Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 52


__ADS_3

"Ayo jawab." Tegas Dinda.


"Iya, memangnya kenapa?" tanya Lina. menampilkan raud wajah tak berdosa.


Baru saja Dinda mau mengingatkan Lina, Saat itu pula Haikal muncul.


membuat Dinda menghentikan ucapannya, ya tak mau jika Haikal marah kembali dan salah paham kepada dirinya.


"Kenapa kakak diam saja, biasanya kakak mengoceh mengigatkanku. Asal kakak tahu aku sengaja berpura pura teriak, bahwa di dalam kamarku ada kecoa. Agar aku bisa memeluk suamimu, ka." Ucap Lina tanpa ia sadari Haikal ada di belakang punggungnya.


Dinda sengaja tak memberitahu Lina, agar kebusukan adiknya itu terbongkar oleh Haikal sendiri. Dinda membiarkan Lina mengoceh sendiri agar Haikal tahu apa yang sudah Lina lakukan dan agar Haikal percaya bahwa Lina memang benar ingin memiliki Haikal.


"Kenapa kakak diam saja, kakak takut denganku. Sudahlah kak, suatu saat aku bisa memeliki Kak Haikal." Ucap Lina.


Haikal mulai berucap di belakang punggung Lina.


"Apa maksud kamu, Lina?"


Deg ....


seketika jantung Haikal serasa ingin copot, setelah mendengar suara Haikal yang berada di balik punggungnya.


sedangkan Dinda hanya tersenyum kecil, Mungkin dengan cara ini Haikal mengetahui segala kebusukan Lina.


Lina langsung membalikkan badan ke arah Haikal," kak Haikal. Lina ...."


belum perkataan Lina terlontar semuanya, Haikal langsung membentak adik dari istrinya itu," apa maksud dari perkataanmu itu. Kenapa kamu berkata bahwa kamu akan memelikiku kepada istriku sendiri."


"Kak Haikal. Bukan itu maksud Lina. Lina hanya ingin ...."


Haikal langsung menarik tangan sang istri, memegang erat tangan dan berkata," asal kamu tahu Lina, Dinda adalah istri satu satunya. Aku tidak akan membagi hatiku dengan wanita lain."


"Kak Haikal, percaya padaku. Aku hanya ...."


beberapa kali Lina berbicara, Haikal terus memotong penjelasan gadis itu.


"Sudah cukup, aku tak mau mendengar penjelasan kamu lagi." Ucap Haikal.


kini Haikal mulai menarik tangan Dinda untuk segera pergi dari hadapan Lina, Haikal tak menyangka jika perhatiannya itu menjadi Cinta bagi hati Lina.


pantas saja Ardi selalu menasehatinya.


Di dalam kamar. Dinda duduk di rajang tempat tidur. yang di mana Ardi mulai duduk di atas lantai dengan memegang kedua tangan Dinda. Haikal tak henti-henti mencium kedua tangan sang istri, kedua matanya tampak berkaca-kaca.


"Dinda, maafkan aku yang tak mempercayai perkataanmu," ucap Haikal.

__ADS_1


"Sudahlah mas, semua sudah terbukti dari perkataan Lina sendiri. Kamu juga tahu apa keinginan adikku," balas Dinda.


"Sekali lagi aku minta maaf, aku kira kepedulianku tak membuat hati Lina jatuh cinta padaku," ucap Haikal.


" Sudah lah mas, yang terpenting Kamu sudah tahu isi hati Lina saat ini. Aku berharap kamu tidak terlalu memanjakan dia. dan peduli kepada dirinya, karena saat kamu memanjakan dan mempedulikan dia, rasa cintanya akan bertumbuh besar. Dan Lina semakin ingin memilikimu," ucap Dinda.


"Iya, aku akan turuti perkataanmu sekarang, Dinda." Ucap Haikal.


Dinda mulai berdiri, begitupun dengan Haikal. mereka saling berpelukan. meratapi setiap kesalahan masing-masing.


"Terima kasih, selalu sabar saat bersamaku."


"Iya mas."


Tiba-tiba pelukan itu membuat tawa kecil bagi Dinda, yang di mana Haikal merasa malu.


"Mas, perut kamu keroncongan." Ucap Dinda.


Haikal mengaruk belakang kepalanya yang tidak terasa gatal." ya."


Dinda langsung melepaskan pelukan suaminya, menarik tangan sang suami untuk segera makan.


"Ke mana."


"Ya, makan."


"Ayo makan."


Dinda tanpa ragu, untuk menyuapkan makanan ke mulutnya. Karna ia tak melihat sang adik makan.


"Kenapa, kok kaya enggak nafsu begitu?" tanya Haikal.


"Lina belum makam!" jawab Dinda.


"Sudah jangan pikirkan lagi, Lina," ucap Haikal.


"Tapi ....."


"Nanti juga kalau dia lapar. Dia pasti datang ke dapur untuk makan, jadi biarkan saja," ucap Haikal.


Saat itu Dinda fokus dengan makananya, tanpa memikirkan Lina adiknya sendiri. Menuruti apa perkataan suaminya.


Dinda begitu senang, melihat Haikal memakan masakannya dengan begitu lahap. Membuat rasa bahagia terukir dari hatinya.


" Bagaimana, Mas. Masakannya enak enggak?" tanya Dinda ragu.

__ADS_1


"Enak sekali sayang, ini benar-benar masakan super enak yang selalu aku makan!" jawab Haikal memuji masakan sang istri.


"Kamu bisa aja. ngegombal," ucap Dinda.


@@@@


Sedangkan di dalam kamar, Lina memijit perutnya. Merasakan rasa lapar yang tak tertahankan. Membuat ia hanya bisa menahan.


Rasa malu pada hatinya, begitu besar. Membuat ia tak berani untuk ke luar menemui Dinda atau Haikal.


"Hah, andai saja Haikal tak ada di belakang punggungku. Mungkin aku tak akan seperti ini, ya tuhan kenapa semua harus terjadi. Padahal aku ingin semua baik jaik saja sesuai rencana. Tapi. Ahk. Memalukan."


Lina terus mengerutu kesal dirinya sendiri, " semua sudah sirna. Harapan telah tiada, dimana Kak Haikal pasti akan membenciku."


Lina berdiri, berjalan ke sana ke mari. Memikirkan cara bagaimana dirinya bisa mendekati Haikal. Dan merebut hati Haikal akan bersimpati kepada dirinya."


"Aku harus mencari cara, tapi cara apa. Ayolah ini otak berpikir, bagaimana agar aku bisa membuat Haikal balik lagi memanjakanku dan peduli padaku."


Tok .... Tok ....


Ketukan pintu terdengar, Kini Lina berpura pura tertidur. sebenarnya hatinya tak karuan, karna dirinya yang ketahuan mencintai Haikal.


"Lina, kamu tidur. Kakak udah masakin makanan kesukaan kamu de." Teriak Dinda.


Lina mengabaikan teriakan sang kakak yang penuh perhatian, bagaimana pun. Lina tetap saja. Egois, walau Dinda memberi perhatian pada Lina.


"Gimana sayang, Lina mau ke luar dari kamarnya?" tanya Haikal.


Dinda menggelengkan kepala, jika Lina tak mau menjawab teriakannya ia malah mengabaikan perhatian Dinda.


"Ya sudah, biarkan saja. Nanti juga anak itu ke luar sendiri dari kamarnya." Ucap Haikal tegas.


"Tapi."


Haikal menarik tangan istrinya, membawa sang istri masuk ke dalam kamar untuk segera beristirahat.


"Nanti Lina sakit bagaimana," ucap Dinda yang begitu kuatir terhadap Adiknya sendiri.


"Kamu ini sayang, Lina sudah bikin kamu sakit hati, tapi kamu masih saja perhatian terhadapnya," balas Haikal mengusap lembut rambut sang istri.


"Aku kan sebagai kakaknya tak tega, bagaimanapun Lina tetap adikku Mas. Dia adalah keluargaku satu-satunya yang aku punya," ucap Dinda.


"Aku tahu, jika Lina memang keluargamu satu-satunya, tapi kamu juga harus ingat kamu juga punya aku suamimu. Aku juga keluargamu, Lina sudah dengan pendiriannya. Berbeda dengan kamu sayang, kamu harus siap bersamaku. Sebentar lagi Lina bertumbuh dewasa dirinya juga akan sama memiliki keluarga baru seperti hal ya kamu dan aku," balas Haikal.


"Benar juga perkataanmu, Mas. Tapi Lina sangat ...."

__ADS_1


Haikal menutup mulut sang istri dengan jari tangannya, ia tak ingin mendengar tentang Lina. Haikal akan berusaha bersikap cuek.


__ADS_2