina segan jika lelaki tua itu menganggap dirinya sebagai seorang anak.
"Lina, bagaimana keadaan kamu sekarang, baikan?" tanya Pak Anton.
"Agak mendingan! Cuman ibu kok kelihatan agak murung ya!" jawab Lina. Melayangkan sebuah candaan.
"Murung gimana?" tanya pak Anton.
Lelaki tua itu menatap lekat pada istrinya, yang cemberut dari tadi. Membuat tangan Pak Anton meraih dagu Maya.
Lina menutup mulut menahan rasa ingin tertawa," Mm."
Maya menjiwir telinga suaminya, hingga meringis kesakitan," Ahk. sakit Maya."
"Bodo amat," Cetus Maya.
Pertengkaran mereka membuat Lina tak tahan menahan tawa." ibu, ayah sudah cukup ya. kalian buat Lina tetawa, sebaiknya kita makan buah buahan yang di bawa Om Pras yuk."
Pak Anton mengerutkan dahinya, setelah mendengar nama Pras.
"Pras."
__ADS_1
"Iya, Pras. Dia datang ke sini, dengan seorang wanita yang ternyata wanita itu ialah Alya."
" Pras datang bersama Alya?"
" Iya. Memangnya kenapa?"
"Enggak kenapa kenapa, oh ya. Ardi tahu semuanya tidak?"
"Sudah aku kasih tahu!"
Lina mulai mencium bau perdebatan di antara kedua insan di dekatnya. Pak Anton dan Bu Maya, yang saling menyalahkan satu sama lain.
padahal hanya masalah sepele, tapi Mereka terlihat tak mau saling mengalah.
Lina hanya bisa menatap kedua orang tua Ardi, ia tak bisa membuat mereka akur.
"Aku enggak menyangka jika kedua orang tua Ardi bisa berdebat sehebat itu." Gumam hati Lina.
@@@@
Ardi masih menunggu di mobil, ia tak sabar ingin segera masuk ke dalam penjara untuk menanyakan lelaki yang menjadi mantan suami Dinda.
"Kenapa Pras dan Alya begitu lama, sebenarnya mereka sedang apa di sana."
Suara ponsel Ardi kembali berbunyi, kini Ardi mulai mengangkat panggilan teleponnya.
"Halo, Lina. Ada apa?"
"Ardi, kamu masih di mana!?"
"Aku masih ...."
hampir saja Ardi mengatakan semuanya kepada Lina, Untung saja saat itu Ardi mulai ingat bahwa Lina belum tahu semua yang ia rencanakan.
"Ardi, jangan jangan kamu nekad pergi ke penjara?"
Deg ....
Ardi berusaha berbohong kepada Lina, Iya tak mau keadaan Lina semakin memburuk, karena dirinya yang datang sendirian ke dalam penjara.
" kamu ini ngomong apa, aku lagi ada urusan dengan klien. Mana mungkin aku datang ke penjara sendirian."
" syukurlah kalau begitu aku takut kamu datang ke penjara sendirian."
__ADS_1
Lina sangatlah mengkhawatirkan keadaan Ardi, ya tak mau jika adik pergi sendirian ke penjara. dirinya tak mau jika Ardi kenapa apa.
" Ya sudah aku masih sibuk saat ini, kamu Jaga dirimu baik-baik ya di rumah sakit, Oh ya Ibu masih ada di sana kan?"
" Ibu masih ada di sini, hanya saja sekarang Ibu telah berdebat dengan ayah."
" masa iya Ibu berdebat dengan ayah di depanmu."
" ya begitu, makanya aku katakan semua ini kepada kamu,"
" Ibu dan Ayah suka bikin aku malu saja, sudah tua juga apa sih yang mereka debatkan."
"Sudah sudah, Tak usah kamu malu, namanya orang yang sudah berumah tangga biasanya juga seperti itu, pasti ada hal sepele yang akan diperdebatkan dalam hubungan rumah tangga."
" Iya juga sih, tapi tak seharusnya kan di depan kamu juga."
' sudah nggak apa-apa aku memaklumi semuanya kok."
" Ya sudah aku mau membahas bisnis bersama kelainku dulu."
"Oke."
panggilan telepon pun dimatikan sebelah pihak, Ibu Maya dan Pak Anton menatap ke arah Lina.
"Ibu, ayah. Kenapa?"
"Ibu hanya ngasih tahu kamu saja, kalau nanti Ardi seperti ayahnya, bilang sama ibu ya."
Lina mengerutkan kedua alisnya, bingung dengan apa yang di katakan Bu Maya kepada dirinya.
Saat itulah, Pak Anton yang tak mau kalah dengan ucapan istrinya. Kini memberitahu pada Lina." Kamu jangan dengerin apa perkataan wanita tua ini. wanita tua ini terlalu banyak berbohong, sampai anaknya sendiri pun tak menyukai sifatnya."
Bu Maya kini mendorongkan wajah Pak Anton ke sebelah kiri, membuat telinga menutup mulut menahan rasa ingin tertawa. " kalau ngomong ini jangan sembarangan, pak. jelas papa sendiri yang suka berbohong terhadap istri sendiri."
saat itulah Lina berusaha menghentikan perdebatan kedua orang tua Ardi. dirinya sangat pusing melihat perdebatan yang tak usai usai dari tadi, semenjak kedatangan Pak Anton untuk menemui dirinya.
" sebenarnya apa sih yang kalian debatkan saat ini?" tanya Lina tegas.
Pak Anton dan Bu Maya menundukan kepala, saat calon menantu mereka menasehati dengan begitu lembut. kedua pipi mereka memerah menahan malu akan apa yang sudah mereka lakukan di depan Lina.
" Lina itu suka melihat ayah dan ibu itu selalu harmonis, tidak seperti sekarang berdebat dan saling menyalahkan, hanya karena masalah sepele."
" habisnya lelaki tua ini bikin, Ibu kesal. Lina."
__ADS_1
Lina tersenyum lebar, mengusap pelan tangan ibunda Ardi. dirinya berusaha menenangkan kekesalannya terus menumpuk pada hati ibu Maya dengan perlahan, agar wanita tua itu tak larut dalam kekesalan.