
Obrolan mereka berempat kini berhenti di saat dokter keluar dari ruangan Bu Nunik, raut wajah sang dokter terlihat cemas, seperti menandakan sesuatu terjadi pada Bu Nunik, membuat Ardi langsung bertanya," apa ada masalah serius, dok dengan keadaan bu Nunik."
"Kami sudah memeriksa luka bakar di tubuh pasien, untuk penyembuhanya mungkin memelukan waktu yang lama," balas sang dokter.
"Oh ya. Ada keluarga pasien?" tanya sang dokter.
Pak Hasan mengacungkan tanganya, mendekat ke arah sang dokter," ada apa ya, dok."
Dokter kini menyuruh Pak Hasan, untuk ikut serta dengannya, Nining seakan dibuat penasaran.
"Mudah mudahan, Bu Nunik tidak kenapa kenapa!"
ucap Haikal.
Karena rasa kasihan menyelimuti hati Nining, dia tetap menunggu di rumah sakit.
"Kamu yakin Ning, akan menunggu di rumah sakit?" tanya Ardi. lelaki yang sudah melamar Nining, merasa kasihan dengan raut wajah kelelahan calon istrinya itu.
"Iya, Aa Ardi!" jawab Nining, nada suaranya terdengar sayu.
"Ya sudah, saya akan temani kamu di sini," ucap Ardi, dengan tutur kata lembut, mengusap pelan kepala Nining.
Haikal yang melihat Nining dan Ardi, begitu romantis membuat dia pura-pura batuk.
"Mm, uhuk ... uhuk."
Nining dan Ardi kini menatap ke arah Haikal," batuk?"
"Ahk, enggak. Hanya ingin bersuara saja!" jawab Haikal.
"Ning. Kayanya, si Haikal iri sama kemesraan kita. Kasihan ya, jomblo," sindir Ardim
Membuat Haikal terdiam, dengan seribu kesedihan yang mendalam pada hatinya.
Lelaki bersetatus duda itu kini memegang dadanya dengan berkata," sesak rasanya hati ini."
Nining dan Ardi kini tertawa dikala, Haikal berkata seperti itu.
Hingga di mana suara Bu Nunik terdengar meringis kesakitan kembali, Nining yang mendengar suara itu dengan terburu buru datang membuka pintu rumah sakit.
"Bu Nunik?"
Wanita tua dengan luka bakar di sekujur tubuhnya, hanya bisa menatap kesal ke arah Nining. Tak ada rasa penyesalan dengan apa yang sudah ia lakukan.
"Bu Nunik, bagaimana keadaan ibu sekarang. Apa ada yang ibu butuhkan, biar saya bantu," ucap Nining dengan begitu ramah.
__ADS_1
"Tidak ada, sebaiknya kamu menyingkir dari hadapanku," cetus Bu Nunik. Membalikkan wajah ke arah samping.
Wanita tua itu terlihat tak suka. Jika Nining datang melihat ke adaanya, padahal Nining berniat baik ingin membantu Bu Nunik.
"Bu Nunik."
Wanita dengan bekas luka, kini berteriak dan berkata." Diam cepat, kamu pergi dari hadapanku. Aku tidak sudi jika harus melihat wajahmu."
Nining memegang dada, ia berusaha tenang. Memaklumi kemarahan wanita tua yang berada dihadapanya.
"Kenapa? Aku menjadi menyedihkan seperti ini." Teriakan Bu Nunik, membuat Nining dengan terburu buru pergi, ia tak mau membuat Bu Nunik malah stres dengan kedatanganya.
Perlahan Nining berjalan, pergi dari ruangan Bu Nunik, di mana para suster datang untuk menenangkan hati Bu Nunik.
Ardi dan Haikal yang menunggu, kini bertanya pada Nining?" Kenapa dengan wajah kamu. Ning?"
Wajah Nining menunduk seakan menyebunyikan kesedihan setelah keluar dari ruangan Bu Nunik.
"Aku tidak kenapa kenapa?"
Jawaban Nining terdengar lemah, membuat Ardi memegang bahu calon istrinya.
"Ayo katakan, apa yang ia katakan pada kamu. Ning?" Tanya Ardi.
Suster yang baru saja masuk ke dalam ruangan Bu Nunik. kini kembali lagi keluar, Di mana mereka dengan terburu-buru memanggil dokter untuk segera masuk ke ruangan Bu Nunik.
Padahal dokter masih mengobrol dengan Pak Hasan, membicarakan tentang keadaan bu Nunik Yang sepertinya sangatlah parah.
setelah memanggil dokter, kini Pak Hasan dan juga dokter dengan terburu-buru masuk ke dalam ruangan Bu Nunik.
Nining yang tadinya duduk kini berdiri, setelah mendengar kepanikan para suster di rumah sakit.
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan Bu Nunik." ucap Nining, ingin melihat ke ruangan Bu Nunik.
Ardi dan Haikal hanya terdiam, mereka tak bisa berbuat apa apa hanya bisa menunggu kepastian dari sang dokter yang menangani Bu Nunik.
"Semoga saja Bu Nunik baik baik saja." Ucap Haikal.
"Ya, benar." Balas Nining merasa tak enak hati.
Mengusap kasar wajah, Pak Hasan baru saja masuk begitu kaget dengan wajah sang istri, penuh dengan luka bakar. Membuat kedua matanya tak berkedip.
@@@@@
Di dalam penjara Ruslan merasakan rasa tak enak hati dalam dirinya, membuat ia bulak balik ke sana kemari. Mengigat sang ibu yang berada di rumah.
__ADS_1
"Kenapa aku merasakan rasa tak enak hati. Apa ada yang terjadi dengan ibu?"
@@@@@
Bu Sari yang menunggu di dalam rumah, begitupun dengan Pak Yono merasa khawatir dengan keadaan Nining yang belum juga pulang dari rumah sakit.
Mereka berdua tak bisa menutup kedua mata mereka untuk segera tidur, hati mereka kini dikuasai dengan rasa tak karuan akan Nining yang belum juga memberi kabar kepada mereka berdua, akan keadaan Bu Nunik.
"Kenapa Nining belum juga ngasih kabar ke kita ya Pak?"
Bu Sari terus bulak balik ke sana ke mari dengan raut wajah kuatirnya. Hatinya gelisah dengan ke adaan Nining.
"Sabar, bu."
Bu Sari langsung menatap ke arah sang suami dan bekata." Bapak bisa ngomong sabar, tapi hati ibu tak tenang pak?"
Drett ....
Suara ponsel kini berbunyi, di mana Bu Sari dengan terburu-buru mengangkat panggilan telepon. yang ternyata panggilan itu dari Nining.
"Halo, Ning."
"Halo, bu."
"Gimana ke adaan Bu Nunik, dia mati apa tidak."
Pak Yono menghampiri istrinya mendengar ucapan sang istri, membuat ia memukul pelan bahu sang istri.
"Ngomong teh di jaga bu."
ucap pelan Pak Yono. Tatapan Bu Sari terlihat tak senang, di kala Pak Yono sang suami menasehatinya.
"Halo, Ning?"
"Ya, bu."
"Kamu kenapa belum pulang pulang, nak. Ibu kuatir di sini."
" Pemeriksaan Bu Nunik belum selesai Bu, jika Nining pergi begitu saja, nanti siapa yang akan menjaga Bu Nunik di rumah sakit ini?"
"Yaelah Ning, kamu peduli aja sama dia, udah jahat juga sama kita. Sudahlah kamu pulang saja sama si Ardi, Haikal. di sana ada Pak Hasan suaminya yang nuguin si bibir duwer itu."
"Tapi kan bu, kasihan Pak Hasan sendirian di sini. Sedangkan si Ruslan sudah di dalam penjara, masa kita tega ninggalin lelaki tua yang tak tahu apa-apa di rumah sakit ini."
" Ning kamu masih aja kasihan sama Pak Hasan dan juga Bu Nunik, si mulut sombong itu, udahlah lebih baik kamu pergi aja dari rumah sakit, capek-capek Kamu nunggu di sana. Mereka juga tak menghargai kamu Ning."
__ADS_1