
Teriak Ika terdengar begitu keras, membuat Lulu dan Anton berlari menghampiri Ika. Sedangkan Maya masih terduduk lemas di ranjang tempat tidur.
Pak Anton Melihat Ika berusaha melepaskan ikatan tali tambang yang mengikat kaki dan juga tangannya.
"Lepaskan aku. Aku ingin keluar dari sini?
Anton kini mulai mendekat ke arah Ika dan berkata "Siapa yang sudah menyuruh kamu datang ke sini?"
Ika kini diam saat Anton melayangkan satu pertanyaan kepadanya.
Anton yang kesal dan ingin tahu siapa yang menyuruh Ika untuk menjadi pembantu baru di rumah Anton. Mencengkram kedua pipi Ika dan berkata," Ayo jawab siapa yang sudah menyuruh kamu datang ke sini?"
Ika malah tersenyum saat cengkraman tangan Pak Anton semakin kuat pada kedua pipinya.
"kenapa kamu malah menampilkan senyuman mu itu, aku tidak butuh melihat wanita licik seperti kamu. Sebaiknya cepat jawab? Siapa yang sudah menyuruh kamu datang ke sini, berpura-pura menjadi pembantu di sini?"
"Aku tidak akan memberitahu siapapun soal ini, jadi Stop jangan bertanya lagi kepada diriku?"
Anton yang tak bisa mengendalikan emosi hampir saja menampar Ika
"Sebaiknya Tuan tenang, jangan sampai terbawa emosi, itu tidak baik untuk kesehatan, tuan." Lulu berusaha menenangkan Sang Majikan.
" kalau kamu bukan seorang wanita mungkin aku sudah membunuh kamu saat ini juga," pekik Anton.
Maya kini berjalan tergopoh gopoh dengan badan yang gemetar, menahan rasa sakit.
"Anton."
"Maya, kenapa kamu ke sini?"
"Aku hanya ingin melihat wanita gila, yang mau menghancurkan pernikahan anakku!"
Melihat sang majikan menahan sakit, membuat Ika tertawa." kalau sudah tua, sebaiknya diam saja. Jangan sok sokan jadi pahlawan."
Rasa sakit yang tadinya terasa kini berubah menjadi rasa kesal, Maya dengan beraninya menampar Ika.
Plakkk .... Plakkk ....
Dua kali tamparan melayang di pipi Ika, hingga membekas sebuah warna merah.
Ika mengigit bibir bawahnya menahan rasa kesal.
"Ini tidak sakit, Maya."
Anton masih penasaran, siapa yang sudah menyuruh Ika datang untuk berpura pura menjadi pembantu.
"Cepat katakan siapa yang sudah menyuruh kamu datang ke sini?" desak Anton.
Tawa menggema kembali, Ika seakan tak ada habisnya, ia tetap saja bersikap santai.
"Cepat jawab?"
"Gila kamu." pekik Maya. Mulai melayangkan lagi sebuah pukulan, akan tetapi tangan Maya di tahan begitu saja oleh Anton.
Kedua mata Anton, memberi isarat untuk menghentikan tamparan pada Ika.
Dengan perlahan. Maya menurunkan tanganya, menurut pekataan sang suami.
"Wanita ini tidak mau memberi kita cela untuk mengetahui siapa biang masalah."
__ADS_1
"Hahah, aku sengaja agar menjadi sebuah teka teki yang bisa kalian tebak."
"Sialan wanita ini, benar benar licik." Gerutu Maya.
Ika berusaha menutupi siapa yang sudah menyuruhnya melakukan hal yang merugikan keluarga Maya.
"Sebaiknya kita bawa saja dia ke kantor polisi," ucap Maya.
"Kalau kita bawa dia ke kantor polisi, atas tuduhan apa?" tanya Anton membalas ucapan sang istri.
Benar apa yang di katakan Anton, melaporkan orang tanpa bukti sangatlah mustahil, apalagi Ika tidak meninggalkan jejak kriminal, hanya sebuah fitnahan belakang yang mungkin bisa di selesaikan dengan cara kekeluargaan.
@@@@@@
Di dalam perjalanan Ardi tak sabar ingin menemui kekasih hatinya, yang ternyata tak bersalah. Walau sebenarnya ia juga masih ragu akan pemerikasaan dokter bahwa Lina hamil.
Entahlah Lina hamil oleh siapa?
Padahal Ardi belum pernah menyentuhnya?
Untuk mencari bukti akan kehamilan Lina pun, masih tidak ada informasi.
perjalanan yang di tempuh Ardi cukup lumayan jauh, membuat Ardi sedikit kelelahan. karna dari kemarin perutnya belum terisi apa apa.
"Karna banyak masalah, aku sampai lupa mengisi perutku ini."
Mengusap kasar wajah, berusaha tetap fokus saat mengendarai mobil.
Tring ...
Satu pesan datang, di mana Haikal mengerim lokasi keberadaanya.
"Mm, aku masih tak mengerti dengan akal pikiran kamu Lina, kenapa hati kamu bisa mencintai Haikal. Apa yang kurang dari diriku?"
"Apa memang nasibku harus seperti ini? Mencintai tanpa di cintai. Miris."
Perjalanan, hampir saja sampai, Ardi melihat desa yang sejuk dan terlihat nyaman, jauh dari kata polusi.
"Sejuknya pemandangan ini."
Tanpa sadar, telalu fokus menghirup udara segar. Saat itulah Ardi hampir saja menabrak seorang wanita desa.
"Astaga. Aku menabrak seseorang."
Ardi ke luar dari dalam mobilnya, melihat siapa orang yang sudah ia tabrak.
Saat ia melihat orang itu, Ardi kaget bukan main.
Seorang wanita.
"Ya ampun, Mbak maaf, saya enggak sengaja."
Ardi berusaha menolong wanita yang ia tabrak, hingga di mana kedua mata mereka saling bertatapan.
"Aduh ini teh laki laki tampan pisan." Gumam hati Nining.
Ardi berusaha melambai lambaikan tanganya di depan wajah wanita itu.
"Mbak, Mbak. Halo."
__ADS_1
Lamunan Nining seketika membunyar, saat Ardi menepuk bahu Nining.
"Eh."
"Mbak, tidak kenapa kenapa kan?"
"Hah iya, kenapa?"
Ardi mengerutkan dahinya saat wanita itu bertanya kembali.
"Mbak tidak kenapa kenapa kan?"
"Oh. Anu saya?"
"Iya."
Menggaruk kepala yang tak terasa gatal membuat, Ardi sedikit kesal dengan jawaban abigung wanita di hadapanya.
"Mas teh tampan."
Ardi kaget dengan ucapan wanita itu," apa Mbak?"
"Eh." Nining menutup mulutnya. " Salah ngomong!"
Nining tak menyangka jika ada Pria keren dan tampan datang ke desa. Nining begitu terpesona dengan ketampanannya ia menatap lelaki itu hingga tak berkedip-kedip.
"Mbak, mbak."
Lamunan akan ketampanan Ardi kini membuyar dari kepala Nining. Hingga Ardi berusaha membantu Nining untuk berdiri.
"Ayo berdiri?"
Dengan perlahan dan bantuan Ardi, Nining kini berdiri. "Ahk."
"Kenapa? sakit?"
Nining menganggukkan kepala, saat kakinya terasa sangat sakit, dengan sigap tubuh kekar Ardi kini membopong Nining.
Nining setengah kaget, dan juga senang bisa di bopong oleh lelaki tampan yang membuat hatinya tak karuan.
"Jantung Nining teh, terasa mau copot." Gumam hati Nining.
"Aku akan antarkan kamu pulang," ucao Ardi, memasukkan Nining ke dalam mobil.
Nining baru pertama kali naik mobil mewah di temani cowok tampan, membuat hatinya berbunga.
"Nining teh ngimpi apa semalam sampai bisa naik mobil mewah sama laki laki tampan." Gumam hati Nining.
"Mbak, rumah Mbak di mana?"
Nining tak menjawab perkataan Ardi, ia malah senyum senyum sendiri melihat mobil yang baru saja ia naiki.
"Ya elah nih, cewek dari tadi di tanya kaya budek aja." Gerutu Ardi. Menahan rasa kesal melihat wanita yang ia tabrak tak langsung menjawab perkataanya.
"Mbak?"
"Eh iya Mas?"
"Rumahnya di mana?"
__ADS_1
"Oh, rumah. Lurus aja, nanti ada rumah bilik dengan cat warna biru!"
Saat itulah Ardi mulai menjalankan mesin mobilnya.