
"Maafkan aku bu, aku terpaksa. Mengatakan bahwa ibu sudah meninggal dunia, padahal ibu masih hidup. Karna aku tak mau jika ibunda Ardi tahu kalau ibu masih hidup dengan keadaan miskin, mungkin ibunda Ardi tidak mau menjodohkan aku dengan anaknya." Gumam hati Sisil.
"Oh, ya. Sisil, sebelum kamu pulang ke rumah. Sebaiknya kamu mampir dulu ke rumah ibu, ibu ingin memberikan sesuatu pada kamu," ucap wanita tua yang menjadi ibu Ardi kepada Sisil.
Sisil berpura pura menolak," Tak enak tante. Sebaiknya Sisil pulang saja.
"Loh jangan dulu pulang, kamu ikut dulu sama tante. Nanti pulangnya supir tante yang akan antarkan kamu," balas Ibunda Ardi.
"Baiklah tente, kalau tante memaksa. Sisil ikut aja kemauan tante," ucap Sisil dengan perasaan senang.
"Nah gitu dong."
Sisil membayangkan jika wanita tua itu akan memberikan sebuah kalung berlian atau pun baju mewah, yang akan membuat moodnya indah.
Setelah sampai di rumah, Sisil kini turun dengan wanita tua itu. Saat langkah kaki mereka dekat dengan rumah. Saat itu juga sosok seorang lelaki bertubuh tinggi dengan wajah bersih dan badan masih terlihat kekar, tersenyum melihat ke arah Sisil.
Membuat Sisil heran, siapa lelaki tua itu?
Ibunda Ardi mulai menatap tajam ke arah lelaki tua itu dan berkata," Kamu sudah pulang. Bukanya kamu tengah bersenang senang dengan wanita cantik di luar sana."
Lelaki tua itu hanya tersenyum kecil, saat sang istri memarahinya. ia seakan tak peduli dan sudah merasa biasa dengan hal hal seperti itu. Maka dari itu dirinya hanya bisa mendengarkan ocehan sang istri.
"Sudahlah, tak usah lebai. Bukannya kamu sudah terbiasa dengan hal hal seperti ini."
Ucapan yang di lontarkan lelaki tua itu, membuat hati istrinya sangatlah sakit. Membuat sang istri hanya bisa menahan sesak dan bersabar.
__ADS_1
Lelaki tua itu menatap genit pada Sisil, sembari mengusap pelan dagunya. Jiwa nakalnya kini kembali saat melihat wanita cantik di samping istrinya.
Lelaki tua itu langsung menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan Sisil.
"Hai."
Namun sang istri yang berada di samping kiri Sisil, menepis tangan suaminya agar tidak bersalam dengan Sisil.
"Kenapa kamu menepis tanganku," pekik lelaki yang menjadi ayah Ardi.
"kamu jangan macam macam sama Sisil, wanita ini akan aku jodohkan dengan Ardi anakku," ucap sang istri kepada suaminya.
Lelaki tua itu mengerutkan dahi dan menjawab," Pantas saja. Oh ya, kemungkinan besar Ardi tidak menyukai wanita cantik pilihan kamu ini."
Deg ....
"Aku bukan sok tahu, karna aku tahu selera anak kita bukan seperti ini. Dia mengiginkan wanita sederhana," balas Ayah handa Ardi.
Wanita tua itu, kini tak membalas ucapan suaminya. Ia malah melewati sang suami dan masuk ke dalam rumah. Hanya saja lelaki tua itu penasaran dengan gadis cantik bernama Sisil yang akan di jodohkan dengannya.
Membuat dirinya ingin memiliki gadis itu, dengan cara apa pun, lelaki tua itu bisa saja membuat Sisil jatuh dalam pelukanya. Apalagi Sisil terlihat matre dan juga suka dengan uang, membuat pikiran lelaki tua itu mudah untuk mendapatkan Sisil.
Ibunda Ardi mulai mengajak Sisil masuk ke dalam kamarnya, entah apa yang akan di tunjukan wanita tua itu? Membuat hati Sisil penasaran.
Wanita tua itu kini perlahan berjalan, mendekat ke arah lemari yang begitu terlihat mewah. Mengambil suatu benda yang ia tak tahu benda apa itu, Benda itu berada dalam kotak besar. Wanita tua itu langsung mendekat kembali kehadapan Sisil menunjukan kotak besar itu.
__ADS_1
Sisil menduga duga, jika dalam kotak besar itu adalah perhiasan yang mungkin begitu banyak yang akan di berikan padanya.
"Aku berharap itu perhiasan."
Saat kotak besar itu di buka, benar saja. Isinya adalah perhiasaan yang begitu banyak, membuat kedua mata Sisil membulat dan tak henti mengedip. Mulutnya mengagah kaget dengan apa yang ia lihat dan hatinya tak menyangka.
"Perhiasannya begitu banyak." Ucap Sisil tanpa sadar. Ia langsung memukul bibirnya dengan tangan kanan, meminta maaf pada wanita yang berada di hadapannya.
"Maafkan saya tante, saya sudah lancang berucap seperti itu. Karna saya kaget lihat perhiasan yang begitu banyak, sebab kedua orang tua saya tidak pernah membelikan perhiasan walau mereka kaya raya," ucap Sisil membuat suatu alasan, yang di percayai ibunda Ardi.
Ibunda Ardi langsung memegang bahu Sisil dan berkata," kamu tak usah begitu. Ibu tak apa apa kok. Ibu senang dengan kepolosan kamu, kebetulan sekali ibu ingin memberikan kotak perhiasan ini kepada kamu, karna ibu mau kamu benar benar menjadi menantu ibu."
Sisil sangatlah kaget dengan pemberian ibunda Ardi untuknya, ia tak menyangka jika ibunda Ardi akan memberikan perhiasan yang berada dalam kotak itu untuk dirinya.
"Ini benaran tante. Aku masih tak percaya, untuk menerima perhiasan ini rasanya aku tak pantas deh. Karna kan aku belum sah menjadi istri dari Kak Ardi," balas Sisil bertingkah baik dan sok polos di depan ibunda Ardi.
"Hah, sudah aku duga orang kaya pasti akan seperti ini, tak sia sia aku bertemu dengan teman mamahku dan menjadi keberuntungan untuk diriku bisa dekat dengannya." Gumam hati Sisil.
ibunda ardi langsung memberikan kotak perhiasan itu kepada Sisil, tanpa rasa ragu sedikitpun, dengan senang hati nya, Sisil menerima. Tangan wanita tua itu mengusap pelan rambut Sisil dan mengatakan bahwa Sisil adalah anak yang sangat baik sampai ibunda Ardi sangatlah begitu mempercayai sisil.
karena ibunda Ardi tahu jika ibu Sisil adalah orang baik dan teman di masa kecilnya yang begitu peduli kepadanya.
"Ibu berharap sekali kamu menjadi menantu ibu. Ibu tak mau mencari calon menantu untuk Ardi lagi, ibu berharap sekali pada kamu Sisil. ibu sangat ingin kamu bersatu dengan Ardi dan mampu membuat sifat Ardi berubah, tidak seperti sekarang sifatnya yang begitu angkuh dan juga tak peduli kepada ibunya sendiri," ucap wanita tua itu mengeluh kepada Sisil.
Memegang punggung tangan wanita tua itu dan berkata," ibu tenang saja, Sisil akan berusah membuat Ardi dekat dengan Sisil, Ibu tak usah kuatir aku pasti akan berusaha membuat Ardi jatuh ke pelukanku, dan tak lupa merubah sifat ardi menjadi orang yang selalu menyayangi ibu dan berbakti kepada ibu."
__ADS_1
"Terima kasih Sisil, kamu memang wanita baik, sama seperti ibumu sendiri, yang tak pernah jauh dari ibu dan selalu memperdulikan ibu disaat ibu tengah terpuruk dalam kesedihan. Namun sayangnya ibu kamu sudah tiada di dunia ini, membuat kekecewaan pada hati karena tak bisa membalas semua kebaikan ibu kamu di masa dulu." Keluh Ibunda Ardi.