Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 258


__ADS_3

Dengan terpaksa ia mematikan ponselnya, karena dirinya yang tak mau dihadapi dengan setiap pertanyaan-pertanyaan yang tak bisa ia jawab.


"Maafkan saya Tuan Ardi, ini demi kebaikan anda."


Kini Adnan fokus mengendarai mobil, dengan kecepatan tinggi, ingin segera sampai di rumah sakit.


"Semoga Nyonya masih bisa di selamatkan."


Adnan hanya bisa berharap, walau hatinya sudah Ketakutan akan kondisi sang Nyonya.


@@@@@


Ardi yang berada di mobil bersama Haikal, kini menggerutu kesal. Di mana nomor Adnan tiba tiba tak aktif.


"Ahk, sial kenapa nomor si Adnan ini tidak aktip. Ba*gk*."


Karna rasa kesal, Ardi mulai melemparkan ponselnya. Mengusap kasar wajahnya, ia ingin segera sampai di rumah.


"Kenapa, Ar?" tanya Haikal, masih mengendarai mobil. Tiba tiba saja jalanan macet, membuat amarah semakin memuncak pada diri Ardi.


"Sial, sial." Gerutu Ardi.


"Lu kenapa?"


Pertanyaan Haikal kini perlahan mulai dijawab oleh Ardi.


"Ini si Adnan, suruhan ibu gue. Nomor teleponnya malah tidak aktif, mana jalan macet lagi!"


Jawaban Ardi membuat Haikal mengelengkan kepala.


"Sabar Ar."


Hanya kata kata sabar yang mampu di katakan Haikal untuk sahabatnya.


"Ahkkk, lu dari tadi. Sabar sabar melulu." cetus Ardi.


Haikal kini terdiam setelah mendengar kemarahan Ardi, ia tak bisa berkutik lagi. Hanya bisa diam dan mengendarai mobil dengan fokus.


@@@@@


Adnan akhirnya berhasil membawa Maya ke rumah sakit, ia bisa bernafa lega. "Akhirnya aku berhasil membawa Nyonya ke rumah sakit."


Para suster dan perawat berdatangan, membawa Maya yang sudah kritis. Pak Aton hanya bisa mengusap pelan air mata, dengan melihat sang istri akan segera di tangani.


"Maya, aku berharap kamu selamat. Sayang."

__ADS_1


Hanya ada harapan pada hati Pak Anton, dan doa dalam hati yang terus ia panjatkan.


"Selamatkan istriku. Jangan kau ambil dia dariku."


Adnan terdiam ia juga hanya bisa memanjatkan doa dan harapan. Berharap jika Maya sang Nyonya bisa pulih kembali.


Dreet ....


Pak Anton, kini merogoh saku celananya. Ia melihat layar ponsel. Begitu banyak panggilan tak terjawab dari pemberitahuan panggilan.


"Ardi menelepon."


Lelaki tua itu baru menyadari jika anaknya meneleponya terus menerus dari tadi.


Adnan melihat sang tuan, menatap layar ponsel dengan mengusap pelan air mata. Kini mendekat dan berucap," Tuan, dari tadi ponsel anda berbunyi. Hanya saja anda terlalu fokus dengan kesedihan anda, tanpa anda sadari."


"Aku baru sadar Adnan."


"Sepertinya yang menelepon tuan, adalah Tuan Ardi?"


"Iya, yang menelepon memang anak saya. Kamu tahu?"


"Maaf tuan sebelumnya, Tuan muda Ardi sempat menelepon saya, hanya saja saya tidak menangapinya."


Pak Anton akan semakin terpuruk dalam kesalahanya. Apalagi Ardi mempunyai sipat pemarah.


"Saya juga bingung Adnan, bagaimana mengabari Ardi, karna dia pasti akan syok berat. Apalagi Ardi sekarang beradi di kampung Haikal."


"Sebaiknya kita diamkan saja dulu, tuan muda Ardi. Agar dia tidak syok. Saya takut dia akan kaget dan tak fokus dalam perjalananya."


"Benar apa kata kamu, Adnan."


Pak Anton langsung mematikan ponselnya, agar Ardi yang masih dalam perjalanan, tidak syok saat mendengar kabar sang Ibunda yang masuk ke rumah sakit gara-gara kelakuan Pras.


"Ardi, maafkan, ayah."


Ruangan rumah sakit begitu terasa dingin, hati dan perasaan Pak Anton seakan tak karuan. Iya ingin segera mungkin mendengar kabar tentang istrinya, bisa diselamatkan, walau itu kemungkinan yang sangat kecil. Tapi itulah harapan Anton yang sekarang.


Anton terus bulak balik ke sana ke mari, menunggu jawaban dari dokter. Apa oprasi yang dilakukan berjalan cepat, atau?


Pikiran Pak Anton sudah tak terkendali, ia begitu tak sabar.


"Maya, bertahanlah. Jika kamu tidak bisa bertahan, aku akan menjadi lelaki yang sangat menyesal dan merasa bersalah." Gumam hati Pak Anton.


Menunggu selama 4 jam bukan hal yang sebentar, dokter belum juga memberi jawaban tentang keadaan Maya yang masih berada di ruang oprasi.

__ADS_1


@@@@


Ardi kini sudah sampai di rumah, ia mencoba mencari keberadaan sang ayah. Berteriak memanggil para pelayan di rumah.


Hingga para pelayan berdatangan setelah mendengar suara Ardi yang berteriak teriak, dan marah besar.


Mereka berdatangan, dan kini berjejer menyambut kedatangan sang tuan muda, ialah Ardi.


Melihat kedua mata Ardi menampakan kemarahan, para pelayan menundukkan pandangan.


Mereka takut, jika Ardi marah. Mereka akan tersalahkan tanpa tahu menahu kesalahan mereka sendiri.


Akan tetapi Ardi yang tak mau banyak basa-basi, ia langsung bertanya kepada para pelayannya di rumah dan juga para pembantu." ke mana ayahku?"


Ardi menatap satu persatu pelayan di rumahnya, ia berharap ada salah satu pembantu yang berani memberi tahu kepergian ayah dan ibunda Ardi.


Para pembantu dan juga para pelayan, berdiri kini saling merilik satu sama lain, mereka mencari siapa orang yang berani menghadapi sang tuan muda.


Ardi dengan ketegasannya, kini bertanya lagi," saya tanya pada kalian yang berada di sini. Kalian dengar tidak."


Para pelayan dengan kompak menjawab," saya dengar tua."


"Siapa yang mau memberi tahu tentang kepergian Ayah dan ibu saya, cepat maju ke depan."


Ardi menantang para pelayan untuk menghadap dirinya, ia tahu para pelayan dan pembantu di rumah. Begitu takut dengan kemarahan yang jarang ia tampilkan.


Salah satu pelayan kini berani menghadap ke arah Ardi. Ia mulai memberitahu ardi Di mana keberadaan Pak Anto.


"Mm."


Tatapan Ardi ketika marah sangat menyeramkan, ia membuat para pelayan dan pembantunya saling menelan ludah ketakutan.


"Maaf sebelumnya Tuan Ardi, saya melihat kepergian mereka, saat Pak Anton dan Bu Maya pergi, pertama kali Bu Maya pergi sendiri. Bu Maya pergi menaiki mobil tanpa seorang sopir. Saya melihat dari raut wajah Bu Maya kegelisaan. Sepertinya Bu Maya terburu buru, setelah mengangkat panggilan telepon dari Adnan. Saya mendengar percakapan Nyonya membahas tentang Nona Lina."


"Sudah aku duga, pasti ini karna Lina! Apa kamu tahu ke mana ibu saya pergi?"


"Perginya kemananya, saya hanya mendengar dalam percakapan jika Bu Maya pergi untuk menemui adiknya, Tuan Pras Di Vila. Padahal sebelum keberangkatan Bu Maya, tuan Anton tak mengizinkan. Tapi Bu Maya terus menekan dan menyakinkan Pak Anton, bahwa Bu Maya akan baik baik saja."


"Tadi kamu bilang Vila?"


"Ya, Vila yang dulu Bu Maya beli, waktu dia masih gadis tuan."


Ardi berusaha mengigat vila, yang di beli ibunya. Dimana ia pernah datang ke sana. Saat pernikahan ke 10 tahun ibu dan ayahnya. Saat Ardi masih kecil.


Ardi, sekarang akan menyusul ke vila yang dikatakan pelayan di rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2