
Karna ketukan pintu, Pras segera membuka pintu kamarnya, yang di mana ternyata para satpam datang dengan wajah gelisah mereka.
"Ada apa?" tanya Pras.
"Tuan, ini gawat!" jawab satpam vila, dengan jawaban gugupnya.
"Gawat kenapa? Coba kamu jelaskan?" tanya Pras.
"Di luar ada polisi," ucap satpam Vila memberti tahunya dengan begitu cemas.
"Ya sudah kamu cepat suruh para pelayan untuk tidak panik, aku dan Alya akan pergi segera mungkin dari sini," balas Pras.
"Baik tuan."
Satpam kini mulai melaksanakan perintah sang tuan, sedangkan Pras segera menghampiri Alya.
"Alya."
Tok .... Tok .... Tok.
Ketukan pintu terus saja di layangkan Pras, akan tetapi Alya seakan tak peduli, ia dengan santainya mandi menikmati air dengan potongan bunga bunga mawar yang mengelilingi tubuhnya.
Alya tanpak rileks dengan menikmati air hangat, yang mampu membesihkan tubuhnya.
"Alya, buka. Cepat Alya."
"Apa lagi sih," gerutu Alya.
Gedoran pintu terus saja di layangkan Pras, hingga lelaki itu sesekali melihat ke jendela luar. Polisi sudah mau masuk ke vila.
"Sialan." Dengan mengusap kasar wajahnya.
Pras saat itu mulai mendobrak pintu kamar mandi, yang di mana Alya tengah menikmati air yang membuat dirinya tenang.
"Pras, apa apaan kamu ini."
Alya segera menarik handuk, dan berdiri menutupi tubuhnya.
"Pras, kamu gila ya. Kenapa kamu sampai mendobrak pintu kamar mandi segala."
Mendengar ocehan Alya, kini Pras mulai membopong tubuh calon istrinya.
"Pras, aku ini tidak pakai baju. Kamu ini gimana sih."
Pras kini berlari dengan mengenakan handuk yang masih melingkar pada bawah pusarnya.
"Sudah kamu jangan banyak ngomong, kita dalam bahanya," cetus Pras.
"Apa maksud kamu dalam bahaya, Pras?" tanya Alya.
"Sebaiknya kamu diam saja, nanti setelah kita berada di mobil aku akan jelaskan semuanya!" jawab Pras dengan berlari cepat, sembari membopong tubuh Alya.
Semua pelayan sudah menyiapkan mobil untuk di naiki Pras agar bisa kabur dari kejaran polisi.
Pras kini memasukkan Alya terlebih dahulu ke dalam mobil, membuat Alya sedikit meringis kesakitan karna Pras menurunkannya dengan begitu bringas.
Saat itu juga Pras mulai naik, menyalakan mesin mobil untuk segera pergi dari Vila.
"Sebenarnya ada apa?" tanya Alya dalam hati.
__ADS_1
Akhirnya Pras bebas dari kejaran para polisi, membuat nafas terengah engahnya kini merasa lega.
"Akhinya aku bebas."
"Pras sebenarnya ada apa, sih?" tanya Alya penasaran.
"Kita sedang di kejar kejar polisi!" jawab Pras. Membuat Alya tentulah kaget.
"Kenapa kamu bawa bawa aku, biarkan saja polisi itu menangkapmu," ucap Alya.
Kini Pras menatap ke arah kaca yang mengarah ke arah Alya yang tengah duduk.
"Kamu begitu ingin aku di penjara, Alya?"
"Tentu saja, karna kamu orang jahat!"
Alya kini memancing kemarahan Pras kembali, membuat ia mendadak mengerem mobilnya, hingga Alya terbentur pada kursi depan.
"Aduh."
"Apa kamu mau mati sekarang juga bersamaku, Alya?"
"Pras, jangan gila kamu, aku masih ingin hidup!"
"Maka dari itu, bisa tidak kamu jaga ucapanmu itu."
Alya kini diam, ia tak berani membuat Pras marah. Entah Pras mau membawa Alya ke mana, karna Vila dan yang lainnya sudah di sita oleh Polisi.
@@@@@@
Sedangkan di Vila, para polisi memaksa untuk masuk ke dalam Vila. Mengecek apakah di dalam ada Pras.
"Maaf Pak Polisi, kita tidak sembarangan masukin orang, jadi pak Polisi sebaiknya tidak ke dalam, itu akan mengganggu kenyamanan para penginap vila di sini."
"Kalian ini izinkan kami masuk, atau kami akan membawa kalian untuk menjelaskan apa yang kalian ucapakan."
Satpam yang berjaga di Vila itu tentulah ketakutan dengan perkataan polisi kepadanya, mau tidak mau satpam itu langsung mengizinkan polisi masuk.
Semua para pelayan memang tidak kabur, karna untuk tidak membuat kecurigaan pada polisi yang mencari keberadaan Pras.
Tanpan segan segan para polisi menggeledah vila yang menurut mereka di tempati Pras. Mencari ke sana ke mari para polisi tidak menemukan keberadaan Pras.
Ada rasa curiga pada hari pak polisi ingin masuk ke dalam kamar.
"Saya curiga mereka bersembunyi di dalam kamar ini."
"Ya sudah cepat buka kamar itu."
"Baiklah."
Para polisi mulai membuka kamar yang mereka curigai.
Brug ....
Hanya ada satu pasang sejoli yang tengah tidur siang.
Para polisi itu mengira jika itu adalah Pras, akan tetapi bukan.
Satpam yang berjaga di vila itu kini menghampiri pak Polisi," bagaimana pak, apa ada orang yang bapak cari di sini."
__ADS_1
"Tidak ada."
Pak polisi itu kini pergi dan meminta maaf pada satpam yang berjaga di Vila.
Mereka kini mengabari Jerry segera mungkin.
"Halo, Jer, sepertinya Pras telah kabur dari Vila ini."
"Mm, hebat juga dia. Ya sudah biar kita lanjutkan pencarian kita besok."
Telepon pun terputus sebelah pihak, di mana para polisi itu mulai melanjukan mobil untuk segera ke kantor.
Satpam yang melihat ke jendela, kini tersenyum lega jika sang tuan sudah berhasil melarikan diri tanpa di katahui polisi.
"untung saja tuan begitu sigap."
Sang satpam yang ternyata suruhan Pras, kini menelepon sang tuan.
Pras yang masih mengendarai mobil, dengan pikiran bingung mencari tempat yang aman untuk dirinya dan Alya, kini di kagetkan dengan suara ponsel berbunyi.
Dreet ....
Alya yang baru menyadari jika ponsel Pras berada di samping kirinya, membuat ia langsung memberikan ponsel itu pada Pras.
Pras yang mengedari mobil, berusaha meraih ponsel itu dan mengangkat panggilan telepon dari satpam suruhanya.
"Halo tuan."
"Ya, halo."
"Tuan ada di mana?"
"Saya bingung cari tempat persembunyian! Gimana para polisi itu, apa mereka sudah pergi dari Vila.
"Tuan tenang saja, mereka sudah pulang karna tak menemukan tuan di Vila ini."
"Bagusalah kalau begitu, aku bisa balik lagi ke vila."
"Iya tuan, hati hati di jalan."
panggilan telepon pun terputus sebelah pihak, di mana Pras meletakan ponselnya disembarang tempat.
Membuat ia berencana mengambil ponsel Pras, untuk menelepon polisi dan Ardi.
"Aku harus bisa mengambil ponsel Pras, di saat dia lengah. Hanya itu jalan satu satunya aku terbebas dari jeratan Pras."
Saat di dalam perjalanan, suara perut Alya terdengar kelaparan, membuat Alya nengusap pelan perutnya, mencoba menahan rasa lapar yang ternyata tak tertahankan.
Pras kini menyadari apa yang di rasakan Alya, membuat ia langsung menyampingkan mobilnya di warung bakso.
"Kenapa berhenti?" tanya Alya.
"Tadi aku tak sengaja mendengar, suara geluduk seakan menyambar!" jawab Pras.
"Tak ada angin, tak ada hujan masa ada geluduk sih," gumam hati Alya.
Pras tertawa kecil, melihat Alya terus mencari dari kaca mobil, sumber suara geluduk dari luar.
"Gak ada juga. Kamu ngaco Pras."
__ADS_1
"Memang enggak ada," ucap Pras tertawa terbahak bahak.
"Ih. Enggak lucu," balas Alya.