Zetta Sonic

Zetta Sonic
Black Opal


__ADS_3

Beberapa jam telah berlalu sejak Alex menelepon Jayden. Tidurnya tidak nyenyak. Tidak ada mimpi buruk, hanya saja badannya terlalu lelah untuk beristirahat. Kontradiksi itu membuat suasana hatinya lebih tidak baik lagi. Dia berulang kali menguap. Meski begitu, berapa keras usahanya untuk beristirahat tak membuahkan hasil.


Mungkin pikirannya terlalu penuh. Mungkin pembicaraannya dengan Jayden tanpa sadar membuatnya memikirkan ulang banyak hal. Mungkin dia tidak seharusnya terlalu larut dalam pencarian data. Memang setelah menelepon Jayden tadi, Alex sempat mengutak atik data di komputer dalam ruangan itu. Sayangnya, tak ada hal berarti dia temukan. Tampaknya data ICPA benua lain tidak akan semudah itu diakses dari sana.


Alex menarik kedua tangannya ke belakang kepala. Matanya mengawasi langit-langit yang kian membosankan. Napasnya pelan dan teratur. Rasa sakit yang tadi sempat menghampiri badannya kini lenyap tak bersisa. Dia merasa cukup normal. Dan, di sanalah anehnya. Alex ingat masa-masa ketika kehabisan energi dan pingsan karenanya. Dia bahkan merindukan masa-masa itu.


******* pelan keluar dari bibirnya. Pikirannya memang penuh. Seandainya dia bisa mengeluarkan semuanya dan membuat kepalanya lebih ringan, itu akan terasa menyenangkan. Seolah menjawab keinginannya, Alex melihat layar komputer di ruangan itu berkelip. Sebuah pesan telah masuk.


Alex melompat dari kasurnya. Dia segera duduk di atas kursi putar. Matanya mengamati layar itu. Dengan sedikit percobaan, Alex berhasil membuka isi pesannya. Sebuah laporan kejahatan dilengkapi dengan video ditujukan pada Jayden. Sebuah perampokan.


Perampokan?


Alex mengernyit. Dia biasa berhadapan dengan para penjahat kelas atas yang menggunakan teknologi canggih, atau robot pembunuh, atau monster — maksudnya, si penjahat adalah monster. Nadira tidak akan memberikan misi perampokan pada mereka. Tentu saja kecuali perampokan itu dilakukan oleh monster.


Di video tersebut, Alex menyadari harapannya tidak terlalu tinggi. Dia melihat sebuah toko perhiasan ternama di ibukota negara tetangga. Ibunya bahkan pernah membeli kalung ruby di sana. Dia tahu toko itu. Dia juga tahu sistem keamanan toko itu. Dia juga pernah mencoba iseng memeriksa kamera pengawas di sana dan gagal ketika pertama kali menjajal keahlian Killer Bee. Alex tahu toko itu aman. Rasanya ganjil kalau toko itu sekarang kerampokan.


Sekali lagi, kecuali kalau perampokan itu dilakukan oleh monster. Video berdurasi kurang dari dua menit itu terjadi pada siang hari. Terlihat bagaimana perhiasan-perhiasan di dalam etalase toko melayang. Para pegawai nampak kebingungan. Berikutnya, lemari-lemari kaca itu terbuka, melepaskan semua perhiasan yang ada di dalamnya keluar persis seperti burung-burung terbang keluar dari sangkar. Ini membuat para pegawai histeris. Alex paham alasannya. Bukan hanya mereka kehilangan perhiasan berharga namun juga karena tak ada pelakunya.


Mungkinkah, hantu?

__ADS_1


Alex berjingkat ketika dering lantang terdengar dari komputer itu. Panggilan masuk dari Jayden. Notifikasi itu melenyapkan dugaannya lebih cepat daripada logikanya. Dia tidak percaya hantu atau alien atau juga monster, setidaknya sampai dia bergabung dengan ICPA.


[Kamu seharusnya enggak mencuri lihat dataku!] Jayden terdengar tak ramah. Panggilan video itu menunjukkan rambutnya yang masih acak-acakan juga janggutnya yang tumbuh tak rata. Jayden menikmati masa-masanya di rumah sakit. Dia mengabaikan penampilannya atau sengajat memutuskan untuk memelihara janggut, Alex tak tahu yang mana.


“Kamu seharusnya tidur.”


[Begitu juga denganmu. Ini sudah jam setengah enam!]


Alex melirik jam pada komputer. Di ruang bawah tanah tanpa jendela membuat Alex tak menyadari berapa waktu yang telah berlalu. Dia pun segera mengubah topik. “Jadi, ini misi baru untuk Zetta Sonic?”


[Tidak, maksudku belum. Itu hanya berkas tambahan yang kuminta dari pusat. Itu perampokan terbaru yang terjadi kemarin malam.]


[Tiga hari berturut-turut di tiga negara berbeda. Kalau kamu lihat, ini bahkan tidak terjadi di sini. Kenapa dia melakukannya di tiga negara berbeda? Agar tidak tertangkap? Ya, tentu saja. Selain itu, menurut pengamatan, penjahat ini ingin mengolok-olok para penegak hukum. Dia melakukan semua aksinya di siang hari.]


“Dia akan ke sini,” sahut Alex. Dia teringat pada banyaknya undangan datang ke rumah. Undangan pesta amal, pembukaan toko atau restoran, juga pameran. Lebih tepatnya, pameran perhiasan. “Opal hitam.”


Jayden bisa menebak. [Penyelenggara pameran mengundang ibumu.]


“Ibuku enggak akan datang.”

__ADS_1


[Tentu saja, dia sedang ada sesi foto dengan lini kosmetik terbaru.] Jayden melihat raut Alex berubah ketika membicarakan ibunya. Anak itu bukan hanya terlihat tak senang, dia terlihat marah. Bukan hal yang biasa terjadi. Setidaknya setahu Jayden, Alex hanya bermasalah dengan ayahnya bukan ibunya. Tak mau berlarut-larut dengan omongannya sendiri, Jayden pun melanjutkan. [Kupikir kamu enggak akan suka kalau kembali ke balai kota.]


Alex memutar bola matanya. Terakhir kali ke sana, dia berhadapan dengan robot pembunuh, berurusan dengan Gavin, lalu hampir tenggelam. “Memang tidak, tapi—”


[Tapi, Nadira akan mengirimmu ke sana. Pintar!]


“Pamerannya malam ini,” tambah Alex.


[Tepat. Aku bisa membayangkan dokter Vanessa berdebat dengan Nadira soal ini. Menurut dokter Vanessa, kamu masih butuh istirahat. Kondisi tidak stabil—]


“Aku baik-baik saja!” Gantian Alex menyela ucapan Jayden. Nadanya meninggi tanpa sadar. Kemudian, Alex menarik napas dalam-dalam. Mendadak, dia rindu sekolahnya dan berhadapan dengan pekerjaan rumah ketimbang penjahat kasat mata seperti itu. Alex berusaha mencairkan suasana. “Tapi, kupikir Zetta Sonic tidak bisa berhadapan dengan hantu,” ujarnya dengan nada santai kali ini.


[Kamu tahu itu bukan hantu.]


“Dia juga tidak memakai green screen. Apa triknya?”


[Itu juga yang sedang kucari tahu. Mungkin semacam sihir.]


Alex mengerjap. “Tunggu. Kita berhadapan dengan penyihir?”

__ADS_1


[Tidak. Mari berharap itu tidak terjadi.]


__ADS_2