Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 284


__ADS_3

Ardi dan yang lainnya kini dikurung oleh Pras, lelaki berhidung mancung dengan postur tubuhnya yang tinggi. Melihat ketiga anak muda, diikat tangannya begitupun dengan kaki.


Mereka bertiga ternyata tidak bisa melawan, karna begitu banyak pelayan dan juga suruhan Pras. Lelaki bernama Pras tertawa dengan kemenangan yang sudah ia genggam saat ini, di mana dengan mudahnya menangkap ketiga Lelaki dan mengurungnya seperti hewan di dalam kandang berukuran sedang. Ardi tak menyangka dengan perlakuan sang Om, membuat Ardi berteriak dan berkata," cepat lepaskan aku dari sini, aku ingin bebas."


Pras yang mendengar suara keponakannya, hanya tertawa terbahak-bahak." Siapa suruh kamu datang ke sini, sok berani menyerang tempatku ini, oh ya aku bisa membuat ibumu terluka, apalagi kamu, Ardi."


Ardi tak mengerti dengan jalan pikiran Pras, ia berusaha menyadarkan sang om, tapi hasilnya nihil, lelaki tua bersetatus lajang itu. Tidak bisa di nasehati, hatinya sudah tertutup rasa benci, membuat Pras tak bisa mengontrol diri.


Hanya kebencian yang tumbuh dari hatinya saat ini. "Aku bukan sok berani. Tapi aku ingin menyelamatkan semua orang-orang yang sudah kamu buat menderita."


Baru saja mengobrol dengan sang keponakan, pada saat itulah suara tembakan terdengar begitu jelas.


"Suara pistol, apa ada yang datang lagi?"


Suruhan Pras, kini menghampiri sang tuan," ayo tuan kita pergi dari sini, banyak polisi yang datang dan mengepung wilayah tuan."


Pras menatap ke arah Ardi dan kedua temannya," aku belum ingin pergi, cepat berikan aku pistol."


Lelaki itu meminta pistol pada sang suruhan dan juga pelayan, "Ini tuan."


Sebelum kabur dari tempat persembunyianya, kini Pras menyisahkan suatu tembakan kepada tiga lelaki yang ia kurung.


Dorr ....


Darah bercucuran begitu pas mengenai dada bidang, semua orang tanpak panik.


Ardi yang melihat pemandangan itu hanya bisa diam, dan berkata." ini sudah takdir."


Pras di tembak oleh polisi, pistol yang ia pegang kini jatuh le atas tanah, kedua matanya menutup.


Ardi dan kedua temanya hanya bisa diam membisu, dimana para polisi datang dan Jerry.


Ardi begitu senang jika Jerry begitu tepat waktu datang menolong mereka," Jerry akhirnya kamu datang juga. Aku sudah lama menunggu kamu, Jer."


Jerry memajukan bibir bawahnya, membuka gembok yang mengurung mereka bertiga.


Ardi sudah tahu, semua pasti karna sang ibu yang sigap memberi tahu keberadaanya.


"Beruntung lu, Tante Maya menghubungi gue, dengan cepat."

__ADS_1


Pras yang terjatuh dari kursi roda, kini terkulai lemah di atas lantai, membuat darah bercucuran dari dada bidangnya bekas tembakan sang polisi.


"Aku tak menyangka jika aku akan kalah, dan menjadi lemah." Gerutu hati Pras.


Semua suruhan Pras, di bawa untuk memintai keterangan, begitupun dengan para tahanan. Sedangkan Pras yang kini tak sadarkan diri, di bawa ke rumah sakit. Karna mengalami tembakan yang begitu serius pada dada bidangnya.


Ardi dan yang lainya selamat, mereka tersenyum senang dan merasakan rasa bahagia. Membawa pulang ke menangan.


@@@@@


Maya yang kini berada di rumah sakit, hanya bisa menangis menghuatirkan keadaan anaknya.


"Maya, ayolah jangan menangis terus menerus. Kamu harus ingat kondisi tubuh kamu. Jika kamu terus seperti ini. Kondisi tubuh kamu akan melemah."


Mendengar ucapan dari Anton, kini Maya berusaha tetap tenang dan tak menangis kembali.


"Aku menghuatirkan anak semata wayangku, Ardi."


Anton berusaha menguatkan hati sang istri dengan memegang erat tangan kanan istrinya." Kamu harus yakin jika anak kita selamat."


Suara pintu di buka, Ardi dan Ferdi begitu pun Haikal datang tersenyum menghampiri sang ibu.


"Ardi, akhirnya kamu pulang dalam keadaan selamat nak."


"Ini semua berkat ibu."


Senyuman kebahagian tergambar dari sudut bibir wanita tua bernama Maya itu," ibu sangat menghuatirkan kamu,"


Ardi ingin sekali memeluk sang ibu, tapi apa daya. Sang ibu masih masa pemulihan bekas oprasi, membuat Ardi hanta mencium punggung tangan sang ibunda.


Ditengah kebahagian yang meliputi Maya dan juga Ardi.


Alya kini diperlihatkan dengan sosok lelaki kejam yang sudah membuat dirinya terluka dan menderita.


Pras datang dengan bersimpun darah, membuat Alya terkejut saat melihat ayah dari anaknya di bawa ke ruang oprasi dengan keadaan gawat darurat.


"Pras, itu. Pras, ayah dari anakku."


Lina yang mendengar Alya berkata seperti itu, kini melihat Pras yang dibawa ke ruang oprasi. " Pras sepertinya tertembak."

__ADS_1


"Pras."


Mendengar suara itu kedua mata Pras terbuka sedikit, ia mendengar wanita pujaan hatinya memanggil namanya, " Alya."


Alya yang mendengar Pras menyebut namanya, membuat ia berucap." Pras."


Kini pintu ruangan oprasi tertutup, dimana Alya hanya bisa menunggu oprasi itu berlanjut.


Lina berusaha tetap ada di samping Alya menanangkan sang sahabat dengan berkata," kamu yang tenang ya, Alya. Oprasi pasti berjalan lancar."


Alya hanya menganggukkan kepala, sekejam apapun Pras, bagi dia Pras tetap ayah dari anak yang Alya kandung.


Dengan mengusap pelan perutnya, Alya hanya bisa menunggu dan pasrah dengan apa yang dikatakan dokter. Tidak ada keinginan apa apa lagi, hanya berharap jika anak dalam kandunganya mempunyai seorang ayah.


Ferdi kini mencari keberadaan Alya, Renata dan Marcel memberitahu bahwa Alya menengok Maya ke rumah sakit.


Tapi sudah bulak balik ke sana ke mari, Alya belum juga terlihat, membuat rasa kuatir di rasakan Ferdi saat itu juga.


"Alya, kemana kamu?"


Tiba tiba Lina berpapasan dengan Ferdi, dimana wanita itu keluar untuk membeli air minum.


"Lina, kemana Alya?"


Lina yang baru saja melangkah keluar rumah sakit kini berdiri di hadapan Ferdi." Lina tengah menunggu Pras!"


Jawaban yang membuat Ferdi tak suka, kenapa Alya masih menunggu lelaki jahat itu, membuat ia berjalan menghampiri Alya yang tengah duduk sembari menangis.


"Alya?"


Wanita berbulu mata lentik dengan kedua matanya yang penuh air mata, kini menatap Ferdi. Ia berdiri dan memeluk Ferdi dengan sepontan.


"Pras, di oprasi, Ferdi."


"Aku tahu itu, kenapa kamu menangisi dia, asal kamu tahu Alya, dia itu sengaja di tembak polisi karna ingin melayangkan pistol pada kami bertiga."


Alya mengusap perutnya dan berkata," sejahat apapun Pras dia tetap ayah dari anak yang aku kandung."


Pelukan Ferdi semakin erat memeluk Alya dan berkata," Alya, kamu jangan terlalu berharap pada Pras, aku siap menjadi ayah pengganti bagi anak yang kamu kandung itu."

__ADS_1


"Tapi Fer, rasanya tak pantas jika kamu menikahi, gadis yang tak suci seperti aku."


Alya merendah dihadapan Ferdi. Membuat lelaki itu melepaskan pelukanya dan menatap lekat pada wajah Alya." Aku tak peduli, yang terpenting aku mencintai kamu."


__ADS_2