
Dengan keahlian seadanya aku meninju mata mereka dengan kedua tanganku, membuat pengangan tangan mereka pada tanganku terlepas seketika. Dengan sigap ku tendang perut mereka hingga kedua lelaki itu meringis kesakitan.
Keringat dingin mulai membasahi tubuhku, segera menghampiri lelaki yang telah membuat Dinda kesakitan. Apalah dayaku yang hanya sendiri, mereka begitu banyak. Benar-benar membuat kewalahan hingga akhirnya aku terkulai lemah di bawah tanah.
"Hey, botak bisanya kamu mengajak teman-temanmu. Kalau bisa satu lawan satu, jangan main kepung seperti ini," hardikku. Membuang ludah ke sebelah kiri. Bersiap untuk bangkit dan menghajar lelaki berkepala botak itu.
Brug ...
Satu hantaman mengenai punggung, dengan balok kayu. Membuat pertahananku untuk berdiri kembali runtuh, darah segar bercucuran pada bibirku.
"Cukup, Pak Haikal. Jangan melawan lagi, biarkan saya pergi bersama suami saya." Tangisan dari sosok wanita bernama Dinda terdengar pada kedua telingaku.
Aku mencoba untuk bangkit lagi. Namun, balok kayu itu menghantam kepalaku, hingga penglihatan mataku seketika samar.
Terdengar suara Pak Hasan, yang datang bersama warga di sana.
Membuka kedua mata, ternyata aku sudah berada di rumah Pak Hasan. Bangkit dari tempat tidur, memegang belakang kepala masih terasa sakit.
"Aden, sudah sadar. Alhamdulillah," ucap Pak Hasan. Lelaki tua itu tampak panik, segera menyodorkan air minum kepadaku.
"Minum dulu den," ucapnya. Aku segera meminum air putih dalam gelas yang di sodorkan Pak Hasan, terasa segar sekali mengenai tenggorokan. Namun terasa perih saat beradu dengan bibir atas.
"Masih terasa sakin den?" tanya Pak Hasan.
Aku mengeleng-gelengkan kepala, seraya menjawab!" Enggak terlalu pak."
Pak Hasan membantu punggungku yang masih terasa sakit, untuk menyandar pada bantal yang di tumpuk di rapihkan oleh Pak Hasan. Bu Nunik yang melihat ke adaanku, duduk di ujung ranjang dimana aku tengah terbaring lemah.
"Nak, kenapa kamu seperti ini?" tanya Bu Nunik matanya seakan berkaca-kaca. Kuatir dengan keadaanku yang seperti badut, semua tampak terlihat bengkak. Dari pipi mulut dan jidat.
Mulut ini seakan sakit untuk menjelaskan semuanya, untung saja Pak Hasan mewakili perkataanku.
"Bu. Den Haikal ini tadi nolongin wanita yang jadi penumpang bapak. Tapi tiba-tiba Den Haikal di hampiri oleh sosok lelaki bertubuh kekar dan berotot. Lelaki itu ternyata suami dari wanita itu, wanita itu seakan di aniaya di perlakukan tidak baik oleh suaminya. Saat Den Haikal berusaha menolong wanita itu, ternyata suaminya membawa beberapa temannya, hingga menghajar Den Haikal ini. Gitu bu ceritanya," ucap Pak Hasan. Menjelaskan semua kejadian yang menimpaku.
__ADS_1
"Kenapa Nak Haikal begitu nekat. Mau menolong wanita itu, kalau nanti terjadi apa-apa sama Nak Haikal gimana. Ibu kuatir Nak Haikal sudah kaya anak ibu sendiri," ucap Bu Nunik.
Perasaanku begitu terharu mendengar Bu Nunik peduli padaku yang hanya sebagai tamu dan penyewa kontrakan di tempatnya.
Kadang suka heran dengan mereka berdua yang menyebut nama ku dengan kata aden atau nak. Membuat hati ini ingat pada emak yang berada di rumah begitu pun almarhum bapak.
"Loh ... loh ... kenapa Nak Haikal menangis."
Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi rasanya susah sekali mulutku benar-benar sakit bekas pukulan. Pria-pria berotot tadi.
Dreet ... drett..
Suara ponsel berbunyi, aku mencoba merogok ponsel dalam saku celanaku. Ternyata panggilan telepon dari emak bagaimana ini.
"Siapa den?" tanya Pak Hasan.
Aku memberikan ponselku pada Pak Hasan, agar dia yang mengangkat panggilan telepon emak saat itu.
Maafkan aku mak menyuruh orang untuk berbohong pada emak.
Bu Nunik mulai mengompres pipi dan jidat ku, dengan air hangat agar bengkak dan juga rasa sakit segera mereda.
"Nak Haikal, kalau pun bibir Nak Haikal bengkak tapi tetap terlihat seksi. Dimata semua ibu-ibu." Tawa Bu Nunik membuat aku menepuk jidat.
"Aw sakit." Teriakku.
"Nak Haika, ngapain nepuk jidat segala. Kan jadi sakit kena tepukan sendiri."
Tawa Bu Nunik dan Pak Hasan membuat ku senang.
Di saat sakit seperti ini Bu Nunik masih bisa menghibur dan juga membuat rasa sakit sedikit mereda.
Tiba-tiba suara ibu-ibu datang menjenguk keadaanku yang tengah terbaring di atas ranjang kasur. Mereka begitu kasihan melihat aku yang begitu tragis, hingga menyuapi makanan memberi minum dan juga mengobati luka-luka pada wajah.
Bu Nunik dari kejauhan menujukan satu jempol, dan tersenyum lebar.
Benar kata Bu Nunik bagaimana penampilan burik, atau kumel, aku masih terlihat seksi di mata ibu-ibu kontrakan ini.
Sesaat mereka pergi, satu persatu. Hingga tak tampak lagi ibu-ibu yang menjengukku, Bu Nunik menghampiri seraya berkata.
"Tuh, benarkan kata ibu apa? Ibu-ibu di kontrakan ini suka sama Nak Haikal karna, Nak Haikal ramah dan tidak sombong. Jadi mereka segan untuk menjenguk Nak Haikal," ucap Bu Nunik. Memberikan beberapa amplop yang di berikan ibu-ibu kontrakan.
Aku menolak dengan berbagai alasan," untuk ibu saja. Aku di sini juga nyusahin ibu."
__ADS_1
"Rezeki jangan di tolak nak. Ibu ikhlas bantu kamu, jadi simpan amplop berisi uang ini untuk bekal buat nyari kerja nanti," ucap Bu Nunik melipatkan amplop putih itu pada tanganku.
Padahal aku tidak berharap pemberian dari mereka, sudah di jenguk pun aku sudah sangat senang. Ya Allah dimana ada kesusahan selalu ada pertolongan.
"Terima kasih bu."
"Sama-sama, oh ya. Di luar ada wanita cantik dan seksi mau jenguk Nak Haikal," ucap Bu Nunik. Membuat aku berpikir apa itu Bu Nina.
"Ya, sudah suruh saja masuk kasihan nunggu di luar," jawabku.
Membuat Bu Nunik berdiri berjalan keluar menemui wanita yang ingin menjengukku.
Suara sepatu hak tingginya membuat aku mengenal dia adalah Bu Nina.
"Pak Haikal," panggil Bu Nina mendekat. Terlihat senyum manisnya mengembang menatap kearah wajahku.
Dia terduduk di samping ranjang tempat tidur di mana aku yang tengah terbaring.
"Haikal saya minta maaf atas kejadian kemarin, yang menyuruh kamu untuk menikahi saya secara kontrak," ucap Bu Nina Menundukkan pandangan. Bulir bening penyesalan kini jatuh dari matanya.
Aku yang masih kesal, tak sanggup menatap wajahnya.
"Pak Haikal, apa kamu mau bekerja lagi perusahaan saya?"
Tawaran Bu Nina sanggat menggiurkan bagiku. Siapa yang tidak tertarik bekerja di perusahaan Bu Nina, yang besar dan juga menjamin. Namun, entah kenapa hati ini seakan tika menginginkannya.
"Pak Haikal, bagaimana? Saya janji tidak akan memaksa Pak Haikal untuk menikah dengan saya," ucap Bu Nina. Gadis berhidung mancung itu seakan berharap sekali padaku untuk kembali lagi ke perusahaannya.
"Kenapa Bu Nina begitu menginginkan saya bekerja di Perusahaan ibu?" tanyaku yang entah kenapa, membuat wajah Bu Nina tampak syok.
"Kar-na ki-nerja kamu bagus Pak Haikal!" jawabnya gugup.
Aku mulai berani menatap pada kedua matanya seraya berkata," apa tidak ada hal lain lagi?"
Bu Nina tersenyum tipis seakan menyembunyikan sesuatu di hatinya. Entahlah aku takut Bu Nina berharap padaku, sedangkan hati ini tidak ada rasa sedikit pun padanya.
Bodoh, aku terlalu Pede. Mana mungkin Bu Nina menyukai lelaki kere dan miskin seperti ku.
Nyatanya dia hanya ingin kawin denganku secara kontrak.
"Bagaimana Pak Haikal?"
"Biarkan saya pikirkan dulu Bu Nina!"
"Baik lah, kalau itu kemauan kamu Pak Haikal. Saya pamit pulang dulu, karna masih banyak pekerjaan menunggu di kantor."
Tanpa sadar aku meraih tangan putihnya, membuat Bu Nina menatap pada wajahku. Terlihat kedua pipinya memerah.
"Astagfirullah, maaf Bu Nina. Saya tak sengaja."
Kulepaskan tanganku yang masih menempel dengan sigap.
"Tidak apa-apa."
"Terima kasih telah datang menjenguk saya."
"Sama-sama Pak Haikal, semoga lekas sembuh."
"Amin, terima kasih."
__ADS_1