
Alex mengerjap tak percaya. Pertanyaan itu melintas begitu saja. Itu ide yang cemerlang sekaligus membuatnya gentar. Menembak kepala lawan memastikan tidak akan ada ledakan namun juga memastikan lawan tewas. Dia tak ingin melakukannya. Alex mengerjap lagi. Dia mendapati pandangannya tertutupi lapisan hijau.
Itu ulah Dragon Blood. Sesuatu dalam dirinya tengah berusaha mengambil alih. Seperti rasa haus atau rasa lapar, rasa itu begitu mendesak. Seperti sebuah kemarahan tak terbendung. Tangannya bergetar namun bukannya semakin lemah, cengkramannya pada pistol menguat. Hanya masalah waktu sampai dia kehilangan kendali atas seluruh tubuhnya.
“Emil. Tolong.” Ada jeda di antara kedua kata itu.
[Lari dari sana. Dia datang.]
Emil tampaknya tak paham. Alex bukan minta peringatan. Dia ingin sekali menjelaskan kalau dirinya terasa aneh. Sayangnya itu terasa begitu sulit. Jangankan kalimat panjang, dia hanya bisa mengucapkan kedua kata itu setelah berjuang. Bibir juga tubuhnya tak bergerak sesuai keinginannya.
Bompeii datang di saat yang salah. Sangat. Salah.
Langkah pelannya berhasil membawanya ke dalam ruangan kontainer tersebut. Kriminal itu terkekeh. Langkahnya santai memasuki kontainer dengan senapan penyembur api dalam tangannya. Sementara di belakangnya, api besar telah berkobar menutupi satu-satunya pintu keluar. Di dalam sana, Bompeii memang tak sedang menyemburkan api, dia sedang mengamati kondisi sekelilingnya. Setelah menyusuri lorong sempit dan tiba di area yang lebih terbuka, Bompeii sempat mengambil cangkir berlambang ICPA dengan lingkaran dan bintang.
“Merchandise murahan.” Dilemparkannya cangkir itu tanah. Setelah didapatinya kalau cangkir itu tak hancur, Bompeii tertawa. “Mungkin tidak semurah itu. Sayang sekali kalau barang-barang di sini harus kulelehkan semua.”
Alex telah berbalik. Matanya mengerjap cepat, berusaha mengembalikan kendali dirinya seperti semua. “Pergi,” pintanya.
“Apa kamu sedang ketakutan, Zetta Sonic? Atau ini semua hanya jebakan?” tanya Bompeii. “Kamu tahu, kamu selalu bisa menyerangku dengan aneka senapan di belakangmu itu. Satu langkah salah dan tempat ini akan jadi oven.”
Tangan Alex mulai terangkat meski dia berusaha keras mencegahnya. “Pergi!” pinta Alex lagi. “Tidak mau… membunuh.” Suaranya ikut bergetar. Hasrat dalam dirinya memohon untuk dilepaskan. Pikirannya sudah dipenuhi bayangan akan tewasnya Bompeii dengan kepala berdarah atau lebih parah lagi.
Waspada, Bompeii ikut menodongkan senjatanya ke arah lawan. “Coba pikir baik-baik. Baju ini didesain khusus agar bisa menahan suhu ekstrem. Bagaimana dengan bajumu? Kupikir Otto tidak memikirkannya sejauh itu. Dia hanya ingin membuat senjata biologis yang luar biasa dan — apa istilahnya — abadi.”
__ADS_1
Bompeii tahu nama Otto. Alex tak terkejut. Terakhir kali dirinya berhadapan dengan Damon itu gara-gara profesor Otto memberikannya juga ramuan Dragon Blood. Bompeii pun mulai bercerita, membandingkan racikannya dengan racikan Otto. Alex tak mendengarkannya, konsentrasinya terbagi karena menahan dirinya sendiri dari menembak.
“Dia seharusnya membagi cairan yang dia dapatkan dari Regis padaku. Kita bisa bekerja—” Bompeii berhenti di sana
Alex terkesiap. Jarinya telah menekan pelatuk. Tembakan sudah dilepaskan. Pelurunya mengenai lawan. Bukan kepala. Hanya bahu. Darah merembes keluar dari baju tersebut. Bompeii berteriak. Merasa terdesak, Bompeii menyemburkan api lagi. Situasinya seharusnya kacau. Namun, Alex merasa ganjil. Untuk pertama kalinya dia ingin sekali mencicipi darah lawannya.
[Alex!] Emil berteriak panik di telinganya.
Alex sendiri tak paham apa yang sedang terjadi. Matanya menangkap kelebat gambar-gambar buram. Api mendominasi pandangannya. Asap memaksanya memejamkan mata berulang kali. Dadanya sesak. Belum lagi rasa panas menyerang seluruh tubuhnya. Hanya satu hal yang Alex tahu. Dia tahu kalau sedang berlari. Berlari dalam kobaran api. Menabrak benda-benda, menghancurkan penghalangnya, lalu menjumpai hembusan udara yang sedikit lebih dingin.
Hasrat yang kemungkinan diciptakan oleh Dragon Blood itu berhasil membawanya keluar dari kontainer. Dia selamat. Untuk sekarang.
Pandangannya berangsur-angsur pulih. Kobaran api di belakangnya membuat bayang-bayang ganjil di bawah kakinya. Alex tengah berlutut menghadap ke laut. Tangannya terulur ke bawah, ke benda lunak dan padat. Itu tubuh Bompeii. Tangannya mencengkram erat bahu Bompeii yang tadinya tertembak. Darah mengucur deras di sana. Bukan tembakan itu penyebabnya. Setiap jemarinya membuat luka baru.
Alex tak berniat menjawab. Seharusnya begitu. Namun, ada suara geraman terdengar. Alex berharap tak mengenali suara tersebut yang agaknya mustahil. Suara itu berasal darinya. Dari mulutnya. Itu menjijikan dan menakutkan di saat bersamaan. Hasrat itu memaksanya menghabisi lawan.
“Alex! Hentikan!”
Teriakan itu berhasil mengalihkan perhatian Alex. Efek Dragon Blood, sumber hasrat itu, sedikit tertekan. Alex bisa menoleh ke sumber suara. Dia melihat Gavin tengah berjalan padanya sambil menodongkan pistol. Bukan pistol biasa, pistol laser. Gavin tidak sendirian. Tiger ada beberapa langkah di belakangnya. Sama seperti Gavin, Tiger juga sedang menodongkan senjata berlaras panjang padanya.
“Menjauh darinya, bocah!” pinta Tiger.
Alex tak bisa bergerak. Dia hanya mampu berbisik, “Tolong.”
__ADS_1
Hal berikutnya yang lebih ditakutkan Alex terjadi. Tubuhnya melompat. Gavin menembaki sementara Tiger hanya bergeming. Mata pria besar itu memelotot Alex. Dalam balutan seragam itu, Alex membuat Zetta Sonic lebih cocok disebut senjata biologis.
Alex menghindari serangan Gavin. Ada beberapa tembakan yang berhasil menggores seragamnya. Namun, itu sama sekali tidak membuat Alex berhenti. Dalam waktu singkat, Alex bukan hanya berhasil menghindari serangan lawan, dia berhasil menjatuhkan Gavin. Giliran Gavin terdesak. Alex mencekiknya tanpa ampun.
“Hei! Hentikan!” Tiger berteriak. Dia mengarahkan senjatanya ke kepala Alex. “Hentikan! Kendalikan dirimu! Kamu dengar aku? Hentikan!” Moncong senjata pun didekatkan bahkan sudah bersentuhan dengan helm di kepala Alex. “Hei!”
Alex memejamkan mata erat-erat. Dia tak ingin melihat. Dia tak ingin mendapati dirinya membunuh seseorang, terlebih lagi membunuh seseorang yang pernah menyelamatkan nyawanya. Sekuat tenaga, Alex melawan kekuatan dalam dirinya sendiri. Wajahnya terasa basah sekarang. “Tolong,” bisiknya nyaris tanpa suara. “Tolong…”
“Emil!” Tiger berseru.
[Tembak dia… Tiger.] Suara pelan Emil terdengar bersamaan di telinga Tiger dan Alex.
Tiger berteriak. “Kamu gila? Apa yang kamu bicarakan?”
[Alex lepas kendali. Tembak dia.]
“Jangan bercanda! Aku enggak mau menembaknya!” Tiger kembali berteriak pada Alex. “Kamu dengar ‘kan? Lepaskan dia, bocah! Sekarang juga!”
Di bawah Alex, Gavin tengah berjuang demi hidupnya. Pistol lasernya telah terlepas. Kedua tangannya berusaha melepaskan tangan Alex dari lehernya. Setiap kali memberontak, tangan itu makin erat. Dia butuh udara. Segera. Matanya berair. Pandangannya kabur. Sosok hitam di atasnya perlahan digantikan oleh kegelapan.
[Tembak, Tiger…]
Menghiraukan ucapan Emil lagi, Tiger membuang senjatanya. Dengan tenaganya, Tiger berusaha menarik lepas Alex dari Gavin. Sejauh pengalamannya bertarung di arena bebas, Tiger baru pertama kali ini merasakan sulitnya menggerakkan lawan. Alex bergeming sekuat apa pun dia berusaha.
__ADS_1
Dan, suara tak asing pun terdengar. [Maaf, Alex.]