
Alex bisa mendengar bagaimana Jayden terkesiap. Seandainya dia bisa melihat kondisinya sekarang, Jayden pasti tak kalah panik.
Sebuah robot setinggi dua meter bergerak mendekat dalam kegelapan. Kepala lonjongnya berkilau kebiruan dengan pola saling silang. Ada percikan listrik di sana, menghancurkan apa pun yang berani menyentuhnya, termasuk lebah tadi.
Alex tak perlu diberi tahu. Dia tahu jelas kalau itu si robot pembunuh yang menjaga jalannya transaksi ini. Dia juga tak perlu diberi peringatan untuk kabur. Begitu si robot mendekat, Alex langsung bergulir. Karena tempatnya cukup sempit, Alex pun sampai menabrak dinding. Setidaknya itu lebih baik daripada kena tembakan si robot.
Alex mendengar keributan di teras spa. Oliver dan pembelinya panik. Keduanya berlari diikuti dua orang penjaga, sementara dua lagi berlari ke arahnya. Alex mau tak mau harus berlari ke arah lain. Dia tidak bisa kembali ke dek dan melibatkan para tamu undangan. Jadi, dia berlari ke arah luar, ke arah yang langsung menuju gang yang dilaluinya ketika datang tadi.
Selain keributan di belakangnya, Alex juga mendengar keributan di earphone. Jayden dan Tiger ribut. Tiger mundur untuk sementara. Jayden mengirim drone untuk memantau kondisi Alex. Untung saja mereka masih bisa memantau lokasinya menggunakan radar. Gelang Zet-Arm memberitahu rekan-rekan di mana posisinya berada.
Alex memasuki gang yang remang. Di sana, langkahnya melambat. Ketika berbalik, dia bisa melihat si robot dengan jelas. Robot itu berdiri di bawah lampu. Dia memiliki tangan serupa manusia dengan lima jari namun kakinya berupa roda tunggal bukan sepasang kaki. Badannya ramping, hampir mirip tengkorak tapi lebih gemuk.
Ketika tangan itu terulur ke depan, setiap ujung jemarinya terbuka. Itu pistol. Dari setiap lubang, meluncurlah peluru-peluru kecil. Semuanya pasti mengenai sasaran kecuali kalau sasarannya seperti Alex.
Entah bagaimana, tapi Dragon Blood dalam dirinya bereaksi. Semua diawali dengan kelebat hijau. Pemandangan di depan mata Alex berubah hijau untuk sepersekian detik. Lalu, pemandangannya melambat. Dia melihat setiap peluru yang meluncur keluar berikut asap tipis yang mengiringi. Sesungguhnya, pergerakan robotnya tidak melambat. Pergerakan Alex yang berubah jadi cepat.
Kakinya membawanya mundur lebih cepat daripada yang dia bayangkan. Dirinya bahkan bisa melompat tinggi ke belakang, melewati tong sampah berikut deretan sepeda motor. Akibarnya, mereka yang jadi sasaran tembakan si robot. Alex tak punya waktu untuk merasa kasihan pada mereka. Dua orang penjaga datang berlari. Mereka berhenti di belakang robot lalu mulai melepaskan tembakan.
__ADS_1
[Jangan ragu-ragu, Alex! Kamu pasti sudah tahu apa yang harus dilakukan.] pinta Jayden. [Tunjukkan Zetta Sonic pada mereka!]
Alex bukan mau sok di sini. Tapi, ucapan Jayden terasa begitu tepat untuknya. Keraguannya masih ada, namun tenggelam oleh adrenalinya. Dia bergerak maju karena tahu bisa menghindari setiap tembakan. Peluru dua penjaga itu bahkan tak bisa dibilang dekat padanya. Mereka meleset jauh karena Alex telah lebih dulu bergerak maju.
Dia ingin menghabisi si robot lebih dulu. Tangannya menangkap tangan si robot. Bobotnya berat, Alex tahu. Dragon Blood lebih tahu dari dirinya. Dia memberikan tenaga yang lebih dari cukup. Alex bukan hanya berhasil menarik tangan si robot, dia berhasil menarik tubuh si robot dari tanah. Dengan satu ayunan keras, dilemparkannya robot pada kedua penjaga.
Satu penjaga buru-buru menghindar. Satu lagi kena dan langsung tak bergerak lagi di atas tanh. Penjaga yang berhasil menghindar pun melepaskan tembakan. Alex tak tahu bagaimana wajahnya saat itu. Apa pun rupanya saat itu berhasil membuat si penjaga menatapnya ketakutan. Terlebih ketika Alex telah melompat padanya. Penjaga itu tak akan ingat bagaimana kelanjutannya sebab Alex telah menyarangkan pukulan yang membuatnya tergeletak pula seperti temannya.
Belum sampai di sana, Alex harus menghindar lagi. Si robot bangun dan kembali melepas tembakan. Badannya mendapat goresan-goresan baru di bagian tengah, sisanya utuh tak terluka. Selain menembak, robot itu juga punya trik lain. Dia punya sepasang pedang panjang yang tersembunyi dekat rodanya. Robot pembunuh. Nama itu sepertinya cocok dengan tindakannya.
Jayden bicara sesuatu tapi Alex tak mendengarnya dengan jelas. Dia hanya tahu satu hal. Habisi lawan sebelum menghabisimu. Satu hentakan kaki membuatnya berhasil melesat ke atas. Tangannya memegang bahu si robot. Ayunan keras membuat si robot kembali terbanting ke tanah. Alex pernah berlatih ini di kelas bela diri. Dia tak pernah melakukannya dengan sempurna hingga hari ini.
Robot tersebut berputar untuk bangun. Alex sudah di depannya dengan tatapan mata yang sama. Kalau robot itu tahu bagaimana rasa takut, dia pasti telah merasakannya sejak tadi. Sayangnya, tak ada algoritma untuk menjelaskan demikian. Si robot hanya tahu manuver menghindar yang lagi-lagi gagal.
Sebelum rodanya berputar untuk membawanya kabur, Alex berhasil menahan lajunya. Dia cukup memegangi bagian tengah lawan. Lalu, dengan satu putaran, dijatuhkannya robot itu kembali ketanah. Kali ini, hentakannya cukup keras sampai membuat bagian roda bawahnya retak. Si robot tengah meneliti kerusakan dirinya ketika Alex berada di depannya.
Bagian kepala robot itu berpendar kebiruan. Sambaran listrik menyambar.
__ADS_1
[Menghindar!]
Peringatan Jayden datang terlambat. Drone mungilnya memang telah mengawasi sejak tadi. Tapi, dirinya terlalu sibuk mengamati apa yang tengah terjadi.
Sambaran listrik tersebut mengenai tubuh Alex, memaksanya berlutut. Beruntung, sambaran tersebut berlangsung pendek. Alex tak membuang-buang waktu lagi. Jayden mengira Alex akan mengambil pistol laser dan menghabisi robot, anak itu malah mengambil pipa besi yang tergeletak di dekat tong sampah.
Jayden tak pernah melihat bagaimana robot dihancurkan dengan cara demikian. Menggunakan pipa besi tersebut, Alex menghancurkan bagian demi bagian seakan-akan memukul tongkat kayu ke keripik kentang. Baik robot maupun pipa itu hancur benkong keduanya. Untuk memastikan kalau robotnya benar-benar non-aktif, Alex dengan mudah mencabut kepala dari badannya.
“Hei!” Suara rendah terdengar dari ujung gang. “Kerjamu berantakan!”
Alex mendapati Tiger di sana dengan senapan laras panjang. Untuk sesaat dirinya bergeming. Tangannya yang terkepal perlahan terbuka. Alex membawa tangannya ke depan wajah. Tangan itu kotor dan lecet, sedikit memar dan bergetar hebat. Tubuhnya ikut bergetar dan tahu-tahu saja matanya sudah basah oleh air mata. Alex pun jatuh berlutut di atas tanah.
[Alex? Kamu baik-baik saja?] Jayden bertanya lirih seraya menurunkan drone agar bisa mendapat pemandangan lebih baik.
Tiger berjalan mendekat sambil menodongkan senjata pada Alex. “Jayden, kamu dengar aku? Matanya enggak bersinar hijau lagi. Apa ini tanda yang baik?”
[Semoga. Maksudku, seharusnya. Profesor Otto hanya bilang kalau matanya berubah jadi hijau sebagai tanda kalau Dragon Blood aktif.] Jayden menjawab. Mereka seharusnya bisa mendengar suara satu sama lain, termasuk Alex dan Caitlin.
__ADS_1
Tiger menjaga jaraknya dari Alex. Baginya, anak itu tak ubahnya monster atau binatang buas. Tindakannya berubah drastis saat menggunakan Dragon Blood. Sebuah pertanda baik kalau eksperimen mereka berhasil juga indikasi bencana besar kalau Alex tak bisa mengendalikan dirinya.
“Alex?” Tiger memanggil sekarang. “Kita harus pergi. Berdiri atau kutembak!”