Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 88


__ADS_3

Haikal langsung menghampiri istrinya, membuka pintu kamar sang istri.


"Dinda, tolong dengar dulu perkataanku."


Teriakan Haikal membuat Dinda menutup kedua telinganya," sudahlah mas. Berisik, aku mau tidur."


Dinda langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa dan menyelimuti tubuhnya.


"Dinda sayang, bobonya di kamar, yuk." Usap pelan Haikal pada rambut kepala Dinda.


Seperti yang biasanya, Dinda langsung menghempaskan tangan suaminya dengan begitu kasar dan menjawab," sudah mas. Pergi dari hadapanku, aku mau tidur."


Haikal malah membaringkan tubuhnya di sebelah sopa yang tak jauh dari Dinda, membuat wanita itu tak menyadari suaminya yang tengah menunggunya untuk tidur di kamar.


@@@@


Lina yang berada di dalam kamar, merebahkan tubuhnya. Membalas pesan dari Ardi.


( Sudahlah jangan di bahas lagi, oh ya. kamu sudah sampai mana? )


Senyuman Lina terukir begitu jelas, ia tak tahu dengan apa yang ia rasakan di hatinya saat ini. Entah bahagia atau harus ber sedih, karna sudah mengambil keputusan yang mendadak.


Sebenarnya Lina tetap masih merasa berat terhadap Haikal hatinya tak bisa berbohong, jika cintanya tak langsung hilang saat Ardi menyatakan keseriusannya.


Lina tak tahu harus bagaimana lagi, agar hatinya yang merasa cinta terhadap Haikal hilang.


Saat membalas isi pesan dari Ardi, saat itulah Lina mendengar perdebatan sang kakak yang terdengar hingga kamar Lina. Membuat Lina penasaran dan langsung menghampiri perdebatan itu.


Lina mengintip di balik tembok melihat apa yang terjadi, dan ternyata bertapa kagetnya Lina saat itu. Ia melihat Kak Dinda tertidur di sofa.


Karna tak tega Lina langsung menghampiri kakaknya yang sudah terlelap tidur.


Namun, saat langkah kakinyan mendekat pada sofa, yang ternyata di sebelah sofa itu ada Haikal yang tertidur menjaga kakaknya sendiri.

__ADS_1


"Ternyata kak Dinda tak sendirian tidur di sofa, ada kak Haikal. Mereka begitu so sweet. Kenapa hatiku masih saja terasa sakit, padahal aku sudah mempunyai Ardi sebagai pengganti kak Haikal di hatiku." Gumam hati Lina.


Ia tak mau mengganggu sang kakak, pada akhirnya Lina mulai kembali ke kamar untuk melihat ponselnya.


Baru saja Lina mengambil ponsel, suara permberitahuan pesan datang.


( Sebentar lagi aku sudah mau sampai rumah, nih! )


Lina kini membalas pesan Ardi.


( Syukurlah. )


( Ya sudah, kamu cepat tidur sana. Sudah malam, takut nanti kamu ke siangan. )


Perhatian Ardi pada Lina sangatlah besar, akan tetapi perhatian itu terasa hambar saat Lina melihat Haikal dan Dinda begitu mesra. Mereka tidur di atas sofa sembari berpegangan tangan.


( Aku tidur dulu, ya. )


Lina mulai menutup ponselnya, ia sudah ingin beristirahat menenangkan pikirinya yang terasa rumit.


Ardi yang sudah sampai di rumah, kini masuk dengan tatapan ke dua matanya yang fokus melihat ponselnya.


Sang ayah yang tengah duduk di kursi kini memanggil Ardi.


"Ardi, tunggu."


panggilan sang ayah membuat Ardi menghentikan langkah kakinya, saat itulah Ardi langsung menoleh kearah ayahnya dan bertanya?" Ada apa?"


sang ayah menyuruh Ardi untuk duduk disamping tempat duduknya, saya ingin membicarakan sesuatu yang penting. pada anaknya itu.


" Ardi cepat Kamu duduk di samping ayah," ucap sang ayah.


Ardi mulai menuruti perintah sang ayah untuk duduk disampingnya, saat itulah sang ayah mulai menepuk punggung anaknya dengan berkata," kamu ini sudah dewasa cepatlah cari calon. Biar ayah cepat punya cucu."

__ADS_1


tutur kata Lembut sang ayah membuat Ardi langsung menatap ke arah wajah lelaki tua itu," Sebenarnya aku sudah mempunyai calon, hanya saja Ardi takut jika ayah dan ibu tidak menyetujui Ardi bersama wanita itu."


sang ayah tentulah senang saat Ardi mengatakan bahwa dirinya sudah mempunyai calon istri untuk pendamping hidupnya, pada saat itulah sang ayah bertanya?" siapa wanita itu?"


sebenarnya Ardi ragu mengatakan bahwa calon istrinya adalah seorang wanita sederhana yang tak memiliki Harta berlimpah seperti keluarganya saat ini.


" Calon istriku ialah Lina. Wanita yang pernah aku bawa ke rumah ini, yang aku kenalkan sama ayah." ucap Ardi memberanikan diri kepada sang ayah.


lelaki tua itu langsung tersenyum senang, saat Ardi sudah menemukan calon istri untuk dirinya sendiri. " jadi calon istrimu, wanita itu. Dia adalah sahabatmu itu kan?" tanya sang ayah.


"Loh kok, ayah langsung bilang sahabat. Emangnya ayah sudah pernah mengobrol dengan Lina!?" jawab Ardi dengan sebuah pertanyaan pada ayahnya.


sang ayah menganggukkan kepala, seakan setuju dengan calon istri Ardi yang tak lain ialah Lina.


"Ya kebetulan kemarin ayah nanya sama dia, pas dia jawab dia bilang sahabatan sama kamu. Tapi ternyata dia calon istri kamu," ucap sang ayah. yang memang lelaki tua itu tak pernah melarang Ardi untuk mendekati wanita manapun.


" jadi ayah tidak keberatan jika aku menikahi Lina wanita sederhana?" Tanya Ardi pada sang ayah. Membuat ayahnya tersenyum lebar.


"Tentu saja ayah setuju."


ketika kata-kata setuju itu terlontar dari mulut sang ayah, saat itu juga ibunda Ardi mulai turun dari anak tangga. Seraya berteriak," ibu tidak setuju sama sekali. Jika kamu menikahi Lina wanita sederhana itu."


sang ayah mulai menggelengkan kepala, saat dirinya berkata setuju tiba-tiba saja sang istri datang.


" Sudahlah Ardi jangan dengarkan apa perkataan ibu kamu, ibu kamu itu tidak pernah merasakan yang namanya jatuh cinta. yang ia lihat dari seorang lelaki adalah uangnya." Ucap sang ayah. Membuat Ibunda Ardi datang dan menjiwil telinga sang suami.


"Apa kamu bilang, kamu harus tahu. Kenapa aku tidak setuju dengan wanita pilihan Ardi, karena aku seorang ibu ingin yang terbaik untuk anaknya," ucap Ibunda Ardi pada sang suami.


" kalau memang ibu sayang terhadap Ardi, harusnya ibu itu dukung apa yang Ardi inginkan mau masalah jodoh ataupun masalah status, yang terpenting Ardi bahagia," bela sang ayah pada anaknya.


"Cukup, ibu tidak setuju. Ibu tidak mau mempunyai menantu yang sederhana dan juga kurang dalam pendidikannya, apalagi Lina. Ibu sangatlah tidak setuju karena Lina itu orang yang sangat sederhana dan tidak mempunyai apa-apa seperti kita," ucap Sang ibu.


" Bu kenapa sih, ibu selalu egois dalam masalah Ardi, harusnya ibu itu sadar akan diri ibu yang sudah tua, tak usah lah. Ibu pilih-pilih seorang wanita untuk dinikahi Ardi. karena dia juga sudah dewasa dan sudah berpikir mana yang terbaik untuk dirinya dan mana yang tidak baik untuk dirinya. Tak usahlah atur atur Ardi," ucap sang yang membela anaknya.

__ADS_1


" Ibu heran kepada ayah, Kenapa juga Ayah selalu membela Ardi. lihat saja sekarang Ardi Sudah berani melawanku dan juga tak mau menuruti apa yang aku suruh," gerutu sang ibu.


__ADS_2