
Pagi sekali, Ardi sudah terbangun dari tidurnya. sedangkan Haikal tengah melantunkan ayat suci Al-quran yang begitu merdu.
Membuat perasaan Ardi tentram, ia bangkit dari tidurnya. Sudah lama memang Ardi tak pernah shalat atau pun mengaji, ia lebih asik dengan dunianya hingga lupa akan kewajibanya sebagai seorang umat muslim.
Tersadar, hingga ia mengambil air wudhu. Shalat dengan khusyuk.
Haikal yang selesai mengaji, kini bangkit, dan segera melangkah ke arah samping melihat Ardi tengah shalat.
Tersenyum, dengan apa yang ia lihat, baru pertama kali melihat Ardi shalat, biasanya ia selalu menunggu di mobil jika Haikal masuk ke masjid untuk menunaikan ibadah shalat.
Pagi hari, suasana desa selalu terasa sejuk, angin pagi membuat hawa dingin mengigil. Ardi terlihat lebih segar dari sebelumnya.
"Yuk, kita cari Lina. Berharap bisa menemukan dia?"
"Ya, aku berharap calon istriku bisa ketemu!"
Haikal, menepuk bahu sang sahabat dan berkata," pasti kita bisa menemukan Lina. Percayalah padaku."
Baru kaki melangkah, Nining berlari, menghampiri Ardi dan Haikal.
"Aa Ardi, Aa Haikal."
"Nining."
Terlihat nafas wanita desa itu terengah-engah, Ya berusaha mengatur nafas agar setabil.
Tarik nafas lalu keluarkan secara perlahan.
"Kenapa Nining?"
Kedua mata Nining berkaca kaca, ia menampilkan wajahnya yang muram, membuat Ardi bertanya kembali." Kamu kenapa?"
"Maafkan saya, Aa Ardi."
Nining menangis sejadi jadinya, ia meminta maaf berkali kali pada Haikal dan juga Ardi.
"Kenapa dengan kamu Nining. kenapa kamu harus meminta maaf?"
Pertanyaan Haikal membuat, tangisan Nining semakin keras.
"Nining, salah selama ini!"
Entahlah, kenapa Nining mengatakan hal semacam itu, membuat Ardi dan juga Haikal saling menatap sekilas, membuat mereka sedikit kebingungan.
" Coba kamu tenangi dulu hati kamu, Nining. Lalu bicarakan dulu secara perlahan."
perkataan Haikal membuat Nining menganggukkan kepala, perlahan demi perlahan ia mulai tenang dan tak menangis kembali.
saat itulah Haikal mulai bertanya dengan perlahan dan juga lembut terhadap Nining." coba kamu katakan apa yang kamu rasakan saat ini?"
__ADS_1
Nining menelan ludah, memberanikan diri untuk berkata jujur terhadap Haikal dan juga Ardi.
" Sebenarnya, Teteh Lina teh kabur atas rencana dia sendiri."
"Jadi maksud Nining."
"Nining yang membantu Teteh Lina, karna Teteh Lina teh yang memaksa Nining, padahal setelah itu Teteh Lina teh bakal datang kembali."
" Maksud kamu teh, kembali lagi bagaimana?"
" Jadi kalau udah nggak ada Aa Ardi di rumah. Teteh Lina teh bakalan kembali lagi ke rumah dengan cara melewati jendela kamar Nining."
"Terus."
" Nggak ada terus-terusan atuh Aa Haikal teh."
"Mm. Maaf Ning, oh ya. Teteh Lina sudah kembali lagi?"
" Justru itu tidak sesuai rencana yang diharapkan, Teteh Lina teh dari semalam belum kembali kembali ke kamar Nining. Nining teh jadinya kuatir, takutnya terjadi apa-apa dengan Teteh Lina."
" Apa sebelum Lina kabur, ia mengatakan akan bersembunyi di mana?"
" Sebelumnya Teteh Lina mengatakan bahwa akan bersembunyi di rumah kosong, yang sengaja Nining tunjukkan kepada Teteh Lina!"
Ardi mulai menimpa ucapan Nining," Padahal kemarin kita baru saja dari sana, tapi kita berdua tidak menemukan keadaan Lina."
" Aduh bagaimana atuh ini teh, jadi merasa bersalah. seharusnya Nining itu nggak usah ikut campur masalah Teteh Lina sama Aa Ardi, jadinya kan begini."
"Ning, coba kamu lihat wajah saya?"
kedua pipi Nining memerah, saat Nining mengangkat wajahnya menatap ke arah bola mata coklat yang dimiliki Ardi.
"Aduh Nining teh enggak kuat, melihat ke tampanan Aa Ardi."
Haikal yang mendengar perkataan keponakannya, membuat ia menutup mulut menahan rasa ingin tertawa.
sedangkan Ardi tetap serius.
" Ya sudah atuh kalau kamu nggak mau menatap wajah Aa Ardi, Aa nggak bakal maksa kok."
"Mm, cie cie."
sindiran dilayangkan Haikal pada saat itu, sedangkan Ardi hanya mengerutkan dahinya.
"Aa, mau nanya? Kenapa Teteh Lina, melakukan hal konyol dengan kabur begitu saja?"
pertanyaan Ardi membuat tangan Lina kanan mengepal menyatukan dengan tangan kiri.
Terlihat keraguan dari wajah Nining, Jika ia mengatakan bahwa Lina ingin menghindar dari Ardi, karena Lina yang tidak menyukai dan juga mencintai Ardi sepenuh hati.
__ADS_1
" Nining gak bisa mengatakan rahasia yang dikatakan Teteh Lina, Nining takut melukai hati Aa Ardi!"
Ardi semakin dibuat penasaran oleh Nining, pada saat itulah ia menekan Nining dengan berkata lembut.
" Nggak papa atuh, lebih baik jujur daripada berbohong. Berbohong itu dosa loh pamali Nanti kamu dimarahin sama Allah."
"Iya juga ya."
"Iya, jadi harus ju ... jur."
"Ya atuh, Nining akan ceritakan semuanya, tapi Aa Ardi jangan sakit hatinya."
"Emangnya kalau Aa Ardi sakit hati, gimana."
"Ya jangan atuh, tapi kalau bisa di obati. Biar Nining aja yang obati."
Mendengar tutur kata, gombalan Nining membuat Haikal tak tahan, ia ingin tertawa.
"Emang Nining bisa ngobatin luka hati Aa?"
"Ih si Aa mah, ya bisa atuh, masa enggak bisa. Ah!"
"Bagaimana caranya?"
"Biar Nining bisikin atuh ya. Malu kalau didengar oleh Aa Haikal, nanti dia cemburu lagi, pengen punya pendamping baru."
"Ya sudah atuh sok."
Setelah mendengar bisikan dari mulut Nining, Ardi tertawa terbahak- bahak dan berkata," bocah, bocah."
"Ah, si Aa mah kok nyebut ke Nining bocah, kan Nining teh udah 18 tahu, udah remaja. Kalau bocahmah yany masih minta jajan ke emak."
Karna tak tertahankan lagi, pada akhirnya Haikal tertawa, dengan sepuas yang ia mau.
"Ih. Aa Haikal, malah ketawa. Nining teh jadi malu."
"Enggak usah malu, kan ada Aa Ardi."
Setelah percakapan mampu menanangkan hati Nining, saat itulah Ardi mulai bertanya dengan nada serius, karna ia tahu jika anak remaja seperti Nining di tekan dengan pertanyaan. Maka dia akan menjawab dengan berbohong.
Maka dari itu Ardi, mengarahkan suasana tenang agar Nining bisa rileks dan berkata jujur.
" Jadi, apa rahasia, Teteh Lina teh, Ning?"
"Teteh Lina teh bilang, kalau dia udah enggak cinta sama Aa Ardi, ia lebih cinta sama Aa Haikal. Karna Aa Haikal cinta pertama Teteh Lina. Maka dari itu Teteh Lina mau mempertahankan cinta pertamanya."
Deg .....
Semua tak mampu berucap, saat perkataan jujur terlontar dari mulut Nining, Ardi berusaha tenang dengan jawaban yang terlontar dari kejujuran Nining, yang di mana itu adalah rahasia yang disimpan Lina selama ini, Ardi kira Lina sudah melupakan Haikal semenjak dia mengejar cinta Lina.
__ADS_1
Tapi nyatanya semua itu adalah sia-sia belaka.