
Ardi mulai mengantarkan Lina masuk ke dalam kamarnya, akan tetapi sang ibu bergegas mengejar Ardi. Tangan wanita tua itu langsung menjewer telinga anaknya.
"Kebiasaan kamu, Nak."
"Ahk, sakit, bu."
"Maaf bu, maksud Ardi kan baik, mau mengantarkan Lina ke dalam kamarnya."
"Eh, enggak baik cowok yang belum mahromnya. Biar ibu yang mengantarkan Lina saja ke dalam kamarnya."
"Ya, elah bu. Gagal dong."
Wanita tua itu melirik ke arah anaknya, membulatkan kedua mata dan berkata," apa yang gagal."
Ardi yang masih mengosok gosok telinganya, membuat ia tak berani menjawab ucapan sang ibu, ia hanya tersenyum kecil dan mengganggukan kepala untuk pamit.
"Ke mana kamu?" tanya sang ibu, sedikit membentak Ardi.
"Ya elah bu, Ardi mau tidur lah, emangnya mau ke mana!" jawab Ardi cetus.
"Ardi, Ardi. Anak itu."
Kini Bu Maya mulai merangkul lengan tangan Lina mengantarkan ia ke dalam kamarnya.
" Ayo Lina kamu harus segera istirahat."
setelah mengantarkan Lina ke dalam kamarnya, wanita tua itu berpamitan, kepada Lina untuk segera tidur karena waktu sudah begitu malam. biasanya Bu Maya selalu menemani Lina, akan tetapi hari ini Bu Maya terlihat ingin berduaan dengan sang suami.
Lina kini menutup pintu kamarnya, untuk segera tidur mengistirahatkan seluruh badan yang terasa begitu pegal. ia memikirkan apa yang sudah ia katakan terhadap keluarga Ardi, yang di mana dirinya menyetujui pernikahan yang akan segera digelar di waktu yang dekat.
mungkin ini keputusan yang terbaik, agar tidak ada fitnah di antara Ardi dan juga Lina. karena semenjak Dinda di rumah sakit, Lina begitu banyak bergantung kepada keluarga Ardi. apalagi sekarang Lina harus selalu tinggal di rumah Ardi, karena dikhawatirkan orang itu akan datang lagi dan mencelakai Lina.
bukan mengistirahatkan tubuh, Lina malah duduk memikirkan lelaki yang menjadi Om Ardi. dirinya berusaha mengingat wajah orang yang menjadi sosok sebagai Om.
"Siapa sebenarnya lelaki itu, kenapa wajahnya tak asing, dan apa tujuannya pada keluargaku, sampai ia melakukan hal yang begitu kejam."
__ADS_1
Lina menarik nafas dalam mengeluarkannya secara perlahan. Berusaha tetap tenang,
Tok ... tok .... tok ...
ketukan pintu kini terdengar, membuat Lina yang mulai menutup kedua matanya untuk segera tidur. kini terbangun kembali, Ya mulai menghampiri pintu kamarnya.
"Hah, siapa coba malam begini."
Saat Lina membuka pintu kamarnya, saat itulah lembaran kertas berada di atas lantai di dekat pintu kamarnya, segera mungkin ia mengambil lembaran kertas itu.
"Kertas apa ini."
Lina kini menutup kembali pintu kamarnya, ia mengira jika Ardi yang mengirim kertas lembar itu, " apa Ardi yang mengirim kertas ini."
saat itu Lina mulai membuka lembar kertas yang melipat, terlihat begitu banyak tulisan di dalam kertas yang baru saja ia buka," Lina, enak sekali kamu bisa sembunyi."
Deg ....
Lina tak mengerti dengan maksud ucapan dari surat itu, Iya kini membuang surat itu ke tong sampah yang tak jauh di dekat ranjang tempat tidurnya, hatinya gelisah. seakan orang itu tengah mengawasinya saat ini.
"Kenapa, ada orang yang mengirim surat tengah malam begini, siapa dia?"
tiba-tiba suara petir menyambar, membuat rasa takut tak terkendali, Lina kini berusaha menutup kedua kupingnya.
tangan kanannya perlahan membuka gorden jendela, ia melihat ternyata langit mengeluarkan air hujan, dan tak lupa dengan suara petir yang terus saja menyambar.
suara petir itu terdengar sangat menyeramkan, apalagi terlihat bayangan petir yang begitu putih menghiasi langit yang terlihat gelap tanpa bintang.
malam ini Lina terasa sangat ketakutan, tanpa Bu Maya yang menemani tidurnya.
Lina berusaha untuk tidur, tak memikirkan surat yang baru saja ia baca. Ayo berusaha melupakan semua masalah yang tengah dihadapi, dan rasa takut yang terus menghantuinya malam ini.
Lina berusaha mengambil selimut untuk segera menutup badannya yang terasa dingin, karena di ruangan kamar Lina terasa begitu dingin.
suara petir itu terus saja terdengar membuat Lina tak bisa tenang, Ya berusaha Menutup Mata akan tetapi rasa takutnya tak hilang juga.
__ADS_1
Brakk ....
suara lemparan batu terdengar keras, yang di mana batu itu menyambar jendela kaca kamar Lina. ia berusaha menahan teriakannya, agar tidak mengganggu orang-orang di rumah. menutup mulut perlahan membuka kembali gorden jendela kamarnya.
Benar saja, sebuah batu merusak jendela kamar Lina. perlahan ia bangkit dari ranjang tempat tidurnya, untuk sekedar melihat keluar jendela, Siapa orang yang sudah melakukan perbuatan yang tidak pantas di malam hari.
Dari kejauhan, ternyata Lina melihat seseorang memakai jubah hitam melambaikan tangan ke arah dirinya. wajahnya tak terlihat karena baju hitam yang melekat menutupi area tubuh dan juga badan orang itu.
"Siapa dia?"
Tiba-tiba saja tangan orang itu mengangkat, membuat Lina mengerutkan dahi,
Dan ternyata orang itu kembali melemparkan batu ke arah jendela Lina. dengan sikap lina langsung menghindari jendela kamarnya untuk tidak terkena lemparan batu orang itu.
Batu itu kini mengenai kamar Lina, Ya berusaha untuk berani menghadapi orang itu dengan berteriak," siapa kamu."
teriakan Lina malah membuat orang itu berlari terbirit-birit, " Heh, jangan lari kamu."
Lina berusaha mengejar orang itu dengan keluar dari kamarnya, dia ingin mengetahui siapa orang yang sudah berani melemparkan batu beberapa kali ke jendela kamarnya.
"Aku harus mengejar orang itu."
Ardi yang belum tidur, mendengar suara teriakan Lina yang terdengar begitu jelas ke dalam kamarnya, Ya berusaha untuk menghampiri Lina. kuatir dengan keadaan calon istrinya yang tidur sendirian di dalam kamar.
Dan benar saja saat Ardi membuka pintu kamarnya, terlihat Lina berlari terbirit-birit untuk segera keluar dari rumah. Ardi berusaha mengejar Lina, " Lina mau ke mana kamu."
Lina mengabaikan teriakan Ardi, Iya tetap fokus berlari untuk keluar rumah mengejar orang yang sudah begitu berani melemparkan batu ke jendela kamarnya.
"Awas saja, jika orang itu tertangkap akan aku bunuh dia."
Lina berusaha membuka pintu rumah Ardi, untuk segera keluar.
"Lina, kamu mau ke mana?" tanya Ardi, memegang lengan Lina.
Lina malah menghempaskan tangan Ardi yang memegang lengannya, ia menatap sekilas ke arah Ardi dan kembali membuka pintu rumah.
__ADS_1
setelah pintu rumah terbuka, saat itulah Lina mulai berlari lagi mencari keberadaan orang itu. Ardi berusaha mengejar Lina menahan Lina untuk tidak keluar rumah, karena kuatir keadaan yang tak memungkinkan, hujan yang tak henti membuat penadangan Lina terganggu.
"Lina, kamu mau ke mana? Di luar hujan sebaiknya kita ke luar." Ucap Ardi, melihat Lina menatap ke sana ke mari, Mencari sosok orang yang sudah menerornya.