Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 19 Godaan Nina


__ADS_3

Haikal mengantarkan Nina menuju ke rumahnya, dengan menaiki mobil Nina yang terparkir di rumah Bu Nunik.


 


"Ya Allah, si neng ya kenapa? Haikal, kok baju kalian basah gini?" Bu Nunik begitu kuatir melihat Haikal dan Nina yang sudah basah kuyup oleh air hujan. 


 


 


"Tadi ada masalah sedikit, sekarang udah kelar ko masalahnya!" Jawab Haikal. Lelaki beralis tebal itu segera berpamitan pada Bu Nunik untuk mengantarkan Nina ke rumahnya. Karna terlihat Nina yang sudah kedinginan.


 


Dengan mengendarai mobil yang begitu cepat, Haikal akhirnya sampai ke rumah Nina. Yang sudah di arahkan oleh Nina sendiri.


"Sudah sampai bu." Ucap Haikal. Melirik pada wanita di sebelahnya, ternyata Nina tertidur di dalam mobil dalam ke adaan basah kuyup. 


 


Dengan terpaksa Haikal membawa Nina masuk ke dalam rumahnya.


Haikal sudah beberapa kali memencet bel rumah tidak ada seseorang pun yang keluar.


 


Pada akhirnya Haikal mengetuk pintu rumah, tapi ternyata pintu rumah terbuka begitu saja.


 


"Aneh kemana orang-orang di rumah ini, tidak mungkin rumah sebesar ini tidak ada pelayan."


 


Ada rasa was-was menghantui pikiran Haikal saat itu, dia lebih baik menunggu di luar rumah. Walau Nina tertidur dalam ke adaan basa kuyup, Haikal takut jika nanti orang salah paham. 


 


Nina ternyata dia tidak tidur, di malah berpura-pura tidur. Matanya membuka sedikit melihat kearah Haikal yang sudah kedinginan. Mengepalkan kedua tangan Nina berbisik dalam hati," Haikal kenapa kamu tidak membawa aku ke dalam rumah. Kenapa kamu malah membiarkan aku kedinginan di luar.  Dan dirimu sendiri begitu bodoh."


 


 


Di saat Haikal tengah lengah, Nina merogok ponselnya mengetik beberapa pesan pada pelayan di rumahnya.


 


[Cepat keluar.]


 


Hanya pesan itu yang di kirim oleh Nina pada pelayannya. Dengan sigap pelayan wanita berlari keluar.


 


"Tuan kenapa menunggu di luar?" tanya salah satu pelayan itu.


 


"Syukurlah ternyata ada pelayannya, saya hanya mengantarkan Bu Nina ke rumah!" jawab Haikal.


 


Pelayan itu berpura-pura syok dan bingung, melihat keadaan majikannya tergeletak dengan baju yang basah kuyup.


 


"Kenapa dengan nyoya? Nyoya pingsan kah tuan?"" tanya pelayan itu. 


 


"Tidak dia hanya tertidur?" jawab Haikal.


 


Pelayan itu meminta bantuan kepada Haikal untuk membantu menggendong majikannya masuk ke  dalam kamar, karna tidak ada lelaki di rumah ini yang bisa  menggendong  membawa Nina ke dalam kamar tidur.


 


Dengan terpaksa Haikal menggendong Nina masuk ke dalam kamar tidurnya, dengan di barengi oleh pelayan wanita itu.


 


Saat Nina di gendong masuk ke dalam kamar tidur. Nina menujukan satu jempolnya kepada pelayan yang mengikutinya dari belakang.


 


Saat Nina di baringkan di ranjang tidur, pelayan itu keluar tanpa sepengetahuan Haikal. Ternyata pelayan itu mengunci Haikal di dalam kamar tidur bersama Nina, tanpa Haikal sadari.


 


 


Nina terbangun, memeluk badan Haikal secara tiba-tiba. Membuat Haikal spontan kaget dan melepaskan pelukan Nina saat itu.


 


"Apa yang Ibu Nina lakukan?"


 


Nina tertawa senang, baju kemeja putihnya begitu terlihat menerawang  karna basah bekas air hujan, membuat dalaman tubuh Nina sedikit terlihat. Haikal sama sekali tak tertarik ia malah kesal, dan melemparkan selimut pada tubuh Nina.

__ADS_1


 


"Tutup tubuhmu segera mungkin," hardik Haikal. kedua mata dan wajahnya melirik kearah belakang.


 


"Kenapa Haikal? kenapa kamu tidak tertarik. Di luar sana semua orang tergila-gila pada tubuhku dan juga keseksianku. Tapi kamu begitu menahan ayolah," rayu Nina pada Haikal. Ia membuka kancing bajunya perlahan.


 


"Stop, jangan kamu buka bajumu yang menutup tubuhmu itu. Karna itu adalah harga dirimu dan juga kehormatan yang tidak boleh kamu perlihatkan ke sembarang lelaki," nasehat terlontar begitu saja dari mulut Haikal. Membuat Nina menghentikan aktivitas membuka kancing bajunya.


 


"Kenapa kamu berkata seperti itu Haikal? Kamu harus menikmati semuanya, karna ini gratis," ucap Nina dengan seribu rayuannya.


 


 Lelaki mana yang tidak bisa menahan godaan wanita bernama Nina itu, tubuhnya begitu mulus seksi dan berbodi.


 


Haikal terus berdoa menundukkan pandangan


Ia teringat tentang Doa yang di ajarkan emak.


 


Dimana doa itu terdapat dalam surat Yusuf ayat ke 33.       


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


 


“Robbii sijnu ahabbu ilayya mimmaa yad’uuna nii ilayhi wa illaa tashrif ‘annii kayda hunna ashbu ilayhinna wa akum minal jaahiliin.”


 


Artinya:


 


“Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai dari pada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika Engkau hindarkan daripada tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.”A�Doa Nabi Yusuf.


 


 


"Haikal ...." Panggilan lembut itu terus menggoda keimanan Haikal. Kedua telinganya seakan merasakan sensasi panas. 


 


Mengepalkan kedua tangan Haikal beranjak pergi dari kamar tidur Nina. Tangan yang sudah meraih gagang pintu kini pintu itu susah untuk di buka, ternyata pelayan sudah benar-benar mengunci kamar Nina.


 


 


"Kamu mau kemana sayang," ucap Nina. Ia beranjak berdiri dari tempat tidurnya. Menghampiri Haikal yang setengah mati menahan hasrat.


 


Hanya doa nabi Yusuf yang ia ucapkan, Haikal hanyalah manusia biasa tidak bisa berdiam diri. Ia berusaha mendobrak pintu kamar Nina.


 


"Haikal sudah lah, tak perlu harus kamu dobrak pintu kamar ku itu," ucap Nina semakin mendekat tubuhnya pada punggung Haikal.


 


"Menyingkir dari badanku Bu Nina," hardik Haikal. Druh nafas Nina semakin terdengar, wanita itu memeluk Haikal begitu erat. Hingga tubuh Haikal terasa panas.


 


Haikal benar-benar kesal, ia mendorong kasar tubuh Nina begitu saja. Hingga tubuhnya terhempas begitu saja ke lantai.


 


 


"Bu Nina, jadilah wanita yang terhormat. Jangan karna keinginan kamu rela mengorbankan tubuh dan harga dirimu."


 


Telunjuk tangan Haikal menunjuk nunjuk wajah Nina.


 


"Keinginan. Keinginan apa Haikal? Bukanya kamu sendiri yang merubah aku seperti ini. Dan menolak keinginanku."


 


Bukan Jawab itu  yang Haikal inginkan dari mulut Bu Nina. Tapi kesadaran diri, agar dia menjadi wanita yang memperbaiki diri bukan malah menjadi wanita tidak tahu diri.


 


 


Tiba-tiba Pak Andi pulang dengan membawa Dira ke rumah, ia ingin memberi tahu Nina bahwa besok adalah acara pernikahan sang papah dan juga sekretarisnya. 


 


Pak Andi berharap Nina menyetujui pernikahannya. Dengan memberi seprai sebuah kado dan membawa Dira ke rumah.

__ADS_1


 


 


Karna tak sabar Pak Andi berjalan menuju kamar sang anak, sembari menggandeng istri barunya. Mengetuk pintu perlahan, tapi Nina tak membuka pintu itu.


 


Nina semakin mendekat pada Haikal memeluk erat tubuhnya dengan Haikal yang terus meronta-ronta.


 


"Lepaskan."


 


Pintu pun terbuka Pak Andi melihat pemandangan itu langsung memukul Haikal. Dengan sigap Nina melepaskan pukulan sang papah mendorong  tubuh lelaki tua yang menjadi ayahnya.


 


"Nina apa yang telah kamu lakukan kamu membuat papah malu," hardik sang papah. Dira langsung meraih tangan lelaki tua itu. Membantu untuk berdiri.


 


Haikal hanya mengusap kasar wajahnya.


 


"Kenapa papah marah, bukanya papah juga sering melakukan ini di depan ku dan juga mamah. Jadi apa salahnya sama-sama," ucap Nina.


 


 


"Jaga ucapanmu Nina," ucap sang papah. Menunjuk raut wajah anaknya.


 


Nina melipatkan kedua tangannya, tak mempedulikan amarah Pak Andi dan juga perkataannya.


 


"Pokonya kalian harus menikah," perintah sang papah.


 


"Oke," ucap Nina. Menatap pada Haikal.


 


Lelaki beralis tebal berhidung mancung itu mengusap darah segar dari pipinya bekas pukulan lelaki tua yang tak lain ayah Nina.


Dengan sekuat tenaga Haikal bangkit seraya menolak pernikahan itu.


 


 


"Saya menolak menikah dengan anak bapak. Karna saya tidak melakukan apa-apa terhadap anak bapa." 


 


Ucap Haikal, semua tampak syok menatap pada wajah Haikal.  Begitu pun dengan Nina, begitu mudahnya Haikal. langsung menolak pada  perintah papahnya Nina.


 


Kedua mata Pak Andi membulat menatap  tajam pada wajah Haikal.


 


Apa yang akan terjadi???


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2