
"Sudahlah Om, cepatlah berkata jujur. Haikal tidak pernah menghasutku. Apalagi membuat aku harus menekan Omku sendiri," ucap Ardi.
Alya kini melontarkan kata kata," Pras."
Akan tetapi, tatapan Pras menyuruh Alya untuk diam. Walau sebenarnya Alya masih punya hati untuk menyelamatkan calon suaminya.
Lina yang berada di samping Alya, bertanya dengan nada tegas," kenapa. Apa kamu tahu tentang pertemanan calon suamimu dengan Burhan."
"Tidak, ak-u. Ti-d-ak tah-u ap-a apa," balas Alya gugup.
"Kenapa kamu takut berkata jujur, hingga menutupi kebohongan begitu saja," ucap Lina.
"Aku tidak menutupi kebohongan, hanya ...."
Pras menyadari jika Lina tengah menekan Alya, membuat Pras menghampiri Alya dan menarik tangan wanita itu.
"Pras, tunggu."
Semua orang kini mulai mengejar Pras, akan tetapi dengan sigapnya Pras malah menyodorkan pistol pada Ardi dan juga Haikal.
"Jangan mendekat, kalau kalian berani mendekat. Aku akan bunuh wanita ini," ancam Pras.
Pistol yang ia sodorkan kini ia tempelkan pads kepala Alya.
"Aku berharap kamu menurut, jika tidak pistol ini tak segan segan aku layangkan pada kepala kamu, Alya." Ucap pelan Pras pada Alya.
Ardi mulai mendekat ke arah sang Om.
"Jangan mendekat, atau aku akan bunuh wanita ini di depanmu. Apa kamu rela wanita ini mati di tangaku, hah. Bukanya dia itu cinta pertamamu," ucap Pras.
"Walau dia cinta pertamaku dulu, tapi aku tetap harus menolong Alya dari kejahatan Om, harusnya om mengakui semuanya. Bukan malah mempersulit keadaan," balas Ardi. Berusaha bersikap tenang.
"Diam. Kamu bodoh, untuk apa aku mengakui semua itu, rasanya tak penting. Toh dendam satu persatu sudah terbalaskan," ucap Pras.
"Dendam. Om seharunya ...."
Belum nasehat Ardi terlontar semuanya. Kini Pras berucap dengan nada tinggi." Diam, aku tidak perlu nasehat sampah dari kamu Ardi. Kamu hanya anak kemarin sore, yang tak tahu apa apa."
Alya menelan ludah, ia tak tahu jika Pras senekad itu mengeluarkan pistol dan mengancam Ardi.
"Pras, hentikan tingkah konyolmu itu." ucap pelan Alya.
"Sudah sebaiknya kamu diam saja. Jangan banyak bicara, atau aku akan membuat seketika kepalamu ini pecah."
Deg ....
Tubuh Alya seketika melemas, saat Pras berbicara seperti itu.
"Sekarang kamu ikut aku, agar bisa menyingkir dari Ardi dan yang lainnya," ucap Pras.
Mau tidak mau Alya hanya bisa menuruti perkataan Pras, ia kini berjalan dengan pistol yang masih di tempelkan Pras.
Ardi melihat Pras, membawa pergi Alya ke luar dari cafe, membuat Ardi mengikutinya," jangan mendekat atau pistol ini akan segera kutembakan pada Alya."
Ardi menatap rasa takut pada diri Alya. Membuat ia tentulah tak tega, Pras dengan memaksa Alya kini naik ke dalam mobil.
__ADS_1
"Pras, lepaskan. Aku tidak ingin ikut denganmu," ucap Alya.
"Sudah diam, jangan memberontak," bentak Pras.
"Apalagi ini. Apa yang akan terjadi denganku. Kenapa Pras begitu kejam." Gumam hati Alya.
Pras sudah masuk ke dalam mobil. Sedangkan Ardi dengan sigap berlari.
Mengedor gedor kaca mobil milik Pras.
"Pras berhenti, kamu mau membawa Alya ke mana?"
Teriak Haikal dengan berjalan pelan.
Pras tak mempedulikan teriakan itu, ia kini melarikan diri dari tempatnya sendiri karna ia tahu, pastinya polisi dan yang lainnya akan segera datang.
Sedangkan para pelayan kini kabur begitu saja.
Lina berlari ke arah Ardi dan Haikal.
"Gawat, semua pelayan di sini tidak ada," ucap Lina begitu terlihat cemas.
Ardi menghampiri Lina dan bertanya?" maksud kamu tidak ada bagaimana?"
"Mereka kabur, sepertinya Pras sudah memberi kode untuk para pelayannya!" jawab Lina.
"sial, aku tak menyangka jika omku itu selicik yang aku kira," gerutu Ardi.
Haikal, kini membawa kedua pelayan Pras yang ternyata mereka tak bisa lari, karna kedua kaki yang sudah lemas.
Kedua pelayan itu seakan pasrah dengan nasib mereka sendiri.
"Kenapa kalian diam saja?" tanya Lina tersenyum kecil.
"Maafkan kami, ampuni kesalahan kami. Tolong bebaskan kami," ucap kedua pelayan yang bernama Abdul dan Wawan.
"Haikal. Apa kamu mau memaafkan kedua kepar** ini?" tanya Ardi.
Haikal mengusap kasar dagunya, menatap dalam dalam ke arah Abdul dan Wawan.
"Apa pantas kedua pelayan ini di maafkan?" tanya Haikal.
"Tolong maafkan kami Haikal, kami mengaku bersalah. Bahwa sebenarnya kami yang sudah berniat menyentuh Nona Alya," ucap Abdul berterus terang.
Begitu kesalnya Lina, hingga ia menampar kedua pelayan itu.
PLAkkk ....
PLAKK ....
"Enak saja, kalian. Tadi saja kalian tetap sok berkuasa dan menyalahkan Kak Haikal. Sekarang meringis meminta maaf." Cetus Lina.
"Kami melakukan semua itu karna kami takut oleh tuan kami," ucap Wawan.
"Takut, jadi kalian rela berbohong untuk menyelamatkan diri kalian. Sedangkan yang kalian salahkan ...."
__ADS_1
Belum perkataan Lina terucap semuanya, kini Haikal mulai menghentikan ucapan Lina.
"Sudah cukup Lina, kita beri mereka kesempatan untuk hidup."
Kedua pelayan itu begitu senang dengan jawaban yang terlontar dari mulut Haikal.
"Te ...."
Belum mereka berucap kata terima kasih, Haikal kini melanjutkan ucapanya
"Hidup di penjara hingga ajal menjemput mereka berdua."
Deg ....
Wawan dan Abdul saling menatap satu sama lain, dan berucap." Di penjara?"
Lina tertawa mendengar kekompakan mereka dalam berucap.
"Kenapa kalian takut?" tanya Lina.
"Jangan lah Nona, kami takut!" ucap kedua pelayan itu dengan wajah memelas.
" Hah, wajah memelas kalian itu wajah penjahat." Ucap Lina.
Ardi kini mulai bertanya pada kedua pelayan itu.
"Sebenarnya apa yang kalian takuti dari Omku, kenapa kalian tega sampai mempitnah orang?"
"Seb-e-nar-nya."
Lina mendorong tubuh kedua pelayan itu dan berkata," sebenarnya apa?"
Kedua pelayan itu menelan ludah, seakan tak kuasa berkata kejujuran.
"Ayo katakan."
Wawan kini menatap ke arah Abdul dan menganggukan kepala, dimana mereka harus berkata jujur.
"Tapi tuan Ardi. Jika kami mengatakan yang sejujurnya apa tuan bakal membebaskan kami berdua," ucap Wawan.
"Enak aja." Cetus Lina.
Ardi menahan Lina dan berkata," sudah kamu diam saja Lina. Biar aku bertanya dulu pada mereka."
Ardi menatap tajam. Ke arah meraka berdua.
"Cepat katakan yang sebenarnya?"
Pada akhirnya mereka berdua mengatakan semuanya.
"Jika kami tak menutupi kesalahan kami. Kemungkinan Tuan Pras akan membunuh kami berdua. Seperti halnya Nina, wanita kepercayaan Tuan Pras yang ternyata rencananya gagal."
Ardi seakan mengenal nama Nina," kalian bilang Nina?"
"Ya. Dia wanita yang dulu menyamar di rumah Tuan Ardi sebagai pembantu, hanya untuk meneror Nona Lina agar Nona Lina pekirannya terganggu!" jawab Abdul.
__ADS_1
"Pantas saja kemarin aku sampai depresi, ternyata dalang semua itu adalah Pras," timpal Lina.