
"Kamu dengan sendiri istriku. Anakmu juga sudah mengiklaskan wanita ini bersamaku," ucap lelaki tua itu kepada istrinya.
"Cukup, jaga ucapanmu. Aku tidak akan sudi memberikan Sisil padamu," hardik Ibunda Ardi.
Ardi yang sudah lelah mendengar perdebatan kedua orang tuanya, bergegas untuk pergi dari hadapan Ayah dan Ibunya.
"Ardi kamu mau pergi ke mana," teriak sang ibunda.
Ardi mengbaikan teriakan wanita tua itu, pergi masuk ke dalam kamar.
"Ibu harus tenangnya," ucap Sisil menenangkan wanita tua itu.
"Ya, terima kasih Sisil," balas Ardi.
Saat itulah Ayah handa Ardi pergi dengan melambaikan tangan pada Sisil, membuat kedua pipi Sisil memerah. Sebenarnya ada rasa ingin, akan tetapi Sisil tahan karna ia harus bisa mendekati Ardi.
"Sisil, pamit dulu pulang ya," pamit Sisil pada ibunda Ardi.
"Kamu hati hati di jalan, ya," balas Sisil. Mencium punggung tangan Ibunda Ardi.
Sisil bernapas lega, akhirnya dia bisa pulang dengan membawa perhiasan dalam kotak besar. Untuk ia pakai dan sebagian untuk ia jual.
"Senangnya."
Sisil hanya menaiki taksi, bergegas untuk pulang ke rumah. Di setiap perjalanan hatinya merasa damai, ia terus memeluk tasnya yang berisi perhiasan pemberian ibunda Ardi.
namun saat menuju perjalanan, tiba-tiba mobil sopir taksi mendadak berhenti. Membuat Sisil kaget dan berkata," kenapa pak."
"Maaf non, tadi ada orang yang lewat. Tiba tiba." Ucap sang sopir taksi.
Sisil sedikit kesal, ia mengerutu dirinya dalam hati." Hah, mengganggu saja."
Tok ... tok ....
Sosok wanita datang mengetuk pintu mobil taksi dengan begitu keras, membuat Sisil kesal.
"Siapa sih dia?"
Sisil mengabaikan ketukan pintu itu, menyuruh sang sopir untuk melanjutkan perjalanan.
"Jalan pak, biarkan saja dia."
Entah siapa wanita itu, Sisil tak tahu. Dia hanya mengabaikan wanita itu dan menikmati kebahagiannya.
@@@@@
Setelah sampai di rumah, sang ibu tengah memasak makanan untuk di jual keliling. Ia mendengar suara ketukan pintu. Membuat dirinya mematikan kompor dan menghampiri ke depan.
__ADS_1
"Iya, tunggu."
Tok ... tok ....
Wanita tua itu kini membuka pintu rumahnya dan melihat siapa yang datang.
"Sisil, kamu baru pulang. Nak. Kebetulan sekali, ibu butuh bantuan kamu sekarang," ucap sang ibu meminta tolong pada anaknya.
Sisil hanya memalingkan wajah dari hadapan ibunya, dan menjawab," aku malas. Aku cape. Mau tidur."
"Sil, kenapa kamu jadi berubah?" tanya sang ibu. Melihat sifat anaknya yang berubah derastis. Membuat sang ibu heran.
"Sisil, kamu dengan tidak ibu bicara?" Teriak sang ibu kepada anaknya.
"Apa sih bu, aku kan sudah bilang aku cape. Ibu saja yang masak," cetus Sisil membalas ucapan ibunya.
"Ih, anak itu. Kenapa sih tidak bisa di atur," ucap pelan sang ibu.
Sisil mendelik kesal pergi ke kamar, menutup pintu kamarnya dan berkata," dasar wanita tua pengganggu."
Sisil duduk di ranjang tempat tidur, ia membuka tas dan melihat perhiasan pemberian ibunda Ardi.
"Perhiasan yang begitu banyak."
Senang bukan main, yang di rasakan Sisil. Ia terus mencoba beberapa kali perhiasan itu. Membolak balik kan, hingga dirinya tak sadar sang ibu datang membuka pintu kamarnya.
"Ibu," ucap Sisil kaget.
Sang ibu langsung mendekat ke arah anaknya dan berkata kembali," ibu tanya lagi pada kamu, dari mana kamu dapat perhiasan itu?"
Sisil terdiam, bibirnya keluh. Ia seakan bingung menjawab pertanyaan dari ibunya sendiri.
"Ibu ini kenapa sih, mau tahu saja aku dapat perhiasan ini dari mana." Cetus Sisil membereskan perhiasan itu.
"Sisil, ibu berharap, kamu jangan lakukan ini lagi. Kamu pasti mencurikan," tuduh sang ibu.
Sisil tak menerima dengan perkataan yang terlontar dari mulut ibunya, ia langsung menghardik sang ibu dengan berkata," ibu ini ngomong apa sih. Kenapa ibu malah menyalahkan aku. Kalau aku mencuri perhiasan ini."
"Ya terus kamu dari mana dapat perhiasan itu?" tanya sang ibu.
Sisil terdiam, ia bingung harus menjawab apa pada ibunya sendiri. Karna ia ibunya tak tahu jika Sisil bertemu dengan sahabat ibunya yang tak lain ibunda Ardi.
Sisil takut jika ibunya mengetahui semuanya, rencananya bisa gagal. Apalagi menikah dengan Ardi.
"Ibu ini kepo, mau tahu aja urusan orang lain." Cetus Sisil.
Sang ibu memegang, tangan anaknya dan berkata," kita ini sedang susah ..."
__ADS_1
Belum perkataan sang ibu terlontar semuanya, kini Sisil mulai memarahi ibunya sendiri dengan berkata," ibu saja yang susah, Sisil tak mau susah."
Sisil berdiri sembari melipatkan kedua tangannya, menatap ke arah jendela. Sedangkan sang ibu mulai mendekat ke arah anaknya dan berucap kembali," Sisil. Kamu."
"Ahk, sudahlah bu. Jangan sok menasehatiku lagi, aku lelah dengan semua ini. Aku belum siap jatuh miskin, aku ingin seperti dulu," hardik Sisil yang terus memotong perkataan ibunya sendiri.
"Sisil, ibu sayang pada kamu. Kenapa ibu seperti ini juga. Ibu tak mau jika kamu menjadi wanita yang tak bisa bersyukur dan menerima keadaan," nasehat sang ibu terlontar kembali.
"Cukup, bu. Sudahlah cepat pergi dari kamarku." Hardik Sisil.
Mengusir sang ibu, mendorong tubuhnya hingga ke luar dari kamarnya.
"Sisil."
Sang ibu terus mengetuk pintu kamar Sisil, berharap jika Sisil mendengarkan nasehatnya.
Sisil benar benar tak peduli dengan nasehat sang ibu, ketukan pintupun tak di dengar Sisil.
"Sisil, ayo buka. Ibu seperti ini untuk kebaikan kamu juga."
Sisil yang berada di kamar, mengerutu kesal." Hah wanita tua itu."
Sisil kembali membuka kotak besar yang berisi perhiasan pemberian ibunda Ardi. Dia tersenyum sembari memakai perhiasan itu.
"Indahnya, aku seperti kembali saat aku masih kaya raya. Beruntung sekali aku kemarin bertemu dengan sahabat ibu." Ucap pelan Sisil.
Suara ponsel berbunyi, membuat Sisil langsung mengangkat panggilan teleponnya.
"Halo, tante ada apa ya?"
"Sisil, bisa tidak besok kita ketemu di restoran!''
" Besok, sepertinya bisa tante."
"Ya sudah besok kita ketemu."
Panggilan telepon pun terputus sebelah pihak," Ada apa ya, ibunda Ardi menelepon?"
Sisil hanya tersenyum dan berkata," tak apalah lumayan jika aku bertemu dengan wanita tua itu. Aku bisa merauk hartanya lagi dan juga barang barang mewahnya apalagi uanganya."
Sisil begitu terobsesi dengan kekayaan yang di miliki Ibunda Ardi, karna dirinya tak mau jatuh miskin seperti sekarang karna ulah ayahnya sendiri.
" Aku ingin sekali berada di keluarga itu, agar hidupku tidak sederhana seperti ini. Dan tidak kekurangan seperti sekarang."
Sisil senang dengan apa yang ia lakukan, walau itu terpaksa.
Sedangkan dengan sang ibu, begitu kuatir dengan anaknya. Karna dulu Sisil di perlakukan manja oleh sang ayah.
__ADS_1
"Ini yang aku kuatirkan, kalau Sisil tidak bisa menerima keadaan yang sekarang." Gumam hati sang ibu.