Zetta Sonic

Zetta Sonic
New Bug


__ADS_3

Alex tak perlu menunggu lama. Tepat setelah makan siang, Nadira mengumpulkan para anggotanya di ruang rapat. Dia membahas mengenai penjahat baru mereka. Dia tak perlu bersikap ramah atau menanyakan kondisi Alex. Dia telah melewati perdebatan panjang dengan dokter Vanessa. Melihat kondisi terbaru Alex yang terus membaik, akhirnya si dokter membiarkan Nadira memberikan misinya.


[Aku tidak mau kecolongan permata itu di bawah hidungku. Hentikan penjahat itu sebelum dia bertindak lebih jauh.] Nadira terdengar tak ramah seperti biasanya. Alisnya berkedut dan bibirnya langsung terkatup rapat. Entah dari mana tapi Alex langsung mendapat kesan kalau itu bersifat personal.


“Kamu dapat undangan ke sana?” Alex memecahkan keheningan sambil memainkan kursi putarnya. Rasanya sudah lama sekali dia tidak berada di ruang meeting tersebut. Pertanyaan itu spontan memicu ketiga anggota lainnya menoleh padanya — dokter Vanessa, Tiger, dan Emil. Bahkan Jayden yang juga melakukan panggilan jarak jauh ikut menyipit.


Nadira, yang gambarnya memenuhi hampir separuh layar tersebut, mengeluarkan ******* pendek. [Penjahat ini muncul terus tanpa berhasil dihentikan. Aku tidak mau dia berhasil di wilayah Zetta Sonic.]


Saat Nadira mengalihkan pembicaraan, Alex tahu dugaannya benar. “Kamu kenal dengan penyelenggara pameran itu.” Sebuah pernyataan bukan pertanyaan.


[Tunggu!] Jayden akhirnya menyahut. Dia menyempatkan diri untuk menggali sedikit data. [Penyelenggara pameran ini ke sekolah yang sama dengan—]


[Apa itu masalah buatmu?] Nadira memotong ucapan Jayden dan mendesah lagi. [Hentikan saja pencurian itu dan jebloskan bocah itu ke penjara! Cukup satu bocah pembuat masalah di sini!]


Alex menunjuk dirinya sendiri lalu memasang wajah cemberut. Bocah. Dia harus membiasakan diri dipanggil seperti itu. Kemudian, dia tersadar akan hal lain. Nadira menyebut penjahat mereka juga sebagai bocah. “Kamu tahu siapa yang kita hadapi?”


Nadira tak menjawab. Sebagai gantinya, Jayden yang bicara. [Beberapa menit yang lalu, kita mendapat surat kaleng. Bukan tulisan tangan, hanya hasil cetak. Ditujukan ke balai kota. Isinya… semacam tantangan untuk Zetta Sonic.]


Layar besar pun menunjukkan sebuah surat berisi pemberitahuan singkat.


 


 

__ADS_1


Hentikan aku kalau kalian memang bisa. Aku lebih baik dari semua yang pernah dihadapi Zetta Sonic.


 


 


“Baik,” kata Alex, “darimana kalian tahu kalau dia ‘bocah’?”


[Pengirimnya.] Jayden sekarang menunjukkan rekaman dari kamera pengawas.


Di sana terlihat seorang mengenakan jaket bertudung kelabu, membawa sling bag navy, dan sepatu olahraga bermerk. Dia mengayun sepeda lalu berhenti tak jauh dari pintu pagar balai kota. Sosoknya memang terlihat seperti anak muda. Diambilnya amplop cokelat kecil dari dalam tas. Seolah tersihir, amplop tersebut memelesat cepat di udara.


Gambar kamera pengawas kini berpindah ke kamera pengawas di dekat balai kota. Terlihat bagaimana amplop tersebut masuk tanpa hambatan. Amplop itu melayang melewati jeruji pagar, menyelinap ke pos penjaga selagi tak ada orang, lalu mendarat mulus di atas meja.


Setelah itu, gambar pun kembali ke kamera pengawas pertama. Kamera tersebut menunjukkan bagaimana sosok itu berpaling ke kamera. Wajahnya tak terlihat jelas karena tertutup tudung, juga topi hitam, dan masker. Gerakan tubuhnya lain lain. Sosok itu melambai pada kamera pengawas. Jari telunjuk kirinya menunjuk ke sana lalu giliran jempol tangan kanannya menunjuk ke bawah.


“Dia kidal,” ujar Emil.


Jayden mengangguk. [Benar. Kidal dan sombong. Kalian lihat topi yang dikenakan anak itu? Itu baru diluncurkan kemarin. Jadi, aku melakukan beberapa pemeriksaan lewat data di bandara, daftar pembeli topi, dan kita dapatkan satu nama.]


Alex kini melongo. Dia tahu nama serta wajah dari foto yang kini menutupi layar besar mereka. Dia pernah melihat wajah anak itu di sekolahnya sendiri. Adik kelasnya yang hampir selalu dijadikan korban Willy. “Apa? Itu enggak mungkin! Maksudku, dia biasanya…” Ucapan Alex tertahan. Dia tahu bagaimana Cody bahkan tak bisa bertahan dari Willy. Rasanya aneh kalau dia sekarang malah mencuri — lebih dari itu, menantang Zetta Sonic dan ICPA.


[Cody Kane. Dia kenal kamu dan sepertinya kamu juga kenal dia.]

__ADS_1


“Ya. Tapi, setahuku Cody itu lemah. Dia bukan tipe orang yang akan menyombongkan diri. Memang dia sering membawa game buatan perusahaan ayahnya ke sekolah dan Willy sering meminjamnya paksa. Dia enggak bicara apa pun waktu itu. Enggak ada protes apalagi pembelaan diri. Lalu, sekarang… Itu enggak masuk akal!”


Dokter Vanessa bergumam pelan sambil mengelus dagunya. “Sering membawa game di sekolah dan jadi korban bully. Bisa jadi itu pemicunya.”


“Pemicu apa?”


“Mungkin kamu enggak tahu ini karena sering tidak masuk, Alex. Cody baru mengalami kecelakaan ski yang parah. Kabarnya, dia sampai koma beberapa hari. Setelah dia mulai pulih, Cody mengalami beberapa perubahan sikap. Bukan ke arah yang negatif. Sebaliknya, Cody justru lebih percaya diri dan aktif.”


[Dia bahkan ikut peluncuran game terbaru di beberapa negara berturut-turut. Lokasinya sama persis dengan negara yang baru saja mengalami pencurian permata itu. Dia bisa hacking sekalipun tidak sebaik Killer Bee, mungkin hasil didikan para programer game di perusahaannya. Dia punya banyak sumber untuk mendanai aksinya. Banyak bukti menunjukkan kalau Cody pelakunya. Bocah ini menamai dirinya Bug.] Jayden melanjutkan.


Tiger malah tergelak. “Hahaha… Jadi, sekolahmu menelurkan penjahat dan pahlawan di saat yang sama?” Sadar kalau ucapannya terdengar terlalu baik, Tiger langsung menambahkan. “Bocah. Bocah sok pahlawan maksudku.”


Alex menggelengkan kepala, masih tak percaya. “Jadi, Cody mengalami semacam amnesia dan sekarang jadi lawan bagi Zetta Sonic? Itu enggak masuk akal! Keluarganya punya uang yang lebih banyak daripada jumlah permata curian itu.”


[Ngomong-ngomong, berita ini baru masuk.] Jayden menunjukkan video lain.


[Siapa yang bilang itu soal uang? Kupikir itu soal yang lain.]


Alex paham lebih dari siapapun di ruangan itu. Pembuktian diri. Kalau Alex berusaha mengenal ayahnya lalu sekarang berusaha membuktikan diri, Cody pun mirip. Anak itu berusaha mengenal dirinya lalu sekarang berusaha membuktikan diri pada semua orang di dunia.


Video itu berasal dari kamera pengawas di sekolahnya. Alex mengenali ruang gym sekolah juga Willy yang sedang melemparkan bola basket ke ring. Lompatannya seharusnya sempurna. Namun, entah bagaimana, Willy terpeleset ketika mendarat. Jatuhnya cukup keras, membuatnya meringis kesakitan, memaksanya bergeming di lantai. Sementara itu, beberapa temannya berlari ke luar untuk meminta bantuan.


Alex mengepalkan tangannya. “Kalau itu ulahnya, maka kasus ini juga kasus personal.”

__ADS_1


Dokter Vanessa menggeleng. Dia tidak suka melihat raut wajah Alex berubah dengan cepat. “Alex…”


“J! Siapkan peralatanku. Akan kubuat bocah itu menyesal berani menantang Zetta Sonic!”


__ADS_2