Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bba 117


__ADS_3

"Ayo, sekarang kamu ikut dengan ibu," ucap wanita tua itu. Sembari memegang tangan Lina.


Lina hanya menuruti apa yang dikatakan Bu Maya, wanita tua itu menyuruh Lina untuk duduk di dekat meja rias, tangannya mulai memegang rambut panjang pendek Lina. Merapihkan rambut pendek Lina.


"Sekarang kamu duduk yang manisnya, ibu akan membuat sesuatu kejutan untuk kamu," ucap Bu Maya sembari menyisir rambut pendek Lina.


setelah beres merapikan rambut pendek Lina, Bu Maya kini membersihkan wajah Lina yang terlihat begitu berantakan dengan make-up yang tak beraturan.


Begitu mudahnya wanita tua itu membersihkan wajah Lina, Padahal dari tadi Lina sudah lelah membersihkan wajahnya dengan air.


" padahal aku sudah berusaha membersihkan wajahku dengan air di dalam kamar mandi, tapi kenapa air itu tidak bisa membersihkan wajahku ini," ucap Lina membuat wanita tua itu tersenyum kecil.


" mau kamu bersihkan dengan air sampai berapa kali pun, make up ini tidak akan luntur," balas Bu Maya.


"Loh, kenapa begitu?" tanya Lina yang tak mengerti dengan masalah make up.


Bu Maya langsung menjelaskan semua kepada Lina, membuat Lina mengusap pelan wajahnya dan merasa malu.


"Sekarang kamu paham?" tanya Bu Maya.


Lina menganggukkan kepala setelah Bu Maya berkata seperti itu," ya aku paham."


dengan perlahan Bu Maya mencontohkan bagaimana cara bermake up, membuat Lina dengan fokus melihat semua yang diajarkan wanita tua itu.


"Bagaimana kamu paham sekarang."


Lina sangat senang, dengan Bu Maya yang mengajarkan dirinya bermake-up.


"Wah, ini beda sekali hasilnya dengan yang tadi."


wanita tua itu menutup mulut, menahan rasa tawa ketika Lina meledek dirinya sendiri.


"Ya sudah sebaiknya kita cepat turun ke bawah, untuk segera sarapan." Ajak Bu Maya kepada calon menantunya.

__ADS_1


saat Lina berjalan, Bu Maya menyuruh Lina segera memakai sepatu berhak tinggi, agar penampilannya itu terlihat begitu sempurna. akan tetapi Lina sangatlah ragu dengan sepatu yang diberikan Bu Maya untuk dirinya.


karena dirinya yang belum pernah memakai sepatu seperti itu, buat iya berucap kepada wanita tua itu," bisa tidak sepatunya diganti, aku tidak bisa memakai sepatu berhak tinggi itu."


Bu Maya menggelengkan kepala, dirinya berusaha menerima Lina yang memang berbeda dengan wanita lain," baiklah. Ibu akan menyuruh pembantu membawakan sepatu yang kamu suka saja."


Lina sangatlah senang, ketika Bu Maya mengerti akan dirinya," Terima kasih, Bu Maya."


"Mm."


obrolan mereka seketika berhenti, saat Ardi datang menemui Lina di dalam kamar.


"Ya, kalian ternyata ada di sini. Ayo buruan kita sarapan, Ardi udah lapar." Ucap Ardi, kepada Bu Maya dan juga Lina yang asik mengobrol, sesekali Ardi Memegang perutnya yang terasa keroncongan.


"Ya ampun, Ardi. Kamu nungguin kami, ya sudah ayo kita makan," ajak Bu Maya pada anak dan juga calon menantunya.


Di tengah ajakan itu, suara ponsel Lina berbunyi. membuat wanita itu seketika berhenti menatap pada layar ponselnya yang tiba-tiba saja berbunyi.


melihat Lina mendadak berhenti, membuat Bu Maya bertanya kepada gadis itu," Kenapa Lina, kok ibu perhatiin kamu seperti orang yang kaget saat melihat ponsel?"


Hanya itu yang bisa dilakukan Lina, Iya ta Mau keluarga Ardi masuk dalam masalah yang dihadapi Lina dan juga keluarganya saat ini.


"Ya ampun, jadi nanti kamu akan datang ke rumah sahabatmu itu?" tanya Bu Maya.


"Iya, Bu!" jawab Lina.


"Ya sudah, Ardi nanti kamu antar Lina ke rumah sahabatnya itu, " ucap Bu Maya menyuruh Ardi Untuk mengantarkan Lina.


Lina tentu saja langsung menolak perkataan Bu Maya yang menyuruh Ardi Untuk mengantarkan dirinya. Ardi tentulah Curiga dengan penolakan yang terlontar dari mulut Lina.


" gak usah, Lina bisa sendiri kok, kasihan Ardi jika mengantar Lina. Ardi juga kan pastinya sibuk di kantor saat ini," ucap Lina pada Bu Maya.


Ardi langsung menimpali perkataan calon istrinya itu," tak usah menolak begitu Lina, aku pasti akan mengantarkan kamu. karena pekerjaan di kantor bisa Aku hendak ke kepada sekretarisku di kantor."

__ADS_1


Lina hampir saja bingung, Bagaimana caranya ia bisa menolak tawaran Ardi dan juga ibunya. Iya tak mau jika Ardi tahu bahwa masalah yang tengah dihadapi dirinya dan keluarganya sangatlah berat, Lina tak mau jika Ardi menjadi sasaran dari masalah yang tengah dihadapi Lina.


" tuh, Ardi juga tidak keberatan mengantarkan kamu, Kenapa kamu menolak Lina? Apa ada yang kamu sembunyikan dari ibu?" tanya wanita tua itu membuat Lina sangatlah gugup.


Bu Maya seakan tahu apa yang tengah dirasakan Lina saat itu, membuat Lina susah sekali mencari sebuah alasan.


"Tidak ada yang Lina sebunyikan kok, bu." ucap Lina. berharap wanita tua itu tak mencurigai apa yang sudah ia rencanakan.


"Mm, ya sudah. Nanti kamu pergi bersama Ardi, ibu kuatir sama kamu nanti di jalan. Takut terjadi apa apa, Ya sudah sebaiknya cepat habis kan sarapan kalian, ibu ada acara dengan sahabat sahabat ibu," ucap Bu Maya.


.


Ardi menatap kearah Lina yang terlihat begitu muram, terlihat sekali Lina menyembunyikan sesuatu dari dirinya.


setelah acara sarapan selesai, Lina bergegas mengganti bajunya untuk segera pulang. saat itulah Ardi sudah bersiap menunggu calon istrinya menaiki mobil yang ia sudah sediakan.


"Hah, aku harus mencari alasan apa lagi ya, supaya Ardi tidak mencurigai gerak-gerik untuk menemui lelaki yang pernah memegang ponsel kak Dinda." ucap Lina pada hatinya.


"Kok, kamu ganti baju?" tanya Ardi. melihat pakaian Lina yang begitu berbeda dari sebelumnya, terlihat Lina memakai celana panjang dan juga jaket yang terlihat tebal. membuat rasa penasaran pada hati Ardi semakin menggebu.


" sepertinya dugaanku benar saat ini, Lina menyembunyikan sesuatu yang tidak aku ketahui." gumam hati Ardi.


"Oh, ingin saja. Ya sudah ayo cepat kita pergi, Aku tidak mau selamat melihat sahabatku itu." ucap Lina mengalihkan pertanyaan yang terlontar dari mulut Ardi.


.


saat mereka berada di dalam perjalanan, ponsel Lina kembali berdering. membuat Lina dengan terburu-buru membuka layar ponselnya dan melihat. Siapa yang mengirim pesan kepada nya lagi.


kedua matanya membulat, membaca isi pesan itu. membuat ia tak sabar ingin menemui orang yang sudah memakai ponsel Dinda Kakaknya sendiri.


"Lina."


panggilan Ardi membuat Lina terdiam menatap layar ponsel, Ardi semakin heran dengan tingkah calon istrinya itu, apalagi saat menerima pesan dari ponselnya.

__ADS_1


Sebenarnya apa yang telah terjadi dengan Lina, setiap kali menerima pesan, Lina terlihat begitu ketakutan.


__ADS_2