Zetta Sonic

Zetta Sonic
Hellish


__ADS_3

Situasinya mirip. Helikopter stasiun TV terbang rendah untuk merekam gambar. Kontainer-kontainer bertumpuk dalam lautan api. Akses ke pelabuhan ditutup. Para polisi berdatangan bersama pemadam kebakaran meski tak satu pun berani mendekat. Bompeii masih belum dapat ketenaran yang dia inginkan.


“Mana orang-orang kemarin itu?” Bompeii bertanya lewat pengeras suara di pelabuhan. “Mereka pikir busa dingin cukup untuk mengalahkanku begitu saja? Itu membosankan. Mereka seharusnya membawa lebih banyak dari itu. Inovasi, bukan busanya.”


Para polisi bersembunyi di belakang tameng mereka. Suasananya terlalu panas. Tak ada yang terlalu bodoh untuk menerjang masuk ke bagian dalam pelabuhan. Mereka tidak tahu di mana posisi Bompeii sesungguhnya. Mereka hanya tahu kalau Bompeii ada di suatu tempat sambil menyemburkan api.


“Bagaimana dengan seragam baru?”


Bompeii terkejut. Suara itu datang begitu dekat. Dia mengedarkan pandangannya namun tak melihat apa pun selain api. “Siapa di sana? Apa kamu mainan baru ICPA?” Bompeii menyadari kalau suaranya tak lagi terdengar dari pengeras suara. “Bah! Mereka selalu melakukannya padahal aku hanya ingin bicara lebih jelas. Sekarang, siapa di sana? Tunjukkan dirimu kalau berani.”


“Untuk apa? Aku melakukan persis seperti yang kamu lakukan.”


“Apa maksudmu?” Bompeii masih menoleh sambil berusaha mencari sumber suara. Sesekali, dia menyemburkan api pada lokasi yang dia curigai. “Siapa kamu? Kupikir kamu bukan Zetta Sonic. Dia sudah lama sekali menghilang. Menurutku, dia sudah mati. Mungkin, dibunuh. Bagaimana menurutmu?”


“Kamu kedengaran kecewa. Kamu berharap jadi orang yang membunuhnya?”


Bompeii tertawa kecil. “Mungkin. Sebenarnya, aku lebih tertarik untuk menunjukkannya pada Otto kalau penemuanku lebih baik darinya.”


“Dia sudah tewas.”


“Benar, di tangan penelitiannya sendiri. Aku lupa siapa namanya. Demon? Damon?”


“Apa yang sebenarnya kamu inginkan? Ketenaran? Nama? Teror? Apa pun itu, kamu tidak mendapatkannya secara maksimal. Kenapa? Karena kamu menyembunyikan dirimu dalam baju seperti penyelam itu dan kobaran api. Jadi, kupikir aku sedang menunjukkan caranya padamu.”


“Kamu tidak menyadarinya? Ini baju baru.” Bompeii mengenakan baju layaknya penyelam kuno berwarna putih. Dia juga mengenakan helm bulatnya dengan kaca tebal pada bagian tengah. Seperti sebelumnya, dia juga membawa ransel yang tersambung pada senapan penyembur apinya.


“Kalau yang kamu maksud itu warnanya, itu buruk. Warnanya cepat kotor karena asap.”


“Aku mencampurnya dengan bahan khusus. Kamu tidak suka putih?” Bompeii menyemburkan api lagi. Suara api dan mesin penyembur itu memang bising. Bompeii harus berteriak karenanya. “Warna apa yang kamu suka?”


“Bagaimana dengan transparan?”


“Transparan? Itu bukan warna.”

__ADS_1


“Tepat!”


Bompeii berbalik ketika menyadari suara itu datang dari belakangnya. Sebuah pukulan keras menyambutnya. Dia sama sekali tidak siap dengannya. Pukulan itu mengantarkannya hingga terjerembab ke atas tanah. Belum sempat bangun, Bompeii sadar kalau badannya ditarik. Bukan! Bukan badannya, melainkan ranselnya. Tahu-tahu saja, dia merasa ringan.


“Tidak! Tidak!” Bompeii berteriak-teriak. Terlambat. Tali ranselnya sudah dipotong. Ranselnya sekarang bahkan sedang melayang di udara seolah ada orang yang memegangnya.


Berikutnya, tetesan air berjatuhan dari langit. Hujan buatan dari ICPA telah datang untuk memadamkan apinya. Bompeii menyipit. Dia bisa melihat tetesan air menuruni benda kasat mata yang masih memegangi ranselnya.


“Siapa kamu?”


“Zetta Sonic.” Alex akhirnya mematikan mode kamuflasenya. “Seragam baruku jelas lebih baik darimu.”


Bompeii melempar tangannya ke udara. Para agen ICPA berdatangan dari berbagai sisi. Mereka membelenggu Bompeii dan membawa tas ransel tersebut. Pria itu akan dihakimi setelah mendapat rentetan pertanyaan panjang. Kalau dia beruntung, ICPA mungkin akan mempekerjakannya.


 


 


 


 


“Kamu bisa menyelesaikannya lebih cepat dari itu, bocah!” Tiger menyeringai.


“Mode kamuflase. Batas maksimum lima menit. Pendingin ultra aktif. Detak jantung normal. Tidak ada pemakaian senjata. Tidak ada pemakaian pendorong,” ujar Emil. “Laporannya akan singkat.”


Alex terkekeh. “Seragam baru ini luar biasa.”


Warnanya tetap hitam, helmnya masih mengilap dan sekeras intan. Tersusun dari jutaan kepingan bentuk segienam mungil. Lengkap dengan sarung tangan dan sepatu bot. Ada tambahan pelindung dada dengan simbol bintang pada dada bagian kiri. Garis hijau tipis mengelilingi tepian pelindung dada tersebut. Dengan satu sentuhan pada lambang bintang tersebut, seragamnya lenyap tak bersisa.


“Tidak ada lencana, semua terintegrasi ke Zet-Arm,” tambah Alex. “Lalu, mode kamuflase dan roket yang tertanam di pelindung dada, itu luar biasa.”


Tiger mulai memacu mobil. “Kami dapat banyak bantuan. Fergus membantu. Kami dapat bantuan satu divisi untuk pengembangan seragam. Jayden pasti merasa kalau tamengnya sekarang seperti mainan anak kecil.”

__ADS_1


[Aku dengar itu.] Jayden menyahut dari radio. [Fergus sedang berusaha mengembangkannya juga.]


“Tapi,” kata Tiger lagi, “aku masih penasaran bagaimana kalian bisa menggunakan kekuatan Dragon Blood untuk digunakan dalam seragam itu? Maksudku, dari apa yang kudengar, kekuatan Dragon Blood kini digunakan sebagai energi seragam baru Zetta Sonic, ‘kan? Karena itu, bisa ada tambahan fitur baru dan durasi yang lebih lama. Jujur saja, itu luar biasa dan sedikit menakutkan.”


“Itu lebih baik. Daripada Alex kehilangan kontrol. Seperti dulu,” imbul Emil. “Seperti yang lain.”


Alex tak berkomentar. Dia hanya mengangkat bahu lalu melemparkan pandangannya ke luar jendela.


[Apa yang terjadi di desa, tetap di desa.]


“Ya, ya, ya. Terserah. Tapi, kamu tetap membawa hasil penelitiannya ke dunia luar. Itu enggak jauh berbeda.”


Kali ini Alex baru menjawab, “Apa yang sudah muncul ke permukaan tidak akan bisa ditutupi selamanya.”


DUARRRR!


Seisi mobil tersentak. Mobil mereka terguncang oleh hempasan besar dari belakang. Tiger mengerem mendadak. Namun, asalnya bukan dari mobil mereka.


Sebuah ledakan besar baru saja terjadi. Asalnya dari pelabuhan. Namun, Alex baru saja dari sana untuk menangkap si penyembur api. Tiger melirik ke spion. Terlihat kobaran api besar menyelubungi pelabuhan. Hawa panasnya bisa terasa ke lokasi mereka saat itu. Begitu pula dengan bau hangusnya dan asap tebalnya.


Tiger menyalakan radio lain di dalam mobil. Radio yang tersambung dengan agen ICPA lain. Keributan terjadi di sana. Mereka saling berteriak. Koordinasinya kacau. Suaranya terpotong-potong lalu saling tumpang tindih. Para agen ICPA yang tadi membantu di lapangan memang mengambil jalur berbeda. Bagaimana pun, markas mereka memang berbeda.


“Jayden? Apa yang baru saja terjadi?” tanya Alex ragu-ragu. Dia takut mendengar jawabannya.


[Bompeii. Dia mati.]


Tiger tercengang. “Apa? Bagaimana? Kami baru saja dari sana. Apa yang terjadi padanya?”


[Mobil ICPA yang mengamankan ranselnya meledak. Apinya luar biasa besar. Pelabuhan tertutup api, tumpukan kontainer, bahkan gudang-gudang di sekitar pelabuhan juga ikut terbakar.]


“Bagaimana dengan agen ICPA yang lain? Mereka… mati?” tanya Tiger lagi.


[Sulit dipastikan. Kemungkinannya begitu.]

__ADS_1


Tiger hanya bisa terdiam. Emil berhenti melakukan apa pun yang sedang dia kerjakan. Kalau seandainya saja tadi mereka terlambat beberapa menit, maka mereka akan ikut dalam kebakaran besar tersebut.


Alex terhenyak di kursinya. “Ini bukan kecelakaan. Ini pembunuhan.”


__ADS_2