Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 39


__ADS_3

Setelah mengantarkan Ardi, Lina mulai mendekati lagi Haikal. Iya terus mencari kesempatan agar bisa berdekatan dengan Haikal. Mengambil hati Haikal.


"Aku harus bisa mengambil hati, Haikal," ucap Lina dalam hatinya.


Lina melihat Haikal tengah duduk di ruang tamu, terlihat wajahnya begitu muram mengingat kejadian istrinya yang tiba-tiba pingsan.


Lina perlahan mulai menghampiri Haikal, dengan sengaja ia mendekati Haikal. Berencana untuk duduk di sampingnya.


"Ini kesempatanku," ucap Lina dalam hati.


Namun Ardi yang baru saja keluar dari kamarnya, mulai mengikuti gerak-gerik Lina.


"Lina dia mau ke mana lagi." Gumam hati Ardi.


saat Lina mulai mendekati Haikal, pada saat itu juga Ardi mulai memegang kedua bahu Lina. Mengagetkan Lina dengan mendadak.


"Hah."


Bertapa kagetnya Lina, begitupun dengan Haikal yang pernah melamun di atas sofa,


Lina menatap tajam ke arah Ardi.


"Hey, adik cantik kamu kaget. Ya?" tanya Ardi tersenyum senang.


Lina menggigit giginya, menahan rasa kesal. Karna Ardi yang mengagetkan secara tiba tiba. "Kenapa sih, lelaki ini selalu ada saat aku tengah ingin mendekati. Ardi." Gerutu hati Lina.


Ardi mulai menggoda Lina, sedangkan Haikal. Hanya menggelengkan kepala, " Kalian ini kalau di satuin kaya anak kucing sama aj*ng tahu enggak."


Haikal yang pusing, kini mulai pergi melewati Lina dan Ardi, membuat Lina semakin kesal pada Ardi.


" Kak Haikal."


Ardi langsung meraih tangan Lina, membuat kedua mata Lina bertatapan dengannya.


"Kamu temani aku jalan jalan, ya."


Lina berusaha melawan Ardi yang terus menarik tangannya, " lepaskan, aku tak mau."


Ardi tetap saja menarik tangan Lina, membuat Lina menginjak kaki Ardi.


"Ahk."


Namun Ardi tak pantang menyerah, Iya terus memegang erat tangan Lina.


membuat tenaga Lina semakin melemah.


"Ini laki laki bikin aku kesal saja." Gerutu hati Lina.


saat itu juga Ardi bisa membawa Lina masuk ke dalam mobilnya, terlihat wajah Lina yang begitu muram kesal dengan perlakuan Ardi." Kenapa kok wajah kamu murahan begitu Lina?" tanya Ardi Lina hanya bisa memajukan kedua bibir, enggan menjawab ucapan lelaki yang berada di sampingnya.

__ADS_1


Ardi mulai menjalankan mesin mobilnya, membawa Lina entah kemana.


"Kamu mau bawa aku ke mana?" tanya Lina.


"Nanti kamu tahu sendiri!" jawab Ardi, dengan begitu fokus mengendarai mobil.


"Rese."


Ardi tersenyum kecil, senang dengan ucapan cetus Lina. Yang membuat suatu tangtangan bagi dirinya.


"Lina cantik jangan marah marah donk, nanti wajah kamu cepat peot loh."


Lina menatap sekilas ke arah Ardi. Membuat Ardi menatap balik ke arah Lina.


"Kamu terkesima ya, melihat ke tampananku."


Deg ....


"Uwekkk ...." Berpura pura muntah di depan Ardi. Membuat Ardi tertawa, sedangkan Lina bergidik ngeri.


"Wajah kamu lucu, Lina," ucap Ardi. Tertawa terbahak bahak.


Di dalam perjalanan.


Lina hanya memperlihatkan wajah cemberutnya. ia kesal dengan Ardi yang membawanya pergi.


"Kenapa sih ada mahluk semacam ini datang ke rumah."


"Aku enggak ngomong apa apa!" jawab Lina.


Ardi langsung mencuil dagu Lina dan merayunya kembali." Kamu ini kalau lagi marah marah imut deh."


Lina seakan risi dengan perlakuan Ardi, membuat ia menyuruh Ardi untuk menghentikan mobilnya.


"Stoppp."


Ardi sepontan kaget, bukan main. Ia mulai mengerem mobilnya secara mendadak. Membuat Lina yang tak memakai sabuk pengaman, langsung terbentur kepalanya.


"Aw."


Ardi mengusap pelan kepala Lina dan berkata," sakit."


Lina yang semakin kesal langsung mendorong tubuh Ardi yang terlalu dekat dengan wajahnya," Cepat bawa aku pulang."


"Kalau aku bawa kamu pulang, kamu pasti akan mendekati Haikal. Merayu dia," ucap Ardi.


Lina membulatkan kedua matanya dan berkata," apa maksud kamu?" tanya Lina.


"Sudahlah Lina, jangan berpura pura lagi, aku tahu kamu ini ada rasa pada Haikal kan!" jawab Ardi.

__ADS_1


Lina memalingkan wajah ke arah sisi kiri, membuat Ardi tersenyum tipis." Kenapa kamu takut, rahasiamu terbongkar."


Lina tak menyangka dengan Ardi yang sudah mencurigai dirinya, padahal Lina sudah berusaha menyimpan rahasia tentang dirinya yang menyukai Haikal.


"Aku tak menyangka jika sahabat kak Haikal itu tukang fitnah." Ucap Lina.


Ardi tak menyangka jika Lina itu adalah seorang wanita yang sangat licik, dalam keadaan Ardi yang telah mengancam Lina, Lina masih saja bisa mengelak.


"Fitnah, kenapa kamu malah menuduhku memfitnahmu." Ucap Ardi.


"Kamu itu tak mempunyai bukti apa apa." balas Lina.


"Kamu yakin, aku tak mempunyai bukti," ucap Ardi.


"Ya, karna kamu ...."


belum perkataan Lina terlontar semuanya, Ardi langsung menunjukkan sebuah video pada ponselnya.


"Lihat ini."


betapa kagetnya Lina pada saat itu juga, melihat sebuah video yang ditunjukkan Ardi kepada dirinya. kedua matanya membulat, hatinya seakan tak karuan.


"Kenapa? Kamu takut?" tanya Ardi.


Lina berusaha mengambil ponsel yang tengah dipegang Ardi. membuat Ardi dengan sigap mengambil ponselnya.


"Wah, kamu takut ya. Kamu mau mengambil ponselku, ya."


Lina mengepalkan kedua tangannya.


sedangkan dengan Ardi, dia hanya mengusap jangutnya dan berkata," ternyata kamu takut Lina."


"Aku tidak takut."


"Kamu yakin."


"Iya."


Ardi tak menyangka, jika Lina senekad itu. Ia begitu besikukuh jika dirinya tak takut akan acaman yang terlontar dari mulut Ardi.


" Sudahlah Lina Menyerah saja, Aku tahu kamu ini pasti takutkan jika Haikal mengetahui semua. kalau kamu Ternyata memang mempunyai rasa kepada suami kakakmu sendiri. Oh ya, Lina. Memangnya kamu tidak ada lelaki lain, sampai kamu mencintai suami orang lain. apalagi orang yang kamu sukai itu adalah suami kakakmu sendiri," ucap Ardi. membuat amarah Lina semakin menjadi-jadi.


"Sudah cukup. bisa tidak kamu tidak usah ikut campur akan urusan pribadiku dan juga keluargaku saat ini. Apalagi kamu hanya orang luar yang hanya masuk ke keluargaku dan kamu juga tak punya hak atas semua yang aku lakukan dan apa yang ada pada hatiku kalau aku mencintai suami dari kakakku sendiri," balas Lina.


" Aku memang bukan dari keluargamu, aku hanya orang luar yang datang tiba-tiba untuk sekedar menginap di rumahmu. Hanya saja aku tak tega dengan kakakmu yang kamu tega sakiti," ucap Ardi.


" mau aku menyakiti kakakku mau aku mencintai suami dari Kakakku itu urusanku. Jadi kamu jangan selalu ikut campur dengan apa yang aku lakukan, sebaiknya kamu jadi tamu yang baik saja," ucap Lina.


Ardi menggelengkan kepalanya, wanita yang berada di sisi-nya begitu keras kepala. hati wanita yang berada di sisinya seperti batu begitu keras susah untuk diluluhkan.

__ADS_1


"Hati kamu ini sebenarnya dari apa sih. Lina."


__ADS_2