Zetta Sonic

Zetta Sonic
Scone


__ADS_3

Alex akhirnya kembali ke rumah. Rover menyambutnya di teras bersama Preston. Si anjing menyalak girang sementara Preston membukakan pintu bagi mereka. Di ruang tamu yang luas, Mrs. Bellsey berdiri tegak seperti pilar. Di belakangnya, Alex melihat siluet yang dia kenal baik.


Seorang wanita bertubuh indah dengan kulit putih mengenakan gaun bunga-bunga. Rambut ikalnya yang biasanya berwarna coklat kini dicat jadi emas, dibiarkan tergerai sepinggang. Ibunya datang, memberikan Alex pelukan ringan dan ciuman di pipi. “Hai, Sayang! Kamu selalu terlihat makin tampan setiap aku melihatmu.”


Alex menikmati pelukan itu meski hanya sesaat. Lengan ibunya tetap kurus seperti biasa, parfumnya sering berganti tapi Alex suka semua aromanya. Ketika ibu menarik tangannya, Alex mengedikkan bahu. “Ibu, kita harus berpisah sebulan. Benar, ‘kan?” Alex bertanya, seolah ingin memastikan.


Ibu mencubit pipi putranya. “Aku janji akan membuatnya lebih cepat lain kali.” Kemudian, ibu berpaling pada Preston. “Siapkan teh dan camilan untuk kami, Preston. Aku ingin ngobrol banyak di taman dengan Alex.”


Preston mengangguk. “Tentu, Nyonya Alicia. Teh apa yang Anda inginkan?”


“Apa pun, Preston. Aku percaya pada seleramu.”


“Kalau begitu, saya akan menyiapkan Rose Congou Tea dan scone.” Preston beranjak.


Itu bukan saat yang tepat. Alex ingin berbaring di kamarnya, istirahat lagi. Badannya belum pulih benar. Pelukan ringan ibu saja sempat membuatnya nyeri. Untung ibunya bukan tipe yang suka memberi dekapan erat dan lama. Akhirnya, Alex melambaikan tangan pada Rover. “Aku akan ke taman setelah menaruh barang.”


Taman yang dimaksud ibu adalah taman yang juga bisa kelihatan dari kamar Alex. Meski begitu, mereka tidak menikmati tehnya di sana. Ada gazebo kecil dekat rumah utama, tidak sampai ke tengah taman. Gazebo tersebut terasa sekadar tempelan. Gaya victorianya terlalu rumit untuk dipadukan dengan keseluruhan rumah dan taman. Alex ingat ayahnya cerita kalau dia suka gazebo tersebut. Jadi, dia mempertahankan gazebo ini sementara lainnya dihancurkan untuk dibangun ulang.


Gazebo segi delapan ini berada di bawah naungan pohon rindang. Warna putihnya selalu dijaga. Begitu pula dengan meja bulat dan kursi putih yang ada di dalamnya. Pelayan membersihkannya setiap hari, meski jelas sekali kalau tempat itu tidak dipakai sesering itu.


Preston membawakan mereka teh dalam teko porselen lengkap dengan susu dan gula. Seperti biasa, ibunya tak menambahkan apa pun di dalam tehnya. Alex sebaliknya, dia suka menambahkan keduanya. Kecuali, saat ini. Dia bahkan sedang tak ingin minum teh. Dirinya hanya bergeming setelah ibu menuangkan teh.

__ADS_1


Ibu mulai bercerita banyak hal. Sebagai ganti, Alex juga menceritakan kesehariannya di sekolah. Mulai dari kelucuan teman-teman sekelas hingga perkemahan mereka. Dia memang tak banyak cerita pada ibunya. Semakin hari, percakapannya dengan ibu semakin mirip seperti laporan belaka.


Selama ini, mungkin Alex hanya suka membandingkan ibunya dengan Mrs. Bellsey bukan ibu teman-teman sekolahnya. Dibandingkan si pengawas, ibunya jelas jauh lebih lembut dan bersahabat. Ibu dari teman-teman di sekolahnya beragam. Ada yang sombong dan dingin, ada pula yang selembut ibu. Alex tak pernah membandingkan ibunya dengan ibu dari teman-temannya. Dia tahu kalau mereka tipikal yang sama. Tak ada yang tahu bila itu pencitraan atau bukan.


Sejak menjadi Zetta Sonic, Alex tanpa sadar sering membandingkan ibunya dengan dokter Vanessa. Sang dokter juga punya rambut ikal emas sebahu. Dia menawan untuk usianya yang sudah separuh abad. Alex tak suka mengakuinya, tapi menurutnya, dokter Vanessa lebih tulus ketika bicara.


Mungkin itu pula yang membuatnya kini juga penasaran pada ibunya.


“Ibu, barusan aku menghadiri acara amal.” Alex memperhatikan tindakan ibunya ketika dia bicara. Bagaimana dia mengambil cangkir teh, menyesap tehnya, meninggalkan noda lipstik di cangkir, lalu mengembalikan cangkir di atas piring kecil. “Hari Minggu kemarin.


“Acara amal apa itu?” Ibu memindahkan scone dari nampan ke piring kosong Alex. “Kamu harus makan lebih banyak. Kamu agak kurusan.”


Ibu berhenti sejenak. Dia meletakkan penjepit lalu menarik kedua tangannya di atas pangkuan. “Kamu pergi sendirian ke sana?”


“Sebenarnya bersama teman.”


“Oh, tentu saja. Kamu pergi bersama Willy.” Ibu membuat senyuman di bibirnya, cukup lebar tapi terkesan kaku. Seolah seluruh bagian wajah yang lain menolak untuk mendukung senyum tersebut. “Apa kamu bersenang-senang di sana?”


Alex menggeleng, tanpa sekalipun melepaskan tatapannya dari ibu. “Enggak juga. Akan lebih menyenangkan kalau aku pergi bersama ibu. Maksudku, ibu sudah terbiasa menghadiri pesat semacam itu, ‘kan.”


“Ya. Kuharap aku juga ada di sana.” Ibu hanya menjawab yang diperlukan. Matanya tak berani menatap Alex terlalu lama. Dia kembali mengambil penjepit, mengambil scone untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


Alex tak suka pembicaraan mereka. Setelah menghabiskan satu scone, secangkir teh, dan beberapa kali membuat senyuman palsu, Alex memilih kembali ke kamarnya. Ibu tak berusaha mencegahnya. Padahal, dalam hati Alex sangat berharap ibunya meminta dia bertahan sedikit lagi.


Setibanya di kamar, Rover pun menyambut. Alex menutup pintu kamar, tak lupa menguncinya. Kemudian, dia merosot. Dirinya duduk di lantai dingin, bersandar pada pintu. Badannya terasa lelah. Semua sandiwara itu menguras energinya lebih daripada menyelesaikan misi menggunakan Dragon Blood.


Rover menyalak riang, berharap Alex akan bermain.


“Jangan sekarang!” ujarnya tak bersemangat.


Si rottweiler hitam pun meringkuk di samping tuannya.


Kalau ada yang bisa mencerahkan suasana hatinya di saat seperti ini, biasanya memang hanya Rover. Jemari Alex menyusuri kepala si anjing. Rasanya sudah lama sekali dia tidak bermain atau membawa Rover berjalan-jalan di luar. Rasanya dia juga sudah lupa keseruannya bermain bersama Willy dan teman lain hingga larut malam. Alex sadar saat ini dia lebih menantikan kunjungannya ke universitas bersama Leta dibandingkan kepulangan ayah dan ibu ke rumah.


“Aku merasa semua kehidupanku palsu,” ujar Alex lirih, lebih kepada dirinya sendiri daripada Rover. “Ayah. Ibu. Mereka semua hanya peduli dengan dunia mereka sendiri. Artinya, aku juga boleh seperti mereka, ‘kan?”


Alex bukan mencari persetujuan. Ada kepedihan di dalam kalimatnya.


Tangannya kini meraba dada. Luka itu tak ada apa-apanya dibandingkan rasa perih di hatinya. Dunianya berubah sejak bersama Zetta Sonic. Dia jadi lebih mengenal dirinya sendiri juga makin kehilangan dirinya di saat bersamaan. Tak ada yang bisa menghalanginya bersama Dragon Blood. Kekuatan beserta euforia tersebut terekam dengan baik dalam benaknya. Semua kekuatan berada di ujung jarinya.


Bersama desahan pendek, Alex bangkit menuju ke meja komputer. Rover ikut berpindah, duduk tenang di bawah kursi putar. Untuk sejenak Alex memejamkan mata sembari menanti simbol lebah kuning muncul di bawah layarnya. Untuk pertama kalinya juga, Alex meragukan ibunya jauh dibandingkan ayahnya.


Killer Bee akan mencari tahu siapa pria yang bersama ibu di malam amal. Alexander Hill akan menentukan apa yang terjadi pada pria itu. Sulit membayangkan Zetta Sonic tidak akan terlibat di dalamnya.

__ADS_1


__ADS_2