
Di sana yang dimaksud adalah di sisi lain hutan, masih dalam kompleks perkemahan di mana Alex dan teman-temannya berada. Alex bahkan baru saja mematikan seragam tempurnya ketika suara itu terdengar. Semacam suara dengung. Dengung tak bersahabat dari jauh sana. Bukan dengung wajar, melainkan dengung mesin. Ada baiknya dia bersiap lagi.
Alex mengaktifkan seragamnya lagi. Jantungnya berdegup tak karuan. Kalau dengung itu memang berasal dari robot pembunuh, masalahnya bisa berubah jauh lebih buruk. Banyak orang tak bersalah di sini. Bukan sekadar pekerja pabrik melainkan para teman-temannya, termasuk Willy dan Leta.
Suara tersebut berasal dari dekat danau, sisi yang berbeda. Tidak cukup dekat dengan lokasi kemah mereka berada. Lebih dekat dengan posisinya saat ini. Alex pun menghampiri. Dan, saat berpikir kalau dia akan salah lagi, Alex melihat si robot.
Robot itu sama persis seperti yang ada dalam benaknya. Robot itu keluar dari permukaan air. Kepala bulat seperti telur, sepasang tangan dan kaki seperti manusia, badan berwarna kuning dengan beberapa bagian dibiarkan kelabu. Data menunjukkan kalau robot ini bisa mengeluarkan listrik bertegangan tinggi dan punya tombak sebagai senjatanya.
Kalau listrik, artinya robot itu tak jauh berbeda dibandingkan robot yang pertama kali Alex temui bersama Nikola. Alex bisa mengalahkannya dengan mudah. Dia berharap bisa menghancurkan yang ini semudah sebelumnya.
[Kamu benar-benar lari ke dalam masalah. Seolah-olah masalah yang mencarimu. Di antara banyaknya artis dan orang penting lain, kenapa dia muncul di sini?] Saat itulah, komunikasinya dengan marksa terjalin. Suara Jayden terdengar di telinganya.
“Jangan tanya padaku!”
Alex tak perlu menunggu. Dia bergegas menyerang lawannya sebelum robot itu benar-benar mendarat di tanah. Pukulan Alex membuat si robot terjembab ke tanah. Kekuatan pukulan Alex bahkan nyaris mendorong si robot tercebur ke dalam danau lagi. Alex jauh lebih leluasa mengendalikan kekuatan Dragon Blood sekarang.
Tangannya bergegas mengambil pedang berbilah bening. Dia tak punya waktu untuk berlatih dengan Tiger lagi. Semua latihannya selama beberapa hari terakhir harus berjalan karena dia sendirian saat ini. Tanpa Jason, tanpa pistol laser.
“Kalian seharusnya membiarkanku membawa pistol laser,” gerutu Alex. Dia masih sempat mengutarakan protesnya.
[Mau bagaimana lagi. Senjata itu punya ketentuan ketat. Nadira masih menganggapmu agen pemula dan di bawah umur. Lagipula, akui saja, tidak ada seorang pun dari kita akan mengira robot itu muncul di sini.]
__ADS_1
Alex menelan ucapan Jayden yang mengandung kebenaran. Dalam hatinya, dia sangat yakin kalau robot pembunuh akan muncul di ibu kota atau bahkan kota lain, bukan di lokasi perkemahan seperti itu.
Alex maju sambil menghunuskan pedang. Kali ini, lawannya telah bersiap. Si robot mengambil tabung panjang dari belakang punggungnya. Dalam sekejap, tabung tersebut memanjang jadi dua meter dengan ujung bulat di setiap ujungnya. Setiap bulatan memancarkan cahaya kuning dan percik berbahaya. Entah listrik berkekuatan berapa yang akan menyerang kalau sampai tersentuh.
Pedang Alex bertabrakan dengan tombak disertai suara keras. Si robot menggunakan tombaknya sebagai pertahanan. Setelah Alex menarik pedangnya, si robot baru mengulurkannya ke depan. Alex menghindar, lalu menghunus lagi.
Selagi Alex bertarung, Jayden menjalankan penyelidikan pada si robot. [Berita baiknya, robot itu tidak diberi program penggunaan tombak yang benar. Soal senjata, dia sama pemulanya denganmu. Berita buruknya, listrik itu akan membuatmu kesakitan. Enggak sampai mati, sih. Tapi, tetap akan membuatmu sakit.]
“Aku terbuka pada usulan bukan informasi tak berguna seperti itu.”
[Baiklah. Bagaimana dengan ini? Robot itu punya komponen rumit agar bisa mengeluarkan listrik dari tangan, kaki, dan kepalanya. Artinya, robot itu ringkih. Lebih ringkih dari robot sebelumnya.]
Alex menunduk, menghindari ayunan tombak di atasnya. Dia berusaha menyerang robot itu dari belakang. Robot itu pasti punya sensor khusus. Ketika Alex berada di belakangnya, kepala telur tersebut berputar ke belakang seperti burung hantu. Matanya menyala, menandakan akan adanya serangan. Ini membuatnya terpaksa berjaga jarak lebih dulu.
Benar saja. Sebuah sengatan listrik menyambar di udara. Mereka menyambar pohon terdekat, membelahnya jadi dua. Bukan pemandangan indah. Alex bersyukur mengingat peringatan Jayden sebelumnya. Dia tidak akan mati sekalipun listrik itu mengenainya. Alex kemudian berdecak kesal mengingat lanjutan kalimat Jayden. Dia hanya akan merasakan kesakitan saja.
Alex memutar otak. Dia perlu mendekat lagi. Biasanya robot semacam ini perlu jeda waktu sebelum mengeluarkan serangan yang sama. Alex menanti. Sambaran demi sambaran terjadi. Ada yang berasal dari tangan, ada pula yang dari tongkatnya. Saat itu, Alex menyadari kalau jeda terlama terjadi setelah mengeluarkan serangan dari tongkat.
Si robot menggenggam tongkat di depan tubuhnya. Kedua bola pada ujungnya berkilat kuning. Tak lama setelahnya, dia mulai menyerang. Ujung tongkat itu menghancurkan apa pun yang tersentuh. Serangannya sendiri bisa bertahan hingga satu atau dua kali. Jadi, Alex menanti hingga cahaya itu lenyap.
Alex merangsek maju. Dia mengayunkan pedangnya seperti yang diajarkan Tiger. Satu tebasannya berhasil memotong tangan kiri robot. Si robot hanya mampu menoleh. Tongkat belum terjatuh karena masih ada tangan lain yang memegang. Alex berputar, memotong kaki kiri. Si robot pun oleng.
__ADS_1
Serangan terakhir sudah disiapkan. Namun, Alex lupa kalau robot ini punya roket pendorong. Pedangnya belum sempat mengenai tubuh ringkih itu, lawannya telah memelesat. Robot itu salah kalau mengira Alex tak bisa mengejarnya. Dengan Dragon Blood, Alex berlari kencang. Menggunakan batu sebagai pijakan, dia melompat ke dahan pohon, lalu mendarat di atas badan robot. Alex menghunuskan pedang pada roket tersebut. Jayden pun akan menyebut itu bodoh.
Serangan Alex membuat keduanya oleng ke tanah. Sebelum meledak, Alex melompat. Badannya berguling di tanah sementara si robot hancur berkeping-keping dalam kobaran api serta asap hitam dan bau asing.
“Aku membuat kekacauan,” ujar Alex.
Tanpa perlu diperintah, Alex buru-buru mengaktifkan stealth mode. Dia mendengar keramaian mendekati dirinya berada. Dia sempat mengira kalau teman-teman atau gurunya yang datang ke sana. Ternyata beberapa pegawai perkemahan. Keributan seperti itu wajar kalau memancing perhatian. Apalagi sekarang asapnya mengepul tebal, hampir menyamai tebalnya asap api unggun mereka.
Selagi orang-orang itu di sana, Alex bergeming. Dia bisa melihat bagaimana orang-orang itu saling melempar argumen. Berusaha memahami apa yang terjadi. Alex menyadari napasnya ikut tertahan sekarang. Dia bersembunyi di balik pohon, berjaga-jaga bila fitur itu mati tanpa dia sadari.
[Jangan cemas, akan kupikirkan cara mengatasi mereka.]
Alex tak ingat Jayden bicara apa lagi. Sekitar sepuluh menit setelahnya, orang-orang itu pun pergi. Alex merosot di bawah pohon. Jantungnya berdegup tak karuan. Ketika dia memeriksa indikator energinya, dia bisa melihat energinya berkurang separuh. Sepertinya Dragon Blood habis lebih cepat ketika dia sedang tertekan.
“Masih ada dua lagi,” bisiknya pelan.
“Saat itu, kamu akan siap.” Tiger berjalan mendekat dengan senapan di tangannya. “Kupikir bisa tiba di sini lebih cepat. Ternyata, mungkin aku sudah setua bayanganku.”
Alex berusaha menenangkan dirinya sendiri tetapi benaknya dipenuhi berbagai pertanyaan. “Robot itu robot pembunuh. Dia seharusnya kemari untuk membunuh bukan menculik. Honey Lemon lebih cocok diculik bukan dibunuh. Kalau benar begitu, siapa sebenarnya targetnya?”
“Pikirkan itu setelah kita tiba di ibu kota.”
__ADS_1