
Dinda mulai melangkah ke arah dapur, untuk segera mengambilkan minuman untuk Ardi dan kedua orang tuanya. Beberapa menit mengambil ari minum untuk sang tamu, saat itu Dinda mendengar ucapan yang sedikit menyakitkan hatinya.
"Ardi, cepat kita pulang. Ibu sudah tidak betah di rumah ini. Kumuh dan bau." Ucap Ibunda Ardi pada anaknya.
Saat ucapan itu terlontar saat itu juga Dinda datang dan membalas ucapan wanita tua itu," walau pun rumah kami kumuh. Kami tetap menjaga kebersihan di rumah ini. Jadi Ibu tidak usah khawatir jika pulang dari sini Ibu tak akan sakit demam ataupun gatal-gatal."
Deg ....
Ardi merasa tak enak hati, saat Kak Dinda membalas ucapan ibunya. Membuat Ardi langsung meminta maaf pada Dinda.
"Maafkan atas kelancangan ucapan ibu saya kak Dinda," ucap Ardi. Memohon permintaan maaf pada Dinda dengan begitu tulus.
Dinda memaklumi semua itu, ya langsung memaafkan Ardi. dengan berucap," sudahlah lupakan Ardi, Kakak juga sudah sadar diri akan rumah kakak ini yang begitu kumuh."
"Nah, itu kamu sadar diri. Tadi kenapa kamu sewot?" tanya ibunda Ardi.
"Ibu." Bentak Ardi.
Ayahanda Ardi kini berdiri, menenangkan semua kerusuhan yang dibuat oleh istrinya. Dia meminta maaf kepada Dinda menundukkan kepala dengan sopan," Maafkan istri saya yang terlalu sombong ini."
tentu saja wanita tua yang menjadi ibunda Ardi itu, kesal dengan ucapan suaminya yang mengetahui dirinya sombong.
"Sombong. Heh, aku ini orang terpandang." tegas Ibunda Ardi.
Ardi langsung menarik tangan ibunya keluar, ia tak mau acara lamaran nya gagal karena ucapan ibundanya yang begitu keterlaluan.
"Ardi, lepaskan tangan ibu. kamu mau bawa Ibu ke mana?"
__ADS_1
Ardi terus menarik paksa tangan ibunya itu, hingga keluar rumah Dinda." bisa tidak kali ini saja, Ibu itu jaga ucapan ibu sendiri. Jangan sampai Ibu merusak acara lamaran ku ini dengan Lina."
"Ardi, Ibu ini sayang pada kamu. Ibu tak mau hidup kamu itu menjadi sengsara hanya karena menikahi wanita yang tinggal di rumah kumuh ini," ucap sang ibu. Seakan paling benar dalam berucap.
" hentikan Bu, sudah cukup Ibu berkata Ibu sayang padaku. Kalau benar ibu sayang padaku, sekarang Ibu jangan membuat kekacauan di rumah Lina," balas Ardi.
"Tapi ...."
Belum perkataan sang ibu terlontar semuanya, saat itu juga Ardi dengan tegas berucap kepada ibunya sendiri," sekarang begini saja, jika Ibu tetap saja ingin merusak acara lamaran Ardi. Sebaiknya ibu pergi dari sini, biar Ardi dan ayah saja yang ada di sini."
Emosi Ardi sudah tak terkontrol lagi, ia meluapkan semua kekesalanya saat itu juga, tak peduli dengan hati sang ibu. Dirinya sudah lelah dengan perilaku dan kata kata sang ibu yang menyakitkan.
kedua mata sang Ibu terlihat berkaca-kaca, Ardi tak berani menatap wajah sang ibu yang terlihat Sayu dan menangis seketika. ya lebih baik menundukkan pandangan, agar dirinya berusaha tegas untuk mengusir sang ibu yang terus-menerus berucap tanpa memikirkan hati dan perasaan orang lain.
"Kamu tega sama ibu, Ardi." Ucap sang ibu dengan isak tangis.
Ardi tak menjawab perkataan sang ibu, ya lebih baik diam dan menundukkan pandangan. jadinya sudah tak mau lagi menahan segala emosi yang terus saja Terpendam karena ulah ibunya sendiri.
Dinda tak tahu apa yang terjadi di luar sana. ia sangatlah penasaran. sampai dirinya memberanikan diri untuk keluar rumah dan melihat apa yang sudah terjadi dengan Ardi dan ibunya sendiri.
Dinda hanya melihat Ardi dan juga sang ayah, ia tak melihat ibunya Ardi yang Dinda ingat ibunya masih berdiri di luar dengan sang anak mengobrol kan sesuatu yang terlihat sangatlah penting.
"Ardi dan bapak, kenapa masih di luar ayo masuk ke dalam," ucap Haikal bersikap ramah kepada Ardi dan juga ayahnya
Ardi dan sang ayah kini berjalan memasuki rumah Lina, mereka duduk kembali menunggu kedatangan Lina yang masih bersiap-siap di dalam kamar. saat itulah Dinda mulai menanyakan keberadaan ibunda Ardi kepada anaknya.
"Loh, ke mana ibu kamu, Ardi?" tanya Dinda pada Ardi. yang telihat begitu kusut.
__ADS_1
"Oh Anu ...."
belum perkataan Ardi terlontar semuanya, saat itulah sang ayah mulai menjawab perkataan Dinda pemilik rumah," kebetulan istri saya ada keperluan mendadak. jadi dengan terpaksa saya akan melihat acara lamaran anak saya dengan adik ibu Dinda.
"Oh saya kira ada masalah pada keluarga kalian," ucap Dinda. dengan begitu beraninya Dinda berkata seperti itu kepada Ayah Ardi.
"Oh, tidak. keluarga kami baik-baik saja, tidak ada masalah pada keluarga kamu." balas sang ayah yang membela anaknya.
" syukurlah kalau begitu, soalnya saya tidak mau jika adik saya berada di keluarga yang begitu mempunyai banyak masalah. saya takut jika nanti Adik saya yang jadi korban karena masalah dari keluarga kamu Ardi." Tegas Dinda.
semenjak Dinda menikah dengan Haikal, Dinda begitu terlihat tegas tidak seperti dengan Burhan lelaki yang begitu jahat dan suka menyiksa dirinya. entah Sejak kapan ketegasan Dinda datang, membuat Haikal yang melihat istrinya itu begitu heran.
" Sejak kapan istriku berubah menjadi tegas begitu.
Apa karena dia tengah mengandung anakku jadi ia menjadi tegas dan sedikit menyeramkan." Gumam hati Haikal.
"Itu tidak akan terjadi pada Lina, keluarga kita ini adalah keluarga yang harmonis dan juga selalu menyayangi satu sama lain," ucap sang ayah yang berusaha membela anaknya di hadapan Dinda.
sang ayah langsung menepuk bahu anaknya agar tidak diam dan juga melamun memikirkan ibunya yang sudah pergi, karena ulahnya sendiri.
" Kamu ini kenapa sih Ardi melamun terus, ayah sudah capek-capek belain kamu di depan wanita ini." bisik sang ayah pada telinga anaknya.
Ardi kini mengangkat kepalanya, menatap kearah wajah Dinda yang ternyata wajah itu tiba-tiba terlihat menyeramkan.
Dinda terlihat begitu marah besar seperti Iya yang tak mempercayai ucapan sang ayah ah yang membela anaknya.
Haikal yang berada di sisi Dinda mulai membisikkan sesuatu pada telinga istrinya," kamu jangan tegas-tegas dong Sayang, kasihan Ardi ya terlihat gugup sekali karena kamu yang begitu tegas dan juga banyak sekali bertanya."
__ADS_1
"Mm, itu terserah aku dong mas. Lina itu adikku, jadi wajar kalau aku tegas pada Ardi yang akan menikahi Lina." bisik balik Dinda.
Haikal hanya bisa menarik nafasnya mengeluarkan secara perlahan, tak berani membantah ucapan istrinya.