
Alex telah memasang sistem navigasi yang sangat baik di helmnya. Dia menemukan dermaga dengan mudah. Lebih tepatnya, dia menemukan di mana mobil ambulans putih tersebut terparkir. Semua masih sama persis seperti apa yang dia lihat di kamera pengawas. Alex juga melihat deretan container yang disusun. Selain itu, dia menemukan sebuah gedung di bagian belakang tumpukan container tersebut.
Dengan bantuan dari seragam tempur, Alex memperbesar apa yang dia lihat. Pemandangannya jadi jauh dan cukup detail seolah sedang memakai teropong. Alex untuk sesaat merindukan bagaimana Jayden yang melakukan itu semua untuknya. Bukan melakukannya sendiri dengan seragam prototipe. Fungsinya tidak selengkap seragam biasanya. Tampilannya pun sedikit lebih buram. Setidaknya, itu lebih baik daripada ke sana tanpa seragam apa pun.
Pria itu di sana. Rocky sedang duduk seorang diri. Di sampingnya ada meja besar dengan deretan botol bir. Hanya itu temannya malam itu. Dia sendirian. Alex tahu jelas, itu baru jebakan.
Seorang pria minum-minum di ruangan besar seorang diri ditemani minuman beralkohol. Hal semacam itu tidak akan terjadi. Mengingat bagaimana si dalang mengatur penculikan dengan begitu baik, itu semua jelas jebakan. Si dalang rela membunuh tim penembak demi membuat Alex lengah. Tidak mungkin dia membiarkan personel tim medis palsunya berada di sana.
Pertanyaan selanjutnya, jebakan untuk apa?
Alex mengamati sekeliling. Dia bahkan mengaktifkan pemindai panas, berjaga-jaga kalau ada penembak jitu di sana. Kenyataannya, dia tidak menemukan siapa pun. Tidak ada penembak jitu di atap gedung maupun tumpukan container. Tidak ada orang lain selain Rocky dan dirinya. Tidak ada jebakan yang kelihatan di dalam ruangan tersebut. Bahkan ruangan kosong tempat Rocky berada seolah sengaja dikosongkan.
Mungkinkah kalau pria itu sedang menunggu seseorang?
Alex masih berdiam di posisinya. Dia berada di dekat kontainer yang cukup dekat. Dari posisinya, dia bisa melihat Rocky dan langit malam dengan jelas. Udaranya terlalu dingin, bau amis tercium samar dan memuakkan. Terlalu sunyi. Mengabaikan semua kemungkinan buruk yang bisa terjadi, Alex memilih maju.
Semakin lama dia diam, semakin khawatir dirinya. Daripada tenggelam dalam pemikiran meresahkan, Alex berjalan. Dia melakukannya dalam stealth mode. Artinya, tidak ada seorang pun bisa melihat dirinya sekarang. Kecuali, tentu saja, orang itu punya fitur inframerah seperti yang terpasang pada helmnya.
Ketika Alex mendekat ke jendela, dia yakin Rocky tersentak seolah melihat dirinya.
“Siapa di sana!” Si pria bertanya dalam bentakan.
Alex bergeming. Dia cukup yakin kalau Rocky tidak sungguh-sungguh melihatnya. Mungkin dia terlalu lengah dan membuat suara tadi sehingga membuat Rocky mengira ada sesuatu di luar gedung. Kewaspadaan Rocky membuat Alex makin yakin kalau pria itu di sana dengan satu tujuan.
Tak lama setelahnya, ketenangan Rocky kembali. Dia menegak birnya sampai habis lalu mengusap sisa yang menuruni janggutnya.
__ADS_1
Alex sudah berpindah ke depan pintu saat itu. Pintu gedungnya seperti pintu biasa. Pintu murahan dengan kenop putar murahan. Tangan Alex sudah berada di kenop. Namun, dirinya kembali bergeming. Bukan karena takut meninggalkan sidik jari, seragam itu menutupi tubuhnya secara sempurna. Melainkan karena sesuatu dalam hatinya tahu. Semua itu tidak akan berjalan mulus seperti keinginannya.
Setidaknya, Alex bisa menyebutkan dua alasan yang membuatnya gusar. Satu, dia melawan perintah Nadira. Dua, dia menolak panggilan dokter Vanessa. Tiga, dia justru mendapat panggilan dari ayah dan menerimanya pula. Mungkin ketiganya tidak berhubungan. Justru kebetulan itu membuatnya resak. Alex menggerakkan bahunya tanpa sadar, mengusir semua rasa tak enak yang menggantung.
Dia pun masuk ke dalam ruangan.
Rocky membuat reaksi yang sudah diduga Alex. Pria itu berdiri. Dia menarik senapan yang sedari tadi bersandar pada balik kursinya. Alex tak menyadari keberadaan senjata tersebut sampai Rocky mengambilnya.
“Siapa di sana!” Rocky membentak lagi.
Alex mengedarkan pandangan. Dia mendapati ruangan tersebut memang kosong seperti yang dia lihat sebelumnya. Ada kamera pengawas pada sudut ruangan. Tangga menempel pada bagian belakang gedung, berujung pada pintu yang dirantai dan digembok.
“Siapa di sana?” Suara Rocky tak berubah sedikit pun meski nadanya berubah jadi pertanyaan sekarang. “Aku tahu ada orang di sana. Siapa?”
Rocky bukannya menjawab, malah melempar pertanyaan balasan. “Siapa di sana? Apa itu Zetta Sonic?”
Alex tahu jelas tak bisa membiarkan waktunya menggunakan stealth mode habis lebih dulu. Apalagi sekarang, Rocky mulai mengangkat senjatanya. Hal terburuk yang bisa terjadi adalah Rocky menembak membabi buta lalu mengenai seragamnya.
“Tunjukkan dirimu!” seru Rocky.
Ketika perintah itu keluar, Rocky mulai benar-benar menembak. Pria itu membidik semua sisi dimulai dari sisi paling kiri ruangan. Alex pun berlari berputar. Namun, gerakannya justru memancing lawan.
“Di sana, ya?”
Alex melompat setinggi yang dia bisa ketika tembakan datang. Kekuatannya benar-benar mmebantu di saat seperti ini. Kakinya menghentak lantai, membawanya melambung ke atas. Alex bahkan bisa melihat posisi pintu di lantai dua dengan jelas. Mungkin itu lompatan tertinggi yang pernah dia lakukan. Selain itu, lompatan ini pasti lompatan terkuat. Alex melihat bagian lantai tempatnya berpijak retak parah.
__ADS_1
Dia juga mendapati kalau tandanya lebih lama. Setiap kali menggunakan Dragon Blood, Alex merasakan ada kilat hijau memenuhi pandangannya meski sesaat. Kali ini, durasinya lebih lama. Saat itu, Alex menyadari kalau stealth mode miliknya sudah berada di ujung durasi. Tubuhnya mulai nampak.
Rocky terbelalak melihat sosok hitam berada di udara. Dirinya terjebak dalam keraguan. Pria itu hanya bergeming selama sepersekian detik. Dia melewatkan kesempatannya untuk menembak Alex dalam wujud Zetta Sonic.
Alex mendarat dengan sempurna. Dia juga bisa mengambil pistolnya dengan mudah. Berkat kekuatan, seragam, dan latihan yang dia lakukan, Alex menembak dengan tepat. Tembakannya mengenai tangan Rocky, membuat si pria menjatuhkan senjatanya. Sebelum Rocky sadar apa yang terjadi, Alex sudah menekannya di lantai.
“Di mana dia?” tanya Alex. “Di mana Jayden?”
Rocky meringis, menahan sakit akibat tembakan dan siku Alex yang menekan dadanya di lantai. “A— Aku enggak tahu.” Rocky memberikan jawaban seperti perkiraan Tiger sebelumnya. Dalang selalu memutus rantai.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Alex lagi.
“A— Aku— Aku hanya disuruh berada di sini. Katanya… untuk umpan.”
Alex mendengus geli. “Umpan apa?”
“Aku enggak tahu. Aku… hanya melakukan yang… diperintah.”
“Siapa yang memerintahkanmu?”
“A— Aku enggak tahu. Perintahnya… datang dalam amplop berisi uang.”
Alex berusaha mencerna apa yang terjadi. Kalau Rocky di sana untuk memancingnya, maka ada jebakan di sana. Alex menyadarinya ketika mendengar suara raungan keras binatang buas dari lantai dua. Suara itu nyaris berbarengan dengan suara dobrakan pintu di lantai dua. Tak perlu waktu lama, rantai putus, gemboknya rusak, dan — puncaknya — pintu lantai dua terlontar.
Alex melihat sosok yang tidak akan pernah dia lupakan.
__ADS_1