Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 115


__ADS_3

Pagi Hari,


Lina terbangun dari tidurnya, kedua matanya terlihat memerah. Membuat Bu Maya berkata," Lina kamu ini seperti orang yang tidak tidur semalam. Pasti kamu memikirkan mimpi buruk yang semalam ya?"


Menundukkan pandangan, dibawah mata Lina terlihat menghitam," maaf bu, Hati Lina benar benar tak karuan."


"Mm." Mengusap pelan kepala rambut Lina. Bu Maya memeluk kembali tubuh calon menantunya.


"Sudah lupakan mimpi semalam, itu hanya bunga tidur," balas Bu Maya.


"Iya, bu," ucap Lina.


Wanita tua itu mengusap perlahan rambut Lina dengan begitu lembut," ya sudah. Ibu mau pergi mandi dulu, kamu juga cepat mandi nanti kita sarapan sama sama.*


Lina menganggukkan kepala, saat itulah Bu Maya mulai turun dari ranjang tempat tidur. wanita tua itu segera pergi dari kamar Lina untuk segera mandi dan mempersiapkan diri dii meja makan.


Lina yang merasa tak karuan pada hatinya, kini Mulai mengambil ponsel yang tak jauh berada di sisi-nya. iya penasaran dengan mimpi yang datang menakutkan, membuat kekuatiran yang teramat dalam pada dirinya sendiri.


Dengan tergesa-gesa Lina mencari nomor ponsel, sang kakak. dirinya ingin memastikan bahwa mimpi semalam hanyalah sebuah bunga tidur, bukan pertanda yang begitu menyeramkan untuk dirinya.


pada akhirnya panggilan pun terhubung, yang di mana Lina menelpon nomor Dinda.


Buat panggilan telepon pun terhubung. saat itu lina langsung bertanya kepada sang kakak." Kak. Halo."


Hening tidak ada jawaban sama sekali, membuat Lina merasa heran. biasanya jika Lina menelepon sang kakak, Dinda pastilah langsung menjawab panggilannya dengan berkata, " Lina. akhirnya kamu menelepon kakak."


Namun sekarang tidak ada jawaban sama sekali, padahal Lina terus saja berbicara di dalam sambungan telepon itu," Halo, kak Dinda. kakak tidak kenapa-napa kan? Kenapa Kakak tidak berbicara satu patah kata pun?"


Tidak ada jawaban lagi,


Tut .....


Panggilan telepon pun mati tiba tiba.


"Kenapa kak Dinda malah mematikan ponselku."


Lina semakin ketakutan, ia menyangkut pautkan mimpi itu.


"Apa mimpi semalam ada kaitannya dengan keadaan kak Dinda?"


Resah gelisah, Lina mengusap perlahan wajahnya, dirinya benar-benar syok berat.


"Kak Dinda, aku sangat menghuatirkanmu."


Tring ....


saat Lina dilanda kecemasan, saat itu juga pesan datang tiba-tiba pada ponselnya.


( Hai, Lina. Apa kabar, sekarang kamu sudah besar, ya. )

__ADS_1


Deg .....


Lina merasa heran kenapa Kakaknya sendiri mengirim pesan seperti seorang lelaki, menanyakan kabar.


"Aneh,"


( Kak, Lina sangat menghuatirkan kakak.)


pesan pun terkirim, Lina berharap sang kakak membalas pesannya dengan begitu cepat.


( munghuatirkan kakak, kamu yakin.)


Deg .....


balasan pesan dari kakaknya begitu berbeda sekali, seperti orang yang tak nyambung jika ditanya satu hal.


"Apa ini bukan kak Dinda?"


Lina semakin curiga jika ponsel Kakaknya sendiri sudah berada di tangan orang yang tak bertanggung jawab. saat itulah kekuatirannya semakin menjadi-jadi. Iya takut jika sang kakak kenapa kenapa.


"Kenapa dengan kak Dinda?"


yang dirasakan Lina sangatlah bingung, sampai di mana ponsel Lina berbunyi.


Dinda meneleponnya.


dengan senangnya lina langsung mengangkat panggilan telepon yang bertuliskan nama Dinda," Halo kak Dinda."


"Siapa kamu?"


dugaan Lina benar ternyata ponsel sang kakak sudah berada di tangan orang yang tak bertanggung jawab.


orang itu terus tertawa setelah Lina berucap.


" Kamu tidak usah tahu siapa namaku, Lina," balas orang yang berada pada sambungan telepon. itu.


orang pada panggilan telepon itu, seakan santai membalas ucapan Lina.


"Sudahlah, kamu sebaiknya temui aku sekarang, jika ingin melihat kakakmu selamat," ucap lelaki itu.


"Apa maksud kamu?" tanya Lina.


"Masa kamu tak mengerti apa yang aku katakan, asal kamu tahu. Kakakmu tak akan selamat," ucap orang yang seakan mengancam Lina pada saat itu.


"Jaga perkataanmu, apa yang sudah kamu lakukan pada kakakku?" tanya Lina pada sambungan telepon.


Tut ....


panggilan telepon pun dimatikan sebelah pihak, membuat Lina sangat kesal.

__ADS_1


Lina mencoba menelpon kembali nomor sang kakak, untuk memastikan bahwa kakaknya tidak kenapa-napa. akan tetapi saat ia menelpon nomor sang kakak. nomor itu pun tiba-tiba tak aktif, membuat Lina sangatlah kesal dan ingin segera menyusul orang yang sudah berani mengancam dirinya.


"Siapa orang itu, apa tujuanya, kenapa ponsel kak Dinda berada di tanganya," Gumam hati Lina.


Tok .... tok ....


suara pintu kamar Lina terdengar diketuk oleh seseorang, membuat Lina langsung beranjak berdiri dari ranjang tempat tidurnya. Ia membuka pintu kamarnya.


"Lina, kamu belum mandi juga, ayo kamu cepat mandi. Nanti kita sarapan di bawah," ucap Bu Maya yang ternyata sudah berdadan rapi.


Sedangkan Lina masih dalam kebingungan memikirkan sang kakak, Hingga dirinya belum juga mandi.


"Iya bu."


"Ayo donk, semangat. Kamu kenapa?"


"Lina tidak kenapa kenapa kok, bu!'


Lina tak mungkin menceritakan apa yang sudah terjadi pada Kakaknya sendiri, Iya lebih baik menyimpan semuanya sendiri. tak mau jika orang lain ikut campur dalam masalah nya.


" Lina, Lina."


Bu Maya menggambar lambaikan tangannya ke arah wajah Lina," Lina."


beberapa kali Bu Maya memanggil nama Lina, Rina tetap saja dia doakan memikirkan hal yang membuat dirinya begitu bingung.


"Lina."


Bu Maya kini memegang bahu Lina membuat Lina terkejut dan berkata," Eh, bu. Kenapa?"


Lamunan Lina membuyar, membuatmu Maya mengerutkan dahinya menatap ke arah Lina yang semakin hari semakin terlihat muram.


"Heh, tadi ibu panggil kamu, kamunya malah bengong! Apa sih yang sedang kamu pikirkan Lina?" tanya Bu Maya.


"Tidak ada, kok. Bu!" jawab Lina.


"Beneran," tegas Bu Maya.


wanita tua itu terus menekan Lina agar berkata jujur, siapa mau melihat calon menantunya itu bersedih. karena dirinya sudah berjanji akan merubah diri untuk bisa melihat Ardi anaknya bahagia dengan pilihannya sendiri.


"Benaran kok, bu," ucap Lina.


Bu Maya masih tak percaya dengan apa yang dikatakan Lina, yakini memegang kedua tangan Lina meyakinkan Lina agar dirinya tak bersedih lagi.


"Ya sudah, cepat kamu mandi, sarapan sudah siap di bawah. jangan sampai melamun lagi seperti tadi, Ibu tidak suka melihat kamu bersedih, ibu mohon kamu harus terlihat selalu senang, oke."


ucapan Bu Maya membuat Lina menganggukan kepala, saat itulah Bu Maya mulai berpamitan pergi untuk menunggu Lina di meja makan, untuk segera sarapan.


"Ibu duluan ya, ibu tunggu kamu 20 menit. kalau kamu belum siap juga Ibu bakal mandiin kamu," tegas Bu Maya.

__ADS_1


saat itulah Lina bergegas menutup pintu kamarnya untuk segera mandi dan bersiap-siap menghampiri Bu Maya yang sudah menunggunya di meja makan.


__ADS_2