
Brug ....
Tak terasa Ardi bertabrakan dengan sang ibu yang hendak membawa air minum, membuat sang Ibu merasa kaget, karna air minum yang ia bawa kini terlempar jauh dari tangannya.
"Kamu kenapa? Ardi?" tanya sang ibu kepada anaknya.
"Ibu!" jawab Ardi, tak menyangka jika sang ibu kini terduduk di atas lantai.
Ardi mencoba membantu sang ibu untuk berdiri," ayo bu."
mengeluarkan tangan, sang ibu malah memukul bahu anaknya." Kamu ini kenapa sih, ceroboh sekali?" tanya sang ibu.
"Ya maaf bu, Ardi kira, ibu enggak lagi jalan ke arah sini," ucap Ardi mengelak.
sekali lagi Ardi langsung memukul bahwa ibunya," kamu ya, kamu juga ngapain pake acara lari lari. Hah."
"Ya. Kan Ardi lari -lari karna Ardi, lagi ...."
Ardi tak meneruskan ucapannya, dirinya seakan bingung dengan apa yang ia harus jawab, " apa yang harus aku jawab pada ibu?" tanya Ardi dalam hatinya sendiri
"Lari lari kenapa?" tanya sang ibu, membuat Lamunan Ardi membuyar.
Ardi menggaruk belakang kepalanya yang tak terasa gatal," eh ...."
sang ibu malah menatap tajam ke arah anaknya," cepat jawab?"
"Itu bu, Ardi tadi ...."
"Hmm."
tiba-tiba saja Lina datang menghampiri Ardi dan juga Ibu Maya, membuat Ardi tak meneruskan alasanya.
"Lina, kamu ke luar nak?" tanya sang ibu.
"Ada apa bu, kok kaya rame. Makanya Lina ke luar!" jawab Lina. kedua matanya mengedip ke arah sebelah kiri, membuat Ardi terburu buru pergi.
"Enggak tadi ibu dan Ardi,"
Saat ibu Maya menatap ke arah anaknya, tiba saja Ardi sudah tidak ada di tempat. Membuat Maya berkata," loh ke mana anak itu?"
__ADS_1
Lina tak tahan kini tertawa melihat tingkah Ardi yang terlihat lucu,
"Tadi Ardi ada di sini?" tanya sang ibu.
Lina meraih tangan Maya, ibunda Ardi," sebaiknya kita istirahat dulu yuk, bu. Sekarang kan sudah malam."
"Ya sudah kalau begitu."
Mereka berdua pergi masuk ke dalam kamar, untuk segera tidur. Lina tak menyangka jika Ibu Maya berubah menjadi wanita yang begitu baik padanya, entah apa yang merubah dirinya.
Saat Lina merebahkan tubuhnya di atas kasur, saat itu pula bayangan Ardi datang, membuat ia bangun dan memegang pipi kirinya." Ahk."
"Kamu kenapa?" tanya sang ibu, terlihat kaget dengan Lina yang bangun dan menjerit.
"Eh anu, bu. Tadi Lina ingat Ardi ci ...."
"Sial," Gerutu Lina dalam hati, ia hampir saja keceplosan.
"Ardi kenapa dengan dia?" tanya sang ibu,
"Enggak bu, tadi Lina."
"Apa ya alasanya, kalau aku ingat Ardi karna dia sudah mencium pipiku," gumam hati Lina.
"Ibu, sebenarnya tadi Lina mimpi buruk, ya mimpi buruk," ucap Lina.
"Mimpi buruk kenapa?" tanya Maya.
"Entahlah jadi Lina bangun, oh ya, bu Lina ngantuk nih bu. Ingin tidur," ucap Lina berpura pura kelelahan.
"Ya sudah, kamu jangan lupa baca doa dulu. Biar enggak mimpi buruk," balasan ibu, seakan menasehati Lina sebagai anak kecil.
"Iya bu, "
kini Lina kembali merebahkan tubuhnya di samping kiri Bu Maya," Lina tidur ya bu."
Lina membalikkan badannya ke arah kiri, membelakangi Ibu Maya. dirinya menggerutu kesal, memukul-mukul pelan kepalanya," dasar kamu Lina ceroboh, Coba kalau tadi Bu Maya tahu dengan kelakuan anaknya, Mungkin Maya akan marah besar pada Ardi." gumam hati Lina.
@@@@@
__ADS_1
Sedangkan di dalam rumah Dinda.
Dinda merasa kuatir pada sang adik, walau Lina sudah berada di rumah Ardi. Tapi tetap saja rasa kuatirnya membuat ia susah untuk tidur,
"Lina, kakak begitu kuatir sekali." Ucap Dinda dalam hati.
Jam sudah menunjukkan 11 malam, Haikal terbangun, merasakan kerongkongannya yang terasa sangat kering, Membuat ia terpaksa bangun dari tidurnya.
Melihat jam di dinding sudah menujukkan pukul 11 malam.
tangannya meraba ke arah samping kiri, mencari keberadaan sang istri." ke mana Dinda?" tanya Haikal.
dengan terpaksa Haikal yang sangatlah mengantuk, ini turun dari ranjang tempat tidurnya. mencari keberadaan sang istri yang tidak ada di samping kiri tempat tidur.
sesaat langkahnya kini ia langkahkan ke luar kamar, Haikal melihat istrinya bolak-balik kesana kemari terlihat begitu cemas.
"Ternyata Dinda ada di ruang tamu."
saat itulah Haikal mulai memanggil sang istri yang tengah bolak-balik kesana kemari," Dinda.
mendengar panggilan itu, Dinda kini berhenti. dia menatap kearah sang suami yang memanggil namanya," Mas, kamu bangun?" tanya Dinda. menghampiri sang suami yang pernah berdiri di dekat pintu kamar.
"Justru mas tanya sama kamu, Kenapa jam malam seperti ini kamu belum juga tidur, Sebenarnya apa yang tengah kamu pikirkan, sampai wajahmu terlihat begitu cemas, Dinda?" tanya Haikal.
Dinda memutar kedua bola matanya, dirinya seakan enggan menatap sang suami." ayo jawab sebenarnya ada apa dengan kamu ini?" tanya Haikal. sedikit menekan sang istri agar berbicara jujur.
"Sebenarnya, Dinda begitu cemas sekali terhadap Lina yang tengah menginap di rumah Ardi. Dinda kuatir dengan keadaan Lina, takut jika terjadi apa-apa di rumah Ardi." ucap Dinda berkata jujur kepada sang suami.
Haikal kini mengusap pelan bahu sang istri menenangkan setiap rasa cemas yang dirasakan Dinda," Sudahlah jangan kamu pikirkan lagi Lina, ya pasti Aman kok di rumah Ardi. apalagi Ardi itu calon suaminya sendiri. atomanitis Lina tidak akan kenapa-napa, Kita kan sudah tahu sendiri Ardi sudah mengatakan semuanya, menjelaskan Kenapa mereka terpaksa tidak pulang ke rumah ini.'
" Ya juga sih mas." balas Dinda, ia kini duduk di kursi, sedikit menyenderkan badanya.
"Terus apa lagi yang membuatmu cemas?" tanya sang suami terlihat dari raut wajah istrinya menyimpan begitu banyak kecemasan yang seakan susah sekali Dinda ucapkan di depan Haikal.
Dinda terdiam saat Haikal bertanya seperti itu, mulutnya seakan kaku dia bingung harus menjelaskan kecemasanya itu dari mana.
" Ayo katakan sebenarnya kamu kenapa lagi?" tanya Haikal.
tatapan mata Dinda terlihat sangatlah sayu," Sebenarnya aku tengah memikirkan orang yang sudah membuat mobil Ardi rusak, kenapa orang itu begitu kejam merusak mobil Ardi? Apa tujuan mereka? dan sebenarnya siapa mereka itu?"
__ADS_1
Haikal kini duduk di samping sang istri," ternyata kamu Tengah memikirkan hal seperti itu, sudahlah lupakan lebih baik kita beristirahat memikirkannya besok, kalau kita beristirahat dengan baik. pikiran kita lebih fresh dan bisa mencari semua jawaban dari kecemasanmu itu Dinda."
Haikal mencoba menenangkan semua keresahan yang dirasakan istrinya, walaupun sebenarnya dirinya juga merasakan apa yang dirasakan Dinda. hanya saja Haikal berusaha kuat dan tidak larut dalam kecemasan, Haikal tak mau pikirannya terganggu hanya karena hal-hal yang belum tentu ia ketahui dengan begitu jelas.