
#Kau buang istrimu seperti sampah kupungut dia seperti permainsuri.
#Dia_Anugrah_Terindahku
Flashback Burhan
Di waktu kecil aku senang sekali dengan Dinda dan orang tuanya, mereka ramah dan baik hati. Apalagi ayah Dinda Pak Yogi yang selalu bantu kami dalam segala hal.
Kedekatan kami begitu dekat. Membuat kami seakan menjadi keluarga.
Karna ibuku adalah janda kembang yang di tinggal mati oleh ayah di usia muda. Ibuku berjuang untuk menghidupi dan mencukupi kebutuhanku. Ibu sosok wanita yang pekerja keras walau ayah sudah meninggal ibu tidak pernah melirik laki-laki lain, ia selalu fokus mengurusku.
Hingga saatnya perubahan terjadi Pada ibu saat Pak Yogi yaitu ayah Dinda selalu datang ke rumah kami, dengan membawa sebuah makanan atau pun sebuah bantuan uang. Pak Yogi begitu baik kepada ibu dan aku.
Awalnya ibu selalu menolak dengan berbagai hal, karna rasanya tak enak jika selalu di bantu oleh orang lain.
Karna Pak Yogi memaksa, pada akhirnya ibuku luluh.
Aku sangat senang sekali dengan keluarga mereka, apalagi Dinda gadis baik hati.
"Rama, aku sama ayah beliin ini untuk kamu," ucap gadis kecil bernama Dinda memberikan satu mainan robot untukku.
"Dinda terima kasih," jawabku meraih mainan itu dan berterima kasih padanya.
Setiap minggu mereka selalu datang ke rumah ku, Pak Yogi dan juga Dinda.
Setiap kedatangan Dinda ke rumah, kami selalu bermain ke luar. Aku yang masih kecil tak mengerti jika membiarkan ibu di rumah bersama Pak Yogi itu berbahaya.
Karna di rumah kami jauh dari keramaian dan juga tetangga.
Setelah tiga kali kedatangan Pak Yogi. Aku merasa heran dengan ibu, yang selalu mendadak diam dan tak pernah berbicara.
Ibu sering mengurung diri, jarang mengobrol atau bermain denganku. Untuk menyediakan makan ibu sering lupa, terkadang aku sering melihat luka bekas pukulan di tangan ibuku dan juga di betis.
Setiap bertanya, ibu beralasan terjatuh. Hingga menyebabkan bekas luka. Padahal aku jarang sekali melihat ibu terjatuh, ibu adalah orang yang selalu berhati-hati dalam setiap mengerjakan pekerjaan rumah atau pekerjaan di luar.
"Bu apa ibu sakit?"
Setiap kali aku bertanya ibu tak pernah menjawab, wanita tua yang melahirkanku selalu diam dan mengabaikan pertanyaan yang selalu terlontar dari mulutku.
Ada apa sebenarnya dengan ibu? Pikiran itu selalu masuk ke dalam kepalaku.
Aku yang masih berusia delapan tahun masih bingung dengan perubahan ibuku. Apalagi untuk mengerti tentang suasana seorang ibu.
Malam hari, aku sering melihat ibu menangis sendiri.
"Bu, ibu kenapa? Apa ibu sakit? Kenapa ibu tidak pernah menjawab pertanyaanku."
Bibir ibu begitu keluh, ia seakan berat mengatakan sesuatu padaku. Apa karna aku masih kecil?
Siang hari seperti biasa Pak Yogi datang tapi tidak bersama Dinda, ia seakan kesal dengan ibu.
"Kamu main dulu ya nak," ucap ibu menyuruhku untuk ke luar bermain sendiri.
"Aku ingin sama ibu," jawabku. Menolak.
__ADS_1
Tapi ibu terus mendesakku untuk pergi, dengan terpaksa, kaki ini melangkah keluar sesuai permintaan ibunda.
Baru di pertengahan jalan, aku lupa membawa mainan robot-robotan yang Dinda beri waktu itu. Saat itulah aku balik lagi ke rumah untuk mencari mainanku.
Setelah sampai di rumah berjalan mencari sang ibu, begitu banyak baju berserakan di ruang tengah. Baju ibu dan juga Pak Yogi, ada apa ini? Aku kaget bukan main Pak Yogi menyiksa ibuku begitu saja.
Ia melakukan hal yang tak seharusnya aku lihat.
"Ibu."
"Yogi."
Ibuku sudah berbalut selimut menangis. Wajahnya bengkak seakan bekas pukulan.
"Kamu apakan ibuku?" Aku bertanya lanyaknya seperti jagoan yang tengah menentang musuh.
Pak Yogi tertawa melihat keberanianku.
"Mau pukul, sini pukul anak kecil."
Pak Yogi menyodorkan wajahnya untuk aku pukul. Saat itulah aku memukul Pak Yogi, tapi berhasil lelaki tua itu tahan.
Dia tertawa dan mengatakan aku bocah.
Dengan rasa puas ia pergi begitu saja, meninggalkan ibu yang menangis.
Aku memeluk sang ibu, tak terima dengan semuanya.
Ibu memelukku erat, sebenarnya ada apa? kenapa ibu diam saja? Harusnya ibu melawan? Pertanyaan itu terus tergiang.
Sebulan berlalu, Pak Yogi datang lagi. Dengan membawa surat. Entah surat apa?
"Kamu apa-apaan. Membawa surat ini ke rumah istriku?" teriak Pak Yogi. Dia hampir menampar ibu, namun aku tahan dengan berdiri di hadapan ibu.
"Aku ingin kamu tanggung jawab Mas, kamu sudah menghamiliku! Kamu berjanji akan menikahiku!" Ibu Tak kalah meneriaki Pak Yogi. Kedua matanya mengeluarkan air mata.
Aku yang hanya anak kecil, hanya bisa menangis.
Plak ...
Pak Yogi menampar ibu begitu keras. Aku mencoba berteriak. Hingga Pak Yogi mengancam dan menunjuk pada wajah Ibu.
"Dengar kan aku Sarah. Aku tidak mau tanggung jawab tentang kehamilanmu, bisa saja anak itu buka anakku. Pasti kamu sudah tidur bersama lelaki lain dan bukan aku saja?"
Setelah mendengar perkataan Pak Yogi tubuh ibu merosot seketika. Menangis sejadi-jadinya.
Setelah kejadian semua itu, Ibu menjadi wanita pendiam, dan ini lebih parah lagi. Ibu selalu tertawa sendiri ia seperti depresi.
Terkadang aku sering kelaparan, karna ibu yang seperti itu. Dengan terpaksa aku selalu mengamen untuk bisa mengisi perut yang kosong dan keroncongan. Hidup di jalanan, hingga aku mengenal dunia pereman.
Dimana kehamilan ibu semakin membesar, dimana para warga begitu marah, karna melihat kandungan ibu yang membesar.
"Sebaiknya kalian keluar dari sini, melihat ibumu hamil tanpa seorang suami adalah aib bagi kampung kami."
Semua orang di kampung benar-benar mengusir aku dan ibu, kami hidup menderita dan juga sengsara karna Pak Yogi. Sampai aku dan ibu harus tinggal di gubuk kecil.
__ADS_1
Setelah pulang dari mengamen, aku melihat ibu yang sudah dalam keadaan gantung diri.
"Ibu."
Tak menyangka ibu bisa berbuat senekat ini, dengan bunuh diri membawa jabang bayinya.
Kini aku sendiri luntang lantung sendiri. Tanpa orang tua dan juga saudara.
Setelah kematian Ibu, ibu membuat satu surat untukku. Dimana tulisan itu.
Balaskan dendam ibu nak.
Menggenggam kertas putih yang ibu tulis membuat hatiku marah, dan kesal.
Teringat dengan Pak Yogi yang sudah membuat hidupku dan hidup ibu hancur.
Aku bertekad mengubah namaku jadi Burhan. Mencoba menghapus nama Rama di hidupku. Akan ku balas Pak Yogi dan keluarganya.
Aku bekerja keras untuk bisa sekolah dan hidup lebih baik lagi, agar suatu saat setelah dewasa aku bisa membalaskan dendamku pada Pak Yogi dan keluarganya.
"Lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan Pak Yogi."
Aku tak menyangka aku bisa sukses dan mempunyai rumah sendiri bekerja di sebuah kantor yang lumayan besar karna kerja keras dan tekad.
Saat itulah, aksiku di mulai. Mendekati Dinda anak dari Pak Yogi.
Tapi ternyata Dinda malah menolakku, saat itulah aku mendekati Pak Yogi agar mau menikahkan aku dengan anaknya.
"Loh, anda siapa ya?" tanya Pak Yogi. Padaku, dengan bermodal menyewa mobil. Membuat Pak Yogi simapati padaku.
"Saya mau melamar Dinda anak bapak!" jawabku.
"Kenapa bisa tiba-tiba begini?" tanya Pak Yogi. Membuat aku harus bisa berkata manis agar kedua orang tua Dinda menyukaiku.
"Aku menyukai anak bapak yang baik hati dan cantik, dan jika bapak menerima lamaran Saya. Saya akan berikan apa yang bapak mau!" jawabku. Membuat kedua orang tua Dinda begitu senang kegirangan.
"Baiklah kalau begitu kami akan memberi tahu lamaran, boleh saya tahu siapa namanya?" tanya ibunda Dinda.
"Oh, saya terlalu bersemangat melamar anak bapak dan ibu, sampai saya lupa mengenalkan nama saya sendiri. Perkenalkan nama saya Burhan!" jawabku tersenyum penuh kepalsuan.
Kebetulan sekali saat itu, Dinda pulang dari tempat bekerjanya. Kedua orang tua Dinda memanggil anaknya saat itu, Dinda masih seperti itu menampakkan wajah yang muram kepadaku.
"Dinda ibu mau kenalkan kamu dengan Nak Burhan, Nak Burhan ini akan melamar kamu. Apa kamu mau menerima lamarnya?" tanya ibunda Dinda. Aku hanya bisa tersenyum kecil melihat wajahnya yang seakan enggan menatap wajahku.
"Dinda belum mau menikah ibu!" jawab Dinda.
Membuat aku tersenyum ketir.
Dinda berlalu pergi dengan raut wajah kesal, kedua orang tuanya terus meyakiniku bahwa Dinda bersedia menikah denganku.
"Nak Burhan tenangnya, pasti Dinda mau ko. Tinggal membujuk anak itu. Dia memang begitu malu-malu."
Kedua orang tua Dinda begitu mudah, hanya dengan satu rayuan uang saja mereka mau menyerahkan anak mereka, bodoh.
"Ya sudah saya pamit dulu ya bu, pak."
__ADS_1
Aku berpamitan pulang. Karna misiku sudah selesai, aku melihat di jendela Dinda tengah mengintip. Tak lupa ku layangkan sebuah senyuman manis.
"Dinda teman masa kecilku."