
Pras langsung mematikan ponselnya, menaruh kembali ponselnya pada saku celana.
Dret ....
Ponsel itu kini kembali berbunyi, membuat Pras mengangkat dan berkata," halo. Siapa?"
"Halo, ka*pr*t."
Pras kini melempar ponselnya, " Sialan, b*ng*t."
Kesal yang kini di rasakan Pras, membuat ia tak ingin menggangkat panggilan telepon itu lagi.
Seketika suara wanita terdengar dari ponsel Pras, membuat tangan Pras mencoba meraih ponselnya yang sudah ia lempar ke bawah jok mobil.
Pras tak sadar jika sambungan teleponnya masih terhubung," Halo, siapa?"
Kini suara wanita terdengar jelas, wanita itu tertawa terbahak bahak, " Halo, siapa ini?"
Tidak ada jawaban, dari orang yang menelepon Pras, membuat ia berucap kasar." Gila."
Jari tangannya kini mulai mematikan sambungan telepon yang masih terhubung dengan ponsel Pras.
Hingga di mana.
"Halo Pras."
Suara wanita kini terdengar kembali, membuat Pras mengurungkan niatnya untuk mematikan ponselnya.
"Siapa kamu?"
Pras bertanya dengan nada amat kesal, suara wanita itu terdengar kembali tertawa.
"Halo."
Tutttt ....
"Ahk, sial wanita itu malah mematikkan ponselnya. Dia belum menjawab pertanyaanku, sebenarnya siapa dia?" ucap Pras, masih dengan tangannya yang mengendarai mobil.
Tring ....
Satu pesan datang.
( Hai Pras.)
Pras yang fokus mengendarai mobil, membulatkan kedua matanya." Ini orang benar benar gila?"
Dreet .....
Ponsel Pras bergetar kembali, memberitahukan bahwa ada panggilan telepon masuk.
__ADS_1
"Halo. Siapa ini, kamu gila ya, hah."
"Halo, tuan. Ini saya Yono."
"Oh, kamu Yono, ada apa?"
"Wawan dan Abdul kini masuk ke kantor polisi, begitu pun dengan Tuan Ardi!"
"Ahk. Sial, perjalanan menuju kantor polisi masih jauh." Gerutu Pras.
.
"Ya sudah, kalian cek dulu ke sana. Saya masih di jalan," ucap Pras pada sambungan telepon.
"Baik, tuan."
Kini panggilan telepon pun di matikan sebelah pihak, Pras kira yang menelepon kepadanya adalah wanita tadi, nyatanya adalah pelayannya Yono.
"Gara gara panggila telepon itu, perjalananku jadi terhambat." Gerutu Pras di dalam mobil.
@@@@@
Wawan dan Abdul yang sudah masuk ke kantor, kini saling mengedipkan mata satu sama lain. Memberi kode untuk menjalankan rencana mereka berdua.
Sedangkan Lina yang mengikuti mereka dari belakang, seakan curiga dengan tingkah Wawan dan juga Abdul. Yang dari tadi saling memberi kode satu sama lain.
" Kenapa dengan mereka berdua, seperti merencanakan sesuatu yang tidak baik. Sepertinya aku harus memberi tahu Ardi sekarang juga, karena ada sesuatu yang aneh di antara mereka berdua." gumam hati Lina.
" Ardi aku ingin berbicara kepada kamu sebentar saja," ucap Lina kepada Ardi.
Ardi kini mengurutkan dahinya dan menjawab perkataan Lina," bicara apa Lina?"
"Ini penting sekali!" jawab Lina menarik tangan Ardi untuk berbicara hanya 4 mata denganya.
"Tapi ...."
"Sudah ayo."
Untuk sementara waktu Ardi memberi tahu Jerry, untuk tidak bertanya dulu kepada Wawan dan juga Abdul.
Mereka berpamitan dulu sebentar kepada Jerry.
"Ada apa lagi Lina?"
"Ar, aku harap kita tak meneruskan kesaksian ini lagi. Aku curiga dengan mereka!"
Ardi kini memegang jidatnya dan menjawab perkataan Lina," karena itu lagi. Sudahlah percaya padaku, semua akan baik-baik saja, kamu nggak usah kuatir. Mereka pasti takut dengan ancaman yang kita berikan."
" Tapi, aku tak yakin, Ardi. Tadi juga aku melihat mereka seakan merencanakan sesuatu yang tidak baik kepada kamu, sebaiknya kita hentikan saja semua ini."
__ADS_1
" Mana mungkin sudah sejauh ini kita hentikan begitu saja? Maaf Lina, aku tidak bisa menuruti usulan kamu itu. Aku ingin meneruskan apa yang aku inginkan sekarang, jadi aku berharap kepada kamu. Tolonglah berpikir positif, mereka pasti akan mengakui Kesaksian tentang omku sendiri yang sudah berbuat jahat."
"Bukan masalah itu. Ardi. Aku takut."
" Sudahlah, kita tidak perlu banyak waktu. kita harus menyaksikan apa yang mereka katakan."
Ardi tetap bersih kukuh, untuk melihat kesaksian Wawan dan juga Abdul yang akan memberitahu kejahatan Pras.
Lina yang berusaha memberi tahu Ardi, kini diam seribu bahas, tak mau mengungkap apa yang ia lihat pada Ardi. Karna calon suaminya yang tek percaya.
Mereka berdua kini berjalan ke ruangan polisi, di mana Jerry tengah menunggu kedatangan Ardi dan juga Lina. Untuk mendengarkan kesaksian Wawan dan Abdul.
" gimana? Apa kita mulai sekarang juga." Tanya Jerry.
Ardi menganggukan kepala, mengiyakan Jerry untuk bertanya pada Wawan dan Abdul.
"Stop. Sepertinya kita hentikan saja dulu, aku tak yakin dengan mereka berdua," ucap Lina dengan lantangnya.
Haikal yang mendengar Lina, menghentikan apa yang akan di pertanyaakan Jerry. Membuat ia tentulah bingung.
"Ada apa dengan Lina? Kenapa tiba tiba ia ingin menghentikan pertanyaan Jerry, sebenarnya ada apa ini?" Gumam hati Haikal.
"Lina. Kamu ini apa apaan, kenapa kamu malah menghentikan Jerry yang akan bertanya kepada mereka berdua," timpal Ardi.
Lina kini berjalan mendekat ke arah Wawan dan Abdul, sembari melipatkan kedua tanganya dan bertanya.
"Aku tak yakin dengan kesaksian mereka berdua."
Ardi kini mendekat ke arah Lina, menarik tangan Lina dan berkata." Lina, kamu jangan mengkeruh keadaan."
Lina berusaha melepaskan tangan Ardi yang memegang tangannya dengan begitu erat " aku tidak mengkerut keadaan di sini, aku hanya ingin menuruti apa yang ada pada pikiran dan juga hatiku."
Sebenarnya Jerry juga mengerti apa yang katakan Lina. Sampai Lina dengan beraninya menekan Ardi, untuk tidak membawa Wawan dan juga Ardi ikut kantor polisi hanya untuk memberi kesaksian.
"Nona Lina. Anda tenang saja, kami yang akan bertanya hingga mereka berkata jujur dan tak membohongi polisi." ucap Jerry.
Ardi yang mendengar ucapan Jerry, kini membuat ia berkata," sudahlah Lina. Jerry sebagai polisi juga paham. Ia pastinya akan mendengar Wawan berkata jujur.
Sedangkan Haikal tetap fokus duduk untuk melihat dan mendengar kesaksian Wawan dan juga Abdul walau sebenarnya Haikal juga tak yakin sama seperti Lina. Karna takut jika pertanyaan yang terlontar dari mulut Jerry. Membuat Wawan dan Abdul tak mengakui semuanya ia malah berbohong."
Haikal kini berusaha bersikap santai dan melihat apa yang akan terjadi saat itu.
Jerry menyuruh Ardi untuk menenangkan calon istri, sebelum pertanyaan terlontar kepada Wawan dan juga Abdul.
"Lina kamu harus tenang dulu, kita nanti akan mendengar kesaksian mereka berdua."
"Baiklah."
pada akhirnya Lina tak berucap kembali setelah Ardi menyuruhnya untuk tetap tenang dan bersikap biasa saja. Hingga kini Jerry langsung melontarkan sebuah pertanyaan kepada Wawan dan Abdul.
__ADS_1
"Wawan dan Abdul, dengarkan apa yang akan saya tanyakan kepada kalian berdua, tolong di jawab jujurnya." ucap Jerry.