Zetta Sonic

Zetta Sonic
Yellow Tip


__ADS_3

Sebelum beraksi lagi, Alex masih sempat protes. “Kamu pasti bercanda! Lain kali, beritahu lebih awal!”


[Kupikir kamu tahu.]


“Jangan bercanda! Aku bukan Otto. Aku enggak berminat menghafal barang yang sudah punah.” Hingga saat itu, Alex masih sulit percaya kalau ilmuwan pencipta Zetta Sonic juga menciptakan monster yang mau membunuhnya.


Baiklah, mungkin tidak sampai membunuhnya, hanya membuatnya sakit.


Satu-satunya hal yang bisa disyukuri Alex dalam kondisi seperti itu adalah lantai. Kakinya menjejak ke darat. Dia punya keuntungan lebih di permukaan tanah — dalam hal ini, lantai. Alex berlari sebentar guna membuat jarak. Suara berisik terdengar di belakangnya. Alex tahu kalau lawannya sudah bangkit. Dia pun berbalik. Pistol baru sudah tergenggam di tangannya. Alex membidik. Alex menembak. Dan, tidak ada hal yang terjadi.


“Sial!” Alex mengumpat. Dia tidak perlu diberi tahu apa yang terjadi. Dirinya tahu benar kalau tidak ada aura yang cukup keluar dari dirinya untuk mengisi tenaga pistol tersebut. Tangannya bergegas mengambil pistol lain. Pistol laser. Setidaknya, pistol itu masih bisa bekerja dengan baik.


Alex membidik kaki lawan. Satu tembakan melesat. Dalam sekejap kaki depan si monster pun hancur. Ini membuat lawannya oleng. Meski begitu, bukan berarti kalau lawannya lumpuh. Monster amfibi tersebut berjalan terseok-seok. Penampakannya mengerikan. Merangkak di atas genangan air dengan badan yang hancur seperti tanah liat. Serpihan mengotori air, membuat lumpur berbau tak sedap. Ini selalu menyiksa Alex.


Bau menyengat itu harus segera disingkirkan. Alex membidik kepala. Sebelum jarak di antara mereka kembali berkurang, Alex menembaknya. Itu tidak begitu efektif.


Alex menduga kalau profesor Otto juga melakukan pengembangan bagi monsternya. Tembakan laser mungkin bisa menghancurkan kaki dengan mudah, tapi tidak dengan kepala. Serangan itu membuat luka yang mengundang darah dan raungan keras. Alex terkejut. Bagian kepala lawannya mengeluarkan darah bak hewan pada umumnya, meski warnanya merah kehitaman.


Ketika jarak mereka makin dekat, Alex sudah melakukan beberapa tembakan pada kepala lawannya. Si monster akhirnya tumbang beberapa kaki sebelum berhasil mencapai Alex. Anak itu terengah-engah di posisinya. Dadanya berdebar, jantungnya berdetak terlalu kencang sampai dia takut kalau akan meloncat keluar.


“Itu disebut ketetapan hati.”


Suara Tiger yang datang dari belakang tak lantas membuat Alex berpaling. Dirinya terpaku di posisi. Adrenalin atau apa pun itu namanya berhasil membuatnya bergeming. Tangannya terasa lemas. Ada dua sensasi berbeda menguasai hatinya. Satu, sebuah kegentaran. Dua, sebuah bentuk kelegaan.

__ADS_1


“Kamu bertahan di posisi. Tetap menembak tanpa gemetaran. Sebuah keyakinan kalau bisa mengalahkan lawan.” Tiger melempar senyum puas. “Itu sebuah kemajuan.”


“Aku gagal menggunakannya,” bisik Alex.


“Oh, soal senjata itu? Jangan terlalu buruk. Mungkin kamu berpikir belum perlu menggunakannya.” Tiger terdengar santai. “Emil bilang kalau kemunculan Dragon Aura sangat terpengaruh oleh emosi. Kamu paham apa artinya itu, ‘kan?”


“Menurutmu, aku harus marah?”


“Bertarung dalam kemarahan tidak selalu berakhir baik, Alex.”


Dia bisa menduga Tiger akan mengatakannya, meski belum paham penuh. Alex akhirnya berpaling meski tak mendapatkan pencerahan dari Tiger. “Jangan bilang kalau kamu dari tadi ada di sana,” protesnya.


“Kurang lebih. Menonton pertarunganmu. Aku menikmatinya.”


Kemunculan Dragon Aura dipengaruhi oleh emosi? Itu jelas tidak semudah ucapannya. Itu abstrak. Untuk pertama kalinya dalam hidup itu, Alex berharap kalau ada buku manual pada penelitian Dragon Blood.


“Hei, kita perlu bergerak. Sekarang,” ujar Tiger lagi.


“Fasilitas bawah laut.” Alex tahu. Dia kembali teringat kalau waktu adalah kemewahan yang tak bisa dia dapatkan saat ini. “Bagaimana dengan semua ini?” tanya Alex sembari mengedarkan pandangan.


Tempat itu kacau balau. Hancur dalam arti sesungguhnya. Para ikan menggelepar di lantai. Air berlumpur. Mayat monster dinosaurus. Air menggenang tercampur lumpur dari sisa monster. Aroma memuakkan. Bukan pemandangan yang bisa dilupakan dalam waktu singkat. Alex tak mau membayangkan reaksi para petugas akuarium yang asli.


“Kamu tahu apa yang menyenangkan ketika bergabung dengan Special Force?” Tiger bukan menjawab, malah melempar pertanyaan lain.

__ADS_1


Alex mengangkat bahu. “Pertarungan seru?”


Tiger menggeleng, kelihatan sangat senang sekaligus bangga pada pekerjaannya. “Kita membuat kekacauan. Orang lain yang akan membereskannya. Ayo, pergi. Cepat! Jayden menunggu kita.”


“Kita menemukan posisi Jayden?”


“Mungkin. Tiger kini salah tingkah. Dia tidak berharap memberikan harapan dan ekspektasi terlalu tinggi pada Alex. Dirinya pun buru-buru berbalik. Tanpa bicara, Tiger malah mulai berlari, meninggalkan Alex dan dan topik tersebut


“Apa artinya itu?” Alex berlari tepat di belakangnya.


“Emil mendeteksi sinyal dari dalam fasilitas bawah laut.”


Tiger berhenti di sana, tak melanjutkan. Alex juga tak ingin bertanya lagi. Dirinya sadar kalau berharap besar bila Jayden ada di sana.


Bersama Tiger, Alex berlari kembali ke dalam kapal selam yang telah menanti. Di kapal selam kali ini, Emil mengatur navigasi. Dalam waktu singkat, Alex mendapati dirinya berada di depan pintu. Pintu itu sama persis dengan gambar yang dia lihat sebelumnya. Memang ada beberapa perbedaan jelas di sana.


Di dalam gambar, pintunya tertutup rapat. Dalam kenyataan, pintunya terbuka. Semua pintu. Total tujuh pintu. Pintu besar di tengah menganga lebar, menunjukkan terowongan raksasa yang gelap di dalamnya. Ada sedikit cahaya pada tepian. Hanya itu yang membuat mereka mampu mengenali terowongannya.


Sementara itu, pintu lain di sekitar pintu utama juga terbuka. Enam pintu berbentuk lingkaran. Tiga di sisi kiri, tiga lagi di sisi kanan. Kalau pintu di tengah mengizinkan air laut masuk ke dalam dirinya, enam pintu lingkaran justru menyembulkan barang. Mereka menunjukkan apa yang ada di baliknya. Setiap pintu memuat satu rudal. Rudal besar bermoncong kuning.


“Rudal di bawah laut?” tanya Tiger. “Untuk apa?”


Dengan ukuran rudal sebesar itu, ledakannya bisa melahap apa pun dengan mudah. Mungkin gedung pencakar langit, mungkin sebuah desa, mungkin juga kota. Alex tak begitu paham. Dia juga sempat membayangkan apa yang terjadi bila rudalnya meledak di sana. Kalau itu terjadi, pasti akan ada gelombang besar terjadi di permukaan.

__ADS_1


Ketika radar dalam kapal selam SM-204 mereka meraung, ketiga agen itu sadar. Mereka adalah sasaran tembak para rudal.


__ADS_2