Wanita Yang Tercampakan

Wanita Yang Tercampakan
Bab 94


__ADS_3

"Jadi bagaimana, Ibu Dinda? Apa anda mau menerima anak saya menjadi adik anda juga?" tanya Ayah handa Ardi.


Dinda kini melipatkan kedua tangannya dan kembali menjawab!" aku akan menerima Ardi sebagai calon suami Lina adikku. Karna di sudah begitu berani datang melamar adiknya saya dengan membawa kedua orang tuanya."


jawaban Dinda sangatlah membuat Ardi bahagia, Iya tak menyangka jika Dinda yang begitu tegas ternyata mau menerima lamaran Ardi untuk Lina.


sang ayah tentulah tersenyum senang, Iya sekarang bisa bernafas lega, karena sebentar lagi Ardi akan menikah, dengan wanita pilihannya sendiri.


sang ayah berharap jika wanita pilihan Ardi itu mampu membuat Ardi bahagia, Iya tak mau melihat anaknya yang terus tersakiti karena ulahnya ayah dan juga ibunya. yang tak pernah menyayanginya sejak kecil. karena keegoisan yang membuat mereka menyakiti Ardi.


sang ayah melihat kearah wajah Ardi, terlihat senyum lebar pada bibir anaknya itu. membuat sang ayah bertanya kepada anaknya," apa kamu bahagia Ardi?"


pertanyaan yang di lontarakan sang ayah, dianggap Ardi itu adalah pertanyaan yang begitu bodoh, Ardi tentulah bahagia.


"Ayah ini ngomong apa, Ardi pastilah bahagia!"


pertama kalinya, air mata menetes jatuh dari kedua mata sang ayah di depan anaknya. membuat Ardi memeluk sang ayah dengan begitu erat. Ini pertama kalinya Ardi merasakan kasih sayang seorang ayah yang begitu dalam, semenjak kecil Ardi tak pernah memeluk ayahnya ataupun berbicara dan juga mengobrol, Ayahnya lebih fokus dalam pekerjaannya. membuat kasih sayang yang seharusnya ayah datang kan untuk Ardi kini hilang.


tapi sekarang di acara lamaran, kasih sayang itu nampak terlihat sekali. membuat Ardi yakin, jika ayahnya pasti selalu menyayanginya. Walau pun ini pertama kalinya Ardi melihat sang ayah menangis di depannya.


Entah kenapa Dinda merasakan kesedihan, dalam hatinya saat melihat Ardi dan ayahnya berpelukan dengan penuh kebahagiaan. membuat air mata Dinda keluar menetes mengenai kedua pipinya.


Haikal yang duduk di samping dekat istrinya, kini mulai menyadari air mata Dinda menetes mengenai pipinya.


"Kamu menangis sayang?" tanya Haikal.


Dinda segera mungkin mengusap pelan air mata yang terus menetes mengenai pipinya dengan kedua tangan.


"Aku tidak menangis kok mas. Hanya sedih saja!" jawab Dinda.


"Ya sama aja," ucap Haikal.

__ADS_1


"Beda lah," balas Dinda.


"Beda nya apa?" tanya Haikal, mengukir sebuah senyuman pada bibirnya.


Dinda menepuk bibir Haikal dengan menjawab!" bedanya nagis itu mengeluarkan air mata dan sedih itu melihat seseorang yang tengah menangis."


jawaban Dinda benar-benar membuat Haikal bingung, ia menggaruk belakang kepalanya yang tidak terasa gatal. melihat sang istri yang tengah menangis menatap kearah Ardi yang tengah bersama ayahnya.


Sampai beberapa menit, Lina datang dengan pakaian yang begitu berbeda. Membuat Ardi yang tengah berpelukan dengan sang ayah, ia lepaskan.


Lina tampaklah cantik dan juga Anggun. Gadis itu kini berjalan dia mulai duduk di kursi yang tak jauh dengan Ardi.


"Om."


"Lina, kamu cantik sekali." Ucap Ayah handa Ardi. Kaget dengan penampilan Lina yang jauh berbeda dari sebelumnya.


"Terima kasih, om." Jawab Lina memberikan senyuman ramah pada calon mertuanya.


Ardi tak percaya jika Lina bisa terlihat begitu cantik, tidak seperti biasanya penampilannya selalu terlihat tomboy.


Ardi begitu gugup, padahal dia awalnya terlihat santai tapi setelah berada di rumah Lina. Perasaanya tak karuan, keberanianya tiba tiba mendadak hilang.


"Lina bersedia!" jawaban Lina. membuat rasa bahagia pada hati Ardi. Semakin berbunga bunga.


pada saat itu juga Ardi merogoh saku celananya, Iya mencari cincin yang sudah sengaja iya beli untuk melamar Lina.


sang ayah langsung bertanya kepada anaknya yang masih mencari keberadaan cincin," ayo segera kamu berikan cincinya."


Ardi nampak panik, karena iya yang terus merogoh saku celana tak menemukan keberadaan cincin yang baru saja ia beli.


"ke mana cincinnya ya," ucap Ardi dalam hati.

__ADS_1


sang ayah masih duduk menunggu Ardi memasangkan cincin pada jari manis calon istrinya," Ardi. kenapa lama sekali, ke mana cincinnya?" tanya sang ayah ikut panik.


"Gawat, yah. Cincinnya tak ada di saku celana Ardi!" bisik Ardi pada telinga ayahnya.


Sang ayah menepuk jidat anaknya," kamu ceroboh sekali sih Ardi."


Ardi mengusap pelan jidatnya, dengan menepuk jidat ayahnya kembali." ayah."


Dinda mengerutkan dahi, dia mulai bertanya kepada Ardi." bagaimana Ardi. Sudah siap untuk memakaikan cincin pada Lina."


saat itulah sang ayah mengingat sesuatu, yang di mana lelaki tua itu mulai merogoh saku celananya. Iya membawa satu cincin yang sengaja ia beli untuk Sisil, dengan terpaksa demi menyelamatkan anaknya sendiri, saat itulah sang ayah mulai memberikan cincin yang berada pada saku celananya.


" nih, ayah kasih pinjam dulu cincin yang mau Ayah berikan pada wanita yang ayah sukai, tapi kamu janji, kamu harus mengganti cincin yang sudah Ayah pinjamkan untuk kamu," ucap sang ayah. menyodorkan cincin yang masih berada pada kotak itu pada anaknya.


Ardi tentulah sangat senang, ayahnya begitu banyak sekali membantu dirinya, saat itulah Ardi mulai mengambil cincin yang diberikan oleh ayahnya yang masih berada dalam kotak perhiasan kecil.


"Terima kasih ayah."


Ardi dengan bersemangatnya langsung membuka kotak kecil itu, yang di mana kotak kecil itu berisi cincin permata yang sengaja ayahnya beli. Ardi Mulai mengambil dan memasangkan cincin itu pada jari manis Lina.


cincin pun terpasang dan acara lamaran pun itu berjalan dengan lancar, terlihat raut wajah Lina yang begitu bahagia setelah acara lamarannya berjalan lancar.


Ardi yang tak sabar mulai memeluk Lina, hanya saja sang kakak malah mendorong tubuh Ardi hingga tersungkur jatuh ke lantai. Membuat sang ayah dengan sigap membangunkan anaknya.


"Ardi sabar sedikit, nak. Kamu itu masih lamaran main nyosor nyosor saja." Ucap sang ayah membantu Ardi berdiri.


Dinda menatap tajam ke arah Ardi," ingat Ardi sebelum kalian menjadi suami istri, kamu jangan berani memeluk atau mencium adikku."


Ardi merasa malu dengan tingkahnya yang langsung main nyosor begitu saja, membuat Ardi tersenyum kecil dan meminta maaf pada Dinda.


Haikal malah tertawa melihat Ardi yang terjatuh ke atas lantai, Iya malah memvideo sahabatnya itu dengan begitu lancang.

__ADS_1


Lina mulai berucap pada sang kakak," Kak, enggak Sampai sebegitunya juga, masa Kakak sampai dorong Ardi sampai jatuh ke atas lantai. kan kasihan dia, Nanti kalau dia kenapa-napa Kakak sendiri yang ter salah kan." ucap Lina.


" Sudahlah Lina jangan banyak alasan kamu, Bilang saja kamu juga mau di Sosor sama dia," cetus sang kakak.


__ADS_2