Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 194 jebakan untuk Pras.


__ADS_3

"Apa kamu bilang aku wanita gila?" tanya Lina melepaskan rambut Alya.


"Ahkkk. Iya kamu itu wanita gila!" jawab Alya berteriak. Membuat Lina langsung menyumpal Alya dengan kaos kakinya.


"Makan tuh. Kaos kaki bekasku," ucap Lina. Seakan puas.


Alya segera mungkin memuntahkan kaos kaki Lina, membuat Lina tertawa terbahak bahak. Begitu pun dengan Ardi yang mau menahan pertengkaran mereka.


"Heh, kamu Alya. Masih mau kp


aos kaki sebelahku lagi," ucap Lina kembali.


"Najis," cetus Alya.


Pras hanya diam, saat calon istrinya diperlakukan tidak baik oleh Lina. Iya malah menarik tangan Alya membawa Alya untuk segera pergi menyingkir dari hadapan Lina.


Saat Pras menarik tangan Alya, saat itulah Alya menghempaskan tangan Pras.


"Pras."


Pras membalikkan badan, menatap ke arah Alya.


"Ada apa?"


"Pras, aku enggak nyangka sama kamu. Bukanya membela aku calon istrimu, tapi kamu malah menarik tanganku pergi!"


Pras tetap menatap Alya, saat Alya tak henti mengoceh.


"Pras, sebenarnya kamu itu mendengarkan aku bicara apa tidak?"


Menahan rasa kesal dan emosi, pada saat itulah Pras mulai melayangkan tanganya pada Alya.


"Kamu ini ...."


Tamparan Pras hampir saja melayang pada pipi kiri Alya, akan tetapi satu tangan tiba tiba menahan tangan Pras.


Alya yang berusaha melindungi diri menutup mata dengan tangan yang menutup wajah.


Pras kini menatap ke arah orang yang sudah menahan tanganya, ia melihat ke arah orang itu.


"Haikal."


Saat Pras menyebut satu nama, saat itulah Alya mulai membuka tanganya begitu pun dengan kedua matanya.


"Haikal. Sejak kapan dia datang ke sini membantuku?" gumam hati Alya.


"Pras, jika memang kamu menyayangi calon istrimu itu. Apa pantas kamu memperlakukannya dengan tidak baik," ucap Haikal.

__ADS_1


"Diam kamu, ini urusanku," pekik Pras.


Pras kini menarik tangan Alya," ayo ikut denganku."


Haikal malah menahan tangan Alya dan berkata," sebaiknya kamu perlakukan dia dengan baik atau ...."


"Atau apa?" tanya Pras dengan kemarahan mengebu gebu.


Haikal kini menunjukkan sebuah Video yang berisi Pras yang tengah memukul Alya beberapa kali.


Pras tentu kaget dengan apa yang ia lihat, kedua matanya membulat melihat video yang memperlihatkan wajahnya begitu jelas.


Tangan kanan Pras berusaha meraih ponsel Haikal. Akan tetapi Haikal dengan sigap, menaruh ponselnya ke saku celana langsung.


"Kenapa Pras, kamu takut."


Ucap Haikal.


Alya merasa bersalah akan kebohongan yang ia buat, menyalahkan Haikal begitu saja. Padahal Haikal adalah lelaki yang baik. Walau pun dia beberapa kali di fitnah. Alya benar benar malu pada dirinya sendiri.


"Pantas saja tadi saat aku mengucapkan kata polisi kamu langsung ketakutan, Pras," ucap Haikal.


Pras masih dengan tatapan matanya, menatap kesal terhadap Haikal.


"Diam, aku tidak takut dengan polisi." Pekik Pras.


"Sudah, cepat kamu menyingkir dari sini," pekik Pras.


Ardi menepuk tanganya dan berkata ," Om Pras, aku tak menyangka dari sifatmu yang dingin itu, ternyata kamu lelaki yang suka memukul seorang wanita."


Pras terdiam, dengan tepuk tangan Ardi. " Apa maksud kalian ini? Apa kalian mau menjebakku."


"Menjebak Om, untuk apa?" tanya Ardi tersenyum kecil.


"Kalian hanya ingin memiliki harta kekayaanku pastinya, apalagi si Alya ini," ucap Pras.


Deg ....


"Kenapa kamu berkata seperti itu, kamu yang sudah merengut kesucianku. Kalau saja kamu tidak me ....,"


Palkkk .....


Ucapan Alya kini terhenti, saat Pras dengan beraninya menampar Alya. Lina dengan Sigap membantu Alya, saat Pras mulai menampar Alya untuk kedua kalinya.


"Hentikan, tamparanmu itu, apa kamu ini tidak waras?" cetus Lina.


Pras kini mulai menahan amarahnya.

__ADS_1


"Om Pras, untuk apa kami mengincar hartamu yang tak berguna ini. Kamu lupa siap yang sudah membantumu hingga sukses seperti ini, kalau bukan ayahku, yang merasa kasian pada kamu," timpal Ardi.


Lina berusaha mengajak Alya untuk menjauh dari hadapan Pras, agar dia tak mengenai sasaran akan tamparan Pras.


"Sebenarya apa ke mauan kalian sekarang?" tanya Pras mulai berdamai dengan keadaan yang mendesak bagi dirinya.


Ardi kini menujukkan satu poto seorang lelaki yang membuat Alya tentu saja mengenal orang itu.


"Pasti Om. Kenalkan dengan lelaki bernama Burhan ini?"


Pertanyaan Ardi kini di jawab oleh Pras." Aku tidak mengenal dia."


Alya yang mendengar jawaban Pras kini menatap ke arah Pras, lelaki yang akan menikahinya sebentar lagi.


Alya seakan tak percaya, Jika Pras berbohong, bahwa dirinya tak mengenal Burhan, lelaki yang selalu menjadi sahabat sejatinya.


"Pras kenapa kamu berbohong bahwa kamu tak mengenal Burhan, padahal katakan lah yang sejujurnya. Kalau Pras berbohong, situasi akan rumit dan pastinya aku akan tersered dalam masalah ini." Gumam hati Alya.


Ardi seakan tak percaya, Pras masih saja berbohong. Padahal jika Pras tidak berbohong ia akan membebaskan omnya dari setiap masalah.


"Apa yang sebenarnya di pikirkan Om Pras. Di situasi begini dia masih saja berbohong." Gumam hati Ardi.


Ardi kini berjala semakin mendekat ke arah sang Om, yang berdiri dengan keringat bercucuran dari dahi. Ardi dengan sengaja menunjuk foto itu dan berbicara tegas pada Omnya sendiri," aku tanya sekali lagi kepada Om, apa Om mengenal lelaki ini?"


"Om tidak mengenal lelaki itu, kenapa kamu terus menekan Om, sebaiknya kamu pergi dari sini dan bawa teman mu ini untuk segera pulang," ucap Pras berusaha bersikap tenang. Walau sebenarnya hatinya kini kacau balau.


Apa lagi sang keponakan terus ikut campur lagi, masalah balas dendam Pras untuk Burhan.


"Om. Sudahlah om jujur saja, jika om seperti ini. Ardi akan nekad menelepon polisi," ancam Ardi.


"Ardi, kamu ini keponakan Om. Tapi kamu malah berpihak pada Haikal. Lelaki kurang ajar itu." Gerutu hati Pras.


"Om. Kenapa om malah diam saja, cepat jawab." ucap Ardi.


Pras malah menatap ke arah Haikal, mengalihkan pertnyaan Ardi.


"Haikal, apa yang sudah kamu lakukan terhadap keponakanku, kamu pasti menghasut Ardikan apalagi kamu Lina," pekik Pras.


Ardi sudah menduga, bahwa Omnya sendiri mengalihkan pembicaraan agar pertanyaan Ardi tak dijawab oleh Pras sendiri.


Alya yang berada di dekat Lina, yang sudah membantunya dari tamparan Pras, ingin sekali berbicara pada Ardi, untuk mengatakan yang sebenarnya.


Alya tahu semua tentang Burhan dan juga Pras, akan tetapi dirinya berusaha tidak ikut campur untuk masalah Ardi dan juga Pras.


Alya tidak mau terlibat lagi dengan masalah yang membuat dirinya menderita.


Sudah cukup Alya di perlakukan tidak baik oleh Pras, karna masalah dirinya yang mencintai Ardi keponakan Pras. Apalagi jika Alya ikut campur urusan Ardi yang menanyakan tentang Burhan?

__ADS_1


__ADS_2