Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 68


__ADS_3

Ardi langsung menepuk meja dan berkata," sudah cukup bu."


Deg ....


Sang ibu langsung memegang dada dan berkata." Kamu marah Ardi?"


"Aku tidak marah, sebaiknya urusan keluarga kita jangan sampai ada yang tahu!" jawab Ardi pada sang ibu.


Ardi memang terlihat seperti anak nakal, tapi dia lebih terlihat dewasa saat menyangkut tentang urusan keluarga.


Karna baginya, aib keluarga tak pantas jika di ubar ubar apalagi di depan orang lain, Ardi tak menyukai itu.


Sang ibu yang memang sudah lelah dengan semuanya, terkesan selalu sensitif dan gampang emosi. Ia selalu membahas tentang keluarganya di depan orang lain. Membuat rasa malu pada keluarganya sendiri.


Mengusap kasar wajah, Ardi mulai menujuk pintu keluar.


"Sebaiknya ibu keluar sekarang juga."


Ardi terpaksa mengusir sang ibu, karna ia tak mau jika sang ibu terus membahas tentang keluarga yang memang sudah hancur karna keegoisan sang papah.


Sang ibu berdiri dan berkata," kamu tega mengusir ibu."


Bentakan sang ibu terdengar begitu jelas dari telinga Ardi, membuat Ardi seakan enggan menjawab bentakan ibunya sendiri.


"Ardi, kenapa kamu tega mengusir ibumu sendiri?"


Pertanyaan sang ibu tak berani di balas oleh Ardi, ia tak mau jika perkataannya membuat hati sang ibu terluka, maka dari itu ia lebih baik diam.


Sedangkan wanita yang di bawa sang ibu, mulai mendekat dan berkata," sebaiknya kita pergi dari sini?"


"Tapi Sisil, ibu harus memberi tahu pada Ardi. Sebelum ini terlambat," ucap pelan wanita tua itu.


"Ardi, ibu datang ke sini sengaja. Karna ibu ingin menjodohkan kamu dengan Sisil," ucap sang ibu kepada anaknya.


Ardi semakin kesal dengan ucapan sang ibu, ia langsung menolak mentah mentah ucapan ibunya." Aku tidak mau."


Sang ibu tentu saja marah besar dan membalas ucapan Ardi." kenapa kamu tidak mau. Ini sudah saatnya untuk kamu menikah, kamu belum juga mendapatkan pasangan dengan umur kamu yang sudah 35 tahun ini."


" Sudahlah bu, jangan urus lagi urusanan hidupku. Aku tak mau lagi mendengar perkataan ibu yang memang menyuruhku untuk menikah. Apa lagi ibu menjodohkanku dengan wanita yang tak aku suka," cetus Ardi. menolak dengan begitu lancang.


Plak ....

__ADS_1


Satu tamparan melayang begitu keras pada pipi Ardi, membuat Ardi mendengus kesal dan berkata," kenapa ibu malah menapar aku."


"Ibu mempar kamu, agar kamu sadar. Agar kamu berubah dan mau menuruti apa perkataan ibu. Bukan malah membentak dan mengusir ibu," pekik sang ibu yang benar benar terlihat marah


Sisil mulai menanangkan wanita tua itu, agar tetap tenang.


"Bu, sebaiknya kita pergi. Kak Ardi sepertinya ...."


Belum ucapan Sisil terlontar sepenuhnya pada ibunda Ardi. Ardi langsung membentak wanita itu." Heh. Kamu, wanita cantik. Jangan terlalu berharap padaku, karna aku tidak menyukaimu. Apalagi menikah denganmu aku tidak akan sudi."


Sisil menatap tajam pada Ardi," Begitu sombongnya kamu Ardi."


" Ayo bu, sebaiknya kita pergi dari sini."


Saat itulah wanita tua itu, pergi dari kantor Ardi bersama Sisil.


setelah kepergian sang ibu dengan wanita cantik itu, Ardi mengepalkan kedua tangannya, iya langsung memukul keras meja kantor nya.


"Aahk, kenapa sih ibu selalu ikut campur urusanku." Hardik Ardi pada dirinya sendiri.


Ardi duduk di atas kursi dengan perasaan yang tak tenang, karna kehadiran sang ibu yang akan menjodohkan nya dengan sosok wanita cantik juga glamour.


entah apa tujuan sang ibu, menjodohkan Ardi dengan wanita pilihan ibunya.


@@@@@


sedangkan wanita tua itu kini pergi dari kantor Ardi. dengan merasakan rasa kecewa dengan sifat anaknya yang begitu keterlaluan.


padahal Ardi dulu tidak seperti itu, Ardi berubah semenjak wanita tua itu mengatakan ingin berpisah dengan sang suami.


"Ibu tenang ya, mungkin Kak Ardi belum siap menerima semuanya," ucap Sisil menenangkan wanita tua itu.


Ibunda Ardi memegang punggung tangan Sisil dan menjawab," terima kasih ya sisil, kamu sudah mau menenangkan hati ibu, ibu sangat lega sekali ada kamu di sisi ibu. apalagi jika nanti kamu menjadi anak ibu. Ibu sangat berharap sekali karena kamu adalah wanita cantik dan juga baik."


Sisil tersenyum dengan perkataan wanita tua itu, iya senang jika wanita tua itu bersimpati kepadanya. dirinya bisa hadir di keluarga orang kaya, yang menikmati semua kekayaannya. apalagi menikah dengan seorang lelaki tampan seperti Ardi. membuat Sisil yang membayangkan nya begitu bahagia.


"Jika Ardi berubah pikiran, apa kamu mau menikah dengannya?"


pertanyaan wanita tua itu membuat hati Sisil tentulah senang, mana mungkin iya bisa menolak perkataan wanita tua itu. pastinya dia akan menerima dengan senang hati.


"Sisil mau bu!"

__ADS_1


Jawaban Sisil, membuat wanita tua itu bernapas lega. tak sia-sia iya mencari seorang gadis untuk dijodohkan dengan anaknya.


"Terima kasih ya, Sisil."


"Iya bu."


kini mereka mulai pergi, untuk segera pulang ke rumah. Begitu pun dengan Sisil, mereka menaiki taksi.


Saat di dalam taksi.


"Sisil, ibu berharap aku bisa berusaha meluluhkan hati Ardi. Agar Ardi mau menerima kamu."


"Ibu tenang saja, aku akan berusaha. Ardi pasti mau bersama Sisil."


"Ya, ibu berharap begitu."


"Terima kasih, ibu sudah mempercayai Sisil."


"Iya sisil, ibu mempercayai kamu karna kamu anak baik. Dan ibu kamu teman baik ibu."


"Ya bu, Sisil juga senang."


Sisil begitu akrab dengan ibunda Ardi, membuat suatu kesemopatan untuk Sisil bisa masuk dari keluarga kaya raya, Sisil berharap jika nanti setelah menikah dengan Ardi. Kehidupannya akan lebih baik dan menjadi bahagia.


Sisil tak mau hidup dalam kemiskinan, semenjak ayahnya meninggal duni dan meninggalkan hutang hutang yang begitu banyak.


Sisil lelah dengan keadaan hidupnya yang begitu serba kekurangan.


."Mungkin dengan cara menikah dengan Ardi, aku tidak akan sengsara seperti sekarang. Aku tak mau hidup serba kekurangan, aku mau hidup seperti dulu lagi." Guman hati Sisil.


Wanita tua itu terus memanggil manggil nama Sisil, hanya saja Sisil terdiam seakan melamunkan sesuatu.


"Sisil. Sisil."


saat wanita tua itu memukul pelan bahu sisil, saat itu pula lamunan Sisil membuyar.


"Iya ada apa, tante?" tanya Sisil.


"Kok, kamu melamun? Apa yang kamu pikirkan Sisil?" tanya wanita tua itu. Mengusap pelan rambut panjang Sisil.


"Sisil jadi ingat sama almarhum ayah dan ibu, kalau ayah dan ibu lagi sedih pasti Sisil selalu ada di samping ayah dan ibu. Sama seperti sekarang," ucap Sisil.

__ADS_1


Entah apa yang di pikirkan Sisil, kenapa dia berkata almarhum ibu, padahal sang ibu masih ada?


__ADS_2