Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 181


__ADS_3

"Apa semarah itu kamu kepadaku, sampai kamu berkata kasar."


"Alya, hentikan. Cukup jangan bicara lagi, aku pusing, kalau kamu bicara terus kupotong lidahmu saat ini juga."


Deg ....


Kini Alya menghentikan ucapanya, ia tak mau memancing emosi Pras lagi.


@@@@


Sedangkan di dalam mobil Ardi.


Mereka sudah bersiap siap merencanakan sesuatu untuk menjebak Pras.


"Pokonya kita harus bisa, mengelabui Pras."


"Benar, jika kita tidak bertindak. Pastinya Pras akan merencanakan kejahatan lagi."


Ardi kini fokus dengan mobilnya, hingga di mana Haikal yang penasaran, saat melihat seorang wanita di dalam mobil Pras, membuat ia kini bertanya kepada Ardi.


" Aku mau bertanya kepada kamu Ardi?"


"Tanya apa lu, so sopan baget! Dari ke marin."


" Ya kan gue menyesuaikan status kita. sebentar lagi kan kita bakal jadi adik kakak."


"Mm, bener juga."


Mereka bertiga kini tertawa terbahak bahak.


" Ardi, gue merasa wanita yang akan dinikahi Pras dari tadi di pemakaman ngeliatin lu terus. Emang lu kenal sama dia?"


saat pertanyaan itu terlontar dari mulut Haikal, Lina dan juga Ardi saling menatap satu sama lain. Sampai tatapan Lina ia arah ke samping.


"Itu cuman perasaan lu aja kali, Haikal."


Ardi berusaha menutupi semua masa lalunya bersama Alya. ia tidak ingin orang tahu tentang masa lalunya dan bersama Alya, cukup masa lalu yang dirasakan Ardi ia kubur dalam-dalam.

__ADS_1


"Ya habisnya, tadi juga pas kita di luar, mengobrol dengan Pras. wanita itu menatap lu dari kaca mobil, dengan kedua mata yang terlihat merah bengkak seperti orang yang menangis.


Ardi berusaha menjawab perkataan yang terlontar dari mulut Haikal, demi menjaga perasaan Lina yang berada di sampingnya, bagaimanapun ia tidak mau membuat Lina terluka akan masa lalunya yang hampir saja kembali, membuat kekacauan pada pernikahan yang sebentar lagi akan digelar oleh Lina dan juga Ardi.


" Mungkin lu salah lihat kali Haikal?"


" enggak gue enggak salah lihat, jelas-jelas kedua mata wanita itu merah bengkak."


" biarkan sajalah ngapain coba kita bahas wanita yang akan sebentar lagi menikah dengan Omku. nggak penting banget Haikal."


" Iya juga sih, hanya saja ada rasa penasaran, kalau memang kamu tidak ada hubungannya bersama wanita yang akan dinikahi Pras Ommu sendiri."


obrolan itu tiba-tiba terhenti, saat Lina berteriak. membuat rasa kaget pada diri Haikal dan juga Ardi.


" Ada apa Lina, Kenapa tiba-tiba kamu berteriak?"


pertanyaan Haikal membuat Lina langsung menuju ke arah depan kaca mobil Ardi.


"Darah."


Ardi dan Haikal yang baru saja menyadari ada darah dikaca mobil Ardi, kini mereka mulai keluar dari dalam mobil.


" kenapa, Lina kamu mencegah kami berdua untuk keluar dari dalam mobil?"


Lina menatap ke arah cermin kaca, ia mencari dari penglihatannya di dalam mobil. Apakah ada orang yang sengaja melemparkan darah ke arah kaca Ardi?


"Ada apa, Lina?"


Andi terus bertanya kepada calon istrinya itu, membuat Lina langsung menempelkan Jari tangannya pada bibir Ardi.


" kamu dengarkan dulu penjelasanku, sepertinya mobil kita sedang diawasi oleh seseorang."


Ardi kini melepaskan jari tangan Lina yang menempel pada bibir.


"Ada apa Lina?"


" sudah pokoknya kalian jangan turun, turuti apa yang aku katakan."

__ADS_1


Ardi kini menatap ke arah Haikal, membuat Haikal menganggukkan kepala untuk percaya dulu terhadap Lina.


sebenarnya Ardi tidak setuju dengan apa yang dikatakan Haikal, Jika ia harus menuruti apa yang dikatakan Lina.


lina seakan menyelidiki sesuatu yang terlihat dari kedua matanya. kedua matanya menatap tajam ke arah semak-semak yang begitu banyak menutupi pinggir jalan.


sedangkan tangan Ardi masih dipegang erat oleh Lina. seakan Lina tak mau melepaskan tangan Alrdi.


Lina takut jika Ardi nekat keluar dari dalam mobil hanya untuk mengecek seseorang yang melemparkan darah pada kaca mobilnya.


" Lina kalau aku dan Haikal tidak keluar dari dalam mobil, bagaimana bisa aku mengecek kaca mobil yang sudah tertutup darah."


"Ardi, aku berharap kamu diam dulu saja di sini jangan langsung keluar," ucapan Lina terus berucap , membuat Ardi hanya pasrah dengan apa yang dikatakan calon istrinya itu, walaupun Sebenarnya dia ingin sekali keluar dari dalam mobil melihat Siapa yang benar-benar menjahiliyah di saat itu.


" Lina di luar itu aman kok tidak ada siapa-siapa, aku harus keluar memastikan apa yang aku tabrak sampai darah bercucuran dari depan kaca mobilku."


"Ardi Kamu jangan terlalu lugu dengan apa yang terjadi,"


Tetap saja Lina menekan Ardi untuk tidak turun dari dalam mobil, hingga 15 menit berlalu dari sanalah Lina mulai melihat sosok orang mebawa Palu seakan ingin memecahkan kaca mobil Ardi pada saat itu juga.


Akan tetapi Ardi dengan sangat cepat mengendarai mobil, walau hantaman pukulan yang bertubi-tubi pada kaca mobilnya membuat ia tak pantang menyerah untuk segera pulang dari rumah, dan membawa bukti-bukti yang mungkin sudah bisa di jelaskan.


kedua mata tajam Lina tetap fokus, saat itulah Lina mulai melihat sosok seorang manusia yang tengah mengintip di balik dedaunan yang begitu tertumpuk menghalangi perbatasan jalan.


"Siapa itu."


Ardi dengan terburu-burunya membawa mobil ia berusaha menghindari hantaman lelaki yang terus memukul mobil Ardi.


Haikal tak menyangka jika perjalanan mereka ada yang mengikuti, apalagi orang-orang yang mengikuti Haikal, Ardi dan juga Lina. untuk segera sampai ke cafe Pras.


" benar juga dugaan kamu Lina, pantas saja kamu tidak memperbolehkan kami turun dari mobil. ternyata penglihatan kamu begitu tajam, kamu bisa melihat orang-orang yang berani melemparkan darah pada kaca mobil Ardi, seakan mereka membuat satu jebakan agar bisa melenyapkan aku dan juga Ardi.:


"tapi Apa tujuan mereka hingga menghentikan mobil ini dengan cara yang begitu licik."


saat itulah Ardi mulai menimpa perkataan Haikal. "benar apa yang dikatakan Haikal kamu hebat kamu seperti detektif saja, bisa mengetahui gerak-gerik manusia yang sengaja menjebak kita berdua untuk turun dari dalam mobil membersihkan sisa-sisa darah yang mereka lempar."


Lina tersenyum senang saat dirinya dipuji oleh Kedua lelaki yang berada di dekatnya," mungkin itu hanya kebetulan saja, aku bisa menyadari jika ada orang yang sengaja menjebak kita di dalam perjalanan menuju cafe Pras."

__ADS_1


"Apa mungkin dalang dari semua ini adalah Pras?"


Ardi mengucapkan kata terima kasih kepada calon istri Ardi yang duduk di samping yang tak jauh di dekatnya.


__ADS_2