
"Sebenarnya ada apa?" tanya Ardi.
"Nanti aku jelaskan, sekarang aku mau mencari orang itu!" jawab Lina yang sudah mulai basah kuyup karna air hujan.
"Orang siapa, maksud kamu Lina?" tanya Ardi yang terus mengusap kasar wajahnya, karena air hujan yang terus membasahi wajahnya tak henti-henti.
"Nanti aku jelaskan, sekarang aku tak ada waktu, aku ingin mengejar orang itu," ucap Lina bersikukuh.
"Tapi Lina, sekarang hujan, mana mungkin kamu mencari orang dalam ke adaan hujan begini," balas Ardi, berusaha menasehati Lina yang sudah terlihat ke dinginan.
kedua mata Lina kini mulai melihat sosok orang yang memakai baju hitam itu berlari menuju ke jalan, tanpa berucap satu patah kata pun Lina kini berlari lagi mengejar orang itu
"Ternyata dia berlari ke sana?"
"Lina, tunggu."
Lina begitu cepat berlari, membuat Ardi hampir kewalahan mengejar Lina, karena derasnya air hujan yang mampu menutupi pandangan.
"Lina, Lina."
Lina benar-benar tak mendengar teriakan Ardi pada saat itu, Iya terus fokus berlari mengejar sosok orang yang terlihat oleh kedua matanya. orang itu begitu cepat berlari membuat Lina tiba-tiba saja tersungkur jatuh ke atas tanah.
Ardi yang melihat Lina jatuh segera mungkin menghampiri calon istrinya," Lina kamu baik baik saja."
"Ahk."
"Lutut kamu berdarah, Lina."
"Ahk, sakit."
Ardi berusaha membantu Lina untuk berdiri, akan tetapi Lina meringis kesakitan karena darah yang terus mengalir dari lututnya tiada henti. ternyata Lina terkena goresan batu yang membuat kulitnya sedikit terbuka. hingga mengeluarkan darah yang tiada henti.
Ardi langsung membuka bajunya, melingkarkan bajunya pada lutut Lina, agar pendarahan di lutut Lina berhenti seketika.
"Apa kamu bisa berjalan?" tanya Ardi.
Lina menggelengkan kepala, terasa sakit dan perih dari lututnya.
saat itulah Ardi mulai membopong tubuh Lina untuk segera kembali pulang, akan tetapi Lina berusaha meronta, ia ingin mengejar orang yang sudah meneror dirinya.
"Aku harus mengejar orang itu, Ardi," ucap Lina bersikukuh tak ingin di bopong. Memaksakan diri untuk berlari lagi mengejar orang yang sudah terlihat jelas.
"Kamu mau memaksakan diri dengan ke adaan seperti ini," balas Ardi bernada tinggi.
__ADS_1
"Tapi ...."
Belum perkataan Lina terucap sepenuhnya, Ardi tiba tiba mencium bibir Lina agar berhenti melawan.
Tentulah kedua pipi Lina memerah, ia seakan malu dan diam, seribu kata.
"Dengar perkataanku sekarang, luka kamu harus segera di obati. Urusan orang itu biar kita pikirkan besok."
Perkataan Ardi, membuat Lina menurut.
Saat itulah Ardi mulai membawa Lina untuk segera kembali pulang ke rumah.
Saat pintu rumah di buka.
Bu Maya ternyata duduk di sofa menunggu ke datangan Ardi dan Lina.
"Akhirnya kalian kembali, ibu begitu kuatir. Sebenarnya kalian dari mana saja, kenapa baju kalian basah kuyup begini?"
Pertanyaan sang ibu yang terus terlontar tak mampu di jawab Ardi.
Ardi langsung saja mendudukan Lina di sofa, mengambil obat untuk meredakan rasa sakit pada lutut Lina.
"Ahk, sakit."
"Lina, kenapa dengan lutut kamu, kenapa berdarah seperti ini?" tanya sang ibu.
"Apa." Bu Maya tampaklah syok dengan jawaban sang anak.
"Lina, kenapa kamu berani mengejar orang itu, sebaiknya kamu biarkan saja orang itu berlari. Jika kamu mengejar orang itu, bagaimana nanti dengan keadaanmu, ibu takut kamu kenapa-napa."
Bu Maya begitu perhatian tehadap Lina, tangan wanita tua itu tak henti membersihkan wajah Lina yang basah karna air hujan dengan handuk.
"Maaf bu, Lina tadinya memberanikan diri karna Lina begitu penasaran dengan orang itu," ucap Lina. Menundukkan kepala.
"Boleh kamu berani, tapi jangan sampai mengejar orang itu, Bahaya Lina," balas sang ibu. Memeluk Lina, serasa pelukan itu begitu hangat di rasakan Lina.
Ardi begitu telaten, membersihkan bekas darah di lutut Lina.
Setelah selesai, Ardi kini duduk di samping Lina dan menanyakan tentang orang itu.
"Coba jelaskan, apa yang sudah orang itu lakukan padamu."
"Awalnya, ada seseorang yang mengetuk pintu kamarku, Ardi. Aku mengira jika yang mengetuk pintu itu adalah kamu atau ibu, tapi nyatanya tidak ada orang pun. Hanya ada lembar kertas yang bertuliskan sebuah ancaman."
__ADS_1
Penjelasan Lina, mampu di pahami Ardi langsung.
Lina menelan ludah melanjutkan penjelasanya." saat itu juga, orang yang menerorku meleparkan batu ke arah kaca kamar, aku terkejut dan melihat ke jendela, sosok orang itu memakai baju hitam melabai ke arahku."
" Be***s*** orang itu, apa tujuannya. Aku yakin itu pasti Om."
"Maksud kamu Ardi?" tanya sang ibu yang belum paham dengan ucapan anaknya.
"Ya bu, Om si pengusaha cafe itu, pasti bikin ulah!" jawab Ardi.
"Mana mungkin, ommu melakukan itu, dia itu keluarga kita, untuk apa?" ucap sang ibu.
"Ardi juga tak tahu apa tujuan siber***sk itu!" jawab Ardi.
"Kamu harus tenang, belum tentu semuanya benar. Siapa tahu filing kamu salah," sang ibu berusaha menenangkan Ardi.
Akan tetapi Ardi tetap besikukuh, ia tetap menyalahkan omnya sendiri.
"Ya sudah, dari pada kita terus berdebat di sini, Lebih baik ibu mengantarkan dulu Lina untuk menggantikan dia baju ke kamar ibu." Ucap sang ibu, meraih tangan Lina dengan begitu lembut.
Ardi kini duduk dengan baju yang masih basah kuyup, kesal dengan kelakuan sang om yang menjadi jadi.
"Ahk, kenapa lelaki kep**** itu semakin menjadi jadi."
Mengusap kasar wajahnya, sang ayah datang. Dan bertanya," kamu kenapa Ardi?"
"Ayah, aku sedang memikirkan adikmu yang kejam itu," ucap Ardi. Mengeluarkan isi hatinya.
"Maksud kamu, Pras," balas sang ayah.
"Siapa lagi, setiap kali melihat wajahnya. Aku sangat jijik," gerutu Ardi.
"Kenapa kamu berkata seperti itu, memangnya pras sudah melakukan apa padamu, sehingga kamu semarah itu?" tanya sang ayah.
"Dia tidak melakukan apa apa terhadapku, tapi kepada Lina dan keluarganya!" jawab Ardi dengan kemarahan yang meluap luap.
" Coba kamu katakan dan jelaskan," ucap sang ayah.
" Percuman aku jelaskan, papah tidak akan percaya, jika aku tidak memperlihatkan buktinya," balas Ardi.
" Coba kamu jelaskan. Papah akan mengerti kamu Ardi," ucap sang ayah memegang bahu anaknya.
Saat itulah Ardi mulai menjelaskan semuanya, sang ayah hanya bisa mendengarkan perktaan anaknya sebisa mungkin mengerti dan memahami apa yang di rasakan Ardi.
__ADS_1
Bu Maya yang mulai datang menghampiri Ardi untuk segera beristirahat, mendengar percakapan ayah dan anaknya.
"Pras, mereka membicarakan pras, kenapa dengan dia? Apa jangan jangan tadi sore Ardi dan Lina berdebat karna pras." gumam hati Bu Maya.