Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 209 Sunyi sepi menyelimuti hati Haikal.


__ADS_3

Iksan, aku mau tanya sama kamu?"


"Tanya apa tuan?!"


"Jika kita mempunyai masalah, apa yang harus kita lakukan?"


"Tentu saja di selesaikan tuan. Jika masalah itu di biarkan, yang ada akan membuat kehancuran pada diri kita sendiri!"


"Caranya?"


"Tuan tinggal beri kesempatan pada orang yang membuat masalah, dengan menjelaskan apa yang ia jelaskan pada tuan!"


"Apa aku bisa?"


"Tentu saja bisa, asal tuan hilangkan rasa ego di diri tuan. Tentu saja itu akan mudah membuat tuan bisa mencerna semua penjelasan tentang masalah yang terjadi."


Ardi menepuk bahu pelayanya," kamu memang bijak dan hebat."


Pelayan itu tersenyum dengan pujian yang terlontar dari mulut majikanya, ia menggaruk belakang kepalanya yang memang tak terasa gatal.


"Kamu jaga Lina, jangan sampai dia kabur. Tolong awasi dia terus," ucap Ardi, memberi amanat saat ia berencana pergi untuk menghampiri Haikal, meluruskan kesalah pahaman dan menanyakan apa benar mereka tidak memiliki hubungan gelap.


Pelayan itu memberi hormat dan berkata," baik tuan."


Ardi berencana untuk menemui Haikal yang sudah ia usir. Karena rasa emosi yang menggebu pada hatinya, saat itu ia ingin meluruskan segala kesalahpahaman yang sudah terjadi antara dirinya dan juga Lina, begitupun dengan Haikal.


Ardi tak mau Ketika masalah dan kesalahpahaman membuat persahabatan mereka hancur.


Ardi kini mulai menyalakan mesin mobilnya untuk mencari keberadaan Haikal, ia berharap jika Haikal tak pergi dari kontrakan lamanya.


Entah kenapa tiba-tiba saja. Jalanan macet membuat Rasa tak sabar pada diri Ardi, saat itu dia tak mau kehilangan Haikal dia ingin mendengar penjelasan yang terlantar dari mulut Haikal.


Ardi menyesal karena sudah memarahi sahabatnya, tanpa memberi jeda untuk Haikal menjelaskan semua yang terjadi.


cemburu mampu membakar hatinya, hingga ia mampu tersudut oleh amarah yang tak bisa ia kendalikan dengan begitu cepat.

__ADS_1


padahal tidak biasanya jalanan yang ia lalui menuju rumah Haikal macet, padahal jalanan itu begitu luas membuat Siapa orang yang melintasnya tak perlu kuatir dengan mobil yang terus melaju ke sana kemari.


karena macet yang tiba-tiba parah, membuat Ardi mulai mencari ponselnya untuk mengabari Haikal. Agar tidak pergi dari kontrakan lamanya.


saat mencari keberadaan ponselnya, Ardi sangat marah, ia lupa jika saat membawa Lina ke rumah sakit. Ia lemparkan ponsel itu tanpa sadar karena panik melihat calon istrinya jatuh pingsan di depan pintu kamarnya.


mengacak kasar rambutnya, Ardi terus di bendungi dengan masalah yang terus bertubi-tubi.


@@@@@


sedangkan Haikal yang memang sudah sampai di kontrakan, membuat ia tak berlama-lama berdiam diri di kontrakan lamanya.


kontrakan yang penuh kenangan dengan sang istri tercinta.


Haikal bergegas melihat lemari ia mengambil semua isi lemari itu memasukkan baju-bajunya ke dalam koper. Haikal sudah berniat untuk mengundurkan diri di dalam pekerjaannya dan meninggalkan kota yang sudah menjadi saksi bisu atas kesuksesannya mencari seorang istri dan juga mencari pekerjaan.


tapi kesuksesan itu kini perlahan memudar membuat rasa sakit pada hati Haikal.


saat merapikan baju yang akan ia kemas dalam koper, tiba-tiba saja satu foto terjatuh ke atas lantai membuat air mata tak terbendung lagi kini keluar dari kedua mata.


"Bu Haikal kangen dengan nasehat IBu. Haikal kangen dengan dukungan ibu dan juga kata kata semangat ibu."


"Haikal kangen. Haikal rindu."


Haikal curahkan segala isi hatinya saat melihat foto sang Ibunda tercinta, memeluk dan menangisi foto ibunya sendiri, hatinya seakan tak kuat menerima cobaan yang terus datang silih berganti kepada dirinya.


rasa sepi benar-benar menusuk keinginannya untuk bahagia, ia kini merasa hampa tanpa salah satu cahaya dan juga semangat dari orang-orang yang ia cintai.


Haikal benar-benar terjatuh dan rapuh akan keadaan yang di rasakannya.


setelah berhasil mengemasi barang-barang yang dimasukkan ke dalam koper, Haikal kini berusaha untuk membersihkan diri menahan rasa sakit pada tangan dan juga kakinya yang terus mengeluarkan darah. Haikal mengira setelah diobati Ardi dan Lina, darah itu sudah tak mengalir kembali, akan tetapi tanpa perawatan sang dokter darah itu tetap saja mengalir membuat rasa sakit tak tertahankan.


Haikal berusaha menahan rasa sakit yang ia rasakan pada bagian tubuhnya.


Haikal menunaikan shalat seperti biasa, hari-harinya tak luput dengan doa dan juga keyakinan kepada sang maha kuasa.

__ADS_1


Haikal percaya jika sang maha kuasa tak pernah meninggalkannya dan tak pernah menguji hambanya melebihi kemampuannya sendiri.


Mungkin dengan ujian ini, Allah menaikan derajat Haikal.


Haikal terus beristighfar menyebut asma Allah, ia tak mau rapuh dengan keadaan di dunia ia harus tetap kuat Apapun Yang Terjadi.


karena namanya dunia itu tak luput dengan kesedihan musibah dan ujian yang didatangkan oleh Allah.


setelah selesai menunaikan kewajibannya, kini Haikal bergegas merapikan pakaian yang ia pakai, menutupi luka-luka bekas sayatan yang ia terima dari para pelayan yang berani memfitnah dan juga melukai badan Haikal'


Haikal berusaha tetap tenang, menarik nafas secara perlahan. Ia berusaha mengeluarkan dengan rasa tenang karena apapun yang terjadi sang maha kuasa tetap di hatinya. Ia tidak akan takut dengan masalah yang di hadapi saat ini, karena hatinya selalu ditemani dengan keyakinan diri dan kepasrahan diri kepada sang Maha Kuasa.


Haikal kini melihat kontrakan yang menjadi saksi bisu dirinya akan kenangan yang terindah bersama sang istri, ia berusaha tegar dan kuat.


"Eleh, duda ganteng mau ke mana?" tanya tetangga kontrakan yang selalu akrab dengan sang istri.


Haikal berusaha menyelimutin kesedihanya dengan senyuman Khas yang tak pernah ia sembuyikan untuk ibu ibu di kontrakan.


"Aduh, eta. Senyumnya meni manis pisan, aslina meni resep hoyong ngagogos."


(Aduh, itu. Senyumnya begitu manis sekali, aslinya ingin sekali mengigit.)


salah satu Ibu Kontrakan yang menggoda Haikal, kini dipukul oleh sahabatnya yang tengah berdiri di samping sang Ibu itu.


"Sok kecentil etateh."


(Suka ganjen l.)


"Ih. sawios atuh dan menang, sama sama te boga pasangan. Mun ecemah heuh te pantes, kan uing mah pantes, soalna janda herang."


(Ih, enggak apa apa kan bisa, sama sama enggak punya pasangan, kalau kamu mah iya enggak cocok. kalau saya cocol, soalnya janda cerah)


"Ih, janda herang. Gatelmah iya, amit amit."


(Ih janda cerah, Gatel iya, amit amit.)

__ADS_1


Obrolan kedua ibu ibu itu tak di pedulikan Haikal. Ia kini bepamitan untuk pulang ke kampung.


__ADS_2