Zetta Sonic

Zetta Sonic
Make Up


__ADS_3

Pembicaraan berakhir di sana. Mereka mencapai hotel tempat Jayden akan menunggu nantinya. Mereka masuk ke kamar yang sudah disewa. Kamar itu ada di lantai empat. Kamarnya tidak memiliki pemandangan ke pantai tapi punya pemandangan ke resort persis di sebelahnya.


Mereka bisa melihat bagaimana para pelayan resort menyiapkan pesta di dek kayu besar yang langsung menyambung ke pantai. Obor-obor telah disiapkan lengkap dengan meja makan dan panggung musik. Tempat itu tidak sebesar bayangan Alex. Mungkin pesta itu hanya sekadar pesta pribadi mengingat tamu undangannya tak lebih dari seratus orang.


Tiger dan Caitlin bergabung dengan mereka. Caitlin merias Alex dengan cekatan. Dia menambahkan bintik-bintik di pipinya juga memasangkan wig ikal warna emas. Ketika melihat dirinya di cermin, Alex bahkan tak percaya kalau itu dirinya. Meski Caitlin tak suka dengannya, menurut Alex, dia menjalankan tugasnya dengan sangat baik.


Seolah bisa membaca pikiran Alex, Caitlin berceloteh. “Riasan itu enggak menjamin identitasmu aman. Jauhi orang-orang sebisa mungkin.”


Tiger mencibirkan bibir. “Dia selalu tahu apa yang dia lakukan, Cait. Biarkan saja.”


Alex tak menanggapi. Dia masih mengamati dirinya sendiri. Pakaiannya sudah diganti dengan kemeja lengan panjang, rompi hitam, juga dasi kupu-kupu. Dia bisa berbaur dengan mudah. Masalahnya sekarang tinggal bagaimana Alex mengenali robot pembunuh di sana. Secara teori, robot itu pasti berada dekat tuannya.


 


 


Menjelang malam, Alex berpindah ke resort. Dia masuk melalui jalur belakang, di mana tong sampah berderet bersama motor para pegawai. Jayden memandu jalannya agar tak bertemu banyak orang. Kali ini Jayden meretas sistem kamera pengawas bukan menggunakan drone mungilnya lagi.


Alex masuk ke tempat pesta dengan mudah. Dia tak menyangkal kalau sangat berdebar-debar. Terima kasih kepada kebiasaan berbohongnya, Alex bisa menutupinya dengan baik. Nampan berisi minuman di tangannya tak bergetar. Dia bahkan bisa menawarkan minuman pada tamu undangan dengan baik. Ini hanya dilakukannya sampai target mereka terlihat. Tak perlu menunggu lama, Oliver Button si model pun muncul sambil menggandeng dua wanita cantik bergaun mini.


Saat itu, semua tamu undangan telah hadir. Alex menyelinap di antara kerumunan menuju tepi dek, tempat yang juga dituju Oliver Button. Alex menyembunyikan dirinya di balik dinding yang menjorok. Dari posisinya, Alex bisa melihat bagaimana model tersebut meninggalkan kedua wanita yang tadi bersamanya dan langsung pergi ke arah seorang pria besar mengenakan setelah hitam.


[Ikuti dia!] Suara Jayden terdengar di telinganya langsung.


Kali ini, Alex mengenakan wireless earphone dengan bentuk berbeda. ICPA menyiapkan earphone ini agar menyerupai earphone yang dipakai para pelayan dan penjaga keamanan di sana. Bentuknya mengingatkan Alex pada bagian security yang biasa berjaga di konser atau bodyguard bintang padan atas.

__ADS_1


Kedua orang itu pun meninggalkan dek. Alex menanti sejenak sebelum mengikuti keduanya. Dia mengedarkan pandangan, meyakinkan dirinya sendiri kalau dia tidak diawasi. Mereka memasuki daerah yang dipenuhi hiasan pot bunga tropis. Alex bisa mendengar suara air samar. Bukan suara pantai tapi suara air mengalir seperti sungai atau air mancur.


Alex menjaga dirinya tetap berada dalam kegelapan. Dia juga memastikan agar tidak terlalu dekat. Sejauh pengamatannya, posisinya seharusnya aman. Dia pun berhenti dekat sebuah pot besar berdaun lebar. Alex merapatkan dirinya ke dinding sambil memicingkan mata ke arah area luas lain di bawah resort


Area ini merupakan area spa dan sauna. Salah satu dindingnya mengalirkan air langsung ke kolam di bawahnya. Kolam itu sendiri selebar satu meter dan memanjang ke belakang. Aneka ikan koi berenang tenang di dalamnya. Oliver Button berjalan di atas bongkahan batu yang menonjol di atas kolam untuk mencapai teras ruang spa di sisi kanan.


[Aku tak bisa melihat apa yang terjadi. CCTV di sana mati.]


“Aku bisa,” balas Alex nyaris tak bersuara.


Dia melihat Oliver Button menemui seorang pria besar mengenakan setelan jas. Tangannya memegang cerutu yang masih menyala. Di sekitar mereka setidaknya ada tiga orang dalam balutan jas pula, masing-masing mengenakan earphone. Empat penjaga, seorang penjual, satu penadah.


“Apa yang harus kulakukan?” bisik Alex lagi.


[Hei, aku sudah menjelaskan padamu. Ambil kalungnya.]


[Kalau begitu, lakukan sesuatu, Killer Bee!]


“Berhenti memanggilku seperti itu.”


[Aku akan berhenti memanggilmu begitu setelah kamu bisa jadi Zetta Sonic sungguhan.]


Alex sadar kalau itu memang bukan saat yang tepat untuk berdebat. Oliver Button masih ngobrol dengan pembelinya saat ini. Tapi, itu tidak akan berlangsung lama. Dia harus melakukan sesuatu sebelum transaksinya selesai. Jayden tak ada bersamanya. Begitu juga Tiger atau pun Caitlin. Dia benar-benar sendirian.


Untuk sejenak, Alex menyesal bisa terjebak dalam kondisi seperti itu. Biasanya jam segini dia ada di rumah, menikmati makan malam lezat dan bersiap main game sampai malam. Seandainya saja dia bisa memilih, dia tidak berada di sana sekarang. Ya, seandainya saja dia bisa memilih.

__ADS_1


Saat itu, Alex sadar kalau dirinya punya pilihan. Justru, dia sedang dihadapkan pada sangat banyak pilihan. Dia juga bisa saja berpura-pura menghampiri sambil membawakan minuman, sayangnya dia telah meninggalkan nampannya di belakang. Dia bisa langsung saja merampas begitu Oliver memberikan kalung, tampaknya bukan pilihan bijak. Dia juga bisa melepaskan tembakan, tapi itu jelas akan berakibat buruk.


Alex mengamati sekeliling, mencari ide. Ketika mulai mendapatkan beberapa ide bagus, firasat buruk memenuhi benaknya. Alex mendengar suara samar di antara jatuhnya air. Dengung serangga. Bukan nyamuk, bukan lalat, melainkan lebah.


“Jayden, apa Dragon Blood membuatku kebal pada penyakit?”


[Apa maksudmu? Tentu saja tidak. Kamu tidak kebal pisau, tidak kebal ledakan, dan jelas tidak kebal peluru. Kalau racun, mungkin ceritanya akan sedikit berbeda. Memang kenapa tiba-tiba bertanya begitu?]


“Kupikir ada lebah di dekatku.”


[Lalu? Hiraukan saja. Fokus ke misi pertamamu, Killer Bee …] Jayden terdiam, mendadak teringat nama alias Alex beserta kenapa lebah membuatnya gusar.


“Aku alergi.”


Alex ingat jelas pernah disengat lebah saat masih kecil. Dia ingat rasa sakitnya dan bagaimana dia terbangun di rumah sakit. Ayahnya muncul sebentar, datang dengan raut wajah cemas. Ibunya kelihatan panik, lalu memaksa tidur di sana malam itu. Alex tak ingat bagaimana kelanjutannya, tapi dia ingat sejak saat itu, dokter pribadi keluarganya menyuruhnya menghindari lebah. Ini bukan soal gatal-gatal, ini soal hidup dan mati.


[Tunggu sebentar. Akan kucoba memantau keberadaan lebah itu dari sini. Semoga aku bisa menemukannya dari frekuensi suara--]


“Tidak perlu.”


[Kenapa? Apa yang terjadi, Alex?]


“Aku sudah menemukannya. Dia sudah mati. Barusan.”


[Oh, bagus. Satu masalah selesai.]

__ADS_1


“Sebenarnya enggak juga. Lebah malang itu terpanggang di kepala robot pembunuh.”


__ADS_2