
Suasana semakin mencekram, aku takut Lina membocorkan semuanya di depan Haikal dan terdengar oleh Nina. Kalau semua itu terjadi, Nina pasti tidak akan tinggal diam, dia akan menyuruh suruhannya untuk membuat adikku menderita.
"Maaf Bu Nina, tentang kelancangan adik saya yang berkata tidak sopan."
Aku mengelak perkataan Lina yang terus menyindir Nina. Bagaimana pun aku harus menjaga perkataan Lina
"Siapa yang lancang, saya berkata sejujurnya tentang wanita bernama Bu Nina yang terhormat." Lina terus saja mengatakan hal-hal yang membuat Nina marah. Terlihat sekali dari pipi putihnya tampak memerah.
"Maaf sebelumnya, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Nina. Menatap tajam kearah wajah adikku.
Lina mulai angkat bicara, tapi aku mencoba menahan perkataannya.
"Tidak pernah. Lina tidak pernah bertemu dengan Bu Nina, benar begitu Lina."
Aku berharap Lina mengerti perkataanku, nyatanya dia hanya diam dan mendengkus kesal, pergi memasuki rumah hingga membanting pintu dengan keras.
Menundukkan kepala meminta maaf pada Nina. Rasanya harga diriku hancur seketika, karna sebuah ancaman yang di berikan Nina.
Biaralah yang terpenting adikku selamat.
Saat itulah aku berpamitan untuk masuk ke dalam rumah, membiarkan Nina dan Haikal berada di luar berduaan.
Melihat Lina yang duduk dengan mengepalkan kedua tangannya, saat itulah kuhampiri dia.
"Lina."
Tiba-tiba dia bangkit dari tempat duduknya dan menunjuk pada wajahku.
"Dasar kakak lemah, bodoh. Pantas saja kakak tertindas karna kakak lemah tidak mau melawan."
Perkataan Lina membuat dadaku sakit, ya aku memang lemah dan bodoh. Tapi semua demi kebaikan Lina.
"Lina kaka perduli sama kamu. Kaka takut Nina melakukan kejahatan pada kamu dan kaka."
Lina tertawa, ia mencabik bibir kesal.
"Ahk, sudahlah aku tidak peduli."
Gadis manis itu membanting pintu kamarnya, aku sebagai kakak benar-benar lemah. Antara mengikuti perkataannya, atau isi hatiku sendiri.
"Lina benar-benar keras kepala."
Pagi hari dimana aku sudah bergegas untuk keluar dari kontrakan ini. Melihat kontrakan Haikal yang masih menutup pintunya.
"Maafkan aku Haikal, aku pergi tanpa pamit."
Ku raih tangan Lina, berharap dia tidak pulang ke panti asuhan dan pergi bersamaku.
"Lina, jangan pulang ke panti asuhannya," ucapku menarik lengan Lina yang sudah menenteng tas besar.
Lina hanya menarik kasar nafasnya.
"Baik, aku akan turuti keinginan kakak. Tapi dengan satu syarta," ucap Lina membuat aku bertanya-tanya satu sarat apa yang Lina buat untuk kakanya ini.
"Baik lah, apa syaratnya?" tanyaku pada Lina.
__ADS_1
Ia tersenyum kecut. Seraya berkata," Kaka harus jujur pada Ka Haikal tentang kejahatan Nina!"
Aku tercengang kaget, mana mungkin aku harus berkata seperti itu pada Haikal.
"Tidak bisa," sentak aku yang menolak syarat dari Lina.
Lina menarik nafas kesal, seraya menjawab," ya sudah. Kalau begitu aku tidak akan ikut dengan kakak, yang lemah dan tak pemberani ini. Mana mungkin aku bisa ikut dengan seorang kakak yang tidak bisa melindungi adiknya sendiri.
Adikku memang tidak mengerti apa itu sebuah ancaman, ia hanya mengerti tentang kejujuran dan keberanian.
Kepalaku di penuhi dengan beban dan pilihan. Bagaimana ini.
"Gimana ka?" Tanya Lina.
Saat itu Haikal datang ke rumah pagi-pagi sekali, memanggil-manggil namaku.
"Tuh orangnya ada. Cepat bilang."
"Ta-pi."
"Asal kakak tahu sekarang kakak menyembunyikan semua itu, wanita licik itu akan semakin memanfaatkan kita. Dia akan membuat kita menderita selama Ka Haikal belum ia dapatkan."
"Berarti kamu sudah memaafkan kaka!"
"Seorang adik mana yang akan tega membuat kakanya terluka lebih lama. Aku ingin memberi pelajaran untuk kakak jangan lemah jadi wanita, aku tahu kemarin kakak membiarkan aku seperti itu, biar Haikal melihat kebusukan wanita itu. Dan buktinya Haikal tak datang. Jelas Ka Haikal tidak datang, seseorang telah menyekap dia seharian."
"Dari mana kamu tahu Lina."
"Maafkan kakak."
"Sudah, yang terjadi sudah terjadi. Aku minta sama kakak beranilah melawan jangan lemah ka."
"Tapi."
"Ahk, sudah jangan tapi-tapi. Lina harap kaka bisa melawan si Nina itu, toh dia juga sama seperti kita wanita biasa."
Suara Haikal tiba-tiba menghilang aku langsung melihat ke jendela depan rumah. Haikal di seret oleh kedua lelaki.
"Itukah Burhan dan Fras.
Bagaimana ini?"
"Ada apa ka?"
"Kamu jangan keluar dulu. Burhan dan Fras ada di depan, mereka sudah membuat Haikal pingsan."
"Kita lewat belakang Lina."
"Ayo ka."
Saat melewati pintu belakang ternyata di belakang ada.
__ADS_1
"Aidan ... kamu."
Anak kecil itu menempelkan jarinya pada bibir, seraya memberikan ponsel Haikal.
Ternyata Aidan sudah tahu Haikal di seret di bawa ke mobil oleh Burhan.
Aku segera mengambil ponsel itu dan menelepon polisi, dari sana kami bergegas lewat pintu belakang untuk kabur.
Ketukan itu semakin keras terdengar sepertinya Burhan marah, karna aku mengunci pintu rumah mengabaikan panggilannya.
"Dinda sayang, ayo buka. Pulang sama abang." Teriakan dari Burhan.
Kami bertiga terus saja berlari hingga suara Burhan tak terdengar lagi.
Di kontrakan begitu sepi tidak ada orang sama sekali, mereka semua berangkat kerja. Ibu-ibu yang biasa nongkrong mendadak tidak ada entah kemana. Di tambah lagi warung Bu Sumyati tutup, terlihat sekali di kontrakan Bu Nunik seakan tidak berpenghuni.
Aku menarik tangan Aidan dan Lina. Membawa mereka berlari menjauh dari Burhan dengan cepat-cepat. Sebelum Burhan menyadari kepergian kita bertiga.
"Selamatkan kami Ya Allah."
Dan benar saja pertolongan yang maha kuasa itu tidak pernah terlambat. Baru saja berlari beberapa meter, angkot Pak Hendra sudah berada di depan mata. Kami bertiga langsung menaiki angkot Pak Hendra.
Di dalam mobil pun ada Bu Nunik, pantas saja tadi kita bertiga menggedor pintu rumah Bu Nunik nyatanya Bu Nunik pergi ke pasar bersama Pak Hendra.
Nafas kami bertiga, terengah-engah.
"Ada apa dengan kalian? ke mana Haikal Aidan?" tanya Bu Nunik pada kami bertiga.
Lina menjawab perkataan Bu Nunik dengan nafas tak beraturan." Bu, Ka Haikal di tangkap sama mantan suami Ka Dinda. Sekarang mereka berada do kontrakan kami, mengedor-gedor dan mau membawa kami semua."
"Ya Allah, pantas saja kalian berlari ketakutan. Sudah telepon polisi?" tanya Bu Nunik.
"Sudah bu!" jawabku. Aku menarik nafas pelan rasanya lega adik dan Aidan selamat, tapi dengan Haikal? Mudah-mudahan saja Haikal bangun dari pingsannya dan selamat dari Burhan dan Fras. Mereka lelaki kasar dan nekat melakukan apapun demi keinginan mereka.
"Syukurlah!" Bu Nunik mengelus dada. Melihat wanita tua itu ia begitu Kuatir apalagi dengan Haikal sekarang.
Saat itulah ide terlintas dari pikiran Bu Nunik.
"Sekarang kita harus mengerjai mereka agar mereka terjebak dengan rencana kita, sembari menunggu polisi datang. Saat rencana kita berhasil mereka pasti akan tertangkap dan terkurung di dalam penjara."
Ide Bu Nunik ada benarnya juga, kalau hanya menunggu polisi datang mana mungkin. Karna Burhan dan Fras bakal lebih pintar mengelabui polisi.
Apalagi mereka terkenal dengan pereman cerdik.
Lina mengancungkan jempol, pada Bu Nunik." Aku setuju."
Begitu pun dengan Aidan.
"Ya, sudah ibu mau menelepon ibu-ibu di kontrakan kebetulan sebentar lagi mereka bakal pulang dari pekerjaan mereka."
__ADS_1
Rencana akan di mulai berhasil kah?